
Arsenio tiba di depan kediaman Keisya, namun belum sempat masuk. Arsenio melihat Keisya menaiki mobil, entah mobil siapa Arsenio tidak menghawatirkan karena Keisya hanya bersama Arsenio sejak mereka kenal. Akhirnya Arsenio meminta Daffin untuk pulang. Namun berbeda dengan yang dilihat saat mobil akan melaju.
"berhenti!" bentak Arsenio saat Daffin mulai menginjak pedal gas. Sepasang mata Arsenio mengarah mobil yang tadi dinaiki Keisya.
Keisya keluar dari mobil, ada sesuatu yang ketinggalan. ada seorang lelaki ikut keluar dan mengejar Keisya dari belakang yang berlari memasuki rumahnya.
Mata Arsenio terbelalak geram, siapa lelaki yang mengejar bahkan memasuki rumah Keisya.
Arsenio ingin turun tapi dia kembali melihat Keisya berjalan bersama seorang lelaki yang mengacak acak rambut Keisya. Terlihat Keisya marah namun lelaki itu melingkarkan tangannya di bahu Keisya dan berbisik kepada di telinga Keisya. Keisya tersenyum dan melanjutkan jalannya menuju mobil.
Kemarahan Arsenio sebentar lagi akan meledak seperti ban yang ditumpangi beban terlalu berat duarrr.
"ikuti mereka!" perintah Arsenio untuk Daffin.
Dari belakang mereka mengikuti mobil yang ditumpangi Keisya. Arsenio ingin menanyakan apa hubungan mereka secepatnya.
'apakah Keisya melupakan apa yang telah dilakukan bersamaku di kantor' batin Arsenio geram mengingat kelakuan Keisya bersama lelaki setelah keluar dari rumahnya.
__ADS_1
Mobil berhenti di taman xy. Setelah keluar dari mobil yang ada di parkiran, Keisya tersenyum dan jari telunjuknya menunjukkan pedagang ice di pinggir jalan itu menunjukkan kalau Keisya menginginkan ice disana.
Arsenio memakai topi dan mengikuti dari belakang. Keisya duduk di bangku, di depannya ada seorang lelaki yang bersamanya. Arsenio mengikuti sampai duduk tepat di belakang Keisya.
"stroberi atau coklat?" tanya seorang lelaki didepan Keisya.
"apa berpisah 3 tahun membuatmu melupakan kesukaanku?" tanya balik Keisya dengan senyum mengembang di wajahnya.
Lelaki itu memesan dua ice coklat. Sementara Arsenio hanya membeli air mineral.
"kamu kesini tidak membawakanku hadiah?" bibir Keisya monyong dengan muka memelas.
"kalau aku yang minta itu namanya bukan kejutan, kasih aku kejutan dong!" jawab Keisya yang mengambil ice coklat yang sudah datang.
"bagaimana kalau aku kasih kamu diriku?" tanya lelaki lagi dengan memajukan wajahnya ke tubuh Keisya.
"Rasyaaa!" Keisya berteriak dengan mendorong tubuh sahabatnya "aku tidak pernah menginginkanmu, apa yang kamu punya dari dirimu? jelek tuh iya" ketus Keisya menikmati ice coklatnya.
__ADS_1
"aku punya seekor burung yang selalu aku bawa kemana mana" Rasya tertawa "apa kamu ingin coba?" sambungnya dengan gelak tawa yang terbahak.
"apa itu bisa dibakar?" tanya Keisya dengan polosnya yang tidak mengerti maksud Rasya.
"makanan makanan makanan, tidak itu hanya bisa masuk ke gua" jawab Rasya mengedipkan sebelah matanya genit.
"burung masuk dalam gua" Keisya memikirkan burung apa yang dimaksud Rasya "iihh kamu jorok jorok jorok!" Keisya membuang muka dari Rasya dan beranjak meninggalkan Rasya.
Rasya membayar lalu berlari mengikuti Keisya. Arsenio mengikuti dari belakang, sedangkan minuman Arsenio dibayar oleh Daffin asistennya.
Rasya berjongkok dan meminta Keisya untuk menaiki punggungnya, yang berarti Rasya ingin menggendong Keisya.
"naik!" pinta Rasya melihat wajah Keisya diatasnya.
"pasti dong" Rasya berdiri setelah Keisya berada di punggungnya "ke jembatan!" jari telunjuk Keisya menunjuk jembatan yang ada tidak jauh dari posisi mereka.
"makan apa kamu 3 tahun ini, beratmu bertambah 3kali lipat!" omel Rasya yang merasa berat menggendong Keisya.
__ADS_1
Keisya malah memeluk leher Rasya dengan kuat agar tidak terjatuh "hahaha aku makan seekor sapi hidup di malam jumat" jawab Keisya dengan meletakkan kepalanya di bahu Rasya.
Arsenio yang berada di belakangnya merasa geram, dia mempercepat langkahnya mendekati dua orang yang berada di depannya.