
HARI YANG INDAH
Hari ini sesuai janjiku pada Lala, lebih tepatnya pada Hafiz, aku menghadiri acara pengajian di rumahnya. Kali ini pengunjungnya lebih banyak lagi, rupanya ini merupakan acara rutin yang digelar setiap bulan oleh keluarga Hafiz. Jika sebelumnya aku datang dengan persiapan minim, kali ini aku mempersiapkan lebih maksimal. Ku kenakan kerudung, meskipun dengan bentuk dan model yang sederhana. Selain itu aku juga membawa mukenah sendiri.
“Cantik, lebih dari hari biasanya”
Hafiz mengirim pesan melalui whatssap, karena memang posisi duduk antara laki-laki dan perempuan dipisahkan. Aku tersenyum, lalu membalas dengan emoticon tertawa terbahak-bahak.
Lala duduk di sampingku, memperhatikan dengan sesama. Ustadz yang memberikan ceramah kali ini berbeda dengan yang kutemui beberapa waktu yang lalu. Namanya Ustadz Iqbal, masih muda dan memiliki paras menawan. Sebagian jamaah perempuan rupanya lebih tertarik menikmati paras tampan sang Ustadz daripada mendengarkan ceramahny, menurutku. Karena beberapa orang sampai tidak berkedip. Tapi tidak dengan Lala. Sekalipun memperhatikan dengan seksama, Lala lebih banyak menunduk dan mendengarkan dengan seksama.
Tema kali ini tentang jodoh. Pantesan Hafiz mengundangku, rupanya ini salah satu caranya untuk mencoba menggiring pemikiranku tentang jodoh. Cara yang cukup jitu, karena saat ini sejujurnya aku sudah mendapat banyak pencerahan dari ceramah hari ini.
Selepas acara pengajian, aku dan keluarga inti Hafiz, yaitu kedua orang tua, adik serta adik iparnya menunaikan sholat magrib berjamaah. Aku semakin kagum dengan keluarga ini. Ingin rasanya suatu saat aku membawa suasana ini pada keluarga kecilku kelak.
Aku hanya berani berharap pada keadaan ini saja, bukan pada jodoh yang kuinginkan. Lagi-lagi perasaan takut dikecewakan, seolah mengambil andil terbesar dalam mempengaruhi pola pikirku saat ini. Aku ingin lebih berhati-hati lagi dalam menaruh hati.
Selesai sholat jamaah, kami makan malam bersama. Sedemikian hangat, sampai-sampai aku tidak merasa sebagai orang asing. Sesekali gurauan yang menyindir hubunganku dengan Hafiz dilontarkan, namun aku hanya menanggapi dengan serius. Aku tidak ingin terburu-buru untuk membuka hati, sekalipun pada Hafiz yang sudah kukenal dengan baik.
Pukul 19.15, aku berpamitan pulang. Kali ini Hafiz dan Lala yang mengantarkan ku pulang. Aku tidak berkeberatan dengan keberadaan Lala, hal itu akan membantu mengurangi rasa canggungku pada Hafiz. Entah kenapa semenjak pulang dari Surabaya, aku merasakan hal yang aneh pada Hafiz.
“Mbak De, kalau nanti udah nikah, kira-kira masih tetep mau kerja gak?”, Lala membuka percakapan
“Asal bisa bagi waktu aja sih. Aku pinginnya tetep kerja, tapi cari kerjaan yang lebih fleksibel gitu lah”, jawabku
“Bener juga sih ya. Ustadz Iqbal tadi juga bilang, selama komunikasi dengan suami aman, dalam ari mendapat ridho suami, para istri diperbolehkan untuk bekerja”, Lala menimpali
Hafiz sedari tadi hanya menjadi pendengar. Namun entah mengapa, seolah ini pertanyaan titipan. Iya titipan Hafiz yang sengaja dititipkan pada Lala. Semoga saja ini hanya dugaanku. Ah, sekarang aku jadi mudah GR.
Sesampainya di rumah, aku mempersilahkan mereka untuk masuk. Meskipun hanya sebentar dan hanya untuk berpamitan kepada orang tuaku. Mereka segera berpamitan untuk pulang. Aku menuju kamar dan segera membersihkan diriku. Setelah kegiatan di rumah Hafiz, sekalipun lebih banyak duduk, aku tetap merasa gerah.
Aku merenungkan kembali apa yang disampaikan oleh Ustadz Iqbal tadi. Tentang bagaimana harus berpasrah pada ketetapan takdir. Jodoh menjadi bagian dari takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Setiap jodoh yang dikirim kepada seseorang, merupakan perwujudan perilaku diri masing-masing.
Pria baik akan berjodoh dengan wanita baik, demikian pula sebaliknya. Jadi jika ingin mendapat jodoh yang baik, maka yang harus pertama kali dilakukan adalah membangun kepantasan menjadi diri yang lebi baik.
Setelah kucerna dengan mendalam, ternyata ada benarnya juga. Jika selama ini aku belum menemukan orang yang baik, itu artinya aku harus terlebih dahulu memperbaiki diriku. Tapi tetap saja terbesit keraguan dihatiku, seperti apakah jodoh yang telah dipersiapkan Tuhan untukku kelak?
__ADS_1
Dalam ceramah tadi juga disampaikan bahwa, terkadang beberapa orang akan mengalami patah hati berulang kali sebelum menemukan tambatan hatinya yang sejati. Bisa jadi itu bagian dari cara Tuhan untuk mendidik manusia, agar tidak bersifat sombong. Aku merenungi kembali betapa selama ini aku sangat keras kepala, memaksakan setiap keinginanku untuk bersama seseorang.
Pertama Pram, kedua Zaky dan semuanya berahir dengan luka. Bahkan kali ini aku bekum sepenuhnya sembuh dari luka keduaku. Setelah ini, apakah aku harus berhenti berpetualang? Memasrahkan jodohku pada takdir yang tak pernah ku tau bagaimana ujungnya.
Aku tiba-tiba kembali teringat pendaftaran program promosi jabatan yang tempo hari disampaikan Deby padaku. Kubuka email dan segera kuisi persyaratan yang ada di sana. Setelah terpenuhi, segera kukirim. Selanjutnya aku hanya tinggal menunggu persetujuan dari pihak holding. Karena program semacam ini sudah pasti banyak peminatnya.
Aku mengirimkan pesan kepada Deby, memastikan apakah dia juga mengambil program ini. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya aku mendapat jawaban dari Deby, dia mengikuti program ini juga. Aku bersyukur, jika kami nantinya sama-sama lolos, maka akan menjadi jalan yang baik bagi karir kami. Selain itu dengan adanya Deby bersamaku, aku tidak akan takut kesepian lagi.
Segera kututup laptop dan kembali aku merebahkan diri. Malam ini hatiku sudah setahap lebih tenang. Pengajian tadi ternyata memberikan banyak pengaruh untuk diriku. Lala tadi juga tidak sungkan untuk mengajakkau mengikuti acara pengajian rutin itu. Aku belum menyanggupi dengan alasan, kesibukan kerja. Padahal aku masih belum bisa menghilangkan rasa canggungku pada Hafiz, yang entah darimana datangnya.
Aku sudah bersiap untuk tidur, namun ponselku berbunyi. Sebuah pesan audio masuk, Hafiz mengirimkan sebuah lagu padaku. Tumben? Kali ini dia memiliki strategi baru dalam memberikan perhatian kepadaku. Semenjak aku menceritakan kegemaran ku mendengarkan lagu di radio, dia rupanya mulai tertarik untuk mengirimkan lagu padaku. Luar biasa, penuh perjuangan.
Aku jadi penasaran, lagu apa yang ia kirimkan sebagai pengantar tidurku kali ini.
Kita teman dekat
Sudah saling percaya
Cerita tentang kamu
Sudah menjadi makananku
Ribut lagi baik lagi
Kau menangis
Di pundakku
Di pelukanku
Maafkan aku jadi suka sama kamu
Awalnya curhat
Lama-lama kucemburu
__ADS_1
Maafkan aku yang mengharapkan cintamu
Bila belum saatnya kusabar menunggu
Bila masih bersama
kutunggu kau putus
Ku tunggu kau putus
Ku tunggu kau putus
Kau menangis
Di pundakku
Di pelukanku
Maafkan aku jadi suka sama kamu
Awalnya curhat
Lama-lama kucemburu
Maafkan aku yang mengharapkan cintamu
Bila belum saatnya kusabar menunggu
Bila masih bersama kutunggu kau putus
Ku tunggu kau putus
Kita teman tapi ku tunggu kau putus
Dari dulu ku tunggu kau putus
__ADS_1
Aku tersenyum simpul mendengarkan bait demi bait lagu ini. Ada perasaan geli juga. Namun jujur, aku bahagia. Perasaan yang sulit untuk kujelaskan saat ini. Tentunya hafiz, telah satu tahap memenangkan hatiku. Jadi selama ini dia menungguku putus?
Apakah Hafiz, lelaki yang dituliskan oleh takdir sebagai jodohku?