Pintu Takdir Melepas Lajang

Pintu Takdir Melepas Lajang
Episode 14


__ADS_3

PERTENGKARAN LAGI


Selesai memesan makanan, Zaky berpamitan mengambil ponselnya yang ketinggalan di mobil. Kugunakan kesempatan ini untuk membuka ponselku. Aku ingin segera meminta maaf kepada Hafiz. Dia pasti sangat marah. Kuputuskan terlebih dahulu menghapus semua pesan masuk dari Hafiz dan Gio. Entah kenapa, aku merasa ketakukan berlebihan. Seolah sudah berselingkuh dan berbuat dosa besar.


Kulihat, Zaky masih belum kembali. Karena tadi aku sempat melihat memang lokasi parker yang cukup jauh. Syukurlah, ini kesempatanku. Dag dig dug juga perasaanku. Dengan cepat aku menelepon Hafiz, 2 kali penggilan. Belum juga dijawab. Fix, pasti dia marah. Kuputuskan untuk nanti meneleponnya kembali. Beberapa menit kemudian Zaky muncul. Jantungku hampir copot. Zaky memberikan kode, bertanya siapa yang sedang kuhubungi. Terpaksa aku berbohong. Aku bilang ayahku.


Zaky berjalan mendekat menuju kursiku, seketika itu kumatikan panggilan terhadap nomor Hafiz. Dengan sigap kutekan nomor telp ayahaku. Takdir menyelamatkanku, ayahku mengangkat telepon dengan segera. Aku berusaha mengatur nafasku. Begitu tahu yang kuhubungi adalah Ayah, Zaky kembali duduk di kursinya. Aku menarik nafas lega.


“Ayah bilang, jangan sampai jam 9 malam”, aku mengatakan kepada Zaky. Padahal itu alasanku saja. Ayah tadi berpesan untuk membelikan gula rendah kalori saat pulang nanti.


“Siyaapp bos”, Zaky menjawab tanpa curiga sedikitpun


Pukul 18.15, kami melanjutkan perjalanan untuk membeli kado. Perasaanku sudah sedikit lebih tenang. Berharap Hafiz tidak melakukan panggilan balik. Karena sudah bisa dipastikan, Zaky tidak akan bisa mengendalikan cemburunya.


Kami memutuskan membelikan kado pernikahan berupa sepasang kacamata kepada ayah dan ibu tiri Zaky. Meskipun aku tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang untuk membeli kado, toh tetap pilihan kado menjadi keputusanku. Tak butuh waktu lama, kami sudah menetapkan pilihan kacamata yang cocok sebagai kado. Aku meminta kepada pegawai toko itu untuk membungkus dengan rapi. Segera Zaky membayar dan mengajakku pergi meninggalkan toko tersebut.

__ADS_1


Masih aman. Karena ponselku tidak berdering. Kuraba di dalam tas, sengaja kumatikan. Akhirnya kau benar-benar tenang kali ini. Namun entah mengapa, firasat kurang enak ini tetap berkelebat di hatiku.


Pukul 19.10, aku kira Zaky akan mengantarkan aku pulang. Tanpa persetujuanku dia mengarahkan mobilnya menuju arah yang berlawanan dengan arah rumahku. Kalau tidak salah ini arah rumah Bundanya. Kali ini aku menolak, karena pastinya nanti aku akan terlambat sampai dirumah. Lagipula mengunjungi rumah Bunda Fatma, tidak mungkin akan sebentar. Zaky suka berlama-lama disana. Biasanya aku tidak mempermasalahkan, namun kali ini aku benar-benar sedang ingin segera pulang.


“Kita kerumah Bunda kamu besok saja ya, aku capek”, pintaku


“Sebentar aja. Aku mau kabarin Bunda, kalau pernikahan Ayah dimajukan”, Zaky memaksa.


“Ayolah, aku capek. Bisa besok kan?”, jawabku


“Apa susahnya sih. Kamu kan tinggal duduk. Udah deh gak usah bawel !!!!!”, Zaky berkata dengan nada ketus


“KU TURUN SINI, SEKARANG!!!” sekali lagi au meninggikan suaraku


“Kamu kenapa sih?”, Zaky benar-benar menghentikan kendaraanya

__ADS_1


“Aku ini bukan siapa-siapanya kamu. Dimata keluargamu, aku tida lebih hanya seorang perempuan yang mengharap belas kasihan untuk kamu nikahi. Jadi stop! Stop memperlakukan aku seperti barangmu, yang bisa kamu perlakukan seenak maumu,” seketika amarhku meluap


“Aku memang belum bisa menikahi kamu, tapi bukan berarti kamu menjelek-jelekkan keluargaku”, Zaky ganti membentakku.


 


Pertengkaran tidak terlelakkan. Kami bertengkar hebat di dalam mobil itu. Sampai pada akhirnya aku putuskan keluar dari mobil. Untungnya mobil turun di depan sebuah apotik. Aku berlari masuk ke dalam apotik, dalam keadaan panik. Zaky tidak mengejarku. Benar-benar keterlaluan. Aku pura-pura membeli sesuatu, sampai akhirnya aku ingat kalau tadi ayah memesan sesuatu. Akhirnya aku pulang, dengan taxi online.


Diperjalanan pulang, aku berusaha menahan tangisku. Jangan sampai saat aku sampai dirumah, orang tuaku melihatku dalam keadaan seperti ini. Kali ini takdir apa lagi yang disajikan untukku. Ternyata firasat buruk itu benar-benar terjadi. Pikiranku kacau, yang ada hanya marah. Aku ingin segera sampai dirumah. Tidur dan melupakan semua.


Kali ini Zaky benar-benar keterlaluan, menurunkan aku ditepi jalan dalam keadaan sudah malam. Aku benar-benar merasa dicampakkan. Sesampainya dirumah, kulihat ayah dan ibuku sudah tertidur. Untunglah, aku segera naik ke kamarku. Membenamkan wajahku pada bantal. Aku menangis. Sekali lagi karena Zaky. Betapa berat hubungan ini untuk kupertahankan.


Selalu dan selalu pertengkaran yang mewarnai kebersamaan kami selama tiga tahun ini. Putus nymabung menjadi hal yang biasa. Tapi aku yang seklaipun lelah, masih enggan untuk menyerah pada takdir.


Kuraih ponselku, berharap ada permintaan maaf dari Zaky. Ternyata nihil. Dengan penuh emosi kublokir nomornya, demikian juga dengan seluruh sosmednya yang terhubung denganku. Dengan memutuskan akses komunikasi, kuharapkan aku menjadi lebih tenang.

__ADS_1


 


Pertama kalinya dalam hidupku, selama kami bersama dalam hubungan yang rumit ini. Zaky memperlakukanku sedemikian jahat. Aku menangis, menyesali diriku. Ini berat, Tuhannn.


__ADS_2