Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 25


__ADS_3

Phak,


Suara penyerangan terakhir Alya ke pria psikopat yang jatuh tertelungkup ke lantai. Tepat di hadapan nya.


Saat pria psikopat tersebut mau menyerang Alya menggunakan pisau. Alya memutar tubuhnya dengan cepat dan dengan belakang kaki kanannya. Alya mencekal belakang leher psikopat dan membanting nya ke lantai dengan keras.


Sehingga psikopat tersebut jatuh ke lantai dengan posisi telungkup. Mulut dan mata yang terbuka lebar. Mungkin karna terlalu terkejut.


Alya berdiri dengan kedua kakinya terbuka lebar dan nafasnya naik turun. Melihat ke enam pria di sana. Yang sudah dirinya lumpuhkan.


"Biar ku beritahu. Kalian bukan tandingan ku," ujar Alya ke enam pria di sana yang sudah tidak sadarkan diri lagi.


Tadi saat psikopat terus menyerang Alya. Alya selalu bisa menangkisnya. Dan saat Alya menendang keras perut psikopat tersebut, yang membuat dia terjungkal ke belakang.


Karna menahan malu. Dia menyuruh semua bawahannya, untuk menyerang Alya sekaligus.


Jadinya Alya terus bertarung tanpa henti. Dan hanya dalam hitungan menit. Satu persatu dari mereka. Alya tumbangkan,


Alya memiringkan otot lehernya kanan dan kiri. Untuk menenangkan saraf lehernya sehabis bertarung.


Alya membiarkan ke enam pria di ruang tamunya. Sedangkan dirinya melangkah masuk ke dalam kamarnya. Ada yang perlu ia urus terlebih dahulu.


Alya meraih handphone nya dan menekan beberapa tombol di sana. Sehingga suara panggilan terdengar.


"Alya! kamu di dalam! aku menekan bel dari tadi. apa kamu sudah tidur?"


Suara Liana dari dalam handphone.


Alya menarik nafas pelan sebelum menjawab sahabatnya tersebut.


"Kamu di mana sekarang? jangan katakan masih di luar,"


"Ah itu, aku baru saja balik ke tempat ku. Melihat kamu tidak buka buka pintu. Aku pikir kamu ketiduran. Jadi ya, apa aku ke situ lagi?"


Alya sontak menggeleng.


"Tidak tidak. Itu akan membuatmu capek. Tidurlah, besok pagi pagi kamu harus berangkat kerja bukan?"


"Tidak apa, aku tidak capek. Apa aku perlu ke sana?" Liana bertanya sungguh. Karna dia sangat mengkhawatirkan temannya.


"Tidak, tidak perlu. Maafkan aku, bagaimana kalau besok saja? kamu menginap,"


".... Baiklah. Selamat istirahat teman! kamu sudah makan?" suara Liana yang cemas ketika baru ingat untuk bertanya itu.


Alya melihat ke pintu kamarnya.


"Ya, tadi bersama Xavier dalam perjalanan pulang."


"Ah, baiklah. Selamat istirahat!" Ucap Liana yang sangat tulus.

__ADS_1


"Hm!" jawab Alya dengan gumaman dan,


Klik,


Alya melihat layar handphone nya sebentar. Lalu kembali menekan beberapa tombol di sana.


Dan tidak lama kemudian. Panggilan nya terjawab.


"*Selamat malam! ada yang bisa kami bantu*?"


"Ah, ya pak. Ini..."


Alya keluar dari kamar nya dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah. Ke enam pria yang masih belum sadarkan diri.


Alya memilih berjalan ke pantry nya. Mengambil gelas menuangkan air putih ke dalamnya dan meminum nya.


Perutnya sama sekali tidak lapar. Ia hanya perlu menunggu beberapa menit untuk bantuan yang ia hubungi tadi.


Melangkah ke ruang tamu. Alya meraih remote tv begitu sampai di sana dan menghidupkan layar persegi empat hadapannya. Setelah menduduki bokongnya di sofa.


Beberapa menit berlalu dan ke enam pria di sana masih seperti biasa. Alya yang sudah bosan menunggu. Sudah tiduran di sofa sembari kedua matanya menatap layar di depannya.


Ting


Tong


Suara bel pintu apartemen nya.


Ckleck,


Suara pintunya yang terbuka.


Pertama Alya mencondongkan kepalanya. Melihat siapa yang datang. Dan ketika sudah memastikan yang tiba adalah orang yang dia hubungi tadi. Alya langsung membuka lebar pintu apartemen nya.


"Oh bapak! Masuk pak,"


Beberapa pria berseragam lengkap, polisi.


Ya, tadi Alya memanggil polisi kemari. Karna setelah dirinya pikir kan. Meminta bantuan polisi adalah yang terbaik. Jika ia membiarkan mereka pergi begitu saja. Setelah ia memperingati mereka untuk menutup mulut. Ia tidak bisa mempercayai mereka. Dan meminta bantuan polisi, meski ke depan mungkin akan sedikit merepotkan. Tapi tidak masalah, yang penting untuk sekarang. Karna ia sudah terlalu lelah dan mau istirahat.


"Ini benar dengan Nona Alya!" pria berseragam lengkap tersebut masih berdiri di pintu. Memastikan dulu, apa benar wanita muda ini yang memanggil mereka ke sini. Karna membutuhkan bantuan.


"Ya pak. Saya sendiri Alya dan barangnya ada di dalam. Bapak bisa melihatnya sendiri,"


Dengan jumlah 7 lebih. Polisi tersebut masuk ke dalam apartemen Alya.


Dan pemandangan yang mereka lihat. Sangat sangat amat mengejutkan mereka. Ke 7 polisi tersebut sontak menoleh melihat ke Alya.


"Apa bantuan yang anda maksud ini?"

__ADS_1


Alya mengangguk santai.


Polisi lain berjalan ke depan. Memastikan penglihatan sembari mengecek nasib pria di sana. Masih hidup atau sudah mati.


"Anda yang melakukan ini?" tanya polisi lain menoleh melihat Alya. Yang berdiri di belakang mereka.


"Jika aku tidak melakukan nya duluan. Maka aku tidak akan berdiri di sini," Yang artinya, tentu saja ia yang melakukan nya.


"Baiklah, kami akan membereskan ini dan menindak lanjuti. Seperti nya mereka orang orang yang bermasalah juga,"


"Aku tidak peduli mau di apakan mereka. Tapi bisakah saya meminta bantuan lain lagi pak,"


"Ya, tentu saja. Katakan saja," jawab polisi tersebut yang seperti nya berpangkat tinggi dari polisi lain di sana.


"Nama saya tidak di bawa bawa. Maksud saya... "


"Kami mengerti Nona? anda mau melindungi privasi anda, kami mengerti. Mereka sudah menerobos masuk ke dalam kediaman anda dan mau melukai anda. Itu sudah menjadi satu kasus. Terima kasih sudah mau melapor. Dan kami akan menangani ini sebaik mungkin,"


Alya mengangguk mengerti.


"Ya, tidak masalah." jawab Alya mengerti.


Jika Alya hanya melihat mereka bekerja. Dengan memindahkan satu persatu pria di sana keluar.


7 polisi di sana terus mengangkut ke enam pria yang tidak sadarkan diri di sana keluar.


Setelah semuanya di bawa keluar. Polisi dengan pangkat yang lebih tinggi itu berpamit ke Alya.


Yang di balas dengan anggukan Alya dan Alya sekali lagi meminta terima kasih dengan tulus. Sebelum pintu dia tutup dan juga kunci.


Melihat pintu apartemen nya sejenak. Alya berpikir, apa ia harus pindah tempat.


Karna masalah itu. Sudah ada 2 kelompok yang mendatangi nya. Dan tidak bisa jadi jaminan. Kalau tidak akan ada yang lain lagi yang datang atau menculiknya.


Alya berjalan masuk ke dalam apartemen nya dan melihat kekacauan yang dia buat.


Alya menarik nafas.


'Benar, seperti nya aku memang harus pindah tempat.'


Membereskan atau merapikan ruang tamunya kembali. Tidak, ia memilih akan memanggil jasa bersih saja besok.


Tubuhnya benar benar butuh di baringkan di atas kasur empuknya.


'Oh kasurku,'


Alya berjalan ke pintu kamarnya membuka pintu.


Dan tanpa menutup pintu kamar nya. Tubuh Alya sudah terlentang tidur di ranjang empuknya.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian. Alam mimpi menjemput seorang Alya.


__ADS_2