
Rasya terhuyung ke tepi jembatan "Keisya jatuh" teriak Rasya yang membuat beberapa pasang mata melihat ke arahnya.
"hahaha" Rasya terbahak membayangkan raut wajah Keisya di punggungnya.
"iiih" Keisya marah dengan tangannya memukul bahu Rasya berkali kali "liat no banyak mata ngeliat ke kita" Keisya membenamkan matanya di punggung Rasya merasa malu.
"aku cukup kuat buat gendong lima butir galon haha" Rasya masih terbahak membayangkan muka Keisya yang ketakutan jika benar benar dia menjatuhkan Keisya ke air.
"gimana naruhnya galon ma nggak bisa di tumpuk ih" sahut Keisya yang melingkarkan tangannya ke leher Rasya.
"kan aku cuma bilang galon bukan galon yang ada airnya, gampang dong tinggal dipeluk pasti rasanya sama kayak meluk kamu hahaha" Rasya kembali terbahak membayangkan.
"terserah!" ketus Keiya kesal mendengar perkataan Rasya.
"cih udah segede gentong masih ngambekan hahaha" Rasya masih belum bisa menghentikan tawanya.
Arsenio meremas bahu Daffin di sampingnya melihat kedekatan Rasya dan Keisya .
"kenapa Keisya belum pernah tertawa lepas seperti itu jika bersamaku?" guman Arsenio geram melihat pemandangan di depannya.
"mungkin anda kurang memanjakan nona" jawab Daffin dengan muka kesal yang dibuat ramah karena lelah harus membuntuti orang yang tanpa menghiraukan keberadaannya, ya iyalah kan mereka ngga tahu kalau Arsenio dibelakangnya.
"turun Rasya!" pinta Keisya untuk menurunkannya dari gendongan Rasya.
__ADS_1
Keisya dan Rasya berjalan beriringan dengan Rasya yang memengang ponsel ditangannya, Keisya melihat sekeliling, dia berhenti karena melihat seseorang.
"haiii" sapa Keisya dengan menggerakkan ke kanan dan ke kiri tangannya.
"kamu ngapain ke sini?" tanya seseorang yang disapa Keisya.
"aku lagi jalan sama temen aku" Keisya mencari sosok Rasya "kemana ilangnya tu demit" clingak clinguk kepala Keisya.
Dorrr
Balon pecah di samping telinga Keisya.
"aaah!" teriak Keisya "kaget tau!"
"haha lucu!" ketus Keisya ngambek.
"habis ngga tau tiba tiba berhenti" ucap Rasya sambil memandangi sosok di depan Keisya dari bawah sampai atas.
"ooh ini kenalin, rekan kerja aku Andika. Andika ini temen aku Rasya" Keisya menjelaskan sekejap curi pandang melihat wajah penasaran Andika.
"Rasya" tangan Rasya menjulur ke depan Andika "aku bilang kekasih Keisya boleh?" sambung Rasya dengan bahunya menyenggol lengan Keisya.
"idih sejak kapan, ogah punya kekasih tampang demit gitu" sepasang mata Keisya melirik ke arah Rasya "bukan, dia sahabat aku dari dulu" Keisya melihat tangan Andika dan Rasya masih bersalaman di depannya.
__ADS_1
"Andika" ucap Andika dengan senyum manisnya.
Keisya melihat senyum Andika yang manispun ikut tersenyum.
Sementara Arsenio lega karena mendengar bahwa Rasya sahabatnya. Namun tidak dapat dipungkiri jika rasa cemburunya tidak hilang, Arsenio tidak suka melihat Keisya dekat dengan lelaki lain, bahkan jika itu Daffin asistennya sekalipun.
Arsenio duduk di tepi danau melihat Keisya dan kedua lelaki di depannya. Mereka makan jagung bakar, karena hari mulai gelap Arsenio mengajak Daffin untuk pulang. Arsenio meninggalkan pemantauan pribadi Keisya.
Rasya pergi membeli minum, tinggal ada Keisya dan Andika duduk menikmati jagung bakar.
"seru orangnya" ucap Andika memecah keheningan "kamu belum pernah tertawa lepas seperti ini saat bersamaku" sambung Andika menatap sepasang mata Keisya.
Degg
Melihat tatapan Andika tulus entah perasaan apa yang tidak dapat dijelaskan.
"iya, dia orang paling bisa buat aku tertawa lepas. Dari dulu kami bersama, jadi ngga ada yang disembunyikan diantara kami selama ini" Keisya menjelaskan karena tidak ingin jika Andika salah paham dengannya.
"apakah dia memiliki kekasih?" selidik Andika yang cemburu melihat kedekatan Keisya dan Rasya.
Keisya menatap tajam Andika di depannya.
'emang hati kamu udah pindah ke Rasya? Gampang banget pindahnya, baru beberapa jam loh kamu bilang suka ke aku' batin Keisya kesal mendengar pertanyaan Andika.
__ADS_1