Pilih Satu

Pilih Satu
bab 2


__ADS_3

Sesampainya di ruangan sang papa, Keisya duduk di sofa dengan jari lentik yang memainkan ponselnya, melihat berita pria idolanya Arsenio Elard Zayn, pengusaha muda sukses nomor 1 ditanah air. Dengan wajah tampan dan tubuh sempurna membuat Keisya kagum dengan bakat sang idola di bidang bisnis.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu dari luar membuat Keisya memperhatikan arah pintu, siapa yang disuruh masuk ayahnya dari luar itu.


"pagi tuan" sapanya dengan senyum tampan yang membuat Keisya tak berkedip melihatnya.


"pagi Dika" Sahut Abian tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


Andika Pratama merupakan seorang asisten Abian yang merupakan karyawan baru yang berbakat dengan usianya yang baru 22 tahun. Memiliki wajah manis dengan tubuh sedikit kurus namun tinggi, bagus tapi jika dia lebih gemuk sedikit mungkin akan tetlihat sempurna.


"sini sayang" Abian memainkan jarinya yang menyuruh Keisya untuk datang menghampiri mereka. "perkenalkan Keisya Zahira Zafan, putriku yang paling aku sayangi" ucap Abian dengan menatap Andika.


"Andika" mengulurkan tangan dengan senyum manisnya.


Keisya terdiam melihat wajah Andika yang memamerkan senyum manisnya. Dia belum pernah menginginkan mempunyai seorang kekasih sampai sekarang. Namun sekarang sungguh dia terpesona dengan senyum manis lelaki didepannya.


"hallo, haii" dengan melambaikan tangannya di depan Keisya, yang sedang terpana melihat lelaki di depannya.

__ADS_1


"oh hmm iya, panggil saja aku Keisya" menjabat tangan Andika dengan sedikit senyum malunya.


Andika mulai mengajarkan Keisya di bidang bisnis sedikit demi sedikit dengan sangat jelas. Papanya tersenyum ketika melihat putrinya memperhatikan dengan baik dari awal sampai akhir tanpa mengeluh sedikitpun.


"sudah, kita sampai sini dulu. Besok kita lanjutkan dijam yang sama" jelas Andika dengan memperhatikan wajah Keisya yang cantik jelita.


"apakah aku bisa kedepannya?" Keisya masih ragu akan kemampuannya.


"tenanglah, kita belajar sedikit demi sedikit agar semuanya lancar" ucap Andika dengan senyum manisnya sambil membereskan barang barang yang digunakan untuk mereka.


Keisya mengambil minum lalu meneguknya agar dia merasa tenang. Selesai dengan Keisya, Andika keluar dari ruangan papa Keisya dan kembali memberikan berkas berkas yang harus di tanda tangani oleh Abian.


***


Jam menunjukkan pukul 4 sore. Keisya beserta papanya meninggalkan kantor.


Sesampainya di rumah Keisya segera membersihkan badannya kemudian turun dari kamar untuk membantu bi asti yang sedang memasak makanan untuk makan malam nanti.


Selesai memasak, Keisya melihat mamanya baru pulang "mama dari mana?" Keisya bertanya pada mamanya yang terlihat sangat letih.

__ADS_1


"mama dari rumah oma, lalu membeli obat untuk papa sayang" jawab mamanya dengan meletakkan tas beserta bawaan dari omanya Keisya di meja makan.


"lalu mana obat untuk papa ma?" tanya Keisya karena tidak melihat mamanya meletakkan obat milik papanya.


"itu udah dibawa pak Yanto, mama minta pak Yanto untuk memberikan kepada papa" Zeline duduk karena merasa cape "mama tadi bertemu teman mama, dan dia bilang putranya bekerja di perusahaan papa. Namanya siapa tadi ya, Andika kalo ngga salah"


"ooh iya ma, tadi Andika yang mengajariku dikantor papa. Andika Pratama sekertaris papa di kantor ma" ucap Keisya dengan senyumnya.


"bagaimana orangnya? apakah baik sama kamu?" tanya mamanya karena ingin tahu bagaimana putra temannya itu.


"baik ma, cakep juga" Keisya menjawab sambil menyiapkan makan malam di meja "tapi Keisya belum kenal banget sih sama dia, soalnya tadi bertemu cuma belajar doang, belum sempet ngobrol" jawab Keisya sedikit kecewa.


Zeline mengerti tatapan kecewa putrinya. Walau sampai saat ini belum pernah Keisya mengenalkan pria kepada mamanya karena memang Keisya cuek bebek sama pria. Namun ini berbeda, Zeline sangat tahu sifat putri satu-satunya.


"besok kamu ngobrol sama dia sebentar sayang, siapa tau kamu jadi suka, ciee" bujuk mamanya, karena dia tadi sudah diberi tahu tentang Andika oleh temannya yaitu ibu Andika sendiri.


"hehee, ngga ah ma" Keisya tersenyum dengan wajah yang merah tapi menundukkan kepala agar mamanya tidak mengetahui wajahnya.


Zeline tersenyum dengan menggeleng gelengkan kepalanya.

__ADS_1


***


__ADS_2