Pintu Takdir Melepas Lajang

Pintu Takdir Melepas Lajang
Episode 37


__ADS_3

MARI KITA SELESAIKAN


Sebuah keputusan sulit dan berat, namun tetap harus aku lakukan. Hari ini aku memutuskan untuk bertemu dengan Tama. Tanpa sepengetahuan Deby maupun Farhan. Bagiku ini akan menjadi final game, agar aku bisa segera memulai hidup baru dengan Farhan tanpa adanya rasa ketidaknyamanan atas ancaman Tama.


Saat ini pria yang kini telah menjadi suami dari sahabat baikku ini, sudah duduk di hadapanku. Kulihat mata pandanya yang menyiratkan bahwa jam tidurnya yang kurang, atau mungkin sedang dalam keadaan tidak sehat. Tama menutupi tampilannnya yang kurang sehat itu dengan tetap berpenampilan rapi dan maskulin. Kuakui, Tama memang tampan dan dengan badan yang proporsional itu menjadikan ketampanannya semakin lengkap.


Demikian juga dengan Deby, sahabatku itu memiliki tampilan yang sempurna. Perempuan yang cerdas, enerjik dan mandiri. Seharusnya, ini menjadi pertimbangan utama bagi Tama jika harus memperlakukan Deby. Kukira setelah pernikahannya dia sangat bahagia, karena tak sekalipun Deby menceritakan konflik yang ada di dalam biduk rumah tangganya.


Lemon tea dan secangkir kopi terhidang di meja. Sekitar sepuluh menit, kami hanya saling terdiam. Namun aku dengan jelas melihat raut wajah Tama yang terobsesi kepadaku. Sangat jelas terlihat, seolah lupa bahwa yang berada didepannya saat ini adalah calon istri orang sekaligus sahabat baik dari istrinya. Instingku sebagai perempuan menyatakan, jika lebih lama lagi aku berada di depan pria ini, pasti akan terjadi hal yang buruk.


“Apapun yang kamu pikirkan saat ini tentang aku, hentikan”, aku memulai pembicaraan


“Memangnya kamu tau apa yang sedang aku pikirkan,” balas Tama dengan tatapan yang membuatku tidak nyaman


“Ayolah….. kita bisa menjalani hidup masing-masing dengan lebih tenang. Kenyataannya, kamu sudah beristri demikian juga dengan aku, sebentar lagi akan menjadi suami orang”, Dea mempertegas


Tama merangsek maju dan meraih tangan Dea, namun seketika ditepis oleh Dea

__ADS_1


“Aku tidak keberatan sama sekali, menjalin hubungan lain dengan tetap mempertahankan pernikahan masing-masing”, jawab Tama


“GILA”!


Akhirnya Tama menceritakan mengenai pernikahannya yang tidak bahagia dengan Deby. Kenyataan bahwa Deby tidak bisa memberinya keturunan menjadikan Tama merasa semakin leluasa untuk bisa bermain-main dengan pernikahannya. Dia tidak ingin menceraikan Deby, namun tetap ingin bermain-main dengan pernikahannya. Karena itulah dia menawarkan perselingkuhan ini kepada Dea.


Sepekan semenjak pertemuan dengan Tama, aku mendapat kabar kurang mengenakkan dari Deby. Tama kecelakaan dan mengakibatkan kaki kanannya harus diamputasi. Saat ini sedang menjalani pengobatan di Surabaya. Aku menyampaikan kabar ini kepada Farhan dan kami sepakat untuk mengunjunginya.


Minggu pagi, kami sedang dalam perjalanan menuju Surabaya. Dalam perjalanan sempa terpikir olehku untuk menceritakan pertemuanku dengan Tama sepekan yang lalu kepada Farhan. Namun kuurungkan, aku khawatir ini justru akan memperkeruh suasana.


Kami memutuskan untuk membeli oleh-oleh dan makan siang terlebih dahulu sebelum menemui Deby dan Tama. Sikap perhatian yang ditunjukkan Farhan selama perjalanan semakin membuatku yakin dan mantap untuk melanjutkan hubunganku dengannya. Saat perjalanan keluar kota semacam inipun Farhan memperlakukan dengan penuh pengertian. Sisi lain seorang Farhan yang juga ternyata mudah terlelap jika berada di mobil, ternyata juga menjadi alasan kenapa dia menggunakan jasa driver untuk mengantar perjalanan ke luar kota.


“Pertemuan kamu sepekan yang lalu dengan Tama, tidak perlu diceritakan pada Deby”, ucapnya dengan datar


“Ka..kamu tahu Sayang?”,jawab Dea terbata


Seketika aku panik, perasaan takut mulai membayang. Entah apa yang dipikirkan Farhan saat ini tentangku. Aku mencoba menjelaskan, tapi Farhan memberikan isyarat untuk aku diam. Ternyata dia sudah mengetahui masa laluku dengan Tama.

__ADS_1


Ternyata Tama memiliki niat buruk pada pertemuan itu, dia dengan sengaja menelepon Farhan dan membiarkan ponselnya tetap menyala saat pertemuan kami sedang berlangsung. Niatnya adalah untuk menunjukkan bahwa aku dan Tama memiliki hubungan, sehingga Farhan membatalkan pernikahan kami. Untungnya saat itu aku tidak terjebak, aku memang tidak sedang ingin melakukan pencitraan dansaat itu kejujuran yang kunyatakan di depan Tama otomatis juga diketahui Farhan.


Aku sangat bersyukur, sekali lagi berterima kasih kepada takdirku. Menempatkan aku pada situasi semacam ini, mendapatkan pria sebaik Farhan. Keputusan Farhan untuk tetap bersedia menemaniku menemui Tama adalah sebagai bentuk kemanusiaan sekaligus menyatakan agar Tama bisa menyadari kesalahannya.


Akhirnya kami sampai di rumah sakit dimana Tama dirawat. Setelah mendapat petunjuk dari ruang informasi, kami bergegas menuju ruangan Tama. Benar saja, aku menemukan Deby terduduk layu di sebuah kursi tunggu di depan sebuah ruangan. Begitu menyadari kedatanganku, Deby memelukku dan menangis.


Deby menceritakan kronologi musibah yang menimpa suaminya dan bagaimana akhirnya harus diputuskan amputasi. Sealin itu Deby juga menceritakan perihal kesulitannya mendapatkan keturunan. Dia mengaku sangat takut kehilangan rumah tangganya. Aku berusaha memeluk dan menenangkannya.


Kami berkesempatan juga untuk melihat Tama ke ruang perawatan. Farhan terlebih dulu masuk, sedangkan aku dan Deby mengikuti di belakangnya. Aku prihatin melihat keadaannya. Pasti kenyataan ini berat bagi mereka berdua.


“Aku minta maaf….” Tama berujar lirih dan mengulurkan tangan pada Farhan.


Aku menangkap rasa heran dimata Deby, kenapa Tama meminta maaf kepada Farhan? Tentunya karena kejadian sepekan yang lalu.


“Fokus pada penyembuhanmu, aku yakin Deby akan setia mendampingi kamu”, aku buru-buru menjawab agar tidak berlanjut pada obrolan yang lain.


Akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan sebelum pulang, au sempatkan untuk berpamitan pada Tama dan menyatakan padanya bahwa saat ini dia juga harus bersikap adil dan berbesar hati pada Deby. Jika Deby bisa menerima kekurangan Tama saat ini dan tetap setia merawatnya, maka tidak ada alasan bagi Tama untuk tidak menerima kekurangan Deby.

__ADS_1


Jalan hidup setiap orang memang telah diatur oleh yang Maha Kuasa. Manusia sebagai makhluk yang memang dijadikan sebagai pelaksana rencana Tuhan harus bisa menerima dengan keluasan hati. Percaya bahwa Tuhan menyayangi setiap makhluk ciptannya dengan cara yang disesuaikan dengan kebutuhan makhluk itu dan bukan sesuai dengan keinginan makhluk semata.


Aku merasa lega, akhirnya Tama bisa melepaskanku dan menjalani kehidupannya dengan Deby. Saat ini aku hanya ingin berfokus pada persiapan pernikahanku dengan Farhan. Semoga kali ini takdir tidak lagi membawaku pada pelaminan yang semu. Semoga ini takdir baik yang harus kuterima di usiaku yang sudah 30 tahun ini.


__ADS_2