
"Sebisa mungkin. Aku menghindar dari berurusan dengan kalian," desah Reyyan sembari meletakkan satu tangan di keningnya menatap ke atap di atasnya.
Pria di hadapan Reyyan melihat menatap Reyyan sesaat sebelum menjawab.
"Kenapa? bukankah yang telah lalu. Harus di biarkan berlalu, anak muda! supaya hidup kita ke depan, menjadi tenang dan damai."
Reyyan mendengus geli.
"Maksud anda, tanpa ada rasa dendam menyelimuti hari hari ku?" sambung Reyyan di ucapan pria di hadapannya.
Pria tersebut diam dan hanya mendengar kan.
Reyyan sudah duduk tegak menghadap menatap pria di hadapannya.
"Dan itu sama sekali tidak bagus untuk kehidupan," sambung pria tersebut dengan ucapan Reyyan.
Reyyan sontak lagi lagi mendengus geli. Ia tidak percaya ini.
"Aku sangat ingin tahu. Bagaimana kehidupan anda yang tenang dan damai itu," kekehnya keji. Sembari menatap pria di hadapannya. Dengan sorot matanya yang memicing tajam.
Sungguh, dendam masih menyelimuti dirinya sekarang. Apalagi saat melihat pria di hadapannya saat ini. Meskipun, pria ini sama sekali tidak ada hubungannya. Tetap saja, mereka satu keluarga dan berdarah sama. Karna itu, sebisa mungkin. Ia menjauhi berurusan dengan pria ini.
"Apa kamu mau, sepatah dua patah kata dari pria yang lebih tua dari mu ini, anak muda!"
Kedua nya terus terlibat pembicaraan. Di mana saling menatap dan posisi duduk sama sama tegak.
Reyyan tidak menjawab. Dalam arti dia membiarkan atau ingin mendengar.
Pria di hadapan Reyyan mendesah lelah. Sebelum meraih sebungkus rokok yang berkotak cukup mewah, di hiasi warna emas di sekitarannya. Terletak di atas meja kaca di hadapan nya. Membukanya meraih satu dan meletakkan di sela kedua bibirnya. Meraih pemantik api menghidupkan rokok tersebut.
Hal tersebut tidak terlewat dari penglihatan Reyyan.
"Tidak ada kehidupan yang tenang dan damai di kehidupan kita anak muda!" ucapnya setelah menghisap rokok dan meniup asap nya. Hingga menggembul di hadapan wajahnya.
Reyyan yang melihat itu. Ikut tertarik dan mau juga. Hingga dirinya meraih kotak rokok tadi. Mengeluarkan satu batang dan menghidupkan nya.
"Tadi anda mengakui itu,"
"Tentu saja. Tapi itu semua kita sendiri yang membuatnya. Seperti kehidupan, memilih senang atau susah. Ketawa dulu atau menangis dulu. Seperti seorang anak yang di paksa sekolah oleh kedua orang tuanya walau dia tidak mau. Tapi ada anak yang tidak mau melakukan itu sehingga menentang kedua orangtuanya,"
Sorot mata Reyyan menyipit tajam menatap malas pria di hadapannya.
__ADS_1
"Anda mau mengatakan apa?"
"Benar, langsung ke intinya. Ini salah satu alasan kenapa aku sangat menyukai mu," kekeh pria tersebut.
Reyyan memilih menggeram.
"Baiklah, yang mau saya katakan anak muda! kehidupan itu adalah pilihan. Begitu juga dengan masa lalu. Mau melupakan atau mau terus mengingat nya,"
Reyyan mengisap rokok nya dan meniup asapnya. Dengan gerakan seksi bagi siapapun yang melihat.
"Masa lalu bisa menjadi inspirasi seseorang Mr!"
"Itu benar! itu ada dalam dua segi. Segi pertama, dalam arti dia mengambil ke sisi positif. Mengacu atau untuk mendorong diri mereka untuk menjadi lebih baik. Segi kedua, itu yang paling berbahaya. Sisi negatif, bisa membuat dia terpuruk dan jatuh ke dalam dendam yang mendalam. Menjalani kehidupan dalam dendam, bukan sesuatu yang bagus bukan?" pria tersebut melihat menatap Reyyan Ferdinand. Seperti memperingati pria muda di hadapannya.
Reyyan diam mendengar kan. Tanpa pria ini menyebutkan. Kalau semua perkataan dia itu untuknya. Tapi ia sudah tahu lebih dulu. Semua kata kata itu, pria ini tujukan untuknya.
"Intinya, anda menyuruh ku untuk melupakan semuanya." ucap Reyyan malas.
"Ha ha ha, apa terdengar seperti itu?" tawa pria tersebut sembari melihat Reyyan. Sedang wajah dia masih dalam senyum. Yang bagi Reyyan sangat mengesalkan.
Reyyan memilih mendesah. Dan membuang debu di ujung rokoknya ke asbak di hadapan nya. Yang berada di atas meja kaca. Di mana semakin banyak, karna tidak dia hisap sedari tadi. Karna mendengar ceramah pria di hadapannya.
"Tapi biar saya beritahu anda. Masa lalu..."
"Dan apa yang anda lakukan di kawasan ku?" Reyyan menatap tajam pria di hadapannya.
Pria tersebut mematikan rokoknya nya dan menatap Reyyan.
"Apa ada yang salah dengan seseorang yang berinvestasi? dan ini juga, pertama kali bagi ku berinvestasi di perusahaan pengolahan makanan. Jika kamu tidak tahu, aku sedikit tertarik untuk mencoba,"
Reyyan lagi lagi menggeram. Dan membuang begitu saja rokok yang masih tinggal setengah ke dalam asbak. Tanpa pria itu matikan terlebih dahulu.
"Mr. Willard! apa perlu anda bertemu dengan ku? langsung ke intinya," geram Reyyan menatap Mr Willard di hadapannya.
Pandangan Mr Willard tertuju ke rokok yang di buang asal oleh Reyyan ke asbak di depannya.
Mr Willard meraih rokok tersebut dan mematikannya ke asbak dan meletakkan kembali di sana.
"Putri ku sama sekali tidak menyukai pria yang merokok. Mencium bau rokok akan membuat nya muntah muntah tanpa henti. Yang lebih parah, dia akan pingsan tidak sadarkan diri. Hingga harus di larikan ke rumah sakit. Di dalam tasnya akan selalu ada semprotan penghilang bau rokok. Itu akan dia bawa kemana mana untuk berjaga jaga," ucap Mr Willard, yang nyaris seperti memberihu dan entah untuk siapa.
Reyyan entah kenapa menyimak dengan sangat baik. Saat kata kata putri keluar dari mulut pria di hadapannya.
__ADS_1
Reyyan tersentak tersadar dari raut wajahnya yang mematung. Saat mendengar ucapan pria di hadapannya. Sebelum ia cepat cepat mengubah wajahnya menjadi dingin dan datar.
Dan tidak lupa juga, Reyyan mengumpat dirinya sendiri yang terpesona sesaat.
Dan sialnya. Ia benar benar belum melupakan wanita itu.
"Anda cukup memberihu kan itu untuk calon menantu anda nanti. Ada keperluan apa anda mau bertemu dengan ku,"
Mr Willard menegakkan duduknya dan mendesah lelah. Sembari melihat menatap Reyyan dia menjawab datar.
"Tidak ada,"
"Ya?" Reyyan nyaris saja berteriak kesal sekaligus marah. Jika sopan santun dalam dirinya tidak tersisa sedikit pun. Terhadap orang yang lebih tua darinya.
Jadinya Reyyan memilih memejamkan kedua matanya sesaat. Sebelum suara ******* frustasi sekaligus lelahnya keluar dari mulutnya.
"Mr Willard!..." Reyyan bangkit berdiri dan menatap Mr Willard yang masih duduk di tempat nya dan mendongak menatap Reyyan.
"Kalau begitu saya permisi. Nikmati waktu anda di sini,"
"Bukankah jadwal pertemuan ini masih tersisa 1 jam 4 puluh 6 menit lagi!" tanyanya mendongak menatap Reyyan. Setelah melihat jam di tangannya.
Reyyan yang mau melangkah sontak menghentikan langkahnya. Berbalik dan kembali berhadapan dengan Mr Willard.
'Sungguh, orang yang tidak pernah mau ia temui di dunia ini adalah mereka,'
Reyyan sembari tersenyum palsu mengucapkan.
"Maafkan saya Mr! masih banyak pekerjaan saya yang harus saya selesaikan segera. Jadi! silakan nikmati waktu anda di sini,"
"Bukankah sudah ku bilang! sikap mu sangat kasar untuk seseorang yang mempunyai saham tinggi di perusahaan mu. Menurut mu kira kira, jika aku menjualnya lagi. Apa akan ada yang beli?"
Kedua mata Reyyan sontak membulat lebar. Detik selanjutnya Reyyan menggeram.
"Ya, jika anda membelinya dengan harga normal. Kenapa anda menaikkan menjadi 3 kali lipat!" teriak Reyyan frustasi.
Habis sudah kesabaran Reyyan untuk pria di hadapannya ini. Lupakan kesopanan atau apapun itu.
"Apa itu artinya tidak akan ada yang mau beli?"
Reyyan memejamkan kedua matanya. Menarik nafasnya sedalam dalam mungkin.
__ADS_1
'Sebenarnya apa yang di inginkan pria ini?'
"Menurut anda tidak ada yang beli?" nyatanya akan ada banyak yang mengantri. Tapi di sini bukan itu masalahnya. Pria ini,