Pilih Satu

Pilih Satu
bab 29


__ADS_3

Rasya dan Keisya berlari beriringan, sesekali mereka bercanda sampai terbahak dan membuat orang orang di sekitar mereka melihat ke arah mereka.


"Mak lampir, apa kamu punya pacar?" Rasya bertanya dengan menghentikan larinya dan dusuk di bangku yang ada di tepi danau.


Keisya duduk di samping Rasya. Keisya duduk lalu meminum air yang barusan mereka beli.


"Punya" Keisya melihat sepasang kekasih yang berjalan di depan mereka "mungkin semua orang mengenalinya" ucap Keisya memejamkan mata.


Mengingat sosok Arsenio membuat Keisya teringat dengan kepergian Arsenio besok untuk perjalanan bisnis. Keisya bahkan belum bertanya kemana Arsenio akan pergi, apakah dia akan pergi bersama calon tunangannya. Keisya berfikir jika Arsenio pergi bersama tunangannya, apa yang akan mereka lakukan disana.


"Woi!" Senggol Rasya di lengan Keisya membuatnya terkejut "aku dari tadi tanya kenapa ngga dijawab malah bengong" Rasya sedikit teriak karena dari tadi pertanyaannya tidak ada jawaban dari Keisya.


"Apa jangan jangan kamu diselingkuhin?" Tanya Rasya asal.


"Sembarangan!" Ketus Keisya menjitak kepala Rasya.


"Aw, sakit!" Teriak Rasya "santai, kalau dia selingkuh kamu sama pak Amin, aku sama bi Inten" ucap Rasya yang mengedipkan sebelah matanya.


"Ogah, laki laki masih banyak kali! Ngapain sama berondong?" Lirikan mata Keisya membuat Rasya terkekeh.


"Siapa pacarmu?" Rasya meneguk air untuk menghilangkan rasa hausnya.

__ADS_1


"Arsenio" Jawab Keisya.


Uhuk.. uhuk uhuk..


Rasya tersedak dengan minuman yang baru beberapa tegukan dia minum.


"Arsenio? Arsenio Elard Zayn maksudmu? ceo perusahaan Elard Zayn? Hahaha bangun! Jangan kebanyakan mimpi!" Rasya terbahak membayangkan sahabatnya menjadi pacar seorang pengusaha sukses termuda di kotanya.


"Kan aku sudah jujur" Jujur Keisya sambil berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya untuk berlari.


Rasya berlari mengikuti Keisya, masih belum percaya jika sahabatnya mempunyai hubungan dengan seorang Arsenio.


Keisya menabrak seorang lelaki yang mengenakan pakaian formal, berjalan diikuti seseorang dibelakangnya.


"Sayang?" Ucap seorang lelaki yang ditabrak Keisya.


"Aw sakit" ucap Keisya memegang bokongnya yang menjadi penompang badannya saat terjatuh.


Keisya menatap seorang lelaki yang berdiri di depannya. Cungar cungir Keisya kesakitan. Keisya memahamkan siapa wajah lelaki di depannya.


"Arsenio? Ngapain disini?" Tanya Keisya tak percaya bertemu lelakinya saat dia berkeringat dan mungkin bau menurutnya.

__ADS_1


"Hanya untuk jalan jalan" jawabnya "kalau capek istirahat, liat muka kamu banyak keringat, bau juga" Arsenio menutup hidungnya sambil terkekeh.


"Ya udah pergi dari hadapanku kalau aku bau!" Bentak Keisya yang mengendus badannya sendiri.


"Hahaha bercanda sayang" Arsenio meminta air yang dibawa Daffin "ini minumlah!" Arsenio menyerahkan sebotol minuman untuk Keisya.


Keisya minum air pemberian Arsenio. Menghilangkan keringatnya dengan mengusap keningnya menggunakan handuk yang menggantung di lehernya.


"Siapa lelaki di belakangmu?" Tanya Arsenio membuat Rasya tersadar dari fikirannya yang masih tidak percaya.


Rasya menegakkan kepalanya menatap Arsenio. Sosok terkenal di kotanya dengan pengusaha sukses termuda. Betapa beruntungnya sahabatnya bisa bersama orang seperti Arsenio. Karena selain tampan, tajir, juga pengusaha sukses termuda.


"Oh, kenalin saya Rasya. Sahabat dari mak lampir" senyum Rasya ramah "bukankah kita pernah bertemu di rumah om Abian papanya Keisya?" Rasya meyakinkan jika keduanya pernah bertemu sebelumnya.


"Oh, kamu demitnya Keisya?" Tanya Arsenio membuat Rasya, Keisya serta Daffin terkekeh mendengarnya.


"Enak aja, emangnya aku pawang setan!" Keisya mengelak mengakui jika memang panggilannya untuk Rasya selama ini adalah demit.


"Bukannya kamu juga setan sayang?" Arsenio memeluk pinggang Keisya "mak lampir" bisiknya di telinga Keisya.


"Awas! Aku pernah bilang jaga jarak kalau di tempat umum!" Keisya mendorong Arsenio yang memeluk pinggang Keisya.

__ADS_1


__ADS_2