Pintu Takdir Melepas Lajang

Pintu Takdir Melepas Lajang
Episode 22


__ADS_3

SEBUAH LANGKAH BARU


Sebuah ide cemerlang tiba-tiba saja meluncur di kepalaku. Akan kutempuh banyak cara, untuk melupakan Zaky. Iya, aku harus sesegera mungkin memaksa hatiku untuk menjadikan Zaky sebagai orang lain dihatiku. Aku teringat gurauan salah satu staff di divisi produksi kapan hari, yang melogikakan bahwa


Sedikit ingat sedikit lupa


Sedikit lupa sedikit luka


Sedikit luka segera bahagia


Aku akan mencoba cara ini. Sedikit mengingat Zaky, artinya membuang apapun ingatan yang akan membawa pada kenangan kami. Aku memulai dengan menghapus foto-foto kebersamaan kami. Apa aku sanggup?


Harus. Jika tidak ingin terpuruk terlalu dalam tentunya. Selain foto, sepertinya barang-barang juga harus kuperlakukan sama.


Berikutnya aku akan mulai memposisikan diriku untuk sedikit lupa. Aah yang ini masih agak susah bagiku. Susah bukan berarti tak bisa. Harus tetap aku coba, dengan tidak banyak memaksakan diriku untuk melupakan, artinya aku juga tidak perlu terluka. Maka akan kunikmati proses mengingat dan kemudian melupakan dengan perlahan. Sebuah logika sederhana, jika bersama 3 tahun, maka setidaknya juga minimal butuh tiga tahun untuk melupakan.


Selanjutnya aku perlahan akan menyembuhkan luka-lukaku dan menemukan bahagia. Demikan aku mencoba mengatur skema dalam hati dan pikiranku. Bangkit dan menata kembali yang terserak karena perpisahanku.


Kumulai dengan menghapus foto-foto kebersamaan kami. Segera kukosongkan memori ponselku, kemudian berlanjut ke memori laptop dan juga setiap jejak digital yang ada. Rasanya masih berat, bahkan sangat berat. Tapi harus aku lakukan. Naluri akal sehatku masih berfungsi dengan baik saat ini. Sebuah keuntungan bagi orang-orang yang diberikan sakit hati, namun logika dalam dirinya masih berfungsi.


Cukup lama aku menghapus memori berupa foto dan video kebersamaan kami. Sekalipun kulakukan dengan cepat, tetap saja memakan waktu lama. Tiga tahun, tentu saja. Semoga tidak ada lagi yang tersisa, karena jemariku sudah mulai lelah. Butuh waktu kurang lebih 2 jam, dan akhirnya selesai. Misi pertama, done!


Selanjutnya aku hanya perlu berdamai dengan masa laluku. Menerima kenyataan bahwa aku dan Zaky tidak akan pernah bisa bersama. Kalaupun dipaksakan mungkin bisa, tapi ini hubungan yang rumit. Jadi kali ini akan kulatih diriku untuk menerima keadaan. Faktanya aku sudah berpisah dengan Zaky. Perpisahan yang kukehendaki, dengan akal sehat, namun bukan dengan hati yang sehat.


Kemudian perlahan namun pasti akan kuberikan hak pada diriku untuk bahagia. Mungkin belum saatnya membuka hati, tapi sudah saatnya menutup lembaran lama dan melangkah menuju lembaran baru. Karena sepertinya itulah seharusnya sebuah takdir dijalani


****************************************************************************************


Sejak dekat dengan Lala, lebih banyak hal yang kulakukan bersamanya. Tentu saja dengan Hafiz juga. Seolah memahami keadaan hatiku yang masih mencoba sembuh dari luka, sekalipun aku tida pernah bercerita, namun Hafiz seolah menjadi malaikat pelindung yang mengobati lukaku. Mendatangkan Lala di sampingku, adalah salah satu contohnya.

__ADS_1


Banyak hal yang kupelajari dari Lala, terutama tentang kehidupan beragama. Selain itu Lala juga mengajarkan banyak hal mengenai mengurus dapur. Aku memang juga tidak menguasainya. Selama ini aku merasa lebih praktis membeli. Lagipula dirumah, ibuku lah yang selalu memenangi urusan dapur. Oleh karena itu, intensitas bertemu dengan Hafiz dan juga keluarga semakin intens.


Hari ini aku memutuskan untuk memberitahukan kepada orang tuaku juga kakak-kakaku mengenai rencana ke Jogja. Semalam pemberitahuan lolos seleksi kuterima melalui email. Sepulang kerja, rencananya aku ingin pulang cepat. Kupikir ini akan menjadi ide bagus untuk menghabiskan waktu sebelum berangkat ke Jogja. Selama enam bulan kedepan aku akan menjalani perjalanan dinas. Sempurna. Untuk seseorang yang sedang ingin menyembuhkan luka.


Ada yang bilang, jarak dan waktu akan menjadi pengobat yang ampuh untuk setiap luka. Benarkah? Lalu bagimana jika luka itu semakin dalam? Entahlah. Kali ini keputusanku sudah bulat.


Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 16.15, waktunya aku untuk pulang. Segera kukemasi barang-barangku dan melangkah menuju parkiran. Ternyata disana sudah ada Deby, rupanya dia sengaja menungguku.


“Buru-buru mbak?”, tanya Deby


Aku mengangguk


“Selain kita berdua, divisi promosi ada lagi gak ya yang lolos?”, tanyaku pada Deby.


“Kayaknya Cuma kita deh mbak. Soalnya tadi pas aku makan siang di pantry, gak denger nama lain juga selain kita”, jawab Deby


Saat kukenakan helmku, Hafiz datang dari arah belakang. Entah sejak kapan dia sudah ada disitu, aku tidak memperhatikannya. Deby mengerling ke arahku, lalu segera melajukan motornya, meninggalkan kami berdua. Aku tau itu sengaja.



“Jangan bercanda deh. Aku lagi buru-buru nih”, pintaku. Namun Hafiz tidak bergeming.


“Masuk ke mobilku, ada banyak yang harus kita bicarakan”, Hafiz memberikan perintah tanpa menghiraukan tatapanku yang aneh. Aku tidak ada pilihan lain selain menurut.


Setelah berada di mobilnya, Hafiz segera melajukan mobilnya, namun berhenti di pos satpam. Dia menyerahkan kunci motorku kepada satpam dan memberikan sebuah instruksi, yang tentunya aku tidak tau apa itu. Aku terdiam dan memilih untuk tidak memancing amarah. Karena dari tadi aku melihat wajah teduh yang dimiliki Hafiz berubah menjadi merah padam.


Lima belas menit mobil melaju, namun keadaan di dalam mobil masih hening. Aku sungguh tidak nyaman dengan keadaan ini. Hafiz hanya diam, sementara aku juga tidak berani membuka percakapan. Padahal seharian tadi aku tidak melakukan kesalahan apapun, kukira. Tapi kenapa dia bersikap seperti ini.


Hampir 30 menit kemudian, Hafiz menepikan mobilnya di sebuah tempat nongkrong. Baru pertama kali ini aku mengunjungi tempat ini. Lebih mirip sebuah kafe, namun tempatnya agak privat dan ekslusif. Hal itu terlihat dari beberapa pengunjungnya, yang jumlahnya relative terbatas. Tempat yang nyaman, suasananya hangat dan tenang. Tapi aku belum tahu tujuan Hafiz mengajakku kesini.

__ADS_1


Kali ini aku juga semakin bingung, begitu datang Hafiz langsung memesan makanan tanpa menawariku terlebih dahulu. Selain itu, dia juga memesan agar menu didatangkan 1 jam lagi. Lalu untuk apa aku harus menunggu selama itu?


“Ini apa sih maksudnya?”, aku sudah tidak tahan untuk membuka percakapan. Hafiz tiba-tiba mengubah posisi duduknya, kali ini dia duduk disampingku dan mencondongkan badannya ke arahaku, serta kemudian meraih kedua tanganku. Aku gugup, tapi tidak mampu menolak. Sungguh baru kali ini aku melihat perubahan sikap Hafiz.


“Kalaupun saat ini tidak ada tempatku dihati kamu, setidaknya tolong hargai keberadaanku. Aku tidak menuntut kamu untuk memberikan lebih, cukup berikan kesempatan padaku untuk berada di samping kamu. Menjaga Kamu, “ Hafiz berkata tanpa mengalihkan pandangan dariku.


Aku seketika panik. Apakah kali ini Hafiz akan menyatakan cintanya padaku?


Atau jangan-jangan dia ingin melamarku??


Panas dingin badanku dan aku tidak berani menatap matanya. Aku menunduk. Hafiz yang selama ini kukenal sangat religius dan jarang berbicara, saat ini beritindak sangat berani dengan menggenggam erat kedua tanganku dan menatapku dengan lekat.


“Tentang promosi ke Jogja, kenapa kamu gak cerita? Apakah aku ini benar-benar orang lain untukmu?, “kembali Hafiz meminta kejelasan


Aku hanya terdiam, menyadari kekeliruanku. Oh, mungkin ini bukan kekeliruan, karena aku juga merasa tidak punya kewajiban untuk meminta ijin Hafiz. Hanya saja…….Dia juga bukan siapa-siapa yang harus kuminta ijin untuk hal apapun. Bernarkah? Dia bukan siapa-siapa? Sebenarnya aku sengaja untuk tidak memberitahukan rencana ke Jogja, semata karena aku benar-benar ingin lebih fokus dan juga belum siap jika harus ada pengganti Zaky dihatiku.


Bagiku Jogja adalah pelarian yang cerdas. Dengan meluapkan rasa sakit hati melalui kerja keras, kurasa akan baik hasilnya. Tapi saat ini, Hafiz menuntutku untuk memberi perhatian padanya.


“Emm….aku Cuma gak mau ngrepotin kamu. Udah banyak yang kamu lakuin buat aku. Aku ke Jogja Cuma 6 bulan aja kok. Gak usah panik gitu”, aku mencoba menetralkan suasana dan menarik genggaman tangan Hafiz. Tapi di luar dugaan, justru Hafiz semakin mempererat genggamannya.


“CUMA ENAM BULAN” KAMU BILANG??!!!


Akan ada banyak hal yang mungkin terjadi dalam waktu enam bulan, Dea, apa sebuah hal yang sulit untuk kamu mengijinkanku berada disamping kamu? Aku tidak perlu pengakuanmu. Karena bagiku yang terpenting adalah, berada disisimu, menjadi bagian yang melindungimu, setiap saat. Itu saja”, Hafiz melepaskan genggaman tangannya dan menatapku lebih dalam.


“Aku pasti akan lebih sering hubungin kamu kok”, Jawabku untuk menenangkan Hafiz.


“Aku bukan anak kecil De, yang bisa ditenangkan dengan janji. Kali ini, kamu gak boleh nolak. Aku, nanti setiap akhir pekan akan ke Jogja untuk mengunjungi kamu. Ini perintah atasan sekaligus permintaan seseorang yang selalu ingin berusaha untuk masuk di hati kamu”, ujar Hafiz


Aku terdiam, merenungkan kata-kata Hafiz. Sedemikian dalam pria baik ini mencintaiku. Aku tidak tahu, harus bersyukur atau justru merasa bodoh dengan keadaan ini. Disisi lain aku sangat membutuhkan kasih sayang semacam ini, namun disisi lain pintu hatiku seolah tidak mengijinkan untuk kubuka untuk diisi oleh Hafiz.

__ADS_1


Akhirnya malam ini Hafiz mengantarkanku pulang. Kami pulang dengan kesepakatan damai. Iya, aku menyebutnya begitu. Hafiz benar-benar tidak akan mengijinkanku untuk kesepian. Selama enam bulan kedepan, setiap akhir pekan Hafiz akan mengunjungiku. Terkadang cinta memang membuat logika seseorang menjadi beku, demikian juga Hafiz. Jarak tempuh selama 7 jam akan dia tempuh setiap akhir pekan, hanya untuk menemuiku.


__ADS_2