
AKU BUKAN PILIHAN
Sesampainya dirumah, aku segera menuju kamar. Ingin segera mandi dan merebahkan diriku. Terus terang serangan netizen di acara arisan keluarga tadi, cukup memamcing emosiku. Gerah juga jadinya. Ada pesan masuk, kuurungkan niatku untuk mandi.
“Save nomerku ya De, ini aku Gio,”
Hampir saja aku lupa, Giovani adik temannya mb Bella. Okelah, gak masalah. Gak perlu parno juga, edisi nambah teman baru.
“OK, jawabku singkat. Kutunggu beberapa saat, Gio tidak membalas. Eh, apa sih aku ini, sepertinya berharap lebih. Akhirnya segera kuputuskan untuk mandi.
Akhirnya….setelah menyentuh air, rasanya merdeka. Seolah efek samping kalimat-kalimat julid dari Budhe-budheku tadi turut luntur Bersama siraman air dingin. Segera aku berganti pakaian dan merebahkan diri di Kasur. Nyaman. Kuraih ponselku, ada beberapa pesan masuk. Laris, gumamku. Enam notifikasi pesan berjajar rapi. Kubuka satu-persatu.
Zaky
“Iya sayang…, segera aku akan menjadi bagian dari arisan itu, tentunya sebagai suamimu (emoticon hati)”. Aku tersenyum, sekalipun ini gombalan. Tetap aku bahagia, segera kubalas pesan itu dengan semangat.
“Ditunggu, segera.”
*Hafiz*
“Besok pulang kerja, aku minta waktu.Bisa?”
“Hemmmmmmm, ada apa ya?” Aku sedikit heran dengan penggalan pesan yang dikirim Hafiz, sedikit kaku. Tapi segera kubalas.
“Ok, dimana?”, jawabku
“Butik Aliya, nanti kesananya sama-sama”, jawab Hafiz
“Butik?” Tumben?”, tanyaku keheranan
“Yang seharusnya dilakukan pria untuk wanitanya…hehe hehe” (emoticon love), jawab Hafiz
Deg.!!!!! Seketika ada sesuatu yang berdeta keras di dada. PRIA UNTUK WANITANYA. Ngeri aku membaca pesan ini. Segera kubalas “ok”.
Masih dengan keheranan, namun aku mencoba untuk tida GR. Bisa jadi Hafiz dengan selera humornya mencoba menggodaku. Pesan selanjutnya dari Deby.
*Deby*
“Nanti malam temenin aku ya mbak. Tak jemput”
“Kemana?”, jawabku
“Opening Café temennya Mas Rey, deket kok kalo dari rumah kamu. Sekitar 20 menitan. Mau yaaa??? Aku yang traktir (emoticon tersenyum)”, jawab Deby.
__ADS_1
“Siyaaap”. Dresscodenya apa??”, tanyaku agar tak salah kostum
“Apa ajaaa, asal gak baju renang Wkwkwkwkkwk”, jawab Deby
“Dassaarrrr !!!!!”, Jawabku. Deby selalu sukses membuatku tertawa.
*Mba Bella*
“Gio udah hubungin kamu De?”
“Udah, kasih nomor gak bilang dulu….(emoticon manyun),”
“He he…..udah gercep rupanya si Gio. Have fun yaaa, semoga cocok, “ jawab Mb Bella
“Apaan sih. Wah…modus baru perjodohan ini nih…, “jawabku
“Ikhtiar De, siapa tau kaaann??? !!! Tapi cakep kan dia??? He he he,” Mb Bella mulai menggodaku
“Au ah gelap”, jawabku
“Mbak tungguin kabar baiknya ya …wwkwkwk,” Mb Bella kembali berulah
Aku mesem-mesem sendiri. Aku tahu, kakakku yang satu ini pastinya juga mengkhawatirkan adiknya sayng satu ini. Khawatir status jomblo bersarang dengan nyaman didiriku.
*Gio”
Walahhh panjang umur juga nih orang, pikirku.
“Semoga gak pas ada acara ya”, jawabku jual mahal
“Ok”, jawab Gio singkat
Aku jadi menyesal mengirim kalimat yang tadi, ingin kuhapus, tapi sudah terlanjur. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa menyia-nyiakan sebuah peluang.
Senin sore, jam pulang kerja, sesuai janjiku pada Hafiz, aku hari ini akan menemaninya ke butik. Agak aneh, karena pertama kalinya Hafiz memintaku menemaninya ke Butik. Kami berangkat bersama-sama. Kebetulan aku tidak membawa kendaraan sendiri. Perjalanan sekitar 20 menit, kamipun sampai.
“Tumben ngajak kesini?”, tanyaku setelah turun dari mobil
Hafiz menoleh dan tersenyum lalu memberikan kode kepadaku untuk terlebih dulu masuk ke dalam butik. Dasar orang aneh. Tapi akupun menurut.
“Sore Pak Hafiz. Ada yang bisa kami bantu?”, seorang pegawai menyambut kami dengan ramah. Rupanya Hafiz sudah mengenal baik tempat ini
“Batik pesanan saya kemarin, bisa diambil mbak? Atau mungkin bisa dibantu fitting dulu”, jawab Hafiz
“Oh tentu pak. Ini Calon mempelainya?”, pegawai itu nyeletuk sambil melihat kepadaku dengan penuh sopan. Aku gelagapan.
“Iya mbk, tolong dibantu ya”, hafiz menjawab. Aku melotot ke arahnya. Dia hanya tersenyum
__ADS_1
“Mari mbak”, pegawai itu membimbingku menuju runag ganti. Aku seperti linglung, menurut saja. CALON MEMPELAI??
Kuperhatikan baik-baik batik yang kukenakan. Modelnya mirip gaun malam dengan model panjang, namun tidak ada belahan dada maupun belahan kaki yang tinggi. Modelnya simple, ada beberapa akses di dada, minimalis. Pas dan cantik dilihat. Jujur aku menyukainya. Aku segera keluar ruangan untuk menunjukkan kepada Hafiz. Betapa terkejutnya aku, Hafiz mengenakan kemeja batik senada denganku.
“Dresscode kondangan?”, tanyaku
Hafiz tersenyum jahil
“Dresscode even bulan depan?”, kembali aku bertanya. Karena seingatku bulan depan memang ada agenda even di luar kota yang ahrus kutangani dengan Hafiz.
“Buat ketemu calon mertua”, jawab Hafiz
“Apaan sihhh. Gak lucu nih.”, jawabku sambil berjalan meuju ruang ganti. Karena jujur aku merasa nervous.
“Eiiitsss, tunggu dulu,” Hafiz menahanku dan dengan sekejap mengambil beberapa foto kami.
“Jangan bercanda dehhh”, aku mulai sebal
“Bagus kan?”, Hafiz tidak mempedulikan ucapanku, malah sibuk memamerkan hasil fotonya.
“Mbak, minta tolong dibungkus yang rapi ya. Saya tunggu di depan”, Hafiz memberikan perintah kepada pegawai itu.
Setelah mengganti pakaian, aku menuju ruang tamu butik disana Hafiz sudah menunggu. Belum sempat aku bertanya, dia sudah menyodorkan minuman dingin kepadaku.
“Minum dulu, biar kuat ngadepin kenyataan,” Hafiz meledekkku
Aku menurut, sambil tetap terheran-heran dengan perlakuannya hari ini. Setelah itu aku bersiap mendengan penjelasannya.
“Rabu, artinya lusa. Aku mau kenalin kamu sama keluarga besarku. Kebetulan acara syukuran kelahiran keponakanku, anaknya Ilham adikku. Aku serius sama kamu, dan ini caraku memuliakan kamu”, Hafiz menjelaskan dengan lugas
“Ini perintah atasan atau tawaran kepada rekan kerja?”, jawabku diplomatis, agar tidak menyinggung perasaan Hafiz saat kutolak ajakannya. Karena yang kuharapkan adalah ajakan Zaky
“Dea, please….”Hafiz memohon…
“Kamu tahu kan, aku udah ada …, jawabanku terputus
“Zaky?”, Hafiz melanjutkan ucapanku
“Itulah yang aku ingin kamu pahami. Kalau dia gak bisa kasih kamu kejelasan, aku bisa. Kalau dia gak mampu kasih kamu kepastian status, aku bisa menghalalkanmu. Aku juga gak mau menjadi bahan pilhan kamu, pilihan antara dia dan aku. Bisa kan kamu paham itu?”, Hafiz mencoba bernegoisasi
Jujur ucapan ini benar-benar serangan telak. Semua yang dikatakan Hafiz benar. Selama ini aku bersikap tidak adil. Sekalipun Zaky kekasihku, tapi Hafiz yang berada disisiku saat Zaky menyakitiku. Itu faktanya. Dan selama ini aku menikmati berada diantara mereka berdua. Egois.
“Aku gak janji ya, aku piker-pikir dulu,” jawabku
“Kali ini kamu gak bisa nolak, aku benar-benar serius Dea…”,Hafiz memohon. Akhirnya aku meluluskan permintaanya. Pertimbanganku adalah kemanusiaan, selebihnya tidak ada. Karena memang jujur kuakui, rasaku pada Zaky jauh lebih berarti.
Hafiz kali ini mengantarkanku pulang dengan penuh semangat dan kemenangan. Entah mengapa ada perasaan bersalah di ujung hatiku, teringat Zaky. Di perjjalanan, Hafiz mengarahkan mobilnya pada semua rumah makan. Tanpa banyak tanya aku menurut, jujur aku juga lapar. Kamipun makan malam bersama. Zaky, maafkan aku.
__ADS_1