
Ckleck,
Reyyan keluar dari kamar mandi begitu urusannya selesai. Dengan handuk kimono warna biru navi melekat di tubuhnya. Reyyan memilih sekaligus menyegarkan dirinya.
Reyyan tersentak saat melihat ke ranjang di hadapannya. Dimana wanita yang tadi bersama nya. Sudah tertidur lelap.
Reyyan melangkah mendekat memastikan penglihatan nya. Dan ya, Zuria tertidur.
Reyyan memilih melangkah ke lemari penyimpanan baju daruratnya di sana dan memakai nya.
Sedang pakaian yang dia pakai tadi. Celana dia biarkan di kamar mandi dan bajunya dia biarkan di lantai. Sedang jas dan dasinya berada di luar, di kursi.
Reyyan hanya perlu mengganti busana lain.
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuat Reyyan menoleh ke sana. Selanjutnya dia melangkah ke sana dan membuka pintu.
"Ada apa?" tanyanya ke bawahannya. Yang menggantikan posisi asisten pribadinya. Yang sedang di rawat di rumah sakit.
"Tidak Sir! 5 menit lagi kita akan mendarat,"
"Baiklah," Reyyan menjawab mengerti dan menutup pintu kembali.
Reyyan kembali beralih melihat ke ranjang. Sebelum kemudian dirinya kembali ke aktivitas nya. Memakai baju,
Reyyan memilih membiarkan Zuria tidur nyenyak di sana. Mungkin dia sangat capek dengan acara itu dan pekerjaan nya sebagai direktur hotel. Nanti ia akan meminta asisten Zuria sendiri yang akan membangun kan gadis itu.
Selesai berpakaian dan Reyyan sudah terlihat sangat rapi seperti sebelumnya. Reyyan melangkah keluar dari kamar tersebut. Bersiap mendarat dan selanjutnya ke aktivitas nya.
Tap.
Reyyan menutup pintu kamar dan berjalan ke kursi tempat duduknya tadi.
"Handphone anda terus bersuara Tuan!" Pria bersetelan hitam, asisten pribadi sementara Reyyan menyodorkan handphone pribadi Reyyan. Yang di pegang oleh pria tersebut saat Reyyan masuk ke dalam pesawat.
Kebiasaan Reyyan. Ketika dirinya sedang mau fokus dengan pekerjaan nya. Reyyan akan menitipkan kedua handphone nya. Di mana satu handphone resmi perusahaan. Dan satu lagi, handphone pribadi nya. Yaitu segala urusan pribadi nya, hanya ada dalam handphone tersebut. Ke para asisten pribadi nya, siapapun itu. Reyyan memiliki 12 asisten pribadi dan 20 sekretaris dalam mengurus setiap pekerjaan nya.
"Biarkan saja," acuhnya bahkan tanpa melihat handphone tersebut yang bergetar karna panggilan masuk.
Melihat reaksi atasannya. Pria tersebut pamit dari situ dan kembali ke tempat duduknya. Dengan panggilan yang kembali masuk. Mengangkatnya, tentu saja ia tidak akan berani melakukan itu. Apalagi untuk sekedar melihat siapa yang menghubungi atasannya. Ia tidak akan berani.
Reyyan sibuk merapikan berkas berkas pekerjaan nya dan menutup kembali laptopnya yang terbuka.
"Aku ketiduran," Suara Zuria dari belakang Reyyan.
Membuat Reyyan menghentikan aktivitas nya dan berbalik melihat wanita yang bergelut tadi bersamanya.
Senyum tipis terpatri indah di wajah tampan Reyyan melihat Zuria yang berjalan ke arahnya.
"Kenapa kamu tidak membangunkan ku? padahal aku menunggu mu keluar dari kamar mandi,"
"Untuk? Mengkhawatirkan ku?" tanya Reyyan masih berdiri di tempatnya.
__ADS_1
Zuria mengangguk membenarkan.
"Kamu baik baik saja?"
Reyyan mendengus tidak percaya dengan pertanyaan wanita di depannya.
Reyyan membentangkan kedua tangannya. Memperlihatkan ke Zuria ke adaan dirinya.
"Menurutmu bagaimana? apa aku terlihat seperti pria yang tidak baik baik saja?"
Zuria tersenyum lega.
"Maaf, aku hanya merasa bersalah,"
Reyyan melangkah mendekat ke Zuria. Sampai di sana langsung merengkuh pinggang Zuria. Dan mengecup singkat bibir Zuria.
"Dalam hubungan selalu ada hal seperti itu. Tapi percayalah, aku baik baik saja. Buat dirimu santai,"
Entah kenapa sekarang Zuria menikmati kedekatannya dengan Reyyan. Padahal beberapa menit yang lalu. Ia menolak keras perjodohan itu.
"Apa kita mau mendarat?" tanya Zuria ke Reyyan yang masih merengkuh pinggang nya.
Reyyan melepaskan tangannya dan berucap.
"Benar, duduklah dulu. Tidak baik berdiri," Reyyan berbalik melangkah ke kursinya dan menduduki bokongnya di sana.
Ada kekecewaan terbersit di dalam hati Zuria. Saat melihat Reyyan berbalik membelakangi nya. Berjalan di hadapan nya begitu saja.
Zuria ikut melangkah ke kursinya tadi. Dengan perasaan nya yang kacau.
Alya keluar dari kamar mandi setelah menyegarkan tubuhnya. Lengkap dengan setelan piyama tidur. Handuk putih di kepala, membalut rambutnya yang basah.
Melangkah ke ranjang. Alya merebahkan tubuhnya di sana dengan posisi terlentang.
Melihat menatap atap kamarnya dengan pandangan kosong.
Pikirannya tidak di sana.
Melainkan memikirkan, bagaimana nasib kehidupan nya ke depan.
Yang tentu saja jawabannya tidak akan baik baik saja. Begitu mereka yang ia hajar tadi bangun, sadarkan diri. Hal pertama yang mereka cari tentu dirinya. Membuat perhitungan, balas dendam, atau apapun itu. Yang jelas kehidupan nya yang tenang tidak akan ada lagi.
Itu artinya juga, ia harus bersiap untuk hal itu.
Ting
Tong
Alya menoleh melihat ke pintu kamarnya. Detik berikutnya, Alya meloncat duduk dan berdiri melangkah ke pintu.
Ckleck,
Alya membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali.
"Aku pikir dia benaran tidak jadi ke sini,"
__ADS_1
Ya, sebelum Alya masuk ke kamar mandi tadi. Ia mendapat pesan dari Liana. Kalau dia akan ke sini sebentar lagi. Katanya, ada hal yang perlu dia selesaikan dulu. Yaitu mantan kekasih nya berada di unit apartemen nya.
Ckleck.
"Aku pikir kam..." Ucapan Alya terhenti di sertai kedua matanya yang melotot lebar. Saat melihat pria di hadapannya dan beberapa pria lain, yang sama sekali tidak ia kenali.
"Malam gadis!" Sapa pria tersebut dengan senyum yang di buat buat.
Alya segera menyadarkan dirinya dan menutup pintu.
Bhak,
"Ah..." ringis Alya sembari memegang tangannya yang sakit karna hentakan daun pintu. Yang di tahan keras oleh pria di hadapannya. Sehingga membuat tubuh Alya otomatis juga mundur ke belakang.
Alya perlahan mundur menjaga dirinya. Sedangkan kedua matanya menatap pria dan beberapa pria lain yang mulai masuk ke dalam apartemen nya.
"Kalian siapa? dan apa urusan kalian?"
Tap,
Pintu tertutup.
Alya melihat hal tersebut dan kembali melihat pria di hadapannya.
"Bukankah sebaiknya kamu menjamu tamu dulu? memberi minum atau snack," ucap pria tersebut sembari melihat lihat sekeliling nya.
Alya mengalihkan matanya melihat pria pria yang berada di belakang pria tersebut.
'Badan mereka dua kali lipat dari tubuhku.' Alya melihat sekitar nya dan berdecak kesal.
Akan sangat merepotkan jika ia menghajar mereka di sini. Kemana ia akan membawa mereka nanti.
"Apa kalian di suruh seseorang?"
"Di suruh? entahlah! mungkin!" senyum pria tersebut layaknya psikopat.
Alya seketika merinding. Ia bahkan berurusan dengan pria seperti ini.
"Apa karna berita itu?" Alya mau memastikan tebakannya.
"Apa seseorang yang lain sudah datang sebelum kami?"
Mendengar jawaban pria di hadapannya. Alya sontak menaikkan wajahnya dan menarik nafas.
Tidak salah lagi. Mereka ke sini karna berita itu.
Aish, padahal ia baru mau istirahat.
"Oi, gadis! apa ya?" Pria tersebut memiringkan kepalanya melihat Alya.
Alya memilih menarik nafas.
Sangat percuma jika pun ia mengatakan. Kalau dirinya sama sekali tidak ada hubungan dengan pria yang kalian inginkan. Dan berita itu sama sekali tidak benar. Itu hanya kesalahan mulutnya, yang kurang ajar.
Mereka tidak akan percaya.
__ADS_1
"Wanita ini benar benar. Hei! Apa yang kalian tunggu? tangkap dia. Kita tidak boleh lama di sini,"