
Arsenio melepaskan pelukannya, dia beralih memegang kedua pipi Keisya. Arsenio mencumbu bibir Keisya dengan lembut. "aku akan mengembalikan semuanya" ucap Arsenio.
"terima kasih" Keisya menjatuhkan air matanya, bukan karena dia terharu tapi karena dia sadar dia mengorbankan dirinya. 'papa telah mengurusku dari kecil sampai sebesar dan sekuat ini, papa apakah aku masih bisa membuatmu bangga dengan aku yang sekarang menjadi kekasih orang seperti dia' batin Keisya. Keisya menangis tanpa dia sadari.
"kenapa kamu menangis?" tanya Arsenio dengan mengusap air mata Keisya. "jika kamu tidak ingin, katakan saja kamu tidak menginginkan aku" kata kata Arsenio membuatnya semakin terisak.
Arsenio mendekap Keisya dalam pelukannya, dia membiarkan Keisya menangis terlebih dahulu baru akan bertanya kenapa dia menangis.
cukup lama Keisya menangis dalam pelukan Arsenio sehingga membuat kemeja Arsenio dibagian pundak sedikit basah karena air mata Keisya yang sedari tadi menangis sesenggukan. Keisya melepaskan pelukan Arsenio.
"apakah sudah tenang?" tanya Arsenio sedikit khawatir karena Keisya menangis cukup lama, dia takut jika Keisya pusing.
Keisya menganggukkan kepalanya. Dia sudah bisa menerima bahwa sekarang dia kekasih Arsenio Elard Zayn, masalah demi masalah pasti banyak, dia siap melewatinya demi papanya. Walau Keisya belum melupakan perasaannya kepada Andika, dia yakin perlahan akan hilang seiring berjalannya waktu.
"kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Keisya karena Arsenio dari tadi menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
__ADS_1
"aku kasihan dengan kucing kecil imutku, dia menangis tanpa sebab" jawab Arsenio dengan senyum nakalnya "ngomong ngomong bisakah kita pindah ke sofa, kakiku kesemutan" lanjutnya dengan tujuan menghibur Keisya.
"ooh iya, maaf maafkan aku" Keisya langsung berdiri dilanjutkan dengan memapah Arsenio yang kakinya kesemutan karena Keisya duduk di pangkuannya dari datang sampai selesai menangis "apa terasa sakit kakimu?" tanya Keisya yang kemudian mendudukkan Arsenio di sofa.
"tidak apa apa, bisakah kamu mengambilkan aku minum?" pinta Arsenio karena dia juga merasa haus "itu minum putih di dekat pintu, tolong ambilkan yang dingin"
Keisya langsung mengambilkan minum untuk Arsenio "aaaaaak" Keisya memberikan minuman itu dari atas wajah Arsenio.
Arsenio cemberut "apa tidak bisa lebih romantis dikit" ucap Arsenio menundukkan kepalanya.
Arsenio menerima gelas lalu meneguknya.
"apakah kakimu masih sakit?" tanya Keisya melihat kaki Arsenio yang masih dipegang Arsenio di bagian lututnya.
"sakit sakit dahulu senang senang kemudian" jawab Arsenio dengan setengah senyumnya kepada Keisya.
__ADS_1
"wekk" Keisya menjulurkan lidahnya "kenapa harus sakit yg duluan?" tanya Keisya menatap Arsenio.
Arsenio menaikkan sebelah alisnya "memangnya kamu mau sekarang senang besok sakit?"
"jadi kamu mendoakan aku sakit?" ketus Keisya. "aaahh" jerit Keisya karena ditarik hidungnya oleh Arsenio "sakit tau, hidung aku kalo lepas gimana?"
"nanti aku ambilin hidungnya pinokio" jawab Arsenio "bukannya hidung pinokio jelas lebih panjang dari pada punyamu?"
"iya, pinokio hidungnya panjang karena sering bohong, kalo aku emang ngga ada hidung soalnya sering dibohongin kamu" gerutu Keisya yang tangannya masih memegang hidung merahnya karena ditarik Arsenio.
"kapan aku membohongimu?" tanya Arsenio dengan alisnya yang keatas sebelah.
"kamu bilang kamu menyukaiku, tapi diluar sana masih banyak wanita yang bersamamu. Bahkan semua orang mengetahui bahwa kemanapun kamu pergi kamu selalu membawa wanita" gerutu Keisya.
Arsenio hanya tersenyum menatap Keisya.
__ADS_1