
ORANG YANG SAMA, RASA YANG BERBEDA
Aku sengaja berangkat ke kantor lebih pagi hari ini, ada persiapan yang harus aku lakukan menjelang audit internal yang rutin dilakukan setiap caturwulan. Aku sangat menikmati pekerjaanku, lebih menikmati daripada sebelumnya. Meskipun sebagai menilai ini sebagai pelarianku, pelarian atas nasib jodohku.
Pilihan hidup sepenuhnya ada ditanganku, berlarut-larut dalam kesedihan, atau bangkit dan menata kembali hidup yang tidak mudah. Aku memutuskan menjatuhkan pilihan yang kedua. Pukul 08.30, seluruh persiapan telah rampung. Demikian juga dengan seluruh anggota timku. Aku ingin segala sesuatunya dipersiapkan sebaik mungkin, karena saat pelaksanaan audit ini yang diaudit jajaran staf, sedangkan aku tidak diperkenankan untuk turun tangan.
Selesai mempersiapkan audit, aku bergeser menuju ruang HRD. Hari ini kepala HRD memanggilku, ada beberapa hal yang harus kami diskusikan. Aku belum tahu pasti, tapi ini berkenaan dengan penugasan keluar kota. Aku sudah memasuki ruangan HRD. Ternyata hanya aku saja yang dipanggil, kukira akan ada banyak tim leader disini.
Sekitar 30 menit Kepala HRD menjelaskan beberapa hal kepadaku. Sebuah perintah perjalanan dinas. Sesuai dugaanku, aku menjadi sasaran empuk untuk penugasan semacam ini. Tentu saja, jika beberapa tim leader masih harus Tarik ulur untuk berbagai alasan menjalani perjalanan bisnis menginap di luar kota selama beberapa hari, tidak berlaku bagiku.
Sedikit menyakitkan, alasannya karena aku masih sendiri. Tentunya tidak akan banyak kesulitan dalam perijinan. Tapi aku tetap menerima ini sebagai bagian dari profesionalitas. Seharusnya aku ditemani satu orang lagi, namun lagi-lagi alasan perijinan dari suami. Sedangkan aku? Sukarela dan sangat menikmati perjalanan semacam ini. Dua pekan berada di Jogja. Iya Jogjakarta. Salah satu alasan penugasanku adalah karena aku juga pernah berada disana sebelumnya. Cukup masuk akal.
Aku diberikan waktu dua hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mengenai tempat yang aku tuju, tentunya sudah disiapkan oleh perusahaan. Artinya aku hanya cukup mempersiapkan diriku saja untuk berada 2 minggu jauh dari orang tuaku. Tak apa, kompensasi yang nanti aku terima juga tak kalah dari pengorbanan yang aku lakukan. Setelah ini aku akan satu langkah lebih dekat dengat kursi pimpinan cabang, semoga saja.
Farhan : “Aku jemput ke tempat kerja?”
Dea : “ Jemput ke rumah aja ya. Tadi bawa mobil”
Farhan : “Ok. Jam 5 aku sampai rumah kamu”
Dea : “OK”
Farhan….
Senyum manis duda keren yang berwibawa itu kini mengisi hari-hariku. Belum jelas jenis perasaan yang kualami untuknya. Tapi aku akui aku nyaman mendapat perhatian darinya. Romantis yang tidak berlebihan. Sejauh ini aku juga menjadi lebih dekat dengan Jasmine. Sore inipun kami berencana jalan-jalan bertiga. Sekilas nampak seperti keluarga bahagia.
Farhan menepati janjinya, menjemputku dengan putri kecilnya. Kamipun berangkat, Jasmine meminta untuk mengunjungi salah satu mall, boneka yang ia inginkan untuk dibeli memang adanya disana. Aku melihat rona bahagia di wajah cantik ini. Aku jadi tidak tega untuk berpamitan.
Sekitar dua jam kami berkeliling, sebuah boneka besar sudah menjadi milik Jasmine. Rupanya gadis kecil ini sudah mulai mengantuk, aku meraih dan menggendongnya. Rupanya ketulusan ini memancing perhatian Farhan. Senyum manis sebagai ucapan terima kasih meluncur dari bibir manisnya. Kemudian dia mempersilahkanku untuk memasuki salah satu tempat makan yang ada di mall itu.
__ADS_1
Benar saja, baru sekitar 5 menit berada digendonganku, Jasmine terelap. Aku menidurkannya di sofa, bersebelahan dengan boneka besarnya. Aku merapikan bajuku dan duduk disampingnya. Rupanya daritadi Farhan memperhatikanku. Sebuah rasa sungkan melintas dipikiranku. Gugup tiba-tiba melanda. Pria tampan ini sungguh pandai mengambil hati wanita. Tentu saja, dia sudah berpengalaman, itu pasti.
Akhirnya aku berkesempatan untuk mengutarakan maksudku. Sebenarnya aku juga tidak perlu repot-repot untuk pamitan, toh Farhan bukan siapa-siapaku. Hanya saja…..aku mulai berharap dia akan merindukanku.
Farhan : “Jasmine pasti akan sangat merindukanmu”
Dea : (membelai Jasmine yang terlelap)
Farhan : “Tentunya aku juga”
Jawaban yang terkahir itu sungguh membuatmu melayang. Senang? Tentu. Tapi masih tak berani berharap banyak, pelajaran yang lalu mengajarkan padaku untuk lebih selektif menaruh hati. Akhirnya setelah makan malam, kamipun pulang. Ada sebuah harapan yang menjadi bekalku menuju Jogja kali ini, yaitu rindunya seorang Farhan.
Jogja, aku kembali
Aku memasuki sebuah hotel, cukup nyaman. Sepertinya kelas 3, tapi aku menyukai tempat ini, sampai dengan dua minggu kedepan aku akan berada disini. Menyusun bisnis olan bersama para leader dari berbagai kantor cabang perusahaanku.
Seperti biasa, saat memasuki sebuah kamar baru, maka berberes adalah ritual wajib. Aku menghabiskan hampir 45 menit untuk merapikan kamar baruku ini. Akhirnya selesai. Aku merebahkan tubuhku. Akupun terlelap.
Hari pertama kedatangan peserta ini diperbolehkan untuk lebih mengenal satu sama lain melalui acara makan malam yang sebentar lagi akan digelar. Aku segera mempersiapkan diriku. Aku mengenakan pakaian yang dibelikan oleh Farhan, semoga ini akan menambah kepercayaan diriku. Jujur aku gugup jika melihat list peserta yang mengikuti acara ini, rata-rata sudah manajer cabang, hanya beberapa yang berada di level midle sepertiku. Aku menatap cermin, seolah melihat diriku yang lain. Kepercayaan diriku naik tiga level, aku siap untuk makan malam bersama yang lain.
Makan malam yang istimewa, sudah kuduga banyak yang saling bertukar kartu nama. Acara semiformal semacam ini terkadang juga menajdi bagian dari ajang untuk mencari cinta semalam, atau lebih tepatnya patner darurat. Aku memilih duduk di meja paling ujung, sendirian. Kenyamanan paling hakiki bagiku. Kunikmati steak yang dimasak dengan rempah yang pas dilidahku ini.
Aku mulai mersakan ada mata yang daritadi mengarah padaku. Kucoba untuk tetap bersikap tenang dan menghabiskan makananku. Aku melanjutkan dengan melahap hidangan penutup. Malam ini aku harus tidur nyenyak, salah satu caranya adalah makan makanan yang cukup. Teori yang selama ini kuyakini.
Aku menyelesaikan makan malamu, tepat disaat aku mengangkat kepala, seseorang duduk di depanku. Seketika aku kaget, seolah ada kejutan listrik mengaliri tubuhku. Sosok ini, yang pernah singgah dan bersemayam terlalu dalam di hatiku, kini muncul kembali di hadapanku
ZAKY
Pertemuan terakhir kami, seingatku acara makan malam bersama Gio. Sikap dingin yang diperlihatkan Zaky padaku waktu itu membawaku pada kesimpulan bahwa dia sudah melupakanku. Tapi kali ini apa?
__ADS_1
Dunia menjadi sedemikian sempit, bahkan di Jogjapun aku bisa bertemu dengan orang ini lagi. Aku rasa kali ini aku tidak akan bisa lolos darinya. Zaky ternyata menjadi salah satu pemateri dalam acara ini. Mati aku. Itu artinya dalam dua minggu kedepan kami akan bersama-sama. Permainan takdir apalagi ini??
Aku mencoba mengendalikan diriku, agar tidak memicu kecurigaan yang lain. Zaky menyodorkan ponselnya, meminta agar aku memberikan nomor ponselku yang baru. Sejenak aku ragu, tapi sisi lain hati kecilku menyetujui. Akhinya aku berikan. Pria ini, masih saja dengan gayanya yang cool dan tidak mudah ditebak.
Kali ini dia kembali hadir dengan tampilan rambut yang berbeda, merah. Iya MERAH!
Karakter yang ini yang belum pernah kuketahui darinya, jika dulu selama bersama dengannya aku hanya melihat Zaky yang tampan, kali ini tambah Zaky yang tampan dan keren. Mirip dengan oppa korea. O la la…sepertinya aku mulai terpikat jeratan pesona mantan.
Aku segera berpamitan untuk menuju kamar. Kupikir, lebih lama aku disana, maka aku akan rayapan dimakan rasa gugup dan canggung. Aku setengah berlari menuju kamar. Zaky telah mendapatkan nomorku. Sesampainya di kamar aku melihat ponselu, masih belum ada notifikasi apapun. Aman, pikirku. Aku bisa tidur nyenyak malam ini.
TERNYATA TIDAK
Pukul 22.15, sebuah pesan masuk, nomor yang tak kukenal. DEG! Zaky kah?
…….kita bisa bertemu di lobby sebentar?
Siapa kah ini? Hampir larut malam, mengajak bertemu.
Aku hanya memandangi pesan itu. Sepertinya nomor itu juga berkali-kali mencoba menghubungi nomorku, namun hanya masuk kotak spam. Akhirnya, aku menajdi penasaran. Kubalas pesan itu.
“Siapa”?
“Ini aku, Zaky”, jawabnya
Aku memutuskan untuk turun ke loby. Langkahku menjadi ringan, tidak seperti saat tadi bertemu dengan Zaky. Mungkin efek samping keterkejutanku saja. Sesampainya di lobby, aku melihat sosok itu. Benar saja, Zaky menungguku di sudut loby dan duduk disebuah sofa.
Melihat kedatanganku dia menoleh lalu mempersilahkanku duduk. Kali ini dia yang menciptakan suasana canggung. Hampir saja aku lupa, tentu saja, aku menemuinya dengan pakaian yang tadi kugunakan lengkap dengan make up yang, mungkin dulu tidak pernah ada pemandangan semacam ini selama kami bersama.
Aku bisa melihat aura kekaguman dimata Zaky, pasti demikian juga sebaliknya. Kejadian apa lagi ini. Sepasang mantan dipertemukan kembali dalam keadaan saling mengagumi? Permainan yang luar biasa dari takdir. Zaky mengajakku untuk melanjutkan obrolan di café, tapi aku menolak dengan alasan sudah mengantuk. Sekitar 10 menit Zaky terdiam menatapku, mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa dia temukan.
__ADS_1
Aku yang dulu sangat dicintainya. Aku sadar betul dia menatapku sangat dalam untuk menemukan hal itu. Aku mencoba bersikap biasa, meskipun agak risih dengan pandangan mat aitu. Akhirnya Zaky berpamitan kepadaku, namun sebelum pergi dai menyerahkan sebuah bungkusan padaku. Aku menerimanya dan kembali ke kamarku.
Sesampainya dikamar, aku merasakan ada yang aneh di dalam diriku. Seolah aku mendapati diriku yang lain. Sebuah keberanian untuk bersikap biasa saja saat bertemu Zaky. Bahkan aku juga sempat menolak keinginannya untuk ngobrol. Akukah ini? Yang bisa bersikap biasa saja dihadapan pria yang dulu pernah menjadi bagian penting dihidupku?