
"ssstt, aku hanya menginginkan kamu yang ada bersamaku" Arsenio berdiri ingin meninggalkan Keisya, karena ia tidak ingin jika papanya Keisya berfikir macam macam jika Arsenio terlalu lama.
"aku pulang dulu, jangan tolak panggilan dariku" Arsenio mencium kening Keisya lalu pergi meninggalkannya.
Keisya tersenyum menatap punggung Arsenio menjauh dan semakin hilang tak terlihat. Rasya muncul dengan ciri khasnya berjalan, membuat ketampanannya terlihat jelas tak bisa dielakkan.
"kenapa lama sekali?"Rasya duduk di samping Keisya "apa kalian sudah saling mengenal?" sambung Rasya curiga.
"aku mau mandi, pergilah. Habis ini kita jalan keluar, aku mulai bosan dirumah oke?" ajak Keisya yang disertai anggukan Rasya.
Rasya keluar dari kamar Keisya dan menunggu di dapur bersama bi Inten. Sedangkan Keisya bergegas mandi, dia berendam untuk menenangkan fikirannya yang dari tadi memikirkan Arsenio.
"hei, kenapa kamu berduaan sama bi Inten?" tanya Keisya menuju dapur mendekati bi Inten "hayoo bibi suka ke Rasya yaa?" goda Keisya dengan senyum jahilnya.
"bukan non, ini den Rasya bilang katanya nanti malem mau ngajak bibi kencan di taman" bi Inten menjelaskan "terus katanya bi Inten mau diceburin ke danau, biar jadi mermek" sambung bi Inten.
"hahaha mermek? mermaid bi. Itu loh putri duyung" jawab Keisya yang masih terbahak mendengar cerita bi Inten.
__ADS_1
"kalo bi Inten jadi mermek nanti den Rasya jadi suka ke bibi ya non? kan bibi jadi muda dan cantik lagi, lumayan dong bibi punya suami dua" bi Inten tersenyum "nanti suami bibi cemburu tidak ya non? hihi" bi Inten tertawa membayangkan.
Bi Inten memang suka bercanda orangnya, apalagi jika bersama Keisya dan Rasya.
"hahaha" Rasya dan Keisya terbahak mendengar ucapan bi Inten. Umur bi Inten memang sudah hampir 60an. tapi dia cukup kuat dan gesit mengerjakan pekerjaannya.
"ah jangan bi, Rasya tidak enak sama pakde amin, Nanti Rasya dipukul pakai sapu pakde gimana?" Rasya menggoda bi Inten. Suami bi Inten memang tukang kebun di rumah Keisya.
"nggak den, nanti bibi yang bilang sama mase" jawab bi Inten polos sambil memotong daun bawang.
Keisya dan Rasya berjalan menuju parkiran. Namun di depan rumah papa Abian sedang bicara dengan pakde Amin.
"pa, Keisya keluar dengan Rasya dulu" Keisya meminta izin kepada papanya dengan melambaikan tangan.
Abian hanya tersenyum melihat putrinya semangat kembali. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju mall, setelah sampai, Rasya memarkirkan mobilnya kemudian berjalan memasuki mall bersama Keisya.
Terpampang jelas nama Elard Zayn di pintu sebelah kiri, itu menandakan bahwa mall tersebut berada pada kekuasaan Arsenio. Keisya hanya tersenyum memandangnya.
__ADS_1
Setelah berkeliling di mall mereka berdua menuju taman untuk berjalan jalan mencari udara segar karena Keisya bosan dengan udara rumah mungkin hihi.
***
Hari ini papa Keisya sudah lebih membaik keadaannya, dia bisa kembali mengurus perusahaan. Abian dan Keisya berjalan beriringan memasuki kantor. Para karyawan memberi salam horomat kepada mereka.
Abian memasuki ruangannya, sedangkan Keisya yang tadinya hanya menempati ruangan Abian, sekarang sudah memiliki ruangan sendiri yang telah dipersiapkan oleh perusahaan. Tepat berada di samping kanan ruangan Abian ada ruangan Keisya, sedangkan di samping kiri ada ruangan asisten Abian yaitu Sinta.
Seharian sibuk di kantor, bahkan Keisya tidak sempat melihat dimana keberadaan Andika. Dia keluar menuju ruangan papanya untuk menyerahkan beberapa berkas.
Setelah dipersilahkan masuk, Keisya memasuki ruangan Abian.
"hai Dika" Keisya tersenyum menyapa Andika disamping papanya yang juga tersenyum kepadanya "ini pa, sekarang waktunya pulang. Mari pulang, Keisya laparr" rengek Keisya manja di depan papanya.
"baik" Abian berjalan diikuti Keisya di belakangnya.
Keisya tersenyum kepada Andika sebelum berlalu pergi. Sebenarnya Andika ingin menanyakan jawaban Keisya, namun diurungkan karena ada papanya sedang bersama Keisya.
__ADS_1