
Arsenio menggenggam erat tangan Keisya, menjaganya agar tidak jatuh karena jalanannya begitu susah untuk depijaki sepatu hak tinggi seperti yang di pakai Keisya.
"Aah" teriak Keisya karena kakinya merasa terkilir akar pohon yang menonjol ke permukaan tanah.
"Aw" Keisya meringis Kesakitan.
"Apa kamu tidak apa apa? Coba kemarikan kakimu, aku lihat!" Pinta Arsenio setelah mendudukkan Keisya di tangkai pohon yang menunduk.
"Tidak apa apa, hanya terkilir sedikit" ucap Keisya yang berusaha membuat Arsenio berdiri dari jongkoknya.
"Sstt diam!" Arsenio memijat kaki Keisya perlahan. Walau Keisya sering merengek kesakitan, Arsenio tidak berhenti memijatnya.
"Kenapa kakinya neng cantik, den?" Tanya seorang penduduk yang umurnya sekitar 40an.
Keisya berusaha tersenyum dengan menahan kakinya yang masih terasa sakit saat di pijit Arsenio.
"Ini sedikit terkilir karena kurang hati hati pakde" jawab Arsenio dengan senyum ramahnya.
"Sini, biar pakde coba pijit" Arsenio memberikan kaki Keisya secara perlahan "ini ndak apa apa den, cuma kesleo".
__ADS_1
"Aaahhh" teriak Keisya merasa kakinya sakit entah diapakan oleh pakde yang memegang kakinya.
"Coba digerakkan neng!"
Keisya menggerakkan kakinya kesamping kanan kiri lalu memutarnya, sakitnya hilang entah pergi kemana.
"Sudah sembuh pakde, terimah kasih banyak" ucap Keisya.
"Ndak masalah neng, hati hati ya jalanannya susah buat jalan kalau sepatu neng tinggi gitu" pakde tua mengingatkan "yowes, pakde pergi dulu" membungkukkan badannya memberi hormat kepada Keisya dan Arsenio.
"Iya pakde, terima kasih" ucap Keisya dan Arsenio bersamaan.
Arsenio mengajak Keisya kembali ke vila, namun Keisya menolak karena ingin pergi ke kebun teh menikmati indahnya pedesaan. Keisya tidak mau menyia nyiakan perjalanannya di pedesaan kali ini.
"Ayo, hati hati" peringatan Arsenio membuat Keisya lebih menggenggam erat tangan Arsenio.
Melihat beberapa warga desa yang memetik daun teh membuat Keisya ingin melakukannya. Arsenio tahu apa yang diinginkan seorang wanita yang bersamanya saat ini, hingga Arsenio meminjam keranjang tempat petikan daun teh yang ada di tempat peristirahatan para warga.
Arsenio mengajari Keisya memetik daun teh, setelah tangan Keisya penuh Keisya bingung harus meletakkan di mana. Arsenio meletakkan tangan Keisya yang menggenggam daun teh di atas bahu Arsenio. Memintanya untuk melepaskan tehnya.
__ADS_1
"Buat apa kita metik kalau cuma mau dibuang?" Omel Keisya menatap tajam Arsenio.
"lihatlah di belakang punggungku" jawab Arsenio dengan santainya.
Keisya meringis memperlihatkan giginya tanda dia tidak tahu. Dengan segera Keisya mendekati seorang ibu ibu yang gemuk namun terlihat ramah karena sedari tadi tersenyum ke arah mereka berdua.
"Gini neng, sini budhe ajak berkeliling melihat bagian cantik dari desa ini. Hanya lewat sekitar kebun ini" ajak seorang wanita menunjuk beberapa tempat yang menurutnya cantik.
Waktu berlalu, saatnya Arsenio membawa Keisya kembali ke vila kakeknya.
Banyak obrolan tentang Keisya dan Arsenio yang membahas kakek tersayang Arsenio. Dari masa muda Ahsan hingga neneknya meninggal semua diceritakan pada Keisya. Namun semua itu berhenti setelah ada seseorang mengagetkan mereka berdua.
Wanita dengan kepang dua, yang mengenakan celana besar dan baju yang bisa dibilang kuno. Mengagetkan perbincangan Keisya dan Arsenio.
"kak Nio!" teriaknya yang berlari langsung memeluk tubuh gagah Arsenio.
Keisya memajukan bibir hingga seperti bebek. Arsenio yang melihatnya merasa tidak enak dengan Keisya.
pelukan dilepaskan oleh Arsenio "aku merindukan mas, kita kapan akan menikah?" ucap wanita kepang dua.
__ADS_1