Pintu Takdir Melepas Lajang

Pintu Takdir Melepas Lajang
Episode 30


__ADS_3

KELAM DAN TERPURUK


Hari pertama aku masuk kantor, setelah sepekan aku berada di rumah sakit. Ruang HRD menjadi tujuan utamaku saat ini. Ada beberapa hal yang secara prosedur harus kulewati setelah mengambil cuti selama sepekan. Aku berharap tidak ada masalah lagi. Jiwaku masih terlalu rapuh untuk menerima hantaman masalah lagi.


Kepergian Hafiz untuk selamanya dari sisiku, membuat berita pertunangan kami terdengar luas. Hal yang selama ini kami tutup-tutupi, terbuka dengan sendirinya. Kisah cintaku yang kembali kandas dan kali ini berakhir tragis dengan kematian calon suamiku, juga tersebar luas.


Sekitar 30 menit aku berada di ruang HRD. Aku bersyukur, Kepala HRD bisa memaklumi keadaanku. Aku diberikan kesempatan untuk mengejar ketertinggalanku, kebetulan asistenku yang menggantikanku selama cuti juga bekerja dengan baik. Begitu urusanku selesai, aku bergegas menuju ruang kerjaku.


Langkah yang sungguh berat kurasakan. Hari-hari kedepan tanpa kehadiran Hafiz dikantor ini, kumulai hari ini. Kutemui asistenku, untuk meminta sejumlah laporan selama aku cuti. Asistenku juga perempuan, Namanya Nadia. Setumpuk kertas diberikan padaku, aku segera memboyongnya ke ruanganku. Semoga dengan ini, aku bisa bangkit melawan rasa putus asa ini.


Dua jam berlalu aku hanya memandangi kosong pada tumpukan kertas itu. Tak satupun ide terbayang di otakku. Terbayang kembali hari-hari yang telah aku lewati bersama Hafiz. Perhatiannya, sikap lembutnya…semua seolah datang bersamaan menyerbu diriku.


Mataku seketika menjadi gelap, kepalaku berkunang-kunang. Segera aku berpegangan pada meja di depanku, kutundukkan kepalaku. Kembali aku menangis. Kali ini aku tidak bisa lagi menahan tangisku. Kuluapkan segala kesedihanku. Aku menangis dan menangis.


Hampir satu jam, sebuah tangan halus meraih pundakku. Deby ternyata. Menyerahkan bungkusan tisu dan meletakkan air putih dimejaku. Diraihnya laporan yang sedari tadi ada dimejaku, tanpa kusentuh sedikitpun. Deby memindahkannya ke laci kerjaku. Aku menghapus air mataku dan meminum air putih yang dibawakan Deby.


“Jangan dipaksakan Mbk. Semua butuh proses”, ujar Deby


Aku mengangguk dan menghela nafas panjang. Deby membimbingku menuju sudut lain di ruanganku, melihat ke arah jendela. Kebetulan ruanganku terletak di lantai 2, ada sebuah balkon yang kami tuju. Udara tersa sejuk dari atas balkon. Sekitar 30 menit, Aku dan Deby saling terdiam dan menikmati udara dari atas balkon.

__ADS_1


Aku merasakan bebanku sedikit terangkat. Deby, sahabat terbaikku. Terima kasih selalu ada untukku, terutama disaat-saat berat semacam, Aku mengucapkan terima kasih kepada Deby. Setelah memastikan aku baik-baik saja, Deby kemudian kembali ke ruangannya. Demikian pula aku, mencoba mengumpulkan konsentrasiku dan kembali pada laporan yang tadi sudah diberikan Nadya padaku.


Hari ke-100 kepergian Hafiz. Aku masih melewati hari-hariku yang tidak biasa. Sepulang kerja kuputuskan untuk mengunjungi makamnya. Aku sengaja pergi sendirian, karena aku ingin memiliki privasi disana. Jam pulang kerja, aku bergegas menuju pusara Hafiz.


Kali ini aku datang dengan baju putih tulang pemberiannya, lengkap dengan kerudung berwarna peach. Kutentang sekeranjang bunga dan juga air putih. Aku berjalan menyusuri pusara yang kutuju. Akhirnya aku sampai.


Rupanya sebelum aku sudah ada yang mengunjungi pusara ini. Mungkin keluarga besar Hafiz. Semenjak hari ke-40 kepergian Hafiz sampai dengan hari ini, aku belum mengunjungi rumahnya. Bagiku aku juga masih banayk butuh kekuatan, untuk menjadi biasa ketika berada di rumah itu.


Aku bersimpuh dan mulai menebarkan bunga, kemudian menyiramkan air putih di atas pusara calon imamku ini. Lebih tepatnya mantan calon imam. Kupanjatkan doa terbaik untuknya. Namun ada sesuatu yang ganjil, aku menoleh ke sekeliling. Ternyata tidak ada siapapun. Mungkin hanya perasaanku saja.


Kembali kulanjutkan ritual doaku. Sejenak aku mengingat kembali kebaikan-kebaikan Hafiz padaku. Mimpi-mimpi kami yang seakan turut serta dibawa menuju pusara Hafiz. Terkubur dalam dan dalam. Aku tahu aku harus merelakannya. Kami bahkan harus merelakan satu sama lain, sebelum sempat saling memiliki. Takdir yang singkat ini, belum mampu untuk kupahami tujuannya. Jiwa rapuhku ini harus tetap kubawa bertahan. Melangkah dan melanjutkan hidupku.


Pengkhianatan kekasih pertamaku, kehilangan Zaky dan kepergian Hafiz. Aku menerima setiap kenyataan ini sebagai bentuk tulisan takdir yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Tanpa mampu untuk menolak, tanpa daya untuk menghindar, dan inilah yang harus kuterima.


Dalam perjalanan pulang, terbesit keinginanku untuk mengunjungi orang tua Hfiz. Sudah cukup lama aku tida kesana. Tidak ada salahnya kembali membangun kepercayaan diri untuk memasuki rumah itu lagi. Kuarahkan mobil menuju rumah Hafiz. Aku melirik spion, sepertinya ada sebuah mobil yang sedari tadi mengikutiku.


Kutambah kecepatan, ah ternyata mobil ini masih mengikutiku. Jangan-jangan ini orang jahat yang berusaha mengikutiku. Sebentar lagi hari gelap, tentunya keadaan ini tidak aman bagiku. Aku memilih membelokkan mobilku memasuki pom bensin. Semoga mobil itu terkecoh, dan tidak mengikutiku lagi.


Setelah antri beberpa lama, tiba giliranku mengisi bensin. Aku rasa keadaan sudah aman, kuputuskan untuk membatalkan rencananku mengunjungi orang tua Hafiz. Akhirnya aku pulang.

__ADS_1


Sesampainya dirumah, segera kukunci pintu gerbang dan berlari masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintu rumah, kudengar suara deru mobil melintas di depan rumahku. Segera aku mengintip dari balik tirai.


Ah ternyata benar!!!


Mobil itu mengikutiku sampai kemari. Aku seketika merinding juga. Apakah ada yang sedang berniat jahat kepadaku? Sepertinya aku tida pernah merasa membuat masalah dengan seseorang


Sebuah tepukan mengagetkanku. Ternyata Ayahku.


“Ngintipin siapa?”, tanya ayah


“Eh..anu..gak Yah. Itu…Tadi kayak ada yang buntutin Dea waktu pulang, tuh mobilnya barusan lewat,” jawabku


Ayah melongok keluar, tidak melihat siapapun. Berusaha menenangkanku dan memintaku untuk segera beristirahat di kamar. Akupun menurut. Mungkin ayah benar, ini hanya perasaannku saja.


Aku segera naik ke kamar untuk beristirahat. Perasaanku tiba-tiba tertuju pada ponselku. Segera kuraih tas dan mencari ponselku. Ada sebuah panggilan tak terjawab sebanyak 4kali. Nomor yang tidak kukenal. Siapa kira-kira?


Aku tidak mau ambil pusing, segera kublokir nomor itu. Kemudian kulanjutkan dengan membuat pengaturan ponsel, memblokir seluruh panggilan dan pesan dari nomor tak dikenal. Ini akan sedikit membuatku tenang. Disaat galau seperti ini, pastinya kewaspadaanku menurun. Oleh karena itu mungkin tidak ada salahnya jika lebih berhati-hati.


Setelah membersihkan diri, aku bersiap untuk sujudku. Kuraih mukena pemberian Hafiz. Aku rindu padanya. Kali ini benar-benar rindu.Satu-satunya cara menyambungkan rinduku adalah dengan mendoakannya. Melalui doa-doaku ini semoga Hafiz merasakan, sesuatu yang saat ini ada dihatiku. Sekalipun itu bukan cinta, tapi ini perasaan tulusku untunya. Terima kasih telah menjadi bagian terindah dalam perjalanan hidupku.

__ADS_1


Takdir yang mempertemukan segaligus memisahkan kita. Seandainya ada yang dapat mengerti arti semua ini. Aku saja pemilik takdir tidak paham dengan maksud Tuhan. Menananmkan cinta kemudian mencabutnya kembali. Mendatangkan seseorang namun kemudian mengambilnya kembali. Meninggalkan luka mendalam di sebuah hati. Tapi kehidupan tetap harus berjalan, dijalankan dengan atau tanpa kerelaan. Sekalipun aku tak rela, toh kenyataannya aku maish dberikan kehidupan. Artinya Takdir ingin sekali lagi membangkitkan aku.


Entah untuk kembali mengujiku atau kali ini hanya ingin bermain-main dengannya. Aku pasrah. Mungkin lebih tepatnya putus asa. Aku lelah dan menyerah. Kecewa yang kubawa dalam hidupku menjaikan setiap langkahku semakin berat. Aku tertidur. Semoga tidur ini membantuku menyembuhkan luka, luka karena kecewa pada keadaan.


__ADS_2