
"Tidak ada yang mengatakan. Tadi saat Liana memberitahu kalau dia tidak jadi menginap di tempat mu. Katanya karna kamu ketiduran dan sangat ngantuk. Apakah sulit untuk mengambil kesimpulan yang sebenarnya Alya! kamu tidak pernah tidak membiarkan Liana menginap di tempat mu sekalipun kamu sangat capek dan lelah, apalagi ngantuk."
Alya menelan ludahnya memilih membuang wajahnya ke samping.
"Dan ketika aku masuk ke dalam kediaman mu. Wow, sangat mengejutkan Alya! kamu bisa mengatasi semua nya sendiri. Ku harap kamu tidak lupa dengan apa yang tadi malam aku pesan,"
Sontak otak Alya berpikir mengulang apa yang semalam Rendra pesan padanya.
"Kabari aku terus dan teruslah berhati hati dengan sekitar mu,"
Itulah pesan Rendra semalam.
Alya sontak memejamkan keduanya. Lagian,
"Itu tidak mungkin. Mana sempat aku mengambil handphone dan menghubungi mu?" Alya protes dengan sedikit menaikkan nada suaranya. Sedang kedua matanya menatap Rendra, menantang layaknya anak kecil yang adu mulut.
"Atau aku tidak akan memberitahu mu dan aku bisa mengatasi sendiri," Rendra menekan kata di ujung kalimatnya karna geram dan menatap Alya tajam dan dingin.
Alya membuang wajahnya ke samping. Dengan raut wajah yang angkuh, yang tidak merasa bersalah sama sekali. Sedang kedua tangannya entah sejak kapan, sudah terlipat di dadanya.
Keduanya diam beberapa saat. Di mana Rendra yang terus menatap tajam Alya dan Alya memilih melihat ke samping nya.
Hingga akhirnya, Rendra menghela nafas lelah.
"Baiklah, lupakan. Sekarang kemas baju dan semua keperluan mu yang lain. Aku akan mengantarmu ke tempat ku dan setelah nya aku harus kembali ke perusahaan," ucap Rendra sembari melihat jam tangannya.
Alya sontak melihat Rendra dan meneliti wajah Rendra yang tidak marah padanya lagi.
Diam diam Alya tersenyum kecil. Yang sama sekali tidak di ketahui Rendra.
Melihat tidak ada pergerakan Alya dan masih berdiri di tempat nya. Rendra lagi lagi menghela nafas lelah.
"Alya! kamu yang kemas baju mu atau aku," panggil Rendra dan menekan ucapannya di 'aku'.
"Tentu aku saja," Alya melangkah mundur menjauhkan koper di tangan nya, agar tidak di ambil Rendra. Pria ini sangat mengerikan jika marah. Tapi, aku tidak takut. Kenapa? karna aku mencintainya.
"Baiklah, aku akan tunggu di luar dan membereskan semua ini dulu." yang di maksud Rendra adalah bagian ruang tamu Alya yang sangat hancur dan berantakan.
Alya dengan cepat mengangguk mengerti.
Alya sontak merasa tenang mendengar ucapan Rendra. Yang tidak mempermasalahkan. Tapi, ia baru ingat sesuatu hal yang penting.
"Berjanjilah kamu tidak akan memberitahu Xavier," pinta Alya yang nyaris memohon.
__ADS_1
Lama melihat Alya. Sebelum kemudian Rendra menarik nafas frustasi sebelum membuangnya pelan.
"Baiklah, cepat sana." Rendra menunjuk ke lemari Alya. Untuk mengemas baju bajunya.
Alya dengan wajah sumringah senang melihat Rendra lalu berbalik melangkah ke lemari nya dan membukanya. Lemari yang memiliki 4 pintu. Tidak ada yang namanya walk in closet tempat penyimpanan semua keperluan nya. Melainkan semuanya Alya taruh di dalam lemari 4 pintu nya ini. Baik tas, baju, sepatu, bahkan berbagai jenis jaket Alya gantung di sana.
"Tapi..." Alya menghentikan gerakannya yang sedang membuka koper setelah dia naikkan ke atas ranjangnya.
Rendra yang mau menutup pintu kamar berhenti dan kembali melihat Alya.
"Ada lagi?" tanyanya lembut. Tidak kejam maupun dingin seperti tadi atau seperti sebelum sebelum nya.
Alya berpikir sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya, yang tergantung.
"Tidak apa apa, aku akan menyelesaikan nya dengan cepat," ucap Alya dengan menampilkan senyum terbaiknya.
"Baiklah,"
Klap,
Pintu tertutup.
Alya menghela nafas lega begitu pintu tertutup. Detik berikutnya nya senyum kejinya sangat terlihat. Karna,
Tapi jika di ingat ingat lagi. Ini kesempatan ku bukan? tinggal di tempat ka Rendra dan hanya mereka berdua di sana.
'Sungguh, aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik baik mungkin dan melakukan sebaik baik mungkin,'
Inilah senyum keji Alya berasal. Membayangkan rencananya.
Alya tersenyum senyum sendiri sembari dirinya membuka semua pintu lemarinya dan meraih satu persatu keperluan nya dan dia masukkan ke dalam koper.
Senyum itu tidak hilang di wajah Alya. Rasanya harinya mau menjerit jerit dan melompat lompat saja.
'Akh! bisakah seperti ini! bisakah aku seperti ini?'
'Kya, memikirkan nya saja sudah membuatku gila kya,'
Alya tersenyum senyum membayangkan dirinya akan tinggal bersama kak Rendra. Dan dirinya berencana setiap pagi akan membuat kak Rendra sarapan. Lalu ia akan berangkat kerja dengan kak Rendra dan pulang kerja juga bareng kak Rendra. Dan ia akan memasakkan kak Rendra masakan terbaiknya.
Dan ya, ia sangat mengetahui makanan apa apa saja kesukaan kak Rendra. Apalagi untuk menu makan malam.
"Akhhhh, ini benar benar membuat ku bahagia!" jerit Alya tertahan karna tidak mau Rendra sampai mendengar.
__ADS_1
Alya terlihat melompat lompat kegirangan sendiri dan menari nari di sana.
'Kya! aku tidak peduli dengan Calia Calia itu,"
❤️❤️❤️❤️❤️
"Hm? siapa ini? kau membawa seseorang bersama mu Rey! hai!" Wanita cantik tersebut mendekat menyapa dan cipika-cipiki dengan Zuria.
Zuria menyambut salam Wanita di depannya. Dengan mimik wajahnya yang masih kebingungan.
Reyyan yang melihat hal tersebut sontak memperkenalkan Zuria ke Beyza, wanita yang sangat spesial di hidup nya.
"Baby! kenalkan ini Zuria dia..."
"Oh ayolah Rey! berhenti memanggil istri ku baby baby. Rasanya aku ingin menghajar mulutmu saat itu juga,"
Suara seorang pria terdengar. Sontak membuat Zuria semakin di buat kebingungan.
Mungkin ya. Lain kali jika ia mau menyetujui ke suatu tempat dengan Reyyan. Ia harus bertanya dulu kemana dan akan bertemu siapa siapa saja. Sehingga sekarang, tidak akan membuat nya kebingungan dan kebingungan.
Kedua bola mata Zuria melebar melihat pria yang sedang mendekat ke arah mereka. Dan membuat nya bingung. Pria tersebut berdiri di samping wanita cantik di depannya dan mencium sekilas puncak kepala wanita itu. Baru kemudian kembali melihat, tidak ralat. Menatap tajam Reyyan, seperti dia mau menghabiskan Reyyan detik ini juga.
Dan yang membuatnya terkejut. Pria di hadapannya ini. Sangat sangat tampan. Tapi ya, Reyyan yang lebih tampan. Tapi pria ini, warna manik matanya. Ia yakin, pria ini di gilai wanita.
'Sebenarnya mereka siapa?'
Dan ya, satu lagi yang harus ia persiapkan sebelum mengikuti Reyyan. Jantungnya, agar tidak terkejut kejut bodoh begini.
"Reyyan! mereka siapa?"
Reyyan melihat Zuria dan melihat ke Beyza dan pria di samping nya.
"Wanita ku bilang, My baby princess dan Derya adalah anakku. Bagaimana menurut mu Deniz? please! aku menyukai panggilan itu," Reyyan tak kalah tajam menantang pria yang bernama Deniz tersebut.
"Kau mau mati sekarang juga?" geram Deniz dengan gertakan kedua giginya.
Sedangkan Beyza menghela nafas lelah.
Zuria melihat itu dengan bingung. Apa pertanyaannya salah. Tapi aku hanya bertanya,
"Kalian berdua berhentilah. Di sini ada dua anak kecil dan tamu ku," Beyza melihat Zuria dan memasang senyum manis.
Senyum yang membuat Zuria merinding. Soalnya tadi pertama wanita ini berucap dingin nyaris mengancam. Lalu di ujung kalimatnya bersuara lembut
__ADS_1