
Kedua alis Reyyan menyatu saat dirinya menatap sekretaris pribadi nya tersebut. Dengan tidak mengerti akan kalimat dia barusan.
'Aku tidak salah dengar bukan?'
Entah kenapa Reyyan sekarang tertarik untuk mendengar lebih dan juga detail semua.
Melihat reaksi atasannya. Arkan sangat sangat mengerti. Bahkan awalnya juga ia sangat terkejut. Karna itu kali ini ia tidak bisa mempercayai atasannya ini. Sehingga pertanyaan kecurigaan itu muncul.
"Arkan! bisa kamu jelaskan? apa maksudnya,"
Arkan menarik nafas sebelum menjelaskan.
"Pertama, apa tuan mendapatkan panggilan dari no yang tidak terdaftar di handphone pribadi Tuan?"
"Apa itu perlu di tanya?" yang artinya hal begitu sudah biasa. Karna itu ia tidak peduli dan memilih mengabaikan.
Arkan kembali menarik nafas dan melanjutkan menjelaskan.
"Ini juga mengejutkan bagi saya. Karna ini pertama kali terjadi," yang artinya, wanita wanita yang di culik sebelumnya. Nasib mereka tidak bisa di katakan baik baik saja.
Atau lebih tepat, tidak ada yang kedua mereka mendatangi wanita tersebut. Melainkan langsung selesai di malam itu. Meskipun mereka tidak membunuhnya. Tapi ketakutan yang mereka buat. Mampu membuat wanita wanita itu masuk ke rumah sakit jiwa. Intinya tidak akan ada yang baik baik saja setelah di culik dan di sekap oleh musuh Reyyan.
Dan ya, Reyyan tidak pernah peduli. Dan tidak akan pernah jadi budak mereka. Reyyan akan selalu mengabaikan dan mengacuhkan. Mempedulikan nasib wanita yang di culik karena nya.
Oh, tidak. Itu kesalahan wanita itu sendiri. Yang berani mengaku ngaku sebagai miliknya bahkan mereka mengaku hamil anaknya. Dan kali ini, wanita itu mengaku kita di jodohkan. Intinya mereka melempar diri mereka sendiri ke dalam neraka itu.
"Sangat mengejutkan wanita ini selamat. Tapi para berandal itu..." Arkan menghentikan ucapannya saat melihat tatapan tuannya yang tertarik dengan cerita ini. Biasanya juga tidak peduli dan malah memarahinya bahkan lebih parah mengusirnya.
Arkan kembali menarik nafas sebelum kembali menceritakan. Dari pada ia kena bentakan lagi.
"Tapi!"
Suara instruksi Reyyan yang tidak sabaran untuk mendengar lagi. Mengejutkan Arkan,
"Mereka semua masuk rumah sakit. Dan tidak baik baik saja,"
Reyyan menyatukan alisnya melihat meneliti wajah Arkan di depannya.
"Kamu tidak memata matai mereka bukan?"
Mendengar pertanyaan tuannya, yang nyaris tebakan tapi benar. Arkan kembali menelan ludahnya gugup. Karna biasanya ia pun tidak peduli.
__ADS_1
"Itu, karna, waktu saya lihat gambar yang mereka kirim. Dan wanita itu, wanita yang bersama Tuan di hari Valentine itu. Jadi saya..."
Reyyan menarik nafas dan mendesah.
"Baiklah, lanjutkan. Lain kali jangan lakukan lagi. Tidak peduli siapapun itu, jangan lakukan apapun. Kembali ke pekerjaan mu dan lakukan pekerjaan mu dengan baik. Kamu mengerti?"
Arkan mengangguk mengerti. Hati kecilnya hanya ingin tahu ke adaan wanita itu. Dan ya, ia lega saat mendengar kabar kalau wanita itu baik baik saja tapi para pengecut itu yang babak belur.
"Apa yang kamu tunggu?"
"Ya?"pertanyaan Reyyan menyentak Arkan yang sedang melamun. Sehingga membuat dirinya bingung sesaat. Sebelum menunduk dan berpamit keluar dari ruangan kerja Reyyan.
"Kamu mau kemana?"
Arkan sontak menghentikan langkahnya dan menoleh melihat Reyyan.
"Bukankah anda menyuruh saya keluar tadi? dan kembali bekerja," jawab Arkan sembari menunjuk ke pintu keluar.
Reyyan otomatis menghela nafas lelah dan memijat keningnya.
'Apa benar dia memiliki IQ 200+?'
"Ah, apa itu untuk..."
Arkan menimang dan berpikir sejenak sebelum kembali bersuara.
Bukankah tuannya tadi tertarik untuk mendengar dan tadi sampai di mana ya. Ah, rumah sakit.
"Frankie dan anak buahnya berada di kantor polisi tadi malam. Bahkan sampai hari ini mereka belum di lepaskan." beritahu Arkan tanpa di tanya Reyyan tapi ia yakin. Tuannya akan terkejut mendengar berita ini. Dan benar saja,
Reyyan yang tadinya sudah bersiap mau bekerja lagi. Sontak menghentikan gerakan nya dan melihat Arkan.
"Apa maksudnya?" dan selalu itu pertanyaan Reyyan. Itu juga karna salah sekretaris nya ini yang tidak menjelaskan dengan detail.
"Anda terus memotongnya tadi. Jadi jangan salahkan saya," Arkan menjawab protes batin Reyyan. Untuk membela dirinya sendiri.
"Baiklah, lanjutkan." ucap Reyyan setelah mendesah lelah.
"Polisi itu mengatakan. Wanita itu membuat panggilan ke kantor polisi dan melaporkan Frankie dan anak buahnya sebagai laporan menerobos masuk ke dalam rumah orang. Tapi entah kenapa, kasus kasus lain yang menyangkut Frankie tertimpa di sana dalam semalam. Yang artinya, akan sangat sulit untuk pria itu keluar dari sana."
Reyyan terdiam, entah apa yang sedang dia pikirkan.
__ADS_1
"Dia bisa bebas dari penculikan pertama dan b*** itu masuk rumah sakit," ucap Reyyan lebih ke dirinya sendiri tapi mendapatkan jawaban iya dari Arkan.
"Ya tuan,"
"Dia melaporkan b*** itu ke polisi..." Reyyan menghentikan ucapannya saat teringat sesuatu.
"Mereka baik baik saja?" tanya Reyyan untuk meyakinkan tebakannya.
Arkan menggeleng kan kepalanya, yang artinya.
"Mereka juga babak belur Tuan! bahkan ada tangan atau kaki mereka patah," Arkan menjawab dengan menggebu. Entah kenapa ia senang. Wanita ini bisa menghajar para pengecut sialan itu.
Reyyan terkesiap dengan pemberitahuan Arkan.
'Wanita ini,'
"Dia bukan wanita sembarangan,"
"Itu yang Arkan pikirkan Tuan! bahkan aku tidak tidur semalam dan terus memantau wanita itu dengan teman ku,"
Reyyan melihat menatap Arkan. Sedang tatapannya kosong karna pikiran Reyyan di tempat lain.
"Dia baik baik saja saat penculikan pertama dan melaporkan mereka."
Arkan mengangguk mengiyakan. Entah kenapa darah nya ber koar di dalam sana, ingin tahu lebih banyak mengenai wanita ini. Itupun jika tuannya mengizinkan, segera ia akan mencari tahu siapa wanita ini sebenarnya.
Reyyan menarik nafas berpikir. Benar, ini pertama kali terjadi. Dia selamat dan baik baik saja.
"Siapa dia?"tanya Reyyan ke dirinya sendiri. Sedang kedua matanya melihat ke tumpukan berkasnya dan sama. Tatapannya kosong karna pikiran nya di tempat lain.
"Itu yang Arkan ingin tahu juga. Tapi sepertinya wanita ini, bisa bela diri Tuan!"
Reyyan melihat Arkan saat ucapan Arkan tentang bela diri. Terdengar olehnya.
Ya, bisa jadi begitu. Karna akan sangat sulit untuk dia bisa melepaskan diri dan selamat dari para b*** itu. Tapi di sini, dari mana wanita ini.
Reyyan meraih lembar foto tadi. Dimana dirinya dan wanita itu waktu di cafe.
Melihat tanpa perasaan apapun. Melainkan rasa ingin tahu. Bagaimana dia bisa melawan semua para b*** itu sendiri.
Reyyan tidak bertanya dari mana dia belajar bela diri. Karna itu sudah menjadi hal umum. Di mana saja sekarang ada pelatihan dan pengembangan begitu.
__ADS_1
"Siapa dia?"