Pilih Satu

Pilih Satu
bab 34


__ADS_3

"Mak, mak lampir bisa jawab kan?" Tanya bi Inten yang membuat Keisya cekikikan mendengar pertanyaan bi Inten.


"Mak lampir kenapa tertawa?" Bi Inten makin ketakutan mendengarnya.


Keisya semakin cekikikan, mengapa seorang bi Inten yang udah tinggal di rumah Keisya dari Keisya bayi hingga sebesar ini masih mengira bahwa rumah ini angker.


'aduh bibi, besok kalo mama pulang bakal Keisya ceritain tingkah bibi sekarang hihihi' batin Keisya.


Rasya hanya berdiri diam di tempat melihat bi Inten berkomunikasi di dekat jendela.


"Mak lampir pulang ya, kasihan nanti kalau enon Keisya lihat mak lampir pasti ketakutan" mendengar ucapan bi Inten seperti itu, Keisya menangis dengan suara yang di buat buat.


"Kenapa mak lampir nangis? Jangan nangis yah. Udah sana pulang aja mak!" Keisya mendengar bi Inten menjadi cekikikan kembali.


Ceklek


Lampu dihidupkan Rasya.


Keisya balik badan menatap bi Inten "hahaha bibi, panggil aku apa barusan? Mak lampir? Hahaha" Keisya terbahak dengan kelakuannya sendiri yang menakuti bi Inten.

__ADS_1


"Aduh si enon, bibi kira barusan ada mak lampir. Kenapa rambut enon ngga dikeringin? Nakut nakutin aja" bi Inten keluar meletakkan sapu, kemudian kembali membawa handuk dan pengering rambut ke ruang belajar Keisya.


"Hahaha.." Keisya terbahak melihat tatapan dingin Rasya "dasar penakut!" Keisya menghampiri Rasya.


Bi Inten mengeringkan rambut Keisya. Sebenarnya Keisya bukan anak manja. Namun karena dia anak satu satunya di keluarga kaya, jadi semua orang berpandangan Keisya anak yang manja.


Ting


Lamunan ingatan Keisya terhenti dengan suara ponselnya.


Arsenio


Apa kamu sudah merindukan aku sayang?


***


Dari pagi ke pagi seperti hari hari biasa Keisya lewati. Dengan kesembuhan seorang papa, dirumah Keisya mengadakan syukuran dengan mengundang anak anak yatim dan ibu ibu untuk memanjatkan do'a syukur atas Kesembuhan sang papa.


Acara terlaksana sebagaimana mestinya. Lancar tanpa ada halangan, membuat Abian tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Terima kasih ma, sudah menemani papa suka maupun duka" ucap Abian kepada Zeline di ruang keluarga.


Zeline mengembangkan senyum cantiknya "bukannya itu kewajiban istri yang mencintai suami pa, sebentar lagi juga putri kita akan mempunyai seorang lelaki yang harus ia banggakan" Zeline menggenggam tangan Keisya disampingnya.


"Kapan kamu kenalkan kekasihmu sayang? Mama rasa kamu sudah cukup umur untuk membina sebuah keluarga" Zeline mengatakan dengan tatapan yang bergantian dari Abian ke Keisya.


"Hehe, tunggu aja ma. Nanti kalau Keisya sudah siap bakal Keisya bawa pulang deh" jawab Keisya yang mengalihkan pandangan dari mamanya.


"Gimana kalau kamu papa jodohkan sayang? Papa ingin segera memiliki cucu kecil darimu" Pertanyaan Abian membuat mata Keisya terbelalak tidak percaya.


"Benar, karena kamu selama ini tidak pernah menganggap lelaki yang menyukaimu, bagaimana jika mama dan papa yang mencarikannya untukmu?" Sambung Zeline yang mempererat genggaman tangannya.


"Jangan ma, pa. Secepatnya Keisya bakal kenalin kok. Tunggu aja sebentar lagi" jawab Keisya tidak ingin jika posisi Arsenio tergantikan.


"Baiklah, papa tunggu secepatnya. Bilang sama kekasihmu sayang" ucap Abian memperingatkan.


***


Ting

__ADS_1


Keisya menerima pesan dari Arsenio yang memintanya makan siang di restauran x pada waktu makan siang.


Keisya melihat Arsenio duduk menunggunya di meja. Arsenio mengembangkan senyumnya melihat Keisya masuk.


__ADS_2