
KEPASTIAN
Zaky seolah tidak peduli. Lebih memilih berkonsentrasi pada kendaraannya. Hal inilah yang sebenarnya memudarkan kepercayaan diriku. Sikap cuek dan terkesan tidak serius yang seringkali ditunjukkan padaku, yang menjadikan aku ragu. Ragu untuk melanjutkan hubungan dengannya. Namun, ada sebuah alasan, entah apa. Aku Bertahan.
Lampu merah. Lagi. Detik ke 90, dihitung mundur. Ya Tuhaannnn, cobaan macam apalagi ini.
Aaaargggggghhh !!! Aku mencoba untuk tidak terpengaruh dengan laju angka yang ditunjukkan pada papan traffic light itu. Ku pejamkan mata sambal ku tarik nafas dalam-dalam. Berharap pada saat kubuka mataku, angka 28 tidak pernah muncul. Ternyata Zaky memperhatikanku, sambal meletakkan tangannya pada punggung tanganku, dia bertanya, “kenapa?”. Aku kaget, dan otomatis menggeleng.
Lagi-lagi dia tidak peka. Aku tetap tidak ingin melihat pada pergerakan angka di samping kiriku itu, sampai akhirnya Zaky melanjutkan perjalanan. Lampu Hijau. Kami terdiam, dan aku benci dengan keadaan seperti ini. Aku yakin, bahwa Zaky sebenarnya mengetahui kejanggalan perilakuku, namun seolah berusaha tidak terjadi apa-apa. Sedangkan aku, tidak punya cukup keberanian untuk mengatakan. Sekali lagi aku benci keadaan ini.
“Kita mau kemana?”, aku membuka percakapan.
“Hemmmm, ada yang ingin bertemu dengan kita”, jawabnya enteng
“Siapa?”, tanyaku
“Ada, habis ini kamu juga tau”, Zaky menjawab dengan santai.
Itulah Zaky. Sikap santai dan terkesan terlalu acuh terhadap hal-hal yang dalam penilaiannya belum masuk kategori layak untuk diperhatikan. Kejutan apalagi kali ini. Aku memilih mempersiapkan diri. Untuk kemungkinan terburuk. Atau justru kemungkinan terbaik untuk hubunganku dengan Zaky.
Kurang lebih 3 tahun kami bersama, menjalin hubungan yang kami sebut sebagai “pacaran serius”. Status ini kami sepakati diawal sebagai komitmen. Serius menjadikan tahap ini sebagai satu langkah maju menuju jenjang pernikahan dan aku berharap besar pada hubungan ini. Iya aku. Mungkin juga Zaky, meskipun aku tidak sepenuhnya yakin. Karena hingga saat ini, tidak pernah sekalipun terucap pernyataan bahwa Zaky akan menikahiku. Meskipun juga tida pernah terlontar kalimat bahwa dia akan meninggalkanku. Keadaan yang menyedihkan. Tapi aku bertahan.
Zaky masih terdiam, namun tetap berkonsentrasi pada jalan. Sampai akhirnya dia menepikan kendaraannya didepan sebuah rumah makan seafood yang terlihat cukup besar. Aku semakin penasaran, karena yang aku tahu Zaky sudah memahami bahwa aku alergi terhadap seafood.
“Ayo turun,” Zaky memberikan komando.
“Aku kan alergi yang beginian, jawabku.
“Yang ngajak ketemu, pinginnya disini. Bukan berarti kita harus makan,” Zaky mencoba memberikan penjelasan.
Aku menurut, turun dari mobil dan mengikuti langkah Zaky. Ku hela nafas panjang. Ya Tuhaannn, buat aku kuat. Karena sedari tadi, aku sudah merasakan firasat. Firasat buruk tentang hubunganku dengan Zaky.
Kami menuju sebuah meja, yang sepertinya telah dipersiapkan sebelumnya. Keluarga besar Zaky ada disana, meskipun formasi kurang lengkap. Aku yang dengan tampilan apa adanya ini, mencoba membangun kepercayaan diriku. Mendekati meja dan menyalami satu persatu.
Pak Surya, ayah Zaky duduk disamping Adelia adiknya Zaky. Om Irfan dan Tante Meilani, adik dan adik ipar dari Pak Surya. Lalu mataku tertuju pada dua orang lagi yang belum aku kenal.
“Dea, apa kabar?” Sudah semester berapa sekarang?”, tanya Tante Meila sambal mengkode padaku untuk duduk disampingnya. Aku mendekat dan mengambil posisi sesuai yang diarahkan.
__ADS_1
“Baik Tante. Alhamdulillah, sudah rampung”, jawabku. Dibalik sapaan mesra itu, aku menunggu serangan tersembunyi yang sudah disiapkan Tante Meilani. Aku sudah paham, karena ini bukan pertamakalinya. Dan benar saja
“Owalah…., berarti udah lama donk ya….jalan sama Zaky, sampe udah lulus aja kuliahnya”, serangan Tante Meliani dimulai.
Zaky mendekat, mengetahui aku dalam keadaan tidak nyaman. Namun aku memberikan kode, agar dia tetap tenang dan tidak memberikan argument yang akan merusak suasana. Aku mencoba memberikan senyum termanisku dan memberikan jawaban telak.
“Alhamdulillah tante, mohon doanya karena sekarang lagi ngurus ijin ke kantor buat lanjut program S-2, mohon doanya,” aku menjawab dengan penuh percaya diri.
“Ow gitu…., terus kapan nih naik pelaminan, Zakyyyy keburu lumutan ntar kaliyan“ Tante Meilani melancarkan serangan balik dengan tetap mempertahankan senyum, yang menurutku lebih cocok disebut menyeringai.
“Mulai…mulai…., “Zaky menyahut karena merasakan juga hawa panas yang ditiupkan tantenya itu.
Perdebatan terhenti, karena aku melihat Pak Surya memberikan kode yang langsung dipahami oleh semua yang hadir. Perhatianku tertuju pada wanita dan remaja yang duduk di sebelah P. Surya. Perempuan yang mungkin usianya hampir sama dengan Bunda Fatma, ibunda Zaky yang saat ini sudah menikah lagi dengan rekan kerja P. Surya. Yah, Zaky adalah produk broken home, yang masih diberikan keberuntungan karena terlahir dan dibesarkan di lingkungan yang berkecukupan. Kualihkan pandanganku pada sosok remaja, yang usianya sekitar 16 tahun disamping wanita itu. Keduanya cantik dan nampak ramah.
“Mbak Dea, kenalin ini Tante Farida dan ini putrinya Rahma, “ Adelia yang sedari tadi terdiam mengagetkanku. Aku tersenyum dan memberikan tanda hormat, dari tempat dudukku.
“Salam kenal tante Farida dan Rahma”, jawabku. Keduanya menganggung dan tersenyum simpatik.
Aku masih terus menduga-duga, dan berharap segera ada yang memahami ketidatahuanku dan memberikan pencerahan. Sebenarnya ini apa? Aku menarik nafas lega, setidaknya dengan kehadiran kedua orang itu, bisa dipastikan pertemuan malam ini bukan tentang hubunganku dengan Zaky. Aku terpaksa menghabiskan makan malam di tempat itu dengan menahan mual dalam perutku. Sekalipun tersedia menu lain, bau mneyengat seafood tidak bisa berkompromi dengan perutku. Tapi aku berhasil bertahan.
Acara selesai dan kami pulang dengan kendaraan masing-masing.
Dua buah gelas berisi soda dan 1 piring kentang goreng tersaji di meja. Kami memilih sebuah tempat nongkrong yang tidak jauh dari rumahku untuk singgah. Aku mulai menata kalimat yang akan aku utarakan pada Zaky. Namun sekeras apapun upayaku, kosakata yang keluar hanya ….
“Jadi?”, tanyaku.
“hem?, “ Zaky balik bertanya
Aku tidak menjawab, tapi memilih mengangkat gelas berisi soda itu dan berharap muncul keajaiban agar aku bisa mengeluarkan isi hatiku malam ini. Tentang pertemuan tadi, yang boleh dikatakan deklarasi kemenangan. Kemenangan bagi P.Surya dan Tante Farida. Rupaya pertemuan tadi sedang membahas mengenai rencana masuknya calon anggota keluarga baru di keluarga Zaky. P.Surya memutuskan akan menikahi Tante Farida, 2 bulan lagi. Setelah itu Adelia, adik Zaky juga akan melaksanakan pertunangan 3 bulan setelah acara pernikahan P.Suryo.
Lalu bagaimana dengan aku dan Zaky?? Ternyata tidak masuk pembahasan. Kecewa? Pasti. Marah? Jelas. Rasanya sesak dan aku ingin menangis. Mataku berkaca-kaca, tapi terlalu sungkan untuk menetes.
“Kamu gak seneng, dengan berita bahagia dari keluargaku?”, Zaky bertanya seolah tidak memahami pemikiranku.
__ADS_1
“Harus?,”, aku bertanya balik. Zaky yang sedari tadi diam, seketika memberikan tatapan yang sinis. Dia marah. Kali ini aku juga tidak ingin kalah ataupun sekedar mengalah
“Haruskah aku turut berbahagia atau justru menangisi kebodohanku karena sampai dengan hari ini masih berharap pada hubungan kita ?”
“Haruskan aku memperjelas lagi bahwa, aku sudah sangat lama menunggu untuk berada di posisi Tante Farida, yang sampai saat ini bahkan menyinggungnya saja kamu tidak pernah?”
“Haruskah aku masih perlu menjelaskan sama kamu, kalua aku sudah capek. Capek dengan semua keadaan yang tidak pernah ada kepastian????”, nafasku habis dna aku memilih menenggelamkan wajahku dibalik tanganku. Aku Menangis. Akhirnya keberanian ini keluar. Saat ini aku seolah mendapat kekuatan yang luar biasa untuk membela diriku. Pembelaan atas ketidakpastian yang diberikan Zaky.
“Aku sayang kamu. Aku juga menginginkan membawa kamu ke dalam keluargaku. Tapi keadaannya sulit. Tolong mengerti., “ diluar dugaan Zaky memberikan respon memelas. Tidak kulihat sorot mata yang tadi sempat diperlihatkan diawal pembicaraan.
“Tolong bersabar untukku. Aku tahu ini tidak mudah. Tapi hanya kamu yang bisa mengerti aku, “ Zaky memegang tangnku. Aku tanpa daya, membiarkannya.
Ini yang paling kutakutkan, ketidakmampuanku menghadapi Zaky. Sekali lagi aku luluh. Iya, aku luluh. Setelah keberanian yang tiba-tiba merasukiku dan memberikan energi yang luar biasa membara tadi, aku seolah padam. Aku memilih melanjutkan tangisku. Satu jam lamanya kami hanya terdiam. Aku dengan pikiranku dan Zaky dengan ponselnya. Entah, keadaan menyedihkan ini kenapa seolah berulang terjadi pada kami. Namun berulang kali juga aku kalah.
Kuseka air mata terakhirku dan kususun Kembali keberanian di dalam diriku untuk menyatakan sisa isi hatiku pada Zaky. Belum sempat aku membuka mulut, Zaky mendahului.
“Aku gak akan maksa kamu, karena aku juga gak bisa menjanjikan apapun, “ ujarnya dengan menunduk
Aku seolah tidak percaya, laki-laki yang sudah 3 tahun kuperjuangkan hubunganku dengannya seolah menghempaskanku begitu saja. Tuhaannn ini benar-benar berat.. Sekuat tenaga aku menahan tangisku. Tapi akhirnya pecah. Aku menangis Kembali. Menangisi nasibku atau kebodohanku, yang pasti aku benar-benar merasakan nyeri di ujung hatiku. Aku bangkit, dan kuraih tas di meja kemudian berjalan meninggalkan Zaky.
Tapi tangannya meraih tanganku, memintaku untuk kembali duduk. Memohon dengan bahasa matanya. Aku mengabulkan. Aku kembali duduk.
“Dengarkan aku baik-baik De….
“Aku yang salah disini, karena tidak bisa memperjuangkan hubungan kita. Tapi kamu harus percaya, kita bisa sama-sama terus. Kamu harus lebih sabar lagi ya. Buat kita., “Zaky memohon.
“Aku sudah lelah. Maaf. Tarik ulur seperti ini menyakitkanku”, jawabku sambal menghapus air mataku.
“Tapi kali ini aku benar-benar memohon”, Zaky kembali meminta.
“Entahlah, aku hanya ingin pulang dan tidur. Kepalaku sakit. Besok aku masih harus kerja. Tolong antar aku pulang”, pintaku.
Zaky menurutiku, membimbingku masuk ke mobilnya dan mengantarkanku pulang. Aku benar-benar dalam keadaan terpuruk, firasat yang tadi kurasakan pada saat berangkat ternyata terwujud. Pertemuan itu sekaan memberikan kepastian akan hubunganku dengan Zaky. Kepastian yang selama ini aku nantikan. Sekalipun tidak keluar dari mulut Zaky, tapi semuanya terasa lebih gambling. Jelas.
__ADS_1
Dalam dua bulan kedepan ayahnya Zaky akan menikah, disusul pertunangan adiknya. Sedangkan aku dan Zaky, entah seperti apa kelanjutan hubungan kami. Tapi yang pasti, impian menikah tahun ini gagal. Sepertinya demikian juga tahun depan. Aku kembali kalah. Kalah pada takdir yang digarikan untukku.
Aku hanya ingin pulang. Tidur.