
Bagi sebagian orang, penjelasan diawal menjadi sebuah hal yang perlu. Sekedar sebagai salam pertemuan atau justru menjadi ujung jembatan menuju pemahaman atas hal yang akan disampaikan secara panjang lebar. Bagi saya, ini menjadi perlu. Menjadi bagian penting yang tidak hanya sebagai pelengkap barisan lembaran yang akan mengikuti di lembaran-lembaran berikutnya. Melainkan lebih kepada, sebagai aturan main yang dikemukakan diawal, agar pembaca mencapai sepakat sebelum melangkah menelusuri alur cerita yang akan disajikan dibalik lembaran berikutnya. Karena bagi saya, membaca karya seseorang adalah cara menghargai kekayaan intelektualitas seseorang, dan saya ingin dihargai dengan cara itu.
Alur ini dimulai dengan menuangkan keberanian tokoh fiktif yang saya beri nama panggilan Dea, yang mencoba membagikan cara berdamai dengan takdir dalam hidupnya. Dea, perempuan berusia 28 tahun dan masih lajang. Lajang, inilah yang membuatnya mampu membagikan cerita tentang bagaimana pada akhirnya menemukan pemahaman bahwa dibalik pintu akhir sebuah takdir, terdapat pintu demi pintu yang harus terbuka dan tertutup dengan atau tanpa persetujuan penerima takdir. Iya, karena sekali lagi kita semua adalah penerima takdir, sedangan Sang Maha Pembuat takdir memiliki kuasa dan kendali.
Menjadi lajang pada usia yang menurut “parameter umum” tergolong “perawan tua”, adalah tidak mudah. Pengadilan-pengadilan sepihak-tentunya pihak yang tidak berwenang, akan terasa seperti perasan lemon yang-dengan sengaja-disiramkan pada luka yang menganga. Ini tentang Dea, dan disinilah kisah dimulai………….
BAB 1
ANGKA
Siang yang cerah, dan aku memulai dengan membangun keberanian untuk meninggalkan meja kerjaku untuk bergabung dengan teman-teman sekantor menghadiri sebuah undangan resepsi pernikahan salah satu juniorku. Satu kata “berat”. Entah sejak kapan, undangan resepsi pernikahan terasa begitu nyeri bagi hatiku. Bahkan seolah menjadi sebuah alergi yang muncul menyesakkan dada dan terkadang menyusupi akal sehatku yang tentunya berefek pada pola pemikiranku terhadap orang-orang yang juga akan menghadiri sebuah resepsi pernikahan. Nyeri itu rupanya ditumbuhkan oleh perasaan takutku-lebih tepatnya ketidaknyamananku-atas status yang saat ini kusandang- diusia 28 tahun. Sedangkan alergi itu, kurasa berasal dari ketidakpekaan orang-orang yang mengadili sepihak, atas statusku. Lajang.
Sebuah sapaan-lebih tepatnya-sindiran, menyadarkanku dari imajinasiku yang panjang.
“Dea……, kapan nikah?”. “Vita itu juniormu, udah duluan lho….”
Aku menoleh, otomatis memasang senyum yang sudah sepanjang pagi kusiapkan untuk menghadapi serangan semacam ini.
“Nah, itu dia…kapan yaa??” “he…he…” jawabku, sambil meraih kunci motor dan berjalan menuju parkiran.
Aku ingin sesegera mungkin untuk meninggalkan rekan kerjaku yang satu ini. Yulia namanya, usianya terpaut 1 tahun denganku. Pastinya sudah menikah dan memiliki anak.
“Bareng aku aja mb Dea, pakai motorku”, ujar Tika.
Tika menghampiriku sambal berlari kecil. Tika adalah juniorku, anaknya cukup ceria dan ramah. Meskipun terkadang sikap kekanak-kanakan yang dimilikinya terkadang juga masih tersirat.
Aku mengangguk dan segera mengikuti Tika, sedangkan Mb Yulia berjalan juga berjalan mengiringi kami. Aku rasa untuk sementara, aku terbebas dari efek samping nyeri dan alergi yang beberapa menit lalu sudah coba distimulus oleh mb Yulia. Terima kasih Tika, batinku.
Aku dan beberapa rekan yang lain berangkat bersama-sama menuju lokasi rumah Vita. Hari ini Sabtu, jam kerja di tempatku berakhir pada pukul 12.00 WIB, dan kami sepakat untuk menghadiri undangan Vita sepulang kerja. Perjalanan 10 menit untuk menuju rumah Vita, dan akhirnya sampai pada lokasi yang dituju. Rombongan kami berjumlah 12 orang, 8 perempuan dan 4 laki-laki. Keakraban semacam ini yang membuatku terkadang enggan untuk mencari pekerjaan lain, sekalipun digit yang kuperoleh setiap bulannya terkadang terkadang hanya cukup untuk kebutuhanku sampai dengan pertengahan bulan.
Semua yang hadir, sepertinya menikmati obrolannya maisng-masing, tida terkecuali aku. Posisi aman menurutku, karena aku tetap berdekatan dengan Tika. Kami membahas mengenai dekorasi pengantin yang berjarak sekitar 2 meter saja dari tempat dudukku.
“Eh, Mbak Dea, katanya kalua kita nyuri melatinya pengantin, kita bisa ketularan lho…..”, Tika berbisik kepadaku.
“Takhayul kamu”, jawabku. Aku sebenarnya bukannya tidak tahu dengan mitos seputar melati pengantin, hanya saja aku merasa itu tidak berlaku padaku.
“Beneran, mbaakkk Dea. Pokoknya nanti pas salaman sama Vita, aku akan nyuri yang dibagian sanggulnya itu. He..he…”, ujar Tika mengutarakan rencana usilnya.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah konyolnya. Tapi….apa aku juga harus mencoba ???. Astaga….., rupanya aku sudah mulai ketularan Tika. Segera kusudahi lamunanku dan kuputuskan untuk tidak mengikuti ide Tika. Aku melihat ke sekelilingku, dan….sosok yang terbilang kuhindari ternyata duduk di belakangku. Dan tidak berapa lama, sepertinya drama nyeri dan alergi akan dimulai lagi disini.
“Dea, ngomong-ngomong umur kamu berapa sih?”, Mb Yulia dengan tanpa basa-basi menanyakan usiaku.
“Emh….. berapa yaa? Kayaknya kita sepantaran deh mbak”, jawabku dengan menahan emosi
“Eh iya kah?. Kayaknya aku lebih tua 1 tahun deh dari kamu. Cuman memang kebetulan ajaaa, aku udah nilah duluan dari kelihatan lebih dewasa gitu”, ucap Mb Yulia sambal melahap onde-onde yang tersaji di meja.
“Emang Mb Yulia umurnya sekarang berapa?”, tiba-tiba Tika menyela pembicaraan. Dengan wajah yang memang tidak dibuat- buat, sudah terlihat lucu dan polos. Mb Yulia memberikan kode melalui jarinya.
“29 mbak???”, beneran???”, Tika dengan shock memberikan respon sambal menutup mulutnya.
__ADS_1
“Iyaaaah”, Mb Yulia menjawab dengan penuh kepercayaan diri. Mungkin saja kepercayaan diri itu tumbuh dari “keberuntungan” yang ia peroleh. Bagiku beruntung karena bisa menikah di usia yang muda, dengan orang yang dicintai, bahkan tidak lama dikaruniai buah hati.
“Ya elahh…, tak kira udah 35 an mbak. Habisnya…Mb Yulia hobby marah-marah sih…he he he…”, Tika memberikan respon.
Jujur dalam hati aku benar-benar ingin tertawa sekeras-kerasnya. Akhirnya Tuhan membelaku, meski lewat mulut pedas Tika. Tapi aku tidak melanjutkan tertawaku, karena aku menyadari bahwa justru akulah yang mungkin patut ditertawakan. Atau mungkin dikasihani. Karena pada saat orang lain diusia 28 tahun sudah memiliki 2 atau bahkan 3 anak, aku masih sendiri.
“IIIhhhh julid deh Tika”, Mb Yulia mencubit Tika. Akhirnya bullying beralih korban, Tika dan bukan aku. Tika yang meras kesakitan, berusaha membalas Mb Yulia, sampai menimbulkan kegaduhan. Terpaksa aku yang harus menengahi. Sampai akhirnya, sang pengantin-Vita, datang untuk menyalami kami satu persatu.
Di luar dugaan, saat Vita sedang sibuk menyalami teman-teman, Tika meraih melati yang berada diujung sanggul Vita. Cukup cekatan, sampai yang empunya tidak menyadari. Tapi aku cukup jelas melihat, Tika berhasil mengantongi beberapa kuntum melati “curiannya”.
Pesta berjalan seperti biasa, dan akhirnya kami pulang. Perjalanan pulang ini, Tika kembali memberikan tumpangan kepadaku. Aku mempercayakan dia yang mengendarai sepeda maticnya, karena kuakui dia memang lebih lihai. Entah mengapa, Tika mengendarai kendaraannya dengan sangat perlahan.
“Mbk Dea, coba lihat apa di saku blazerku”, Tika mengkode agar aku mengambil sesuatu di dalam kantong blazernya.
Aku menurut, karena kukira dia membutuhkan sesuatu dari dalam kantongnya. “Hmmmmm, ternyata bunga melati hasil kejahatanmu ini”, ujarku sambal menjewer telinganya.
“Aduhhh…duh duuhhh”, Tika mringis, bukan karena sakit pastinya karena aku hanya menggodanya.
“Kamu percaya beginian”, tanyaku
“Kata Simbahku begitu mbak, dulu Simbahku menikah umur 14 tahun. Ibuku menikah umur 18 tahun. Kakakku yang sulung umur 20 tahun, sedangkan kakakku yang nomor 2 menikah usia 19 tahun. Nah harusnya aku bisa menikah pada kisaran umur itu juga”, Tika sambal monyong-monyong berbicara.
“Karena nyuri melatinya pengantin”?, tanyaku sambal menggodanya
“Gak”…ha ha…ha,” Tapi siapa tau ini memang manjur”, Tika tertawa lepas. Akhirnya kami sampai di parkiran kantor. Aku mengucapkan terima kasih dan berbalik menuju ruanganku.
“Mbak Dea, yakin gak mau ini??”, Tika menawarkan melatinya padaku
Aku masuk Kembali ke ruang kerjaku, kebetulan ponsel dan juga tasku masih ada di ruangan. Kubuka ponsel, dan ada sebuah pesan disana. Dari seseorang yang sudah 3 tahun ini membersamaiku. Zaky.
“Sudah pulang?”,
“Nanti aku ke rumah, ayo jalan-jalan.”
Pesan yang cukup singkat, namun cukup membangkitkan energiku yang sudah melemah hari ini.
“Iya”, jawabku singkat.
Aku segera pulang, mengendarai sepeda motorku. Berusaha untuk melupakan percakapan usia dan keberuntungan yang tadi sempat dilontarkan Mb Yulia dan Tika. Namun aku tidak dapat membohongi diriku, aku tidak bisa melupakan. Sekalipun berusaha berkonsentrasi pada jalan raya, kurasa aku masih tetap berfokus pada angka 28, 29,. Pedih.
Lampu menunjukkan merah, aku berhenti. Hembbbbb……90 detik. Aku harus menunggu sampai berpindah menjadi lampu hijau. Kulirik disebelah kananku, ibu muda, sepertinya sepantaran usianya denganku. Membawa belanjaan di bagian belakang motornya, sembari menggendong anaknya. Sepertinya berat, ditambah lagi cuacanya panas. Kalau dari tampilannya, sepertinya baru pulang berbelanja. Tiba-tiba pikiranku melayang, suaminya kemana??? Kupalingkan pandanganku, karena takut dibilang julid mengomentari nasib orang. Sekalipun dalam hati.
Papan menunjukkan 67..66.., entah kenapa ditengah hari yang terik, aku merasakan pergerakan lampu lalu lintas itu. Kualihkan pandanganku ke sebelah kiri, kulihat sepasang -sepertinya suami istri-, sedang asyik bergurau. Nampaknya cuaca panas tidak berlaku bagi mereka yang sedang menikmati indahnya kebersamaan. Aku Kembali berandai-andai. Seandainya itu aku, pulang bekerja dijemput oleh suamiku. Alangkah bahagianya, sekalipun harus berpanas-panasan dibawah terik matahari. Ah…aku melamun lagi.
32..31…30…29, kulihat papan masih saja bergerak lambat. Berhenti pada angka 28, seolah-olah sudah tidak bergerak lagi.
Hemmmmmm….sepertinya ada yang sedang ingin meledekku, batinku. Bahkan papan lalu lintas saja sampai menggodaku. Berhenti di angka 28. Apa iya, setragis itu diriku. Tuhannnn, cobaan apa lagi ini.. Aku menggerutu sendiri. Sampai suara klakson pengendara di belakangku mengangetkan aku. Lampu hijau. Aku melanjutkan perjalanan pulang. Berusaha untuk kembali berkonsentrasi pada kendaraanku.
Akhirnya aku sampai dirumah. Kulihat pintu terkunci, aku baru ingat hari ini keluargaku menghadiri arisan keluarga dirumah tanteku, yang memang dengan sengaja kuhindari untuk menghadirinya. Karena aku masih trauma dengan nyeri dan alergi yang biasa meraja lela ketika sudah bertemu dengan keluarga besarku. Kunci ganda sudah kusiapkan, aku masuk rumah. Kuraih ponselku, aku ingin mengabari Zaky kalua aku sudah dirumah. Entah kenapa, mataku justru tertuju pada jam digital pada layar awal ponselku “14.28”. Tuhaannn, ini apaa lagi. Entah kenapa juga aku menjadi sensitif dengan angka 28. Baper dengan setiap kejadian hari ini. Mungkin karena itu.
__ADS_1
“Aku udah dirumah”. “Nanti berangkat lebih awal ya. Aku dirumah sendiri”, ku kirim pesan kepada Zaky.
Tak lama kemudian Zaky membalas
“Kangen?” membubuhkan emoticon hati
Aku tersenyum dan membalas juga dengan emoticon hati. Sejenak aku melupakan kegundahanku atas angka. Tidak ada yang salah dengan angka 28. Mungkin hanya kebetulan saja, melambangkan usiaku yang hingga saat ini masih belum berumah tangga. Meskipun aku sudah memiliki seseorang disampingku.
Justru disinilah bagian paling menyakitkannya. Aku bukan jomblo tanpa pasangan. Meskipun bukan pasangan resmi. Tapi Zaky, dengan berbagai alasannya menyatakan belum siap menikahi aku. Dan sebagian menyatakan ini kebodohan, meskipun aku lebih memilih mengatakan ini perjuangan. Rasanya Tuhan sedemikian tidak adil padaku. Membiarkanku berjuang, disaat yang lain dengan mudah mendapatkan kemerdekaan dalam sebuah hubungan. Merdeka dengan proklamasi ijab Kabul.
Aku memilih untuk tidur, semoga nanti terbangun sudah tidak lagi bertemu angka 28. Batinku.
BAB II
KEJUTAN
Malam minggu, Zaky sesuai janjinya menjemputku lebih awal. Jam 5 sore, kami sudah berada di perjalanan. Menuju suatu tempat, yang menurut Zaky perlu untuk dicoba kulinernya. Kami memiliki kebiasaan, bahwa tujuan utama saat berkencan adalah kuliner. Nonton bukan prioritas kami, yang mungkin bagi beberapa pasangan lain menjadi agenda rutin.
“Parfum baru?”, Zaky membuka percakapan kami. Aku yang tadinya sibuk menyalakan audio pada mobilnya, menoleh.
“Gak, tetep yang kemarin”, jawabku. Akhirnya aku menemukan lagu yang kucari. Akhirnya Ku Menemukanmu-Naff
“Kalau gitu, mungkin hidungku yang sudah gesrek. Karena sepertinya ada aroma lain di badanmu?”, Zaky dengan serius.
Seketika aku merasa berkurang kadar kepercayaan dalam diriku. Kuciumi rambut dan juga bajuku. Tidak ada yang aneh. Aku menoleh memberikan kode, meminta kejelasan pada Zaky.
“Aroma melati…”, he he he, Zaky terkekeh.
“Gak lucu”, jawabku sinis. Seketika aku teringat insiden tadi siang, duh lagi-lagi bayangan angka melintas di kepalaku. Kali ini aku lebih emosi, karena seharusnya laki-laki yang duduk disampingku inilah yang kuharapkan mampu mengakhiri nasib tragisku ini.
“Sensi gituuuu. Kenapa? Tadi diledekin lagi pas dating acara kawinan?”, Zaky seolah tau isi hatiku.
“Udah kebal, sampa mati rasa,” jawabku. Sengaja aku keraskan volume agar Zaky juga lebih memahami maksudku.
….akhirnya ku menemukanmu.
Aku harap Zaky peka dengan lagu itu....
tapi, sepertinya tidak begitu.
Hening.
Kucoba menambah volume pada audio, kulirik lelaki yang sedang fokus dengan setir dan jalan raya itu -sepertinya.
Entah benar-benar konsentrasi dengan menyetir, atau sedang mengalihkan perhatian dari pembicaraanku yang seolah digantung.
Lampu merah, dan detik ke 60.
Kembali aku merasa diledek oleh takdir. Sesaat lagi mengitung mundur dan angka bergerak menuju 28.
__ADS_1
Lagi
dan lagi.