
Lain dengan Rendra yang diam diam mengepalkan kedua buku tangannya. Di sertai memejamkan kedua matanya.
Arkan dengan keningnya yang berkerut. Mencerna ucapan Tuan nya.
Ia kira awalnya ucapan tuannya terdengar. Tuannya sudah mengetahui siapa pria ini. Yaitu pria yang bersama wanita, yang menolak ajakan tuan untuk bertemu. Tapi jika ia teliti lagi. Pertanyaan ucapan tuannya. Bukan karna sudah mengetahui siapa pria ini. Tapi makna pertanyaan tuannya. Tuannya sudah sangat mengenali pria ini.
Lalu pertanyaan nya, siapa pria ini sebenarnya. Dan juga Alya, Tidak ada data detail mengenai wanita itu.
Sedangkan Reyyan memperbaiki duduknya menjadi tegak dan menoleh menatap Rendra di samping nya. Dengan kedua tangannya dia letakkan asal di atas meja.
"Nama mu Rendra itu bukan!" sedikit terdengar nada kekesalan di sana.
Mendengar ucapan Reyyan lagi. Rendra seketika menarik nafas.
Hubungan mereka memang tidak ada yang buruk tapi,
Reyyan yang kesabarannya bisa di katakan seluas samudra untuk sekarang, hanya untuk sekarang.
Masih setia melihat menatap punggung Rendra di depannya. Menanti menunggu jawaban pria tersebut.
Ia tidak akan bertanya. Sejak kapan dia sudah bekerja di perusahaan ini. Karna saat setelah perusahaan ini menjadi milik nya. Direktur Aher memberikan posisi CFO ke Rendra. Yang juga ia setujui, setelah melihat kinerja Rendra di perusahaan. Dan bagaimana direktur Aher mempercayai pria ini. Yang saat itu, ia tidak mengetahui kalau Rendra yang Aher maksud adalah Rendra yang ia kenal.
Sebenarnya ia bisa menyelidiki atau mencari tahu detail mengenai Rendra. Kenapa dia berada di sini dan kenapa dia bisa bekerja di perusahaan ini.
Tapi, ia memilih bertanya terlebih dahulu.
Rendra berbalik berhadapan dengan Reyyan dan tersenyum tenang saat membalas tatapan Reyyan.
Untuk sekarang, pembicaraan mereka di luar pekerjaan bukan. Yang artinya, jauh dari namanya atasan dan bawahan.
"Itu sudah sangat lama. Setelah menyelesaikan study. Aku keluar dari bekerja di sana dan mendarat di negara ini. Dan perusahaan pertama yang aku singgahi adalah perusahaan ini," jawab Rendra yang sebenarnya tanpa sedikit pun berbohong.
Reyyan sontak menarik nafas dengan kedua manik matanya masih melihat menatap Rendra. Sebelum detik selanjutnya Reyyan membuang wajahnya ke samping dan segera mengusir Rendra dari sana.
"Keluar lah dan lakukan semua dengan baik," meski mengusir, Reyyan tetap mendukung Rendra. Walaupun raut wajah nya terlihat kesal entah karna apa. Rendra juga tidak tahu, apalagi Arkan yang kebingungan dengan situasi sekarang.
"Baik sir! Saya permisi," Rendra menerima kata kata semangat itu dan menunduk hormat. Sebelum membuka pintu di hadapannya.
"Oh ya! dalam seminggu lagi. Orang ku akan sampai di sini. Gunakan dia dengan baik," ucap Reyyan lagi menghentikan Rendra yang sudah keluar dan kembali berbalik melihatnya.
'Apa maksudnya...'
Melihat Reyyan atasannya sekarang. Seperti tidak peduli lagi. Karna Reyyan sedang bicara dengan sekretaris nya Arkan.
"Baik sir! sesuai perintah anda," Rendra menjawab sebelum berlalu dari sana.
Reyyan hanya mendengar ucapan Rendra tapi sama sekali tidak peduli.
Bukankah tidak semua harus ia peduli kan. Apa yang mau ia katakan sudah ia katakan, maka itu sudah cukup.
__ADS_1
Reyyan bangkit berdiri dari duduknya dan melangkah ke pintu keluar.
"Aku akan ke ruangan 3. Kamu kembalilah ke pekerjaan mu. Panggil Muzat dan Afer ke sana," Reyyan dengan langkah lebar melangkah keluar dari ruangan tersebut. Setelah pintu terbuka,
Arkan di belakang buru buru mengikuti langkah Reyyan.
"Itu Tuan!"
Sembari berjalan menuju ke ruangan 3. Sekilas Reyyan menoleh melihat Arkan yang berjalan di belakang nya.
"Ada yang mau kau sampaikan lagi Arkan?" tanyanya sembari melangkah.
"Itu... CFO Rendra..."
"Ah! kamu ingin tahu bagaimana aku mengenalnya?"
"Ya?" tanya Arkan yang kebingungan. Soalnya dia bukan mau menanyakan itu. Tapi mau memberitahu hal lain.
"Kamu mendengarnya tadi. Itu sangat lama dan aku tidak mengenalnya," jawab Reyyan yang hampir mencapai ruangan tiga.
"..." Arkan terdiam. Dia hanya mau memberitahu hal lain. Tapi sepertinya, Tuan nya sama sekali tidak tertarik. Karna itu, ia jadi terdiam.
Reyyan berdiri di ambang pintu. Menunggu pintu di hadapannya terbuka.
"Intinya, mereka tidak penting sama sekali," beritahu Reyyan lagi begitu pintu terbuka dan dia masuk ke dalamnya.
Ckleck
'Mereka?' Arkan bertanya tanya sendiri.
'Siapa lagi yang Tuan maksud?'
Arkan menggeleng pelan kepalanya dan memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.
Di saat waktunya ia akan tahu. Maka akan tiba saat itu, untuk ia akan tahu juga.
Arkan berbalik dan melangkah pergi dari sana. Sembari mengeluarkan handphone di saku celananya dan menghubungi 2 orang, seperti perintah Tuan nya tadi.
❤️❤️❤️❤️❤️
Pukul 13:00 Menunjukkan waktu sekarang.
Yang artinya tanpa ia sadari waktu siang telah tiba.
Alya yang baru saja bangun dari tidurnya. Entah bisa di sebut tidur pagi lagi atau menjelang siang.
Karna ia mulai tidur jam 11 hingga waktu sekarang baru bangun.
Setelah berkeliling melihat lihat kediaman kak Rendra. Alya yang kelaparan sekaligus ngantuk menjemput nya. Maka ia memilih tidur dulu daripada makan terlebih dahulu.
__ADS_1
Alasannya.
Yang pertama, dapur kak Rendra terlalu bersih untuknya. Hingga ia takut menggunakan nya. Takut tidak bisa membersihkan lagi seperti sebelum ia pakai.
Dan yang kedua, tubuhnya terlalu ngantuk untuk mau bergelut di dapur.
Dan ya, setelah bersusah payah. Akhirnya ia bisa merapikan kembali tempat tidur kak Rendra seperti sedia kala. Dengan melihat tutornya dari handphone. Ia bahkan sangat yakin, sama persis.
Ting
Tong
Suara bel rumah terdengar nyaring hingga ke kamar Alya.
Alya yang baru saja keluar dari kamar mandi Setelah menyegarkan tubuhnya, mandi. Bahkan handuk kecil putih pengering rambut nya yang basah. Masih terpatri indah di kepalanya. Dan ya, ia kembali mencuci rambut akibat kejadian semalam.
Melihat ke pintu kamarnya. Alya melangkah ke sana dan membukanya. Berjalan keluar menuju ke pintu keluar apartemen kak Rendra.
Ia tidak perlu waspada. Karna kak Rendra bilang. Jika seseorang datang ke tempat ini dan menyembunyikan bel pintu. Ia hanya perlu melihat ke layar interkom. Siapa di luar dan yang datang.
Kedua alis Alya menyatu saat melihat siapa yang bertamu ke rumah Rendra.
Ckleck
"Kendrick! ada apa?" tanyanya setelah membuka pintu dan berbalik meninggalkan Kendrick di sana.
Kendrick masuk ke dalam menutup pintu dan melepaskan sepatu kerjanya.
"Rendra menghubungi ku untuk membawakan mu makanan. Dia khawatir kamu belum makan dari tadi pagi,"
Alya yang sudah masuk ke dalam. Menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Kendrick.
"Dia mengkhawatirkan ku, dia sangat mengenaliku, dia mencemaskan aku dalam bahaya. Tapi dia tidak mencintai ku, apa menurut mu itu wajar?" tanyanya malas.
Kendrick melihat Alya sekilas sembari dirinya melangkah ke pantry Rendra. Karna mau membuka makanan yang dia bawakan dan menaruh di tempatnya. Biar Alya bisa menikmati nya dengan nikmat tanpa bersusah payah.
"Menurut mu aku yang melakukan ini juga. Karna mencintai mu?"
Alya yang tadi mengikuti Kendrick dari belakang dan sekarang berdiri di meja pantry berhadapan dengan Kendrick.
"Itu artinya cintaku bertepuk sebelah tangan," Alya mendesah lelah.
"Kamu tahu!" timpal Kendrick lagi.
Alya memilih menarik nafas berat. Tapi, tentu saja ia tidak akan pernah menyerah.
"Tapi, kenapa dia menyuruh mu? kenapa tidak dia sendiri?"
Kendrick melihat Alya sekilas sebelum kembali melihat ke makanan yang sedang dia tata rapi.
__ADS_1