
PERNIKAHAN DAN PERNIKAHAN
Minggu pagi, aku sudah sibuk mempersiapkan untuk menemani Lala menemui MUA serta kebutuhan pernikahannya. Peranku seolah-olah menjadi kakak baginya. Aku senang melakukannya, terlebih selama ini Lala juga setia mendampingiku mendalami ilmu agama. Banyak yang menilai, bahwa kami memang memiliki kecocokan ibarat saudara kandung.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku, Hafiz, Lala, dan aku berangkat menuju salah satu kenalanku. Mengingat acara pernikahan yang bisa dikatakan sangat singkat dalam persiapan, maka aku juga lebih mempercayakan kepada orang-orang yang memang kukenal dengan baik. Persiapan yang kilat, satu bulan saja. Iya, Lala dan Ustadz Iqbal akan menikah bulan depan.
Pernikahan ini sengaja dipercepat, mengingat sebulan setelah menikah Ustadz Iqbal akan memboyong Lala untuk melanjutkan studinya di Mesir. Sungguh pasangan yang serasi. Pria mapan yang sangat religius namun tetap memahami nilai-nilai kehidupan modern dengan baik bertemu perempuan anggun dan cerdas namun tetap penurut. Aku turut bahagia dengan pernikahan mereka.
Lalu bagaimana dengan aku?
Rencananya setelah selesai acara pernikahan Lala, Hafiz dan keluarganya akan melamarku secara resmi. Aku berharap hari itu akan segera datang. Sepanjang perjalanan aku lebih banyak melamun, memikirkan juga mengenai nasib statusku. Semoga setelah ini, akulah yang akan berada di posisi Lala. Menjadi mempelai wanita dan hidup bahagia. Sungguh bayangan yang indah.
Bunyi klakson mobil Hafiz membuyarkan lamunanku. Akhirnya hafiz menyadari bahwa dari tadi aku melamun.
“Mikir sesuatu?”, tanyanya
“Eh, emmm itu. Tiba-tiba keinget kalo Shinta yang MUA ini juga punya butik. Nawarin untuk sekalian seragam keluarga”, jawabku sambil kembali berkonsentrasi dengan arah perbincangan yang kualihkan dari lamunanku.
“Boleh tuh mbak Dea, nanti kita bisa sekalian mampir buat lihat-lihat kan ya?,” Lala antusias menjawab
“Bisa kok, kalo gak salah butik sama studio MUA nya terletak gak begitu jauh lokasinya, “ jawabku.
Hafiz menjalankan kembali mobilnya, aku sempat melirik mobil yang juga berhenti di sebelah mobil Hafiz. Mirip dengan mobil yang tempo hari aku lihat sewaktu akan makan malam dengan Deby. Namun kali ini kacanya tertutup rapat. Aku mudah mengenalinya, karena mobil sport semacam itu bisa dihitung keberadaannya dengan jari di kota ini. Mungkin hanya kebetulan.
Hampir jam 8 malam Hafiz baru mengantarkanku pulang. Cukup melelahkan untuk hari ini. Namun semua urusan pemesanan untuk pernikahan Lala sudah rampung. Aku lega, karena itu artinya tugasku sudah selesai. Tinggal membantu memastikan segala sesuatunya akan berjalan lancar pada saat hari H nanti.
Sebuah panggilan masuk. Gio. Sudah hampir sepekan ini aku mengabaikan pesan dan juga enggan mengangkat teleponnya. Entah mengapa, sejak menerima lamaran Hafiz aku juga mulai membatasi diri. Sekalipun terkadang, ide nakal masih melayang dipikiranku.
Janur kuning belum melengkung, artinya aku masih bebas untuk lirik kana dan kiri. Tapi aku juga tidak mau ceroboh, jangan sampai janur kuning yang akan dibawa Hafiz gagal melengkung di teras rumahku hanya gara-gara kelalaianku sendiri. Setelah kupikir-pikir, aku mengurungkan niatku untuk mengangkat telepon dari Gio.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk. Ternyata masih Gio.
“Hari Rabu aku ada acara makan malam, kebetulan dekat dengan rumah kamu. Kali ini semoga tidak mendapat penolakan”
Aku kembali galau, menerima atau menolak tawaran ini. Kalau aku terima, bagaimana jika Hafiz tau? Tapi kalau aku tolak, alasan apalagi? Mungkin sebaiknya aku terima, sekaligus untuk menjelaskan hubunganku dengn Hafiz kepada Gio. Toh selama ini Gio juga belum pernah benar-benar menyatakan perasaannya padaku. Seharusnya ini akan menjadi baik-baik saja. Kami masih bisa tetap berhubungan baik kedepannya.
Tapi apa benar begitu?
Gamang juga kali ini aku menyikapi perasaanku terhadap Gio. Kuakui aku tertarik dengan kharismanya. Namun selama ini dia tidak pernah menyatakan ketertarikan kepadaku, meskipun sekian perhatiannya bisa dikatakan lebih dari cukup untuk membuktikan kepadaku. Berbeda dengan Hafiz, yang telah terlebih dahulu mengikat aku dengan lamaran.
Hemmmm..hemmmm..hemmm. Ok. Aku putuskan untuk menerima undangan makan malam itu. Segera kubalas pesan Gio.
__ADS_1
“OK. Aku usahakan ya…” jawabku
“Aku jemput lebih awal ya, karena ini harus ketemu dengan seseorang, ada dresscode juga. Nanti mampir ke butik dulu”, Gio menjawab
“Lho, ketemu sama banyak orang?”, tanyaku
“Sampai ketemu hari rabu ya”, Gio tidak menjawab pertanyaanku, melainkan mengatakan hal lain
Aku sedikit heran, bertemu banyak orang? Dresscode?
Mungkin ini acara makan malam dengan rekan bisnisnya. Aku tidak ambil pusing.Karena sudah lelah, aku dengan mudah terlelap.
Senin pagi, aku sudah sibuk dengan pekerjaan baruku. Berada pada sebuah divisi baru, menjadi sebuah tantangan untukku. Kuharap Deby juga tidak mengalami banyak kesulitan di tempat barunya. Aku memulai dengan banyak catatan di ponselku mengenai hal-hal yang harus kupelajari. Ada seorang asisten yang ditugaskan untuk membantuku memperlajari semua hal baru ini. Aku menikmati pekerjaanku ini dengan baik.
Jam makan siang, aku memutuskan untuk mengajak Deby dan Hafiz untuk makan siang di luar. Ternyata Hafiz sedang ada meeting dengan tim nya, sedangkan Deby dari atdi kuhubungi namun belum merespon. Akhirnya aku putuskan untuk keluar kantor sendirian. Aku menjatuhkan pilihan untuk makan siang di salah satu tempat makan yang berjarak sekitar 200 meter dari kantorku. Sambil menunggu pesanan datang, aku masih tetap berusaha menghubungi Deby.
“Sendirian?”, kedatangan seseorang mengagetkanku. Kumatikan telepon dan kulihat siapa yang sudah mengagetkanku.
“Tama?”, aku seketika keheranan. Dalam rangka urusan apa dia ada disini pada jam segini?
“Lagi nunggu Deby, kamu kok bisa disini?”, tanyaku sambil menggeser tempat duduk
“Kebetulan lapar, kebetulan juga ingin makan disini dan ketemu kamu”,” jawaban mengambang dari Tama. Lalu dia bergegas memanggil pelayan dan memesan beberapa menu.
Kuambil ponselku dan kembali kuhubungi Deby. Tama melihat gurat rasa gugup diwajahku. Namun dia hanya tersenyum, sambil sesekali menatapku dengan penuh maksud. Akhirnya Deby mengangkat teleponku.
“Hai Debb. Aku tungguin makan siang di Resto DaDiDu ya”, aku sengaja menaikkan intonasi suaraku agar Tama juga mendengar bahwa aku sedang menghubungi kekasihnya.
“Disini juga ada….., belum selesai aku dengan percakapanku, Tama memberikan kode agar tidak membertahukan keberadannya. Entah mengapa, aku menurut.
“….ada banyak menu baru lho”, aku mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya aku harus kecewa, ternyata Debby juga sedang menyelesaikan meeting dengan tim barunya. Kali ini, terpaksa aku makan dengan Tama.
“Lama gak ketemu, kamu semakin menarik perhatianku”, Tama tiba-tiba mencoba mengungkit masa lalu, yang sebenarnya tida ingin kuingat kembali.
Tama dan aku bukan sekedar teman SMA, kami pernah menjalin hubungan lebih dari pertemanan sewaktu SMA. Kukira itu hanya cinta monyrt belaka, untungnya aku tidak pernah menceritakan ini kepada Debby. Tapi bagaimana dengan Tama? Jangan-jangan dia sudah menceritakan semuanya kepada Debby.
“Kamu gak cerita macam-macam kan sama Debby?”, tanyaku menyelidik
“Don’t worry, aku juga gak mau kehilangan kesempatan untuk bisa dekat dengan kamu lagi. Kalau aku cerita, pastinya tidak akan berada pada posisi sedekat ini dengan kamu sekarang”, kembali Tama memberikan uraian panjang. Membuatku semakin tidak nyaman.
__ADS_1
Aku berusaha tetap tenang dan makan dengan teratur. Berusaha tidak terbawa perasaan dengan perlakuan Tama padaku. Ada Debby dan Hafiz disana yang masing-masing menunggu kami.
“Aku kembali dengan kejutan,tapi ternyata kamu yang memberikan au kejutan dengan menggandeng Hafiz”, sekali lagi Tama berusaha membawa topik pembicaraan yang jauh.
“Tama…come on…, aku dan kamu hanya masa lalu. Itupun sebatas cinta monyet. Kamu sekarang sudah ada Debby dan aku juga sudah ada Hafiz. Jangan diungkit lagi, aka nada yang terluka nanti”, aku berusaha tetap tenang.
“CINTA MONYET?””, Tama meringis dengan tatapan penuh arti.
“Bagiku kamu mungkin iya, tapi tidak bagiku. Kali ini aku tidak akan pernah lagi melepaskan kamu. Tidak akan pernah.”, Tama segera berdiri dan menuju kasir kemudian melambaikan tangan meninggalkanku.
Apa-apaan ini, aku seketika dibuat shock sekaligus tak berdaya. Tama datang tiba-tiba, mencoba mengungkit kembali kisah masa lalu kami. Lalu hari ini, ancaman yang dia berikan padaku. Yah, aku menyebutnya ancaman. Tentunya hal ini akan menjadi ancaman untuk hubunganku dengan Hafiz dan juga Debby.
Aku menghentikan makan siangku, yang seketika terasa hambar. Kutarik nafas dalam-dalam, dan segera kulangkahkan kakiku untuk kembali ke kantor. Aku harus bersikap seolah tidak terjadi apapun hari ini.
Sekitar sepuluh menit setelah aku memasuki ruangan, Debby datang. Deg! Tiba-tiba saja aku merasa salah tingkah. Galau merasukiku, haruskah aku ceritakan pada Debby tentang pertemuanku dengan Tama? Bagaimana kalau dia marah?? Sebaiknya tidak, karena kali ini Debby datang dengan penuh antusias, sepertinya dia membawa kabar gembira.
“Gimana di produksi? Susah gak?”, tanyaku
“Ya….gitu deh mbak. Namanya juga hal baru, jadi ya masih banyakkkkkk buanggettt yang harus aku pelajari. Eh ngomong-ngomong au keisni mau ambil kotak pensilku mbak, kayaknya ketinggalan di lacinya mbak De”, Debby berkata sambil sibuk mencari kotak pensil di laciku.
“Kotak pensil doang??”, tanyaku
“Bukan sekedar doang, berarti banget buat aku. Itu kan pemberian Mb Dea waktu alu lulus training dulu awal masuk ke kantor ini”, Debby tersenyum manja.
Aku terharu mendengar ucapannya. Segera kupeluk sahabatku itu. Entah mengapa ada perasaan bersalah merayap di hatiku. Debby membalas rangkulanku, lalu mengatakan sesuatu
“Mbak, aku di-la-mar sama Mas Ta-ma.
“Dua bulan lagi kami nikah”
“Hahhh…….,yang bener kamu Deb??”, tanyaku dengan wajah shock. Sekali lagi aku terkejut dengan kabar ini dan kulepaskan rangkulanku.
“Iyaa mbakk, tadi malam aku dilamar. Terus, minggu depan mas Tama mau nemuin orang tuaku. Aku sennneeennggg bangettt,” Debby kembali memelukku.
Aku masih tidak percaya. Tama yang baru saja kutemui, mengatakan akan kembali mengejarku dan Debby yang mengatakan bahwa Tama akan menikahinya. Lelucon macam apa yang sedang dimainkan oleh Tama. Rupanya dia sedang mempermainkanku, keisengan yang cukup membuatku makan hati.
Menyesal aku percaya pada Tama. Ternyata hanya gurauan semata. Padahal au sudah setengah mati menanggapi dengan merasa bersalah pada Debby. Untungnya, aku belum bercerita apapun.
Kuberikan selamat kepada sahabatku itu. Sebuah keberuntungan yang dia miliki karena telah bertemu dengan jodohnya, tanpa menunggu watu yang lama. Sungguh bahagia.
Ada sedikit perasaan aneh yang menyusup ke hatiku. Aku belum berani menerjemahkannya. Begitu mendengar Lala yang dengan singkat segera dipinang oleh Ustadz Iqbal, setelah itu Debby yang juga menemukan jodohnya dengan waktu sekejap. Tama mengajaknya menikah. Keberuntungan dua gadis itu yang menimbulkan sebuah perasaan nyeri di ulu hatiku. Kenapa aku tidak?
__ADS_1
Pernikahan demi pernikahan akan digelar, mungkin sementara waktu aku harus kembali bersabar. Harus bersabar. Disana ada Hafiz yang sudah menungguku dan akan segera menghalalkanku. Semoga rasa nyeri melihat pernikahn demi pernikahan yang sebentar lagi akan nampak di depan mata ini bisa kulalui dengan sabar.
Kesabaran dan ketabahan yang masih kugenggam erat sampai pada usia 28 tahun ini, akan tetap kupertahankan. Bertahan sampai dengan pernikahan yang kuinginkan terlaksana. Mungkin lebih tepatnya pernikahan yang digariskan oleh takdirku. Semoga