
Rasya geram dengan kelakuan sahabatnya yang meninggalkannya. Segera dia mengejar Keisya dan Andika yang telah meninggalkannya.
Keisya terbahak melihat Rasya yang mengejar mereka dibelakang. Tetap kelihatan cool walau clingak clinguk mencari sosok Andika dan Keisya.
Keluar dari mall, Keisya meminta kepada Rasya untuk membelikannya sate madura untuk dimakan dirumahnya nanti. Ketiganya akan ke rumah Keisya untuk makan bersama di taman dekat rumah Keisya.
"Aku mau ganti baju dulu, tunggu!" Keisya berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Mereka bertiga berjalan menuju taman dekat rumah Keisya. Andika selalu memperhatikan Keisya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Sebenarnya Rasya menyadari sejak tadi, namun bagaimana akan bertanya kepada Keisya jika Andika masih bersama dengan mereka.
"Aku pulang dulu ya" izin Andika meninggalkan taman untuk pulang ke rumahnya sendiri.
Keisya dan Rasya berjalan keluar untuk mengantarkan Rasya mengambil mobilnya.
"Apa hubunganmu dengan Andika sebelumnya?" Rasya bertanya apa yang ingin dia tanyakan sedari tadi.
__ADS_1
"Hanya rekan kerja" jawab Keisya menatap bintang di langit, dia pun bingung dengan perasaannya selama datangnya Arsenio.
"Jangan terlalu dipikirkan, pilih satu yang benar benar bisa menemanimu!" Ucap Arsenio yang membuat Keisya terbahak.
"Hahaha, kamu kenapa? Apanya yang pilih satu? Donat? Coklat atau stoberi?" Keisya terbahak mendengar ucapan Rasya.
"Sembarangan! Aku tahu Andika menyukaimu, tapi kamu mempunyai Arsenio sebagai kekasihmu" Rasya mengetahui tatapan sesama lelaki yang memiliki maksud tersendiri.
"Aah lupakan, pulang gih. Hati hati nanti ada mak lampir!" Teriak Keisya membuat Rasya balik badan menghadap Keisya kembali.
"Bukannya kamu temanku? Ngapain nakutin gitu?" Rasya tersenyum dengan tangan kanan yang dimasukkan ke saku celananya.
Rasya membawa mobilnya keluar dari pekarangan rumah Keisya. Semakin tak terlihat hingga hilang. Keisya mengingat kejadian waktu dia masih duduk di bangku SMU dahulu. Bagaimana Rasya bisa memanggilnya mak lampir.
Waktu itu malam hari Keisya selesai mandi, dengan rambut basah masih terurai. Saat itu di rumah Keisya sedang tidak ada orang karena mama papa Keisya sedang pergi keluar kota. Dirumah hanya ada Keisya dan beberapa pelayan. Rasya datang ke rumah Keisya untuk menyelesaikan tugas yang Rasya belum paham. Rasya sering belajar bersama Keisya di malam hari karena sebelum Keisya pindah rumah, dulu rumahnya dengan rumah Rasya hanya berjarak tiga rumah disebelah kanannya.
__ADS_1
Rasya diantar bi Inten menuju ruang belajar Keisya, tempat Keisya dan Rasya biasa belajar bersama. Berdiri seorang wanita menghadap jendela dengan rambut basah terurai yang memakai piyama panjang berwarna putih. Lampu yang dihidupkan hanya disekitar meja belajar.
Rasya berjalan di belakang bi Inten membuka pintu. Betapa terkejutnya bi Inten melihat sosok berdiri menghadap jendela. Bi Inten kembali keluar lalu menutup pintu.
"Den Rasya, tadi non Keisya bilang mau nunggu aden di ruang belajar. Coba bibi lihat di kamar enon dulu ya den" ucap bibi gemetar ketakutan.
"Emang Keisya ngga ada di dalam bi?" Tanya Rasya heran melihat bi Inten yang gemetar tangannya "bibi kenapa?"
Bi Inten kembali membuka pintu, melihat keadaan di dalam. Masih seperti tadi, Keisya berdiri dengan posisi sama tanpa berpindah sedikitpun.
"Ada ada mak lampir di dalam den" bi Inten ketakutan, segera berlari melihat ke kamar Keisya.
"Den, enon ngga ada den di kamar" bi Inten khawatir keberadaan Keisya "kemana enon ya den?" Tanya bi Inten kepada Rasya.
"Mana tahu, aku aja baru datang" jawab Rasya kesal melihat tingkah bi Inten yang ketakutan.
__ADS_1
Rasya membuka pintu ruang belajar Keisya, dengan cahaya gelap hanya ada sinar dari luar jendela, berdiri seorang dengan piyama putih dengan rambut terurai. Rasya mendekat dengan membawa sapu bersiap untuk memukulnya. Bi Inten mengikuti dari belakang.
"Mak, mak lampir ngapain kesini?" Tanya bi inten yang baru saja masuk.