
Di tengah menyetir dan sibuk menghubungi seseorang, merupakan suatu tindakan yang salah. Terutama tidak mematuhi peraturan lalu lintas salah satunya. Itu juga lah yang terjadi pada Zuria sekarang. Dan pada mobil lain yang ada dari arah berlawanan. Reyyan.
Reyyan yang sedang di sibukkan mengubungi kakeknya Mr. Ferdinand, yang sudah beberapa menit berlalu tidak juga di angkat.
Jika dipikir pikir tentu saja kakek tidak akan mengangkat panggilan nya. Karna dia tahu kalau ia menelpon untuk menolak yang di atur. Ia membenci ini, ia sama sekali tidak suka keadaan begini.
Bukan tidak mampu ia dalam mencari pasangan sendiri atau istri untuk menampung benihnya. Akan tetapi, untuk saat ini. Baginya, belum ada wanita yang pantas untuk itu. Pantas untuk jadi istri sekaligus ibu dari anaknya. Selain dari Beyza baby kecilnya.
Kata kakek. Wanita yang dia jodohkan dengannya kali ini lebih dari kata pantas untuk jadi seorang istri Reyyan Ferdinand. Kakek menambahkan kalau ia harus datang nanti malam supaya tidak menyesal.
Namun, berapa kali pun ia berpikir tetap saja. Hatinya tidak percaya ada wanita yang pantas lain selain my Babynya, tidak ada.
Hanya ada satu wanita di dunia ini yang pantas untuk bersanding selama lamanya bahkan sampai ia menua adalah seorang Ayla Beyza Princessa Okan Gokhan.
Akan tetapi.
"****," Reyyan mencabut dan melempar kasar earphone nya.
Kedua manik matanya menatap tajam kedepan. Sedang mobilnya terus melaju kencang. Bahkan di atas kecepatan rata rata.
Reyyan mengambil kesimpulan. Ia akan bertemu kliennya dulu lalu setelah nya baru ia akan ke pavilium kakeknya untuk membicarakan hal ini. Percuma juga kali ini ia kabur seperti biasanya karna kejadiannya akan sama seperti semalam.
Mengingat kembali kejadian semalam. Lebih parahnya ia tidak bisa melupakan pinggang ramping yang kecil itu berada dalam pelukan tangannya. Di tambah bibir manis serta dingin yang ia ***** secara sepihak, tidak bisa pergi dari pikirannya sejak semalam.
Al hasil, ia harus melampiaskan nya pada Lindsey semalam, meski tubuhnya dalam ke adaan terluka. Ia yakin itu ciuman pertama untuk wanita itu.
Pertanyaan. Siapa wanita semalam. Siapa dia.
Reyyan menoleh menatap dari kaca spion mobil ke samping jalanan kota Zurich-swiss, yang lewat berlalu di belakang mobilnya. Disaat itu juga dia berpikir. Haruskah ia mencari tahu siapa wanita semalam.
Dengan satu tangan memegang setir mobil. Sedangkan satu tangan lain ia letakkan malas di sisi bangku mobil dengan santai. Bibir bawahnya ia gigit. Berpikir harus kah ia mengambil tindakan itu. Tapi mencari seseorang yang sama sekali tidak ada jejak tentu itu akan sulit. Apalagi ke adaan di sana semalam sangat gelap bahkan penerangan lampu jalan sangat minim, di tambah tidak ada cctv di tempat itu semalam. Ia yakin itu.
Lalu setelahnya apa yang akan ia lakukan. Swiss tentu akan heboh dengan pencarian tersebut. Berpikir hal tersebut.
Reyyan mengurungkan niatnya.
Entah kenapa sedikit ia berharap. Untuk di pertemukan kembali dengan wanita itu. Terlebih ia harus meminta maaf dan berterima kasih juga. Karna sudah membantunya dan ia akan meminta maaf karna telah merugikannya.
__ADS_1
Jika wanita tersebut meminta ganti rugi berapa pun itu. Seperti ucapannya semalam. Ia akan mengganti berapapun itu. Asal tidak meminta pertanggung jawaban yaitu dengan menikahinya karna itu ciuman pertama dia. Ia tidak akan melakukan itu. Tapi lain jika wanita itu mau menerima menjadi simpanannya.
Sebuah pernikahan yang tersembunyi. Bahkan siapa pun tidak akan mengetahuinya. Selain dari orang orang kepercayaannya. Maka ia akan dengan senang hati mengabulkannya.
Namun jika pernikahan secara resmi yang dia mau. Diketahui oleh publik dan Diakui. Itu sangat jauh dari kata pantas, untuk wanita itu. Meski ia tidak mengenali siapa dia.
Melihat Coffee Shop di seberang jalan, yang sering ia datangi jika ada di kota ini. Reyyan menepikan mobilnya asal di sisi jalan.
Dari arah berlawanan. Terlihat sebuah mobil dengan merek tidak kalah mewah dari mobil Reyyan. Sedang melaju dengan kecepatan pada umumnya.
Zuria. Kedua tangannya mencekram kuat setir mobilnya. Hingga buku jarinya terlihat memutih. Berharap hal itu bisa melampiaskan perasaanya yang sekarang campur aduk.
Di sisi lain ia senang namun di sisi lain pula ia sedih dan terluka. Ia merasa kedua orang itu seperti menusuknya dari belakang. Seperti mata pedang yang bercabang. Namun itu hanya perasaannya. Karna kedua sahabatnya itu sama sekali tidak mengetahui perasaannya ini. Lalu bagaimana di katakan mereka mengkhianati nya.
'Cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Sahabatku sekaligus cinta pertamaku. Ternyata mencintai sahabat sekaligus sepupuku,' Zuria membatin lalu merebahkan punggungnya ke belakang sandaran mobil.
Pernah ia berpikir untuk mengutarakan perasaannya beberapa waktu silam. Perasaan yang sudah ia pendam selama 18 tahun. Namun ketika teringat. Ia bisa saja merusak pertemanan mereka, persahabatan mereka. Mengacaukan semuanya dan menghancurkan ikatan yang sudah kita bina selama ini. Di saat memikirkan itu, Ia memilih diam dan memendam.
'Huhhh,' Desah lelah Zuria kala itu.
Jika di ingat ingat. 3 bulan terakhir ini. Mereka jarang berkumpul bareng. Bukan karna aku yang sibuk atau sebaliknya. Tapi, ada saja alasan keduanya jika di ajak bertemu. Apalagi satu meja bertiga seperti biasa. Bercanda, tawa, saling mengejek satu sama lain. Bercerita entah apapun itu. Baik pekerjaan maupun masalah pribadi.
Dan tentu, yang selalu banyak bercerita adalah aku orangnya. Lebih lebih tentang segala perjodohan yang selalu mommynya atur untuknya. Dan ia meminta solusi ke mereka untuk menjaun dan melarikan diri.
Namun tanpa ia sadari dalam 3 bulan ini. Jika kita bertemu. Terkadang ada Vera namun tidak ada Kendrik. Terkadang ada Kendrik namun tidak ada vera.
"Hahhh... " Dengus Zuria. "Ternyata ini jawabannya! Kenapa aku tidak menyadarinya ya!"
"Lalu... Sejak kapan keduanya menjalin hubungan. Dan kenapa Vera tidak mengatakan apapun padak... Tidak. Kenapa keduanya tidak mengatakan apapun. Apa itu hal sulit. Padahal kemarin mereka bertemu,"
Jika di tanya perasaannya sekarang. Maka jawabannya adalah.
Ia senang sekaligus sedih. Perasaan macam apa ini. Ia tidak terima tapi di paksa ke adaan untuk harus menerima.
Vera sahabat sekaligus sepupunya. Kendrik sahabat sekaligus pria yang ia cinta. Namun sepihak.
__ADS_1
Perasaannya.
Ya. Begitulah.
Zuria mengalihkan matanya menatap ke luar jendela dari kaca mobilnya. Melihat jalanan kota Zurich, yang tiap hari ia lewati. Namun, tidak pernah membuat dirinya bosan.
Zuria menginjak pedal gas sedangkan tatapan matanya kabur akan air matanya yang sudah mengapung di pelupuk matanya. Sesekali ia akan menghapus kasar dengan punggung tangannya. Sedangkan batinnya terus mengoceh sedih.
'Ternyata bisa begini. Dalam pertemanan juga bisa begini. Aku pikir tidak bisa begini. Karna itu aku menahan perasaan ku selama 18 tahun ini. Ternyata bisa begini! Hiks... Hiks... Huwaaa...' Tangis Zuria pecah di kesendirian nya dalam menyetir mobil.
Dia lagi lagi menghapus kasar air matanya dan di saat itu. Zuria melihat Coffee Shop kesukaannya.
Kembali menatap ke depan. Kedua matanya terbelalak lebar saat seorang laki- laki tiba tiba saja menyebrang. Reflek. Zuria menginjak pedal rem dan membanting setir mobilnya cepat. Sehingga gerakannya tersebut. Membuat mobilnya tidak terkendali dan hampir menabrak salah satu pohon besar dari deretan yang lain, yang ada di pinggir jalan kota Zurich tersebut. Mobilnya berhenti tepat beberapa senti dari pohon di depannya.
Zuria meringis sembari mengusap keningnya yang membentur setir. Ia menghela nafas lega berkali kali. Sebelum kemudian terbelalak saat pejalan kaki itu, mau pergi begitu saja.
'Benar benar orang gila,' Erang batin Zuria geram.
"Hei kau?" Panggil Zuria menghentikan langkah pria itu sambil dirinya keluar dari mobil.
"kau mau cari mati hah? Dan jika iya, jangan di sini. Carilah tempat di mana orang lain tidak akan terlibat dengan kematian mu, mengerti?!" Bentak Zuria kasar sembari membanting pelan pintu mobilnya setelah ia keluar.
Sialnya. Laki-laki berambut hitam dan bersetelan biru navi tersebut malah kembali melanjutkan langkahnya mengabaikan Zuria sepenuh nya.
Zuria menganga. Menatap itu tidak percaya.
Hell. Seorang Zuria Claira Princessa Argantha. Satu satunya pewaris dari Aragaz Group di abaikan. Apa dia gila.
"Hei! Kau tidak dengar!" Pekik Zuria kesal.
"Kau pria aneh yang menyebalkan! Kau hampir membuatku menabrak batang pohon itu dan kau malah langsung pergi?" Cerca Zuria menghentikan langkah pria tersebut.
Pria tersebut menghentikan langkahnya. Menoleh menatap Zuria dengan tatapan datar dan malas.
Beberapa menit berlalu. Keduanya tidak mengatakan apapun sementara Zuria terpana.
Lelaki itu memang benar benar lelaki tertampan yang pernah ia lihat. Kharisma dan ketenangannya seakan akan sangat sensual. Seakan di buat buat namun terlihat nyata. Dia sangat menawan. Manik matanya yang hitam sehitam langit malam yang tanpa bintang dan rembulan namun menenggelamkan. Dirinya seperti di tarik ke dalamnya untuk terus menatapnya. Rambutnya yang hitam mengkilap sangat pas dengan kulit putih nya yang bersih. Wajahnya lebih indah lagi.
__ADS_1
Zuria mematung. Untuk sesaat. Ia tidak bisa berpikir jernih.
'Dia...Pria dengan segala pesona. Baik wajah, maupun tubuhnya.' Batin Zuria terpana.