
BERTEMU KELUARGA BESAR
“Aku tunggu diparkiran,” pesan masuk dari Hafiz. Seolah perintah bagiku, aku bergegas menuju parkiran. Hafiz dengan mobilnya sudah siap menunggku. Setelah aku masuk mobil Hafiz segera melajukan kendaraannya. Sekilas aku merasa canggung, tentunya karena kejadian kemarin malam saat Zaky menjemputku. Kukira Hafiz akan marah dan membatalkan acara hari ini. Ternyata tidak.
Jarak rumah Hafiz ke tempat kerja kami jika ditempuh dengan sepeda motor, sekitar 30 menit, bisa jadi lebih lama jika dengan mobil. Aku mulai ragu untuk memulai percakapan, sedari tadi Hafiz hanya terdiam dan fokus pada jalan.
“Bajunya aku pakai dirumah kamu aja yan tar, sekalian nebeng mandi”, aku membuka percakapan sambil memperhatikan raut wajah Hafiz. Datar dan tenang. Itulah yang kusukai darinya, tenang. Tapi kali ini entah mengapa seolah mengandung ancaman.
“Iya, nanti kamu bisa pinjam kamar Lala”, Hafiz menjawab datar.
Ini benar-benar garing. Kalau biasaya Hafiz memang tidak banyak bicara, aku merasa biasa saja. Entah kali ini, aku benar-benar tidak nyaman. Seolah rasa bersalah karena mengabaikannya dan menjadikannya pilihan kedua setelah Zaky, adalah dosa nyata. Kenyataannya memang demikian.
“Maafin aku ya,” akhirnya aku memberanikan diri. Berharap Hafiz kali ini bisa memaafkanku, seperti hari-hari sebelumnya.
“Untuk?”, Hafiz bertanya balik.
Pertanyaan ini sukses membuatku kelimpungan. Perlukah aku menjelaskan lagi. Menjelaskan perasaan bersalahku padanya, karena kemarin sudah bersama dengan Zaky. Lalu dimana salahku, Zaky kekasihku. Tentunya menjadi sebuah hal yang wajar. Sedangkan Hafiz ???? Bukankah kami tidak terikat hubungan apapun. Meskipun nyatanya, dialah yang meraih tanganku Ketika aku terpuruk. Haruskan aku jelaskan.
“Aku rasa aku berhak cemburu. Kalau yang kamu mintakan maaf adalah saat kemarin kamu pergi dengan dia. Aku laki-laki normal De, punya cemburu, punya marah juga. Cemburuku juga bukan pada istri orang. Aku rasa itu tidak masalah”, jawaban telak dari Hafiz membuatku merasa malu. Perempuan macam apa aku ini, mempermainkan hati satu pria untuk mendapat obat atas luka akibat pria lain.
__ADS_1
“Aku benar-benar minta maaf”, kembali aku mengulang kalimat yang sama karena memang hanya itu yang kubisa.
“Aku cemburu bukan karena kamu bersama dia, aku cemburu karena kamu masih saja rela sakit untuk dia. ……”, ucap Hafiz.
Aku terdiam, membenarkan ucapan Hafiz sekaligus memperdalam rasa bersalahku pada Hafiz. Sedemikian dalam perasaan Hafiz padaku, hingga saat hatinya terluka sekalipun yang dipirikannya tetap saja masih tentang aku. Terima kasih. Maaf aku belum bisa mencintaimu.
Hafiz menepikan mobilnya, aku kebingunan ini masih belum sampai di rumahnya. Kami berhenti di depan sebuah toko perlengkapan bayi. OMG!!!!
Bagaimana aku bisa lupa, bukankah hari ini acara keponakannya. Aku belum menyiapkan kado. Ah…Hafiz, kamu memang idaman. Bahkan hal detil semacam ini, tak luput dari perhatianmu. Sungguh bahagia istrimu kelak, dan itu sepertinya bukan aku.
Akhirnya kami sampai dirumah Hafiz. Sengaja Hafiz mengajakku melewati pintu samping, karena memang beberapa tamu sudah datang. Aku sedikit terkejut, sepertinya acara ini diluar ekspektasiku.
sisanya tidak terlihat.
Hafiz sepertinya menyiapkan prank untukku kali ini. Benar-benar diluar kebiasaannya. Bagaimana bisa aku datang ke pengajian dengan tampilan semacam ini. Oh tunggu dulu, bukankan aku membawa batik yang sudah disiapkan oleh Hafiz. Tapi tetap saja masih kurang, kerudungnya !!!
__ADS_1
Lala menyambutku dibalik pintu kamarnya. Hafiz meninggalkanku bersamanya dan dia sendiri segera bersiap. Lala adalah adik bungsu Hafiz, masih kuliah semester 6 disebuah kampus negeri berbasis Islam. Cantik dan juga ceria. Seingatku terakhir kali aku bertemu dengannya, saat even beberapa tahun yang lalu, saat itu Lala masih sering mengikuti Hafiz pergi kemana-mana. Bahkan kukira dia kekasihnya.
Tak berapa lama aku sudah selesai mengenakan pakaian batik yang dibelikan Hafiz. Aku ragu untuk meminjam kerudung pada Lala. Meskipun aku melihat ada deretan kerudung yang tadi sempat aku lihat ruang kamarnya. Sejenak aku berusaha menata kalimat, sambil melanjutkan memoles wajahku. Namun tiba-tiba Lala mendekat menyerahkan bungkusan kecil berwarna biru muda. Aku membukanya dan …ada jilbab berwarna pastel di dalamnya. Lala bilang itu kado, kado pertemanan.
Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sekalipun aku tidak yakin itu benar-benar darinya. Bisa jadi ini cara Hafiz untuk memberikan kerudung padaku, agar aku tidak tersinggung tentunya. Kuakui selama ini aku memang hampir sangat jarang menggunakan kerudung, kecuali ada even-even khusus di kantor. Itupun aku hanya menaruh di leher sebagai aksesoris.
Kali ini aku kembali sangat berterima kasih pada Hafiz. Lala membantuku menggunakannya, memakai hijab menjadi hal yang tidak mudah bagiku. Jujur sebenarnya aku malu. Pada usia ini, aku masih enggan menutup aurat dengan benar.
“Asalkan menutupi bagian dada, sudah cukup mbak. Yang paling penting nyaman juga dipakai,” Lala menyematkan pin pada bagian dadaku, untuk mempermanis tampilan hijabku.
“Terima kasih,” jawabku. Kulihat dicermin, aku pangling. Seolah melihat diriku yang lain. Aku suka tampilanku hari ini. Lala segera mengajakku keluar kamar menuju ruang tengah, disana ada orang tuanya dan beberapa kerabat. Ternyata ini bukan sekedar acara aqiqah biasa, tapi juga disertai pengajian umum yang tentunya dihadiri oleh banyak orang. Aku gugup. Dasar Hafiz! Prank ini benar-benar membuatku tak berkutik.
“Cantiknyaaa…..”, Ibunda Hafiz menyambutku dan aku merasa malu dibuatnya. Segera kucium punggung tangannya dan kemudian menyalami yang lain, kecuali yang berlainan jenis. Keluarga Hafiz memang religius, dari sedikit cerita yang pernah kutau dari hafiz, ayahnya merupakan lulusan pesantren, pantas saja jika selama ini aku hampir tidak pernah melihat Hafiz absen dari sholatnya. Rupanya dia dibesarkan di lingkungan yang kental dengan nuansa religius.
Aku benar-benar merasa canggung. Kucari-cari ke beberapa arah, tapi Hafiz tidak juga muncul juga. Sampai akhirnya aku meilhat Hafiz berjalan menuju arahku sambil membawa kado yang tadi sempat disiapkan sebelum kami sampai dirumah. Hafiz memberikan kado itu padaku untuk diserahkan kepada keponakannya. Akhirnya kami bergabung bersama keluarga besar Hafiz. Jujur aku gugup, tapi Lala dari tadi tida beranjak dari sisiku. Rupanya Hafiz sudah memprediksi hal ini, karena itu menugaskan Lala untuk mendampingiku.
Acara berjalan dengan lancar dan aku mengikuti acara sampai dengan selesai. Entah kenapa hari ini aku merasa sangat nyaman. Berada diantara orang-orang yang ramah, keluarga besar Hafiz menjadi salah satu sebabnya. Selain itu saat mengikuti pengajian tadi, ustadz yang diundang mengisi acara juga menyampaikan nasehat yang mengena dihatiku.
Nasehat yang disampaikan tanpa kesan menggurui ini, justru membuatku termotivasi untuk memperbaiki diri. Dalam ceramahnya disampaikan bahwa, perempuan itu adalah seorang yang sangat istimewa dalam setiap rentang kehidupannya. Mulai menjadi putri kecil yang istimewa. Gadis remaja yang penuh semangat. Perempuan istimewa yang sepanjang hidupnya kelak setelah menjadi seorang istri, akan berfokus pada kebahagiaan keluarga. Jalan surga bagi perempuan juga lebih terbuka lebar. Karena nanti setelah menikah, yang disukai suami itulah sumber ladang pahala bagi istri.
__ADS_1
Sungguh indah kalimat demi kalimat yang tadi kudapatkan dalam pengajian itu. Sekali lagi, terima kasih Hafiz. Terima kasih, karena untuk kesekian kali telah meraih tanganku. Sehingga aku tak perlu merasa sepi dan terpuruk disini, di ruang dimana Zaky meninggalkanku dalam kesedihan.
Haruskah aku mengubah Haluan hatiku kali ini??