
MENUMBUHKAN HARAPAN BARU
Segelas jus, satu piring salad buah ditambah 2 batang coklat. Ludes. Entah karena lapar atau memang sedang ingin melampiaskan emosi. Nyatanya sekarang aku kenyang. Kulihat jam menunjukkan pukul 17.15, seharian penuh aku berada di kamar. Aku mulai bosan.
Kuputuskan untuk mandi, semoga memberikan efek segar sehingga aku tidak menujukkan muka bantalku di depan kedua orang tuaku. Selesai mandi, aku segera turun menuju ruang tengah. Kulihat ayah dan ibuku sedang mengobrol dengan seru di video call.
Rupanya sedang video call dengan cucu-cucunya, kulihat begitu asyik. Sampai-sampai tidak menyadari saat aku lewat disamping mereka. Aku putuskan menuju teras rumah, disana ada beberapa tanaman yang dirawat dengan baik oleh ayahku sebagai pengisi waktu luang setelah pensiun.
Rasanya sudah lama aku tidak menikmati udara malam di teras rumahku. Ternyata tanaman yang dirawat ayahku tumbuh dengan subur. Ada berbagai macam bunga dan tanaman obat disana. Aku sedkit merasa geli, sebegitu cueknya aku sampai-sampai aku tidak menyadari kalau ternyata rumahku memiliki taman yang cukup indah. Kali ini aku tiba-tiba punya waktu untuk lebih memperhatikan sekitarku. Rasa sakit terkadang mengajarkan banyak hal. Selain rasa sakit itu sendiri.
Tiba-tiba aku teringat pesan dari Hafiz. Email. Yah…aku harus segera membukanya. Kulihat melalui ponselku, karena aku cukup malas jika harus naik ke kamar dan membuka lewat laptop. Kuperhatikan satu persatu, kalimat per kalimat. Astagaa!!! Surabaya??? Besok jam 5 pagi???
Gila si Hafiz, mendadak sekali !
Ini sungguh diluar kebiasaannya, memberikan perintah mendadak dan ……tunggu sebentar, kuamati tanggal pengiriman email. Ah ternayata sudah kemarin pagi. Aku baru ingat, aku memintanya mengirimkan email kemarin pagi. Hampir saja aku malu karena ingin memprotesnya.
Kulihat kembali daftar yang harus kupersiapkan. Untungnya semua sudah tersedia, hanya perlu mengkomunikasikan dengan Deby untuk persiapan akhir. Segera kuhubungi Deby, dan syukurlah segala sesuatunya sudah siap.
Besok jam 5 pagi aku harus berangkat ke Surabaya, even dimulai pukul 08.00 pagi, tentunya tim kami juga harus bersiap-siap. Penyedia jasa seperti kami memang harus bisa tampil prima dan penuh persiapan matang. Kulihat jam 21.30, aku putuskan segera naik ke kamarku. Semoga aku bisa tidur nyenyak malam ini.
Sebuah pesan masuk, Hafiz
“Pasti baru buka email,”
Hah?? Bagaimana dia bisa tahu, aku benar-benar curiga Hafiz sedang mengintaiku. Dia bahkan tau dengan detil setiap aktivitasku.
Aku memberikan balasan emoticon senyum
“Sudah kuduga,” Jawab Hafiz.
Kembali aku membalas pesan, kali ini kukirim emoticon bersimpuh memohon maaf.
“Besok aku jemput, Deby dan Tika juga sekalian ikut di mobilku. Anak-anak yang lain pakai mobil kantor. Surabaya juga bisa dingin dipagi hari. Aku jemput jam 5.15,” Hafiz memberikan perintah.
“Ok bos,” jawabku.
Perhatian, pengertian, dan penuh kasih sayang. Sempurna. Tapi aku belum berminat menggantikan Zaky dihatiku. Setidaknya untuk saat ini, aku hanya ingin berfokus pada karirku.
Aku sebenarnya ingin segera beranjak tidur, tapi tiba-tiba aku tertarik untuk melihat gelang pemberian Zaky tempo hari. Kulihat tanganku yang memang cocok memakai gekang itu. Gelang minimalis bertahtakan berlian, hadiah perpisahan yang mewah menurutku.Sekalipun Zaky menolak menyebutnya hadiah perpisahan. Kuraih kotak perhiasan yang berada di lemari pakaianku, aku melepas gelang dan juga cincin pemberian Zaky, kemudian menyimpannya. Kurasa ini akan jauh lebih meringankan bebanku untuk segera melupakannya.
****************************************************************************************
Pukul 04.00, aku terbangun dan segera mempersiapkan diriku. Segera aku mandi dan mengenakan seragam. Entah kenapa secara setengan tidak sadar seolah ada yang menuntunku untuk kembali ke kamar mandi, aku mengambil wudhu. Segera kugelar sajadah dan kugunakan mukenah. Aku menunaikan sholat subuh, yang jujur saja selama ini lebih jarang kulakukan.
Kutengadahkan tanganku, memohon ampunan atas kelalaianku selama ini. Kali ini ada kekuatan luar biasa yang menyusup dihatiku, menggerakkan anggota tubuhku untuk menunaikan kewajiban sholat, yang selama ini lebih sering kuabaikan. Kali ini aku bersimpuh untuk memsarahkan segala kesalahan juga keinginanku. Terima kasih telah membangunkanku pagi ini, artinya masih ada harapan baru untukku.
Waktu menunjukkan pukul 05.00, sebentar lagi Hafiz akan menjemputku. Segera aku turun dan menyempatkan diri untuk menyeduh the hangat, tak lupa aku membawa juga 1 termos berukuran besar, untuk temna-temanku di mobil nanti. Kubuka kulkas, kutemukan beberapa bungkus camilan disana, sekaligus kubawa.
Ternyata ibuku baru saja akan memulai aktivitas memasak, sedikit kaget melihatku sudah rapi di pagi hari. Aku lupa menyampaikan jika ada even pagi ini di Surabaya. Saat aku masih berkemas, pintu rumah diketuk. Segera aku bergegas, pasti itu teman-temanku. Akupun segera berpamitan dengan ibuku dan berangkat.
Kami berangkat ber 5, Hafiz, aku, Deby, Tika, dan Hendra. Tika memilih duduk sendiri di bangku belakang, alasannya inin melanjutkan tidur. Sedangkan Hendra duduk di sebelah Hafiz yang berada dibalik kemudi. Aku dan Deby berada di tengah.
“Ada yang mau teh?”, aku mengeluarkan perbekalan dan segera disambut antusias oleh teman-temanku.
Canda tawa mengiringi sepanjang perjalanan kami. Tika yang awalnya henda tidur, jadi urung. Berbagai hal kami bahas disini, mulai dari urusan paling tida penting sekelas gossip selebriti, hingga program promosi jabatan yang akan ditutup pendaftarannya bulan depan. Seketika aku teringat dengan pertemuan terakhirku kemarin dengan Zaky. Aku berpamitan untuk mengikuti program itu. Pelarian yang tepat, kalau orang lain membutuhkan menangis berhari-hari untuk meratapi nasib dan kemudian masih belum bisa move on dalam jangka waktu yang lama, aku lebih memilih untuk produktif. Itulah prinsipku.
Dulu pada saat Pram mengkhianatiku, cukup 2 hari yang aku butuhkan untuk menangis dan menangis. Lalu kualihkan tenaga dan pikiranku untuk bergabung dalam program peningkatan kapasitas yang digelar di kota kembang Bandung selama sepekan. Pulang dari sana aku merasa lebih luar biasa, dan bonusnya aku bisa naik jabatan. Terkadang sebuah rasa sakit bisa mereda jika dilawan dengan produktivitas. Itu menurutku.
Demikian juga kali ini, kuharap setelah program di Jogja rampung, rampung juga urusan ku dengan Zaky. Aku ingin segera memulai hidup baruku, dengan cinta yang baru dan tentunya orang yang baru. Semoga.
Dari tadi aku sibuk dengan pemikiranku sendiri, sesekali aku tersenyum melihat tingkah temanku. Rupanya Hafiz memperhatikanku dari balik kaca. Sampai akhirnya aku menyadari, dari tadi dia tida menghilangkna pandangannya dari aku. Tiba-tiba aku salah tingkah begitu tatapan kami beradu. Untungnya yang lain tidak menyadari, segera aku pura-pura sibuk dengan gadgetku.
Akhirnya kami sampai di lokasi, masih pukul 07.15, rekan-rekan yang lain yang menggunakan mobil kantor juga sudah sampai, Hafiz sebagai tim leader hari ini mempersilahkan kami untuk mempersiapkan diri dan berkumpul di hall 20 menit lagi. Secara otomatis kami berpencar, ada yang menuju toilet ada juga yang langsung menuju hall
Deby mendekatiku, rupanya dia sudah menangkap keganjilan di wajahku. Mata padan yang coba kusembunyikan dengan make up, ternyata masih nampak jelas. Deby menyodorkan kacamata hitam miliknya.
__ADS_1
“Pakai ini mbak, pulang nanti aku sudah siap mendengar ceritamu. Semangat untuk hari ini,” Deby tersenyum optimis.
Yahhhhh….Dia memang sahabat terbaik, aku beruntung memilikinya. Segera kupakai kacamata yang dipinjamkan oleh Deby. Kami menuju toilet untuk merapikan penampilan. Kali ini adalah even peluncuran salah satu produk perbankan, milik salah satu bank swasta di Surabaya. Kami dipercaya untuk menyelenggarakan even ini. Seperti biasa kami harus tampil prima, profesionalitas diatas segalanya.
Setelah waktu yang disepakati tiba, Hafiz memjmpin briefing dan membagikan tugas kepada masing-masing anggota tim kami. Setelah berdoa bersama, kami segera menyebar sesuai dengan pembagain tugas yang disepakati. Kali ini even yang lumayan besar, peserat berasal dari seluruh provinsi di Indonesia. Ini juga merupakan ajang promosi bagi perusahaan kami, jika gelaran ini mendulang sukses. Akan sangat berpengaruh baik terhadap karir perusahaan kami kedepan.
Pukul 14.15 siang , acara berakhir. Sukses luar biasa untuk acara hari ini. Acara ditutup dengan briefing, sebagaimana biasa Hafiz mengapresiasi kerja tim hari ini dengan tetap memberikan catatan evaluasi. Pukul 15.20, kami bergegas untuk pulang. Kami kembali pulang ber 5, kali ini Hendra yang berada dibalik kemudi. Tika meminta untuk duduk di depan, karena beralasan kepalanya pusing. Deby secara otomatis mengambil posisi di bangku belakang, beralasan ingin tidur. Benar-benar kondisi yang dikondisikan dengan baik. Akhirnya aku dan Hafiz duduk di tengah berdamping.
“Berasa nganter orang mau nikahan ya…”, Tika memulai gurauannya. Kali ini aku benar-benar dikerjai. Aku pura-pura santai sambil tetap fokus melihat kearah gadgetku. Toh di dalam mobil ini bukan hanya aku dan Hafiz yang bisa dipasangkan, yang lain juga masih bisa, demikian pikirku
“Udah Bang…..dihalalil aja. Keburu ntar toko kebaya pada tutup tuh..wkwkwkwkk”, kali ini gentian Hendra yang menimpali
“Doain aja….ntar juga kalian yang bakal jadi WO nya”, Hafiz menjawab enteng. Akupun malu, wajahku memerah. Kukira dia akan mengelak, malah justru membenarkan. Aku benar-benar menajdi salah tingkah. Suasana mobil menjadi riuh seketika. Kali ini aku dan Hafiz yang menjadi bahannya. Sekalipun sebagai pimpinan di tim kami, namun Hafiz bisa bersikap sangat santai saat diluar jam pekerjaan. Itu yang membuat dai mampu bergaul dengan seluruh karyawan, termasuk dari divisi yang berbeda.
Sejenak aku melupakan permaslahanku dengan Zaky. Sesuai janjinya, kami memang sudah tidak saling menghubungi sejak pertemuan terakhir itu. Ada rindu yang sebenarnya berkelebat di kedalaman hatiku. Tapi aku ragu untuk meneruskannya, karena rindu itu kini menjadi rindu yang terlarang bagiku.
Sebuah notifikasi pesan masuk
Giovani
“Acaranya sukses, terima kasih atas kerjasama yang baik dengan EO kamu. Sayangnya tadi gak sempat nyapa”
Gio? Ternyata dia juga ada disana. Tapi tadi aku sama sekali tidak melihatnya, mungkin karena aku fokus pada pekerjaanku. Tapi siapa sebenarnya dia? Peserta kah, atau…jangan-jangan justru …dia penyelanggara dari pihak bank itu…..aku bertanya-tanya dalam hati
Segera kucari berkas kontrak yang dikirimkan oleh Hafiz kemarin, kubaca lagi satu persatu untuk nememukan nama Giovani. Tapi aku gagal menemukannya. Akhirnya kutanyakan kepada Hafiz, kemungkinan adanya nama Giovani yang terlibat dalam even tersebut.
“Seingatku Manajer Pemasaran Bank itu namanya Pak Anggara, tapi aku lupa nama lengkapnya. Kalau gak salah G. Anggara Putra. Bisa jadi dia mungkin. “G”, singkatan apa ya, gak dijelasin juga disitu. Emang siapa dia?”, Hafiz balik bertanya.
“Adiknya temenya Mb Bella, orang Surabaya juga. Ini kirim pesan ke aku, bilang terima kasih karena evennya sukses. Emmmm….kapan hari aku kenalan waktu acara arisan keluarag dirumah Mas Candra, jawabku.
“Ooooo…”, Hafiz menjawab dengan nada datar.
Akhirnya kami pulang kerumah masing-masing. Satu persatu diantar menuju rumah, tinggal aku yang terakhir di mobil bersama Hafiz. Kali ini aku merasa canggung. Perasaan aneh yang secara tiba-tiba merayap di diriku.
“Hari Sabtu sore dirumah ada acara pengajian lagi. Lala katanya kangen sama kamu, dia pingin undang kamu untuk ikutan,” Hafiz memecah keheningan.
“Lala, kangen? Lala apa…eheemmm,” aku mencoba memecah ras canggung diantara kami.
Aku mengiyakan ajakan Hafiz. Tidak ada salahnya bagiku. Disana aku bisa bertemu dengan orang-orang yang ramah. Keluarga besar hafiz pada pertemuan pertama denganku memberikan sambutan yang hangat dan aku nyaman dibuatnya. Lagi pula aku juga bisa sambil mendalami pengetahuan agama. Jujur aku masih sangat minim.
Hafiz mengantarkanku sampai rumah dan berpamitan kepada orang tuaku. Aku segera menuju kamar dan membersihkan diri. Hari yang memelahkan sekaligus luar biasa. Terima kasih telah memberikan kesempatan kedua.
Aku merebahkan diriku di tempat tidur, kuraih ponselku. Aku ingat belum membalas pesan dari Gio.
“Terima kasih kembali, semoga kedepan bisa bekerja sama kembali, “jawabku dengan ejaan formal
Sesaat aku menunggu, namun tidak ada balasan. Kuputuskan untuk memutar radio, kegemaranku saat sedang membutuhkan ketenangan. Mendengarkan celoteh penyiar radio, sebuah kreativitas yang original menurutku. Tombol kuhentikan pada salah satu saluran, aku mengenal lagu ini………..
Aku sudah mulai lupa
Saat pertama rasakan lara
Oleh harapan yang pupus
Hingga hati cedera serius
Terima kasih kalian
Barisan para mantan
Dan semua yang pergi
Tanpa sempat aku miliki
Tak satu pun yang aku sesali
__ADS_1
Hanya membuatku smakin terlatih
Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih disakiti
Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)
Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)
Penuh luka itu pasti tapi aku tetap bernyanyi
Lama tak kudengar tentangnya
Yang paling dalam tancapkan luka
Satu hal yang aku tahu
Terkadang dia juga rindu
Terima kasih kalian
Barisan para mantan
Dan semua yang pergi
Tanpa sempat aku miliki
Tak satu pun yang aku sesali
Hanya membuatku smakin terlatih
Begini rasanya terlatih patah hati
Hadapi getirnya terlatih…
Terlatih patah hati, sepertinya lagu ini khusus diputarkan untukku, aku menggumam. Lagi-lagi selalu ada yang menyempurnakan keadaan patah hati seseorang.Contohnya lagu ini, bisa sangat pas dengan keadaan hatiku saat ini.
Luka itu pasti, tapi aku memang harus tetap tegar dan melanjutkan hidupku. Aku terlelap dan terlelap semakin dalam. Sepertinya tubuh dan pikiranku memang membutuhkan sebuah istirahat. Kali ini aku tertidur dengan lebih nyaman, dibandingkan kemarin.
Aku terbangun, sepertinya sudah tengah malam. Kulihat dimeja kamarku tersaji segelas teh, yang sepertinya sudah dingin. Rupanya ibuku yang menyiapkan, namun tidak tega membangun tidur lelapku. Disampingnya juga ada dua potong pisang goreng. Ah………Ibuku sayang. Terima kasih.
Kuraih makanan kiriman ibuku itu, kulahap dengan penuh semangat. Ternyata aku terbangun karena lapar. Sambil kulihat ponselku, ada pesan masuk. Siapa malam-malam begini masih menghubungiku? Tanyaku dalam hati.
Oh ternyata, pesan dikirim jam 20.10 tadi, dan aku rupanya sudah tertidur. Mulai kubuka satu persatu.
Hafiz
“Lala tadi aku kasih nomor kamu, katanya ada yang mau disampaikan langsung sama kamu”
Hemmmm kira-kira Lala mau ngomong apa ya? Aku berpikir untuk membalas pesan itu, tapi kuurungkan karena sudah lewat tengah malam.
Deby
“Mbak De, besok pagi ada briefing dengan holding sekaligus deadline untuk pengajuan program ke Jogja. Kalau jadi ikutan, segera buka email, disana ada persyaratan yang harus dilengkapi”
Jogja?
Haruskah?
Kali ini aku menjadi galau, apakah ini keputusan yang tepat?
Atau sebenarnya aku hanya butuh pelarian saja?
Apakah orang tuaku akan mengijinkan?
Aku kembali bertanya dalam hati.
Kutekadkan niatku, kali ini aku tidak boleh mundur. Sekalipun awalnya ini kugunakan sebagai cara untuk move on, semoga disana atau sekembalinya dari sana, tentunya akan ada banyak kebaikan yang kudapatkan. Ini mungkin cara terbaik yang tuhan kirimkan untukku.
Kalaupun takdir berulang kali tak berpihak padaku, namun kali ini aku ingin mencoba berdamai dengan takdirku. Akan kuturuti kemana takdir akan membawa kakiku melangkah. Mungkin Jogja adalah pintu takdir berikutnya yang harus aku buka. Agar aku bisa segera menutup pintu takdir yang telah kulewati dengan Zaky dan berakhir dengan kegagalan ini.
Luka yang saat ini sedang coba kusembuhkan, akan menjadi penyemangatku. Akan aku ingat selalu hari ini, hari dimana aku mencoba kembali bangkit setelah berkali-kali jatuh. Aku berhak bahagia, bahagia untukku, untuk keluargaku dan calon keluarga kecilku kelak.
__ADS_1
Pengalaman berharga ditinggalkan oleh Pram. Kebersamaan dengan Zaky yang dipisahkan oleh perbedaan dan restu orang tua, adalah bagian dari perjalanan hidupku. Kalau tuhan masih mengijinkan aku hidup saat ini, itu artinya masih ada kesempatan yang baik untukku. Aku percaya itu.
Malam ini aku merasa sangat luar biasa. Sebuah sentuhan lembut menyelemiuti hatiku, menetramkannya sekaligus memberikan kekuatan untuk meraih diriku dan bangkit dari keterpurukan. Aku akan mengambil peluang itu. Aku yang sekarang dan aku yang akan selalu berjuang. Terima kasih takdir atas luka dan tawa yang kau kirim untukku.