
Seperti instruksi Reyyan Ferdinand.
Rendra dengan cepat bergerak membuka laptop nya dan juga beberapa berkas di hadapannya. Yang juga di bantu Arkan, entah sejak kapan pria itu sudah berdiri di tengah tengah ia dan Reyyan.
Membantu Rendra membuka berkas memperlihatkan ke Reyyan.
Sedang Rendra membuka setiap data asli melalui laptop nya dan memperlihatkan ke Arkan. Meminta Arkan membantu nya memperlihatkan ke Reyyan.
Reyyan dengan kedua manik matanya yang cepat. Bisa melihat ke berkas di hadapannya dan juga ke layar laptop yang di suguhkan di depannya.
Rendra mulai menjelaskan setiap detail hal masalah.
Reyyan sembari melihat kedua data, berkas dan laptop di hadapannya. Juga mendengar dengan teliti penjelasan Rendra.
"Ini data 2 tahun lalu?" tanyanya di sela sela Rendra menjelaskan.
Rendra dengan tubuhnya yang sedikit kesusahan, dari posisinya duduk di samping Reyyan. Mencondongkan tubuhnya melihat apa yang di maksud Reyyan.
"Iya sir! Itu data yang saya simpan sendiri. Saya sudah mencari data yang tersimpan di brankas penyimpanan perusahaan. Tapi data nya yang tersimpan ini," Rendra membuka data dari halaman laptop yang dia maksud. Dan kembali duduk di kursinya.
Arkan melihat Rendra melihat ke Reyyan lagi. Dia setia berdiri di samping Reyyan. Menunggu perintah Reyyan.
Reyyan dengan alisnya yang menyatu melihat memperlihatkan data yang di perlihatkan Rendra.
Kedua mata Reyyan beralih melihat ke berkas dan meraihnya.
"Di sini tidak lengkap," beritahu Reyyan ke Rendra.
Reyyan sudah mengetahui apa yang terjadi pada perusahaan nya ini. Jauh hari sebelum kegaduhan di perusahaan ini muncul. Kalau ia mengetahui apa yang para manusia tamak itu lakukan pada perusahaan nya.
Mungkin mereka mengira. Karna kesibukan nya, mengurus banyak anak perusahaan lain. Ia tidak akan sempat mengetahui kejanggalan pada perusahaan barunya ini. Nyatanya, mereka salah besar.
Jika ia tidak detail dalam setiap hal dalam bekerja. Maka ia tidak akan menjadi CEO The Emerald Group Company dan Pemimpin Flederick Group. Sungguh Kakek tidak akan mempercayai dan menempatkan ia di sini. Membanting semua ketamakan para adik adik dan kakak kakeknya, yang serakah.
"Itu yang saya buat sendiri sir! lengkap nya di sini," Rendra kembali membuka halaman lain. Namun, di hentikan oleh Arkan.
Arkan sendiri yang membuka membantu Rendra. Karna melihat Rendra yang kesusahan. Berdiri, mencondongkan tubuhnya ke depan, duduk dan berdiri lagi. Ia merasa kasihan.
Rendra berterima kasih ke Arkan. Yang di hanya mendapatkan anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu tahu di mana dia sekarang?" tanya Reyyan ke Rendra tanpa melihat pria tersebut. Karna kedua matanya, fokus melihat meneliti berkas dan layar di depannya.
Rendra yang mengerti akan pertanyaan Reyyan. Menganggukkan kepalanya pelan dan tidak berani untuk memberi jawaban.
Tanpa melihat ke Rendra. Reyyan yang kedua matanya masih melihat ke berkas di hadapannya. Mengerti kesulitan Rendra untuk menjawabnya.
"Kamu sudah tahu siapa dalangnya?" tanya Reyyan lagi yang tanpa melihat Rendra.
Rendra sontak menarik nafas dan melihat Reyyan setelah tadi menunduk. Rendra melihat Reyyan lalu melihat ke Arkan yang berdiri di samping nya.
Arkan memberikan senyum dalam arti. Tuannya sudah mengetahui.
Rendra sontak kembali melihat Reyyan. Yang masih fokus melihat data di layar di depannya.
Rendra menelan saliva nya gugup. Ia tidak tahu, bisakah ia bertanya siapa.
Reyyan beralih meraih ke berkas satu lagi. Setelah menyelamatkan berkas tadi.
"Baiklah, di mana dia sekarang?" tanyanya tanpa melihat Rendra.
Arkan seketika melihat Rendra. Dengan tatapan' kamu harus jujur karna tuan sudah mengetahui semuanya dan tuan sedang mengetes kejujuran mu,'
Rendra yang sangat mengerti akan tatapan seperti itu. Ia sudah di latih dari kecil oleh papanya akan hal begitu. Karna mereka hidup dalam lingkungan yang selalu harus bersikap waspada.
"Di rumah sakit xx sir! ibunya di rawat di sana," itulah menjadi alasan utama asisten nya. Mencuri dan membawa kabur uang perusahaan. Untuk biaya operasi ibunya, yang biayanya tidaklah sedikit.
"Kamu mengganti uang perusahaan yang dia curi dengan uang mu. Tapi tidak menutupi masalah sebenarnya, tapi semakin bertambah. Kamu sadar di mana salah mu?" tanya Reyyan dengan suara santainya tanpa ada emosi atau menggunakan nada bentakan.
Karna pria di samping nya ini. Sudah mau bersikap jujur. Walau ia tahu, tentu sulit baginya.
Rendra sontak menundukkan kepalanya. Memilih menatap meja di bawahnya.
Benar, jika ia tidak melakukan itu. Mungkin tidak akan melebar.
Rendra menaikkan tatapannya melihat Arkan yang berdiri di samping nya. Saat dirinya mau membuka mulut, mau minta maaf ke Reyyan. Tapi Arkan memegang tangannya dan pria itu menggeleng mencegahnya melakukan hal itu.
Saat itu juga, Rendra baru ingat. Dalam sistem pem bisnis bekerja. Ia ingat saat atasannya dulu. Dan apa pria ini, sama seperti atasannya.
Rendra melihat Reyyan. Melihat aura Reyyan Ferdinand saat bekerja. Rendra mengakui, sangat pantas pria ini menjadi pemimpin dari perusahaan raksasa.
__ADS_1
"Saya akan memperbaiki semuanya dengan cepat sir!" jawab Rendra yakin dengan dirinya bisa. Dan tidak keraguan dari dirinya.
Klap
"Bagus, lakukan seperti itu." Reyyan sontak menutup berkas di hadapannya dan melihat Rendra.
"Aku tidak peduli berapa lama butuh waktu untuk memperbaiki semua ini. Di saat kamu bisa melakukan nya. Maka lakukan dengan cepat, kamu mengerti maksudku bukan!" Reyyan melihat menatap Rendra dengan sorot matanya yang tajam.
Rendra yang masih terkejut dan masih mencerna apa yang sedang terjadi. Kenapa Reyyan Ferdinand tiba tiba menutup berkas begitu ia menjawab begitu. Dan mengatakan kalimat,
Dengan wajah bingung dan masih terkejut nya. Rendra beralih melihat Reyyan yang menatapnya tajam menunggu jawaban.
Ah,
Rendra dengan cepat kembali menunduk kan kepalanya, menatap ke bawah. Karna tidak sopan jika menatap mata atasan langsung. Itulah yang ia pelajari dari bekerja di tempat nya yang dulu. Dan ia yakin, pria ini juga seperti itu.
"Ya sir!" jawab Rendra sigap. Siap menjalankan tugasnya.
Arkan memilih bernafas lega. Karna satu masalah terselesaikan dengan baik. Tanpa tuannya perlu berteriak menggunakan emosi.
Melihat menatap ke pintaran dan kesopanan Rendra. Senyum tipis tertarik di wajah seorang Reyyan Ferdinand.
"Baiklah, sekarang keluar lah. Lakukan semua dengan baik. Jangan sampai aku mendengar masalah ini lagi." Reyyan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi dan melipat kedua tangan di dadanya.
"Baik sir! Saya akan melakukan nya dengan baik," Rendra berdiri dan menunduk ke Reyyan.
Reyyan hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
Sedangkan Arkan dengan sigap membereskan berkas di hadapan Reyyan dan memberikannya ke Rendra, membantu pria tersebut.
"Kalau begitu saya permisi dulu sir!" Rendra menunduk kan kepalanya memberi kesopanan nya.
Reyyan yang melihat itu mengangguk kan kepalanya lagi.
"Hm," jawabnya dengan gumaman.
Rendra segera melangkah ke pintu. Namun, saat ia mau membuka pintu. Tangannya menggantung di udara karna suara Reyyan.
"Aku ingin tahu, kenapa kamu bisa ada di sini? Dan sejak kapan,"
__ADS_1
Tidak ada perbedaan dengan Rendra yang terkejut di sertai kedua bola mata nya yang membulat lebar. Arkan juga sama,
Kedua matanya membulat lebar karna terkejut. Ia dengan cepat menurunkan tatapannya melihat atasannya yang masih duduk di kursinya.