
AKU, KAMU DAN MASA LALU
Sabtu sore
Aku bersandar pada bahu Farhan yang sedari tadi duduk disamping ku menatap deburan ombak pantai. Kami sengaja ingin menghabiskan waktu berdua saja. Ada banyak hal yang kami sepakati untuk dibicarakan sebelum melangsungkan pernikahan. Usiaku tak lagi muda, 30 tahun. Demikian juga Farhan yang empat tahun lebih tua dariku. Kami ingin, komitmen pernikahan ini dibangun di atas landasan saling terbuka.
Sedikit dejavu juga aku awalnya, saat berada di pantai. Mungkin ini memang pantai yang berbeda. Tapi pantai yang lalu, pernah menjadi saksi sebuah keputusan besar dalam hidupku untuk merelakan seseorang yang saat itu sangat berarti untukku. Takdir memang selalu memiliki cara yang unik. Melukai dan juga mengobati. Menggoreskan trauma besar padaku melalui perpisahan dengan Zaky, namun juga menyembuhkanku melalui kenangan manis yang sedang kuuntai bersama Farha. Pantai dan kenangan, paket yang pas untuk menumbuhkan suasana sendu.
Kami merasa perlu menyampaikan hal-hal yang jika kemudian hari baru diketahui satu sama lain, maka akan meninggalkan prasangka dan berujung pada kesalahpahaman. Kami sepakat, bahwa hari ini hal-hal itu akan diceritakan secara tuntas. Kedepan, masa lalu satu sama lain akan menjadi hal yang harus dihormati dan tidak untuk diungkit apalagi ahrus menimbukan konflik. Sehingga kami bisa menjalani hubungan dengan berfokus pada hari-hari indah yang kami lalui dan masa depan yang kami rencanakan.
****************************************************************************************
Aku memulai cerita ku dari kisah cinta pertamaku yang gagal karena pengkhianatan. Dilanjutkan dengan orang kedua yang hadir dan terpaksa pisah karena takdir. Aku menekankan bahwasanya bagiku restu keluarga dalah jalan utama untuk memulai sebuah hubungan pernikahan. Namun aku tidak perlu mengkhawatirkan keluarga Farhan. Dia merupakan anak tunggal, kedua orang tuanya sudah meninggal pada saat perjalanan pulang umroh.
Tiket persetujuan kuperoleh dari Jasmine dan itu sudah cukup. Sedangkan keluarga besar yang lain, dipastikan dalam waktu dekat ini Farhan akan mengajak aku untuk menemui mereka dengan menyampaikan kabar bahagia pernikahan kami. Aku juga menceritakan perihal Hafiz dan bagaimana hubungan kami yang sudah selangkah lagi menuju pernikahan harus direlakan karena takdir. Takdir yang terlebih dulu mengambil nyawa Hafiz.
Aku mengakhiri ceritaku dengan menatap lekat, pria tampan di sebelahku ini. Wajahnya yang bersih, tanpa kumis dan jambang. Mata besar dengan hidung yang mancung, nampak serasi melukiskan ketampanannya. Hidup memang tidak ada yang sempurna, siapa menyangka jodohnya ternyata seorang duda beranak satu. Membayangkan saja tidak.
Kali ini giliran Farhan yang bercerita tentang masa lalunya yang harus aku ketahui. Farhan ternyata sebelumnya sudah pernah menikah dua kali. Cukup mengejutkan buatku. Istri pertamanya diceraikan, karena ketahuan selingkuh. Sedangkan istri kedua, ibunya Jamine meninggal pada saat melahirkan. Cukup pilu aku mendengar cerita hidup Farhan. Ternyata orang setampan dan semapan ini juga masih harus merasakan kepedihan karena ditinggal selingkuh.
__ADS_1
Akhirnya aku harus bersyukur juga atas takdir hidupku, setidanya aku merasakan perselingkuhan di luar pernikahan. Tak dapat kubayangkan jika aku harus menjanda karena perselingkuhan dari pasanganku. Aku paham, Tuhan terlalu menyayangiku. Mematahkan hatiku untuk cinta pertamaku, hanya untuk mengatakan bahwa aku tidak layak mendapat perselingkuhan.
Sebagai manusia biasa, terkadang aku menjadi malu pada Tuhan. Seringkali aku mengeluhkan takdirku, jatuh cinta pada orang yang salah dan berakhir patah hati. Ternyata ini cara Tuhan menyelamatkanku dari orang yang salah.
Banyak hal yang kami bahas hari ini, seolah ini merupakan ajang pengakuan masa lalu. Kami bersepakat, bahwa setelah hari ini apapun yang belum terselesaikan, tidak perlu menjadi sebuah jalan kesalahpahaman dalam hubungan kami. Pembahasan pun berlanjut pada komitmen bekerja setelah pernikahan.
Farhan menginginkan agar aku lebih fokus pada rumah tangga. Mengurus dirinya dan anak-anak kami kelak. Aku meminta waktu untuk itu, Bagiku karir yang telah susah payah kuraih ini, tak mungkin kulepas begitu saja. Belum lagi kontrak kerja yang telah kutandatangani tentunya aku harus memikirkan itu juga.
Farhan memang pria yang pengertian, dia menginginkan hal itu kami pecahkan bersama sambil tetap melanjutkan rencana pernikahan kami. Dia mengajukan negoisasi, mengijinkanku bekerja tapi wirausaha. Aku masih meminta waktu untuk menyetujuinya. Akhirnya kami pulang, dengan satu permasalahan yang menunggu untuk dipecahkan.
Mungkin hari ini akulah wanita paling berbahagia di dunia. Hari ini Tuhan memberikan hari yang indah. Hari dimana aku bisa bicara dari hati ke hati dengan seseorang yang kelak, semoga aku akan menghabiskan masa tua yang bahagia. Terima kasih takdir. Terima kasih tuhan.
Mungkin hari ini akulah wanita paling berbahagia di dunia. Hari ini Tuhan memberikan hari yang indah. Hari dimana aku bisa bicara dari hati ke hati dengan seseorang yang kelak, semoga aku akan menghabiskan masa tua yang bahagia. Terima kasih takdir. Terima kasih tuhan.
Pengunjungnya lumayan banyak, namun masih ada bangku yang tersedia untuk kami. Sambil menunggu pesanan, kami memutuskan untuk melakukan Video call dengan Jasmine. Si kecil yang menggemaskan ini pastinya sudah sangat merindukan kami. Benar saja, suara manjanya dengan wajah cantik muncul di layar ponselku. Kami mengakhiri perbincangan, karena pesanan sudah datang.
Farhan menikmati makanannya, lidahnya juga menyatakan setuju bahwa soto ini memang enak. Beberapa menit kemudian, seseorang mendatangi meja kami. Aku menoleh dan menghentikan makanku. Deby
“…Mba Dea…….??!!!, Deby spontan memelukku
__ADS_1
Aku yang masih dalam keadaan terkejut, mencoba menjaga keseimbangan tubuhku akibat dorongan badan Deby. Begitu aku hampir jatuh, seseorang menangkapku dari belakang. Kuharap itu tangan Farhan, ternyata Tama.Seketika aku melepaskan pelukan Deby dan mengambil posisi menjauhi Tama.
Tentu saja tidak mungkin bagi Farhan menjangkau tubuku, karena posisi duduknya yang berhadapan denganku. Ada sedikit suasan canggung sesaat. Namun Farhan mencoba mencairkan suasana dengan mempersilahkan mereka duduk dan memanggil pegawi untuk menambah pesanan makan.
Sungguh bukan sebuah kebetulan pastinya. Deby ternyata juga merindukan tempat ini, sekaligus merindukan kebersamaan kami. Memang, sejak menikah Deby memutuskan untuk resign dari kantor. Memilih melanjutkan usaha kafe bersama kakaknya. Ini merupakan pertemuan pertama kami semenjak pernikahannya. Tentu saja. Deby saat ini sudah tinggal dirumah barunya.
Sebenarnya bukan karena apa-apa, aku beralasan kesibukan makanya tidak pernah mengunjungi kediaman barunya. Aku hanya menjaga rasa aman saja. Tentunya aku belum melupakan ancaman Tama padaku. Namun kali ini aku bersyukur, kami bisa bertemu kembali. Kuperkenalkan Farhan sebagai calon suamiku.
Raut wajah tak suka terlihat sekilas di wajah Tama. Namun kembali dia memasang senyumnya. Aku sempat menangkap kesan itu, namun buru-buru Tama mengubah ekspresinya. Rupanya memang benar firasatku, Tama belum berhenti dengan niatnya untuk menggangguku.
Setelah acara makan usai, kami berpisah. Aku berjanji untuk mengunjungi kediaman Deby dalam waktu dekat. Demikian pula Deby, berjanji untuk menghadiri pernikahanku. Akhirnya kami saling melepas pelukan dan pulang bersama pasangan masing-masing.
Dalam perjalanan pulang, aku sedikit ragu untuk menceritakan perihal Tama kepada Farhan. Karena sepanjang ceritku hari ini, Tama bukan lah menjadi salah satunya yang kuceritakan pada Farhan, karena bagiku dia memang hanya sebatas cinta monyet belaka. Namun perlakuannya padaku tempo hari, tentunya tak bisa diremehkan. Akhirnya aku beranikan diri untuk menceritakan kepada Farhan.
Selesai bercerita, kuamati raut wajah calon suamiku ini. Begitu datar tanpa ekspresi. Mungkinkah dia marah? Beberapa menit kemudian, dia meraih tanganku dan berkata tanpa meoleh ke arahku.
“Akan segera tiba saatnya, dimana aku yang telah memilikimu seutuhnya akan memberikan perlindungan lahir dan batin kepadamu”
Romantis dengan cara yang istimewa.
__ADS_1