
USIA, STATUS, DAN MENIKAHI DUDA
Kami memutuskan untuk kembali menunda pernikahan. Sebuah ego dalam diriku yang enggan melepaskan karir yang selama ini kuraih dengan susah payah. Demikian pulan Farhan, yang merasa bahwa keputusan untuk tidak mengijinkan aku bekerja di luar sebagai keputusan final dalam berumah tangga.
Sebagai seseorang yang pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga, tentunya memasang semacam barrier untuk melindungi rumah tangga adalah wajib. Demikian prinsip Farhan. Sedangkan aku, menjadi wanita karir bukan sekedar hoby, melainkan passion. Bagaimana aku bisa melepaskan dan kemudian menukarnya dengan pernikahan?
Dalam sebuah perenuangan aku dihadapkan pada sebuah kenyataan, bahwa usiaku sudah lebih dari cukup untuk menikah. Menurut ukuran siapa? Tentunya norma kehidupan dimana aku tinggal, menyatakan bahwa usia ini menandakan kematangan untuk berumah tangga. Bahkan beberapa diantara teman-temanku sudah melahirkan 2 anak pada usia ini. Namun sekali lagi, ukuran pencapaian takdir setiap orang berbeda.
Terkadang yang membuat miris adalah, kenyataan bahwa di sekitar kita memang masih menjadi hal yang biasa untuk menanyakan KAPAN KAWIN? ANAK KAMU BERAPA? Tanpa mempertimbangkan bahwa, pertanyaan itu bisa menimbulkan goresan luka yang mendalam bagi beberapa orang. Beberapa orang yang mungkin memang masih dalam perjalanan untuk mendapatkan takdir pernikahan dan memiliki keluarga yang utuh.
Permasalahan lain yang sebenarnya bagiku sudah bukan menjadi masalah, adalah status pasanganku yang sebelumnya sudah pernah gagal menjalani rumah tangga. Sedangkan aku, belum pernah menjalani pernikahan. Akan selalu muncul sebuah omongan, lebih tepatnya mengarah pada hujatan. OH TERNYATA SUAMINYA DUDA……
PANTES SIH….KAN MEMANG PERAWAN TUA
Betapa jahatnya pernyataan-pernyataan itu bagiku. Mungkin beberapa diantara yang lain juga mengalaminya. Ketahuilah, ini menyakitkan untuk dibahas tanpa mengetahui dengan pasti latar belakangnya. Lagipula sejak kapan ada peraturan baku bahwa perjaka harus menikah dengan perawan dan janda harus menikah dengan duda? Sekali lagi, itu bagian dari budaya dan sebagian pemikiran orang-orang tertentu saja.
__ADS_1
Namun sebagai manusia biasa, hal-hal semacam ini terus saja mengganggu pikiranku. Sekali waktu aku mungkin bisa menjadi kuat, namun tidak diwaktu yang lain. Penundaan ini menjadikan pemikiran-pemikiran itu menghantui keseharianku.
Tujuh bulan semenjak kami memutuskan untuk menunda pernikahan, aku mulai merasakan ada jarak diantara aku dan Farhan. Mungkinkkah jika saat ini dia sudah mulai memikirkan untuk mencari seseorang yang sesuai dengan keinginannya. Haruskah aku kembali kehilangan kesempatan untuk pernikahanku, sekali lagi?
Aku memutuskan mengambil langkah. Lebih tepatnya langkah penyelamatan bagi masa depanku. Kuambil ponselku dan membuat janji untuk makan malam bersama. Farhan menyetujui, namun meminta agar aku sendiri yang memasak di rumahnya. Hemmmm…….aku yang berniat memperbaiki hubungan, ternyata harus melewati tantangan ini. Iya, tentu saja ini Namanya tantangan, aku belum mahir memasak.
Sebuah keuntungan, karena beberapa waktu yang lalu aku sudah sempat belajar memasak dari keluarga Hafiz. Setidaknya aku tida perlu kebingunan membedakan bumbu dapur. Kami sepakat, akhir pekan akan menghabiskan waktu bertiga, yang sudah cukup lama tidak kami lakukan. Jujur aku merindukan Farhan. Merindukan Jasmine pula.
Akhir pekan yang dijanjikan tiba. Farhan menjemputku dari kantor dan kami menuju supermarket untuk berbelanja. Kulihat sekilas, duda keren satu ini memang semakin memikat. Mungkin aku harus bersyukur, diantara pria yang kukenal, dialah yang paling berparas tampan.
Sekitar satu jam kami mengeliligi supermarket dan memenuhi keranjang belanjaan. Farhan membantuku untuk mengangkat menuju mobil. Bagiku ini romantis. Jika sebagian perempuan mungkin akan menganggapnya biasa saja, tidak bagiku. Hari ini aku juga harus mampu menunjukkan sisi romantisku kepadanya. Entah kenapa, pikiran takut kehilangan kembali menyusup dan memotivasiku untuk mempertahankan seorang Farhan.
Farhah hanya tersenyum dan tetap berkonsentrasi mengemudikan kendaraannya. Aku semakin penasaran, tapi Farhan memberikan isyarat agar aku bersabar untuk menunggu kejutan darinya.
Setelah beberapa menit perjalanan, mobil Farha berhenti pada sebuah rumah yang lebih mirip villa. Farhan sebelumnya tidak pernah menceritakan bahwa dia memiliki sebuah villa. Aku mengikuti langkahnya, dan…..
__ADS_1
SURPRISE…..???!!!???
Gadis kecilku, Jasmine menyambutku dengan pelukan. Aku juga sangat merindukannya. Semenjak aku dan Farhan memiliki jarak dalam hubungan kami, otomatis aku dan Jasmine juga harus turut serta. Aku segera menurunkannnya dari gendonganku dan kuciumi seluruh wajah manisnya. Rupanya si kecil ini juga sangat merindukanku.
Malam ini rupanya Farhan sengaja membawaku kesini, tujuan yang sama, yaitu memperbaiki hubungan yang renggang diantara kami. Namun kami sepakat tidak membahas apapun malam ini, kecuali hanya fokus menghabiskan waktu bersama. Kami bertiga saja, aku, Farhan dan Jasmine. Aku segera menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Semoga malam ini tanganku memiliki keajaiban, sekedar hanya untuk menyiapkan makan malam yang berkesan bagi mereka berdua. Untungnya menu sederhana yang diinginkan oleh mereka, daging rendang, tumisan dan tentunya jus spesial. Hanya itu saja, namun butuh perjuangan yang sempurna dariku. Farhan membantuku, demikian pula si Kecil Jasmine.
Begitu hidangan tersaji di meja makan, ada perasaan khawatir menyelimutiku. Apakah rasa makanan ini enak? Apakah mereka nanti akan suka? Atau justru sebaliknya.
Satu suapan pertama meluncur di mulut Si Kecil Jasmine. Aku menahan nafas dan menunggu ekspresi yang akan keluar.
Hemmmmm…masakan Bunda terbbbaaaaikkkkk……
Ujar Jasmine sambil menyendok kembali daging rendang yang tersaji di depannya. Akupun lega. Lalu kulanjutkan melihat ke arah Farhan, kali ini dia mencoba masakan tumis sayuranku. Ekspresi menikmati terpancar di wajahnya. Aku sangat bersyukur untuk itu.
__ADS_1
Malam ini kami menikmati makan malam yang dikemas dengan kerinduan dan juga keinginan untuk memperbaiki sebuah hubungan. Semoga saja, melalui rasa yang ada di lidah akan membangkitkan kembali rasa yang adai di hati. Bukankah ada yang bilang, dari lidah naik ke hati?
Terima kasih Tuhan untuk hari ini. Terima kasih telah memudahkan jalanku untuk memperbaiki sesuatu yang belum kumiliki namun aku sudah takut untuk kehilangan. Semoga tidak lagi.