
**PILIHAN
Kuputuskan untuk fokus pada pekerjaanku. Mengenai Zaky dan Hafiz, harus ku skip terlebih dahulu. Baru 10 menit, kulihat ada pesan masuk di ponselku. Zaky.
“Nanti aku jemput jam 4 sore. Ini bukan perintah, tapi permohonan”
Seketika konsentrasiku buyar. Makhluk satu ini benar-benar tidak bisa membiarkan aku hidup tenang. Aku memilih untuk tidak menjawab pesan itu. Baru 5 menit, kembali ponselku berbunyi, pesan masuk.
Huffftttt…!!! Benar-benar. Seandainya tidak dalam keadaan membutuhkan koneksi di tempat kerja, aku memilih mematikan ponselku. Ini benar-benar mengangguku. Terpaksa kubuka ponselku, ternyata pesan dari Hafiz.
“Tersenyumlah, kamu berhak bahagia. Diantara kutipan doa yang setiap malam kutitipkan lewat sujudku, ada nama kamu disana. Bagiku, doa adalah cara terbaik dan realistis untuk merepresentasikan rindu dan sayang.”
Hafiz, benar-benar pria yang luar biasa.
Kukirim balasan berupa stiker yang melambangkan ucapan terima kasih dan bahagia.Terima kasih, telah mencoba membuatku bahagia. Meskipun, bukan kamu yang kuinginkan. Kuputuskan meletakkan ponselku, dan fokus pada file-file laporan yang berbaris di emailku.
Hari berlalu dengan cepat. Pukul 15.45, aku benar-benar galau. Menerima ajakan Zaky, atau langsung pulang. Ah, tentunya sekalipun pulang dia akan menjemput kerumah. Menerima ajakannya, tapi hatiku benar-benar masih belum siap. Belum siap menerima kekalahan yang sesungguhnya atas hubungan kami. Sejujurnya aku masih sangat berharap padanya. Sangat.
Ponselku berdering. Zaky meneleponku. Hemmmmmbbbbbb…..kuputuskan mengangkatnya.
“Aku sudah di depan pos satpam. Perlu aku jemput ke dalam ruanganmu?”, suara Zaky terdengar sangat bersemangat.
“Gak perlu, tunggu disitu”, otomatis aku mengiyakan ajakan Zaky kali ini. Aku bergegas meninggalkan ruanganku. Sekilas aku menoleh kearah kaktus di rak sudut ruanganku, Hafiz maafkan aku.
__ADS_1
Kuhampiri mobil Zaky yang terparkir di dekat pos satpam. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman. Aku buru\-buru masuk ke mobil dan menutup kaca mobil. Ada hati yang sedang kukhawatirkan terluka melihat pemandangan ini. Tentu saja Hafiz.
“Aku butuh kesempatan dari kamu, sekali lagi. Berikan aku waktu untuk membawa hubungan kita menuju hal yang kamu inginkan”, Zaky memulai pembicaraan begitu aku masuk mobil.
“Jalankan dulu mobilnya”, jawabku seolah tidak menggubris ucapan Zaky.
Tanpa banyak basa basi Zaky menjalankan kendaraannya. Aku menata hati dan perkataan untuk menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi hari ini. Sebenarnya semuanya harusnya menjadi lebih mudah. Melanjutkan untuk terus melanjutkan perjalanan dengan Zaky atau berhenti dan menerima Hafiz. Pilihan 100% ada ditanganku. Seandainya bisa semudah itu. Pilihan selalu menjadi sulit Ketika melibatkan hati. Tapi logika saja tidak cukup untuk urusan yang satu ini.
Zaky menghentikan mobilnya didepan sebuah tempat ngopi, dimana kami biasa mengunjunginya. Kamipun turun dan memilih tempat yang berada di pojok, memastikan agar nyaman untuk berbicara. Kali ini aku berharap aku memiliki keberian untuk memberikan ketegasan terhadap aku, hatiku, dan hubunganku dengan Zaky.
“ Kamu masih mau melanjutkan ini denganku kan?”, Zaky menatapkan dalam-dalam. Tatapan itu. Sungguh aku membecinya.Karena berkali-kali mata itu yang melemahkanku. Mata itu juga yang mampu memporak-porandakan ketegaranku selama ini. Sekalipun aku merasakan kenyamanan disana. Iya. Ajaibnya, Zaky mampu membawakan kenyamanan sekaligus rasa sakit secara bersamaan.
“OK! Aku ralat. Kita. Aku dan Kamu yang mengingkan pernikahan ini., “Zakky buru-buru meralat pernyataaanya. Terlihat ada gurat emosi yang coba untuk ditahan disana. Aku melihatnya dengan jelas.
“Oh, gak perlu dipaksakan. Aku tidak akan membuang-buang waktuku dengan seseorang yang hanya tau cara menyakiti”, aku berapi-api.
“Kapan aku pernah menyakiti kamu?
“Aku juga gak pernah selingkuh dari kamu
__ADS_1
“Apalagi sampai tidak memperhatikanmu”, Zaky melakukan pembelaan dengan tidak kalah berapi-api.
Hampir saja aku berteriak, aku benar-benar emosi mendengar tanggapan Zaky. Aku menghentikan percakapanku, karena melihat waitress menyajikan minuman di depanku. Kucoba mengendalikan amarahku dan tentunya air mata yang sudah sedari tadi siap meluncur.
“Kamu gak ngerti atau pura-pura tidak peduli?”
“Menggantung hubungan kita, apakah itu bukan sebuah kekejaman?”
“Sakit, Zaky…..Atau dari awal jangan-jangan kamu memang hanya berniat main-main denganku?,” aku berkata-kata sambil gemetaran karena menahan amarah.
“Ayolah sayang….coba kamu mengerti aku. Ini diluar kekuasaanku. Keluarga besarku yang menginginkan ini. Ayahku juga butuh pendamping hidup. Adelia juga sudah cukup usia untuk bertunangan. Aku sebagai anak laki-laki harus mengalah untuk itu. Lagi pula, tabunganku belum cukup untuk menikahimu”, Zaky menjelaskan panjang lebar.
“Sejak kapan kamu peduli ayahmu?. Maaf kalau ini kasar. Setahuku selama ini kamu tidak pernah peduli tentang itu. Tentang Adelia, usianya baru 22 tahun, kalau dia sudah pantas bertunangan, lalu aku yang 28 tahun ini apa seharusnyaa?? Ayolah… jangan berasalan lagi”, aku benar-benar kesal.
“Terserah, apapun pendapatmu tentangku saat ini. Aku mengajak kamu kesini untuk memperbaiki keadaan kita. Kelanjutan hubungan kita. Percayalah aku benar-benar menginginkan kamu menjadi bagian dari hidupku. Hanya saja saat ini aku benar-benar tidak bisa. Aku gak berani menjanjikan apapun, tapi aku akan selalu ada untuk kamu,” Zaky memohon. Kali ini dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah cincin. Tanpa permisi memakaikannya dijariku. Sialnya aku tidak dapat menolak. Kali ini, sekali lagi aku bertekuk lutut pada permintaan Zaky.
“Apa ini?”, tanyaku
“Bukan apa-apa. Let me to give you something”
“Selama ini kamu sudah banyak melakukan pengorbanan untuk hubungan kita. Terima kasih untuk itu semua”, Zaky tersenyum. Senyum itu benar-benar menghipnotisku. Aku menyerah.
Mungkin kali ini sekali lagi aku akan berjuang kembali. Semoga Zaky benar-benar menepati janjinya. Yang pasti saat ini, harus kuakui aku bahagia. Sepekan menunggu kepastian hubungan dengannya memberatkanku. Aku tidak mampu melawan, melawan jalan takdir yang akhirnya menghendakiku untuk kembali pada Zaky.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Hafiz? Maafkan aku, pilihanku tidak mengarah padamu. Tapi kadang aku terlalu egois pada Hafiz. Mempertahankan ketidakpastian padanya, hanya agar ada pengobat lukaku ketika Zaky dengan sengaja menorehkannya di relung hatiku.
Maaf**…..