Pilih Satu

Pilih Satu
bab 23


__ADS_3

"Rasya, perkenalkan rekan bisnis barunya om, Arsenio Elard Zayn dari perusahaan Elard Zayn" Abian memperkenalkan orang yang duduk di depannya.


Arsenio sedang gusar karena melihat Keisya yang tiba tiba naik ke atas setelah melihat keberadaannya. Ingin mengejar Keisya namun Arsenio tahu bahwa jika ada Rasya kehadirannya di depan Keisya, Arsenio tidak mungkin terlalu penting atau bahkan bisa dianggap tidak ada.


"bolehkah aku berkenalan dengan mak lampir pak?" tanya Arsenio yang ikut ikutan menyebut Keisya sebagai mak lampir.


"hahaha" Abian dan Rasya terbahak mendengan sebutan mak lampir dari Arsenio untuk Keisya.


"Keisya namanya, bukan mak lampir. Perkenalkan saya Rasya Nugroho, saya kakak tingkat Keisya atau bisa dibilang seorang sahabat yang dianggap seperti kakak oleh Keisya" Rasya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Arsenio.


"Arsenio" jabat Arsenio dengan tersenyum ramah.


"aku memanggilnya mak lampir karena mood dia gampang berubah kadang langsung marah, kadang tiba tiba tertawa tragis. Baiklah aku akan memanggilnya, silahkan duduk dulu tuan" Rasya berjalan menaiki tangga menuju kamar Keisya.


Ceklek

__ADS_1


"hei mak lampir" panggil Rasya yang melihat Keisya berdiri di balkon kamarnya "kenapa nangis lagi?" Rasya penasaran karena tadi dia sudah tertawa bersama lagi saat di dapur.


"sini" Rasya membawa Keisya ke dalam pelukannya.


"ada yang ingin berkenalan denganmu, tuan Arsenio namanya. Itu sedang dibawah bersama om" ucap Arsenio yang masih merasakan Keisya menangis sesenggukan.


Karena Keisya tidak ingin bertemu dengannya, Keisya mengatakan kalau dia sedang sakit perut. Sedangkan Rasya yang terus membujuk Keisya agar mau menemui Arsenio masih belum menyerah.


"ayolah, hanya berkenalan. Eh orangnya ganteng loh mak lampir, kalau dari segi pakaiannya sih orang sukses" kata Rasya yang belum tahu setinggi apa nama Arsenio di kota yang sekarang ditempati.


Rasya melangkah turun untuk mengatakan kepada Arsenio bahwa Keisya sedang sakit perut. Sambil berjalan Rasya terus memikirkan kenapa sekarang Keisya cengeng, bukan seperti Keisya yang dulu.


"aku ingin menjenguknya apakah boleh pak?" izin Arsenio setelah mendengar bahwa Keisya sakit perut, lebih tepatnya Arsenio tahu bahwa Keisya tidak ingin bertemu dengan Arsenio.


"mari saya antar" ajak Abian dengan senyum ramahnya kepada Arsenio.

__ADS_1


Mereka bertiga menaiki tangga berjalan menuju kamar Keisya. Rasya mengetuk pintu meminta izin agar diperbolehkan masuk oleh Keisya. Setelah terdengar perintah masuk, Rasya membuka pintu.


Terlihat Keisya masih belum berpindah dari tempatnya, Keisya masih berdiri di balkon dengan menatap jalanan senggang di bawah. Bahkan saat Rasya masuk pun Keisya tidak melihat ke arah pintu.


"kata Rasya kamu sakit sayang?" tanya Abian yang heran karena Keisya sedang berdiri di balkon, dari punggungnya terlihat seperti tanpa merasakan kesakitan.


Keisya terkejut melihat papanya berdiri di belakang bersama Arsenio. Dia menatap Arsenio yang tersenyum kepadanya. Tidak kuasa ia menahan tangis, begitu melihat senyum Arsenio air matanya mengalir di pipi.


"kenapa nangis sayang?" Abian yang tidak pernah melihat putrinya nangis pun khawatir akan keadaan putri semata wayangnya.


"ti.. tidak ap apa apa pa" jawab Keisya terbata bata karena tangisnya.


Rasya menuntun Keisya untuk duduk di sofa. Tidak ada elakan dari Keisya karena dia tahu kalau ada Arsenio dan papanya di depannya. Terlebih lagi dia tidak ingin melihat papanya khawatir kepadanya.


"bolehkah saya berkenalan berdua dengan Keisya?" izin Arsenio yang membuat Keisya ingin ikut keluar bersama Rasya dan papanya.

__ADS_1


Abian dan Rasya keluar meninggalkan kamar Keisya, sedangkan Keisya yang duduk di sofa tambah menangis sesenggukan dengan menutup wajah dengan kedua tangannya.


__ADS_2