
TERPURUK
Waktu menunjukkan pukul 19.45, jam pulang sudah berlaku sejak jam 4 sore tadi. Artinya aku sudah sangat melewatkan waktu pulang. Sebuah sapaan dari balik pintu, menyadarkan aku bahwa memang sudah waktunya untuk pulang. Pak Bambang, satpam kantorku mengingatkan kau untuk segera pulang. Aku segera membereskan meja kerjaku. Entah kenapa, seolah tenagaku menjadi berkali lipat kuat, semenjak kuputuskan untuk mengganti kebiasaan baru-tanpa Zaky.
Kupesan mobil melalui aplikasi, hari ini aku sengaja untuk tidak membawa sepeda motor, karena memang sudah kuniatkan untuk pulang lebih malam. Inilah caraku, menikmati rasa sakit. Harus kuakui, konsekuensi atas keputusanku adalah rasa sakit. Tanpa Zaky, aku benar-benar merasa tidak biasa. Sepi. Sunyi. Berujung pada nyeri di ulu hati. Tapi aku bertahan.
Aku menunggu kedatangan mobil yang kupesan,Pak Bambang lagi-lagi menawarkan tempat duduk padaku.
“Silahkan duduk Bu Dea”, Pak Bambang menyodorkan kursi plastik padaku.
__ADS_1
“Terima kasih, “ aku menerima kursi dan kemudian duduk
Kuperhatikan Pak Bambang baik-baik, sedangkan yang empunya wajah rupanya sedang asyik mengerjakan rekap laporan tamu keluar masuk. Lamunanku membawa pada sebuah pengandaian, seorang P. Bambang yang kuperkirakan usianya saat ini sekitar 35 tahun, belum tua pastinya. Memiliki fisik yang biasa, hanya kebetulan memiliki tinggi badan sekitar 185cm. Kulitnya hitam legam dengan wajah yang juga pas-pasan. Dia sudah menikah, 2 tahun yang lalu dengan gadis desa yang baru berusia 18 tahun. Menurut informasi yang kudengar, mereka dipertemukan dalam sebuah gelaran pasar malam di desa tetangga dan hanya butuh wajtu 2 bulan mereka menikah. Saat ini P.Bambang sudah dikaruniai seorang putra berusia 1 tahun. Keluarga kecil yang bahagia.
Aku berandai-andai, seorang P.Bambang dengan fisik pas-pasan saja ada jodohnya, lalu apakah aku yang sudah berusaha menjaga fisikku dengan sebaik mungkin ini, terlahir tanpa jodoh???
“Bu Dea”, suara P.Bambang mengagetkanku. Seketika aku merasa malu, mengkhayalkan seseorang yang sebenarnya lebih kepada membandingkan. Untungnya P. Bambang tidak mengetahui. Tentunya tidak,karena itu hanya lamunanku.
Waktu menunjukkan pukul 21.30, aku merebahkan diri. Semoga lelah ini segera menenggelamkanku dan aku bisa tertidur. Kucoba membuka ponselku, 5 panggilan tak terjawab. Dari seseorang yang sukses menyiksaku dengan perasaan ini. Sepertinya saat aku mandi dan makan tadi telepon berdering, tentunya aku tidak mendengar.
__ADS_1
Harus kuakui, ada rasa senang menyusup dalam hatiku. Namun seketika digantikan rasa kecewa, karena terbayang raut wajah Zaky beberapa waktu yang lalu yang seolah tak lagi mencoba mempertahankanku. Bahkan beberapa hari ini, dia melakukan pembiaran terhadap aku dan hatiku.
Sesaat aku berfikir untuk meneleponnya. Tapi kuurungkan, aku belum siap. Sekalipun ingin, kutahan. Sampai pada akhirnya kuputuskan mematikan ponselku. Kurasa ini cara terbaik.
Kubenamkan wajahku ke dalam bantal. Kembali aku menangis. Kenapa cinta menjadi seberat ini. Bagiku. Aku rindu. Harus kuakui. Rindu pada dia, dia yang saat ini dengan ketidakpekaannya membiarkan dan menggantung statusku.
Aku terlelap, namun tak berapa lama aku terbangun. Entah mengapa, seolah nuraniku memberontak untuk ingin menuntunku mengaktifkan ponsel dan menghubungi Zaky.
Semakin aku menolak, semakin kuat keinginan hatiku. Tuhannn, sungguh aku menyerah. Aku mohon, selamatkan aku. Kali ini saja, aku benar-benar berada dalam keadaan tidak baik. Bahkan sangat tidak baik.
__ADS_1
Kembali aku terlelap. Mungkin sudah terlalu lelah. Tertidur dalam keadaaan terluka. Mengenaskan.