
EPISODE 39
KOMPROMI
Semenjak makan malam itu, hubungan kami perlahan mulai membaik. Setiap akhir pekan kami juga menyempatkan waktu untuk pergi bertiga. Potret keluarga bahagia nampaknya. Namun masih ada yang belum terselesaikan. Haruskah aku mengajukan kesepakatan sebelum pernikahan?
Aku masih enggan melepas statusku sebagai wanita karir, sedangkan Farhan juga masih dengan pendiriannya untuk menginginkan aku agar tidak bekerja dan fokus pada rumah tangga kami. Namun untungnya tidak lagi terjadi pertengkaran, hanya sesekali kami menghindari percakapan yang mengarah kesana.
Aku sadar sepenuhnya, bahwa permasalahan ini yang mengganjal jalanku menuju pernikahan. Namun, karir yang kuperoleh dengan susah payah ini tentunya juga tidak mudah untuk kulepaskan. Apa iya? Melepas karir tak sebanding dengan perubahan status lajang menjadi bersuami?? Atau mungkin saja aku belum siap jika harus berpindah dari keseharian dikantor menjadi mengurus rumah?
Hari ini kuputuskan untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor, karena lusa aku ingin mengambil cuti. Farhan sedang berulang tahun, aku ingin memberikan kado spesial untuknya dengan menemaninya jalan-jalan. Sepertinya aku akan lembur dan kuminta asistenku untuk menemani. Selain itu aku juga meminta agar ada satu petugas keamanan ikut menemani di area ruang kerjaku.
Entah sejak kapan, beredar rumor bahwa ketika malam hari ruangan-ruangan tertentu beralih fungsi. Beberapa orang mempercayai hal itu. Ada yang mengatakan pernah melihat aktivitas pada malam hari, padahal tidak ada lembur saat itu. Kejadian ganjil juga sering kali dirasakan ketika hari sudah beranjak petang. Aku memilih untuk tidak terpengaruh, hanya saja Nadya yang sedikit parno, memintaku agar berjaga-jaga. Akhirnya salah satu petugas keamanan diminta untuk mendampingi kami.
Sebenarnya Sita, administrasi divisi juga turut serta. Namun lagi-lagi Nadya yang merasa lebih percaya diri dengan keberadaan petugas keamanan, ngotot untuk meminta dijaga. Akhirnya kami lembur ber 4 hari ini. Sita kembali ke ruangan dengan membawa 4 cangkir kopi. Sungguh perhatian. Aku segera menerima uluran tangannya dan menyambut secangkir kopi dengan ucapan terima kasih.
Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, tinggal sedikit lagi, mungkin setengah jam lagi sudah rampung. Kulihat ke sekeliling, Nadya dan Sita rupanya juga masih sibuk dengan laptop masing-masing. Pintu ruangan terbuka, muncul Pak Wahid dari balik pintu. Rupanya yang ditugaskan untuk menjaga kami adalah beliau. Sedikit tergopoh-gopoh mendekatiku dan berbisik.
“Bu Dea, suda malam. Apakah tida sebaiknya dilanjutkan besok?”, ujarnya
__ADS_1
Aku mencoba menangkap maksud yang ingin disampaikan Pak Wahid. Ada seberkas kekhawatiran disana. Rasa-rasanya tidak mungkin kalau seorang satpam yang seharusnya memberikan keamanan, justru merasa takut karena semua rumor.
“Kalau Pak Wahid sedang ada keperluan, bisa ditinggal duluan Pak. Kemungkinan masih satu jam lagi kami selesai,” jawabku ramah.
“Ah….nda gitu Bu Dea. Saya hanya mengingatkan kalau………….
“Kalau…..ada hantu lewat ya pak…..Nadya memotong pembicaraan kami dan dengan gemetaran mendekatiku. Sejurus kemudian, Sita juga berlari ke arahku dan menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Nadya.
“Kalian berdua apaan sih”, aku memutar kursiku dan mencoba menenangkan kedua patnerku itu.
“Pak Wahid Cuma ngingetin, kalau udah malam. Gak usah parno deh”, ujarku lagi sambil membeirkan kode agar mereka segera kembali ke meja masing-masing.
Tiba-tiba lampu padam. Seketika Nadya dan Sita jejeritan histeris. Rupanya mereka berusaha berlari ke arahku dan BRUKKKKKKKKKKKKKKKKKKK………….
Suara sesuatu menabrak sesuatu, kemudian diiringi suara rintihan Nadya. Karena panik, rupanya Nadya dan Sita berlari ke sembarang arah dan saling menabrak.
Aku dengan sigap meraih ponselku dan menyalakan senter, bersamaan dengan nyala senter dari arah pintu yang dibawa oleh Pak Wahid. Keadaan sedikit tenang, begitu Pak Wahid memasuki ruangan. Aku membantu Nadya dan Sita untuk berdiri. Kehebohan akibat mati lampu, cukup membuat mereka shock. Lima menit kemudian lampu menyala.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, aku meminta agar Pak wahid berjaga-jaga di dalam ruangan saja. Karena melihat raut wajah Nadya dan Sita, aku menjadi tidak tega. Mereka mulai mengait-ngaitkan dengan rumor yang beredar. Bahwa saat jam malam, ruangan ini memang sudah seharusnya tidak digunakan, karena berganti dengan penghuni yang lain.
__ADS_1
Pak Wahid rupanya cukup memahami keadaan kedua rekanku ini. Beliau berinisiatif untuk menceritakan pengalam hidupnya, untuk mengalihkan perhatian. Aku mengaku salut, langkah yang efektif. Karena saat ini, Nadya dan Sita rupanya sudah mulai tenang. Bekerja sambil mendengarkan cerita Pak Wahid.
Aku mendengarkan cerita sambil melanjutkan pekerjaanku. Tak terasa pukul 22.15, kami menyelesaikan pekerjaan lembur ini. Akhirnya kami bergegas untuk pulang. Kebetulan hari ini aku membawa mobil, jadi kuputuskan untuk mengantar Nadya dan Sita pulang ke rumah kostnya. Sedangkan Pak Wahid, kembali meneruskan tugas berjaga. Hanya saja kali ini harus kembali ke pos jaga.
Setelah mengantar Nadya dan Sita, aku melajukan mobilku menuju rumah. Kulihat jam tanganku, hampir jam 11 malam. Kuraih ponselku dan mencoba menghubungi Farhan. Beberapa kali panggilan, belum diangkat. Mungkin dia sudah tidur. Kuputuskan untuk fokus dengan kendaraan dan jalan raya.
Sesampainya dirumah, aku segera membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Kurebahkan badanku dan kutarik selimut. Sekilas aku teringat kembali dengan cerita Pak Wahid tadi. Pak Wahid memiliki tiga orang anak yang saat ini masih duduk di bangku SD. Istrinya adalah wanita yang luar biasa. Bagi Pak Wahid, memiliki istri sarjana yang mau menjadi ibu rumah tangga dan fokus untuk mengurus ketiga anaknya, adalah sebuah anugrah.
Ketika aku bertanya, kenapa tidak memilih berkarir dan membantu perekonomian keluarga saja? Jawaban yang cukup membuat naluriku tergugah. Ternyata Pak Wahid juga pernah menawarkan hal itu, namun ditolak oleh istrinya . Bagi istrinya, saat sudah berumah tangga seorang istri dan ibu sudah mempunya peran yang siap untuk ditempati. Bisa jadi diluar sana banyak perempuan yang belum beruntung, menjadi istri tapi belum menjadi ibu. Rasa syukur menjadi ibu inilah yang mendorong keinginan istri pak Wahid untuk memilih berkarir sebagai ibu rumah tangga.
Alangkah indahnya. Tapi bagaimana denganku? Siapkah aku? Mungkinkah aku harus mulai berkompromi? Kuraih ponselku dan kulihat jam menunjukkan pukul 23.55. Sebentar lagi lewat tengah malam, semoga saja Farhan bisa kubangunkan. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat padanya.
Mungkin tuhan mengirimkan jawaban lewat Pak Wahid. Lewat cerita hidupnya dan istrinya yang luar biasa. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak bisa berkarya. Secara ekonomi, aku mempercayakan pada kesungguhan Farhan. Tinggal meyakinkn pada diriku sendiri, bahwa aku bisa mengambil peran ini. Wanita seutuhnya, istri yang baik dan ibu yang menyayangi anak-anaknya. Karirku??
Kali ini aku pikiranku muali terbuka tentang karir. Bahwasanya karir tidak hanya berkutat pada kantor dan dunia usaha yang selama ini diluaran. Aku bisa memulai kisah suksesku dengan jalan yang lain. Bidang lain yang bsia kucoba untuk kutekuni sambil terus menajalankan peranku sebagai ibu ruamh tangga. Terbesit ide untuk membuka bisnis jasa ataupun kuliner. Tentu saja, ini akan menjadi tantangan baru bagiku.
Kembali kuraih ponselku dan menghubungi Farhan. Beberapa kali panggilan, ternyata masih nihil juga. Mungkin dia benar-benar sudah terlelap. Aku memutuskan untuk membangunkannya esok pagi saja. Semoga tidak ada orang lain yang mengucapkan, mendahului aku. Aku memejamkan mataku dan mengistirahatkan pikiranku.
Terima kasih hatiku. Telah berjuang dan bertahan sampai sejauh ini. Telah melewati setiap gelombang pasang dan surut dan membawaku pada keadaan terbaik saat ini. Terima kasih takdir hidupku, untuk setiap pengalaman berharga yang tertinggal dari setiap pinut-pintu takdir yang terbuka satu persatu untuk kulewati dan kuraih hikmah disana.
__ADS_1