
"Itu Arsenio" jari telunjuk Keisya mengarah pada dua orang lelaki yang sedang duduk berbincang.
Zeline sampai di dasar tangga berdampingan dengan Keisya. Terlihat keduanya seperti kakak adik karena Zeline yang awet muda dan masih tetap cantik seperti Keisya.
"Nak? Siapa wanita di sampingmu?" Tanya Abian setelah kedua perempuan menghadap mereka.
"Perkenalkan pa, calon mama baru Keisya. Cantik bukan?" Jawab Keisya dengan senyum jahilnya.
"Lalu bagaimana dengan mamamu?" Abian menaikkan sebelah alisnya tanda penasaran.
"Om? Bukankah itu tante Zeline?" Tanya Arsenio yang merasa keheranan dengan ulah calon mertua dan calon istrinya itu.
"Hahaha" tawa kedua orang tua dan Keisya pecah melihat kebingungan wajah Arsenio.
"Kalian mengerjaiku" ucap Arsenio kecewa.
Candaam antara keluarga Keisya memang sudah biasa. Karena kedua orang tua Keisya sering tertawa hingga mereka terlihat awet muda. Termasuk bi Inten wkwk.
__ADS_1
Arsenio dan Keisya berpamitan setelah melewatkan beberapa obrolan di ruang tamu. Setelah Abian mengizinkan mereka pergi, Arsenio menggandeng tangan Keisya keluar dari rumah menuju mobil mewahnya.
Pedal gas diinjak oleh Arsenio, dengan kecepatan sedang sembari mendengarkan beberapa musik yang menumbuhkan semangat.
"Kamu mau bawa aku kemana?" Keisya memecahkan keheningan mereka yang sama sama terhanyut dalam musik yang di dengar.
"Ke rumah kakek" jawab Arsenio yang masih fokus dengan kemudinya.
"Ooh" sahut Keisya dengan membulatkan bibir manisnya.
Keisya menikmati perjalanan dengan memandang jalanan senggang yang dilewatinya dan Arsenio. Karena sekarang kakek Keisya berada pada vilanya yang ada di pedesaan, jadi cukup jauh dalam perjalanan.
"Mengapa kakek memilih untuk tinggal di desa?" Tanya Keisya saat melihat Arsenio melihat beberapa orang tua di tepi jalan juga.
"Karena dulu kakek orang desa. Kakek lebih suka menghabiskan waktunya di desa bersama beberapa temannya sejak nenek meninggal" jawab Arsenio melihat ke arah Keisya sekilas
Keisya melihat beberapa rumah yang dominan terbuat dari kayu di sepanjang jalan "bukannya kakekmu pengusaha terkemuka di negara kita?" Arsenio memberhentikan mobilnya karena ada induk ayam lewat bersama anaknya "lalu siapa yang mengurus?"
__ADS_1
"Bukankah kakek mempunyai beberapa orang kepercayaannya" jawab Arsenio melajukan kembali mobilnya.
Berkali kali Arsenio membunyikan klason mobilnya s3mbari menganggukkan kepala memberi salam kepada orang desa.
Tiba memasuki vila kakek ahsan, disambut dengan beberapa pengawal yang menjaga.
Selesai memakirkan mobilnya dengan sempurna, Arsenio turun dari mobil diikuti Keisya di belakangnya. Ada seorang pengawal yang menemaninya menunjukkan jalan.
"Assalamualaikum kakek" salam Keisya dan Arsenio bersamaan menbuat Ahsan yang sedang membaca koran terkejut dengan kehadiran mereka.
"Waalaikum salam" Ahsan berdiri dari duduknya dengan senyum lebarnya "kemari cu, kemari!"
Arsenio berjalan di depan Keisya dengan tangan yang menggenggam erat milik Keisya. Mempersilahkan Keisya duduk di sampingnya, membuat Arsenio melingkarkan tangannya di bahu Keisya.
Ahsan tersenyum melihat cucunya yang hampir menikah. Berkali kali mengingatkan agar segera memberikan cicit untuknya. Membuat wajah Keisya merah mengingat kejadian itu, betapa menyakitkan, kenapa harus terulang kembali fikirnya.
Setelah cukup lama mereka saling berbincang dengan diselingi tawa. Ahsan meminta Arsenio untuk mengajak Keisya berjalan jalan di beberapa tempat yang menurutnya memberikan udara sejuk.
__ADS_1
"Aku suka, warga desa sangat ramah. Tidak seperti di ibu kota" Keisya sering kali tersenyum jika bertemu beberapa warga.
"Itulah kenapa kakek lebih suka hidup di desa. Membuat kakek lebih mudah mengingat masa masa indah dengan nenek dulu" jawab Arsenio menunjuk sebuah kebun teh "ayo kita lihat mereka yang memetik daun teh"