
Belum sempat menjawab Rasya sudah datang dengan membawa tiga teh botol ditangannya. Keisya lebih suka seperti ini dari pada harus boros boros makan ngehabisin uang di lestoran.
"Keisya barusan mama kamu telfon suruh pulang katanya" ucap Rasya disusul meneguk minum di tangannya.
Keisya pamit ke Andika. Kemudian berjalan menuju tempat untuk memarkirkan mobil dan bergegas pulang.
Di mobil tiba tiba Keisya ingat kejadian siang tadi di kantor lebih tepatnya di ruangan pribadi Arsenio.
Keisya mengalihkan pandangannya melihat jalanan yang ramai kendaraan. Tanpa disadari matanya menitikkan air, dia tidak ingin menceritakan ini kepada siapapun, cukup Keisya, Arsenio, dan Yang Maha Melihat yang tahu. Kejadian satu demi satu terkumpul di kepala Keisya membuatnya tak bisa menahan air mata yang ingin jatuh menghujani pipi Keisya.
Rasya melihat Keisya menangis, dia heran apa yang bisa membuat seorang Keisya menangis. Karena dari dulu berteman Rasya hanya pernah melihat sekali Keisya menangis, itupun karena neneknya meninggal dunia.
"kenapa?" tanya Rasya dengan menarik bahu Keisya untuk mendekat "tenang dulu baru cerita" tangan Rasya meletakkan kepala Keisya di bahu kirinya.
__ADS_1
Hampir sepertiga pernjalanan Rasya mendengarkan tangisan Keisya, sampai sesenggukan pun Keisya masih belum berhenti menangis.
Keisya memindahkan kepalanya untuk melihat jalan di sampingnya. Tanpa suara sepanjang perjalanan hingga mobil memasuki pekarangan rumah Keisya. Keisya membuka pintu tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Rasya. Namun Rasya memahaminya karena dia paham kalau Keisya sedang sedih tidak dapat di ajak bicara, diam sampai sendirinya merasa bosan.
***
Rasya dan Keisya sibuk di dapur rumah Keisya. Mereka berdua memang suka mencoba resep baru dengan hasil tangan sendiri. Sudah beberapa hari Keisya tidak datang ke perusahaan ayahnya, dia masih sedih karena perlakuan Arsenio. Hanya Rasya yang setiap harinya menghibur Keisya sampai saat ini baru bisa mengeluarkan suaranya.
Rasya dan Keisya terlalu sibuk di dapur hingga tidak memperbolehkan bibi rumah Keisya untuk ikut hadir di dapur sebagai orang ketiga.
"makan jangan sambil jalan sayang" Zeline memperingatkan putrinya yang kurang sopan.
"hanya mencicipi ma" Keisya berjalan keluar, dia tidak melihat kalau papanya sedang kedatangan tamu.
__ADS_1
Keisya terbahak karena melihat wajah Rasya yang belum sadar jika pipinya terdapat tepung yang bergaris tiga seperti kumis kucing.
Langkah Keisya terhenti setelah melihat seseorang di depan papanya. Keisya naik menuju kamarnya tanpa sepengetahuan Rasya karena Rasya telah berjalan beberapa langkah yang tidak menyadari Keisya disampingnya pergi.
"hey nanti kalau makan di luar biasanya banyak kucing yang ingin minta" Rasya berbicara sendiri seperti orang gila melewati papa Keisya.
Tidak ada yang menjawab ucapan Rasya, kemudian dia clingak clinguk mencari bayangan Keisya yang menghilang.
"kok tumben jalan sendiri, mana Keisya?" tanya Abian papa Keisya yang menahan tawa karena melihat coretan di kedua pipi Rasya.
"kenapa om ditahan tawanya? lagi tahan tawa ya?" Rasya masih mencari keberadaan Keisya "oh iya om tau mak lampir nggak lari kemana? tadi dia ngajak mau makan ini di luar, kok sekarang malah nyangkut ke pohon mana tiba tiba hilang" akhirnya Rasya tanya kepada Abian jika saja melihat Keisya pergi.
"ngga tau, mungkin terbang ke atas" jawab papanya, maksud tetbang ke atas itu pergi ke kamar Keisya sendiri.
__ADS_1
Rasya melihat dua orang laki laki duduk bersama papa Keisya di depannya.