
ANGKA SAKRAL
Aku kembali pada rutinitas kantor, ada yang berbeda kali ini dengan ruanganku. Bukan hanya ruangan, jabatan baru sebagai manajer cabang berada di genggamanku. Terbayar sudah upaya yang selama ini kuusahakan. Momen manis yang kulewati sebelum berada pada posisi ini akan selalu kuingat, pengingat tentang kerja kerasku selama ini.
Sebuah notifikasi pesan masuk, Farhan.
Farhan : “ Nanti malam, aku jemput ya. Jasmine punya sesuatu untuk kamu”
Dea : “Dengan senang hati, sayang”
Panggilan baru untuk Farhan. Kami baru saja memutuskan untuk berkomitmen menjalani lebih dari sekedar jalan bersama. Semoga kali ini tidak salah dan tidak menentang takdirku. Kira-kira kejutan apa ya yang mereka siapkan untukku? Sebenarnya aku ingin melupakan hari ini, hari dimana aku akan menghadapi sebuah kenyataan pergeseran angka pada usiaku. Batas usia yang aku takutkan untuk kulewati dengan status lajang.
Menjadi lajang diusia matang, bukan pilihanku mungkin juga bagi beberapa orang di luaran sana. Namun tetap harus kusyukuri, kematangan dan kemapanan yang berjalan searah ini, membuatku sedikit terhibur. Hanya sedikit, karena kenyatannya aku memang terbebani ketika mengingat statusku saat ini.
****************************************************************************************
Begitu sampai dirumah, aku segera bersiap untuk acaraku hari ini dengan Farhan dan Jasmine. Tanpa kusadari, ternyata sedari tadi rumah dalam keadaan kosong, mungkin ayah dan ibuku sedang mencari angin segar di luar. Farhan menjemputku tepat waktu, kami berangkat. Akhirnya aku hanya berpamitan lewat pesan wa, karena saat kuteleponpun tidak mendapat jawaban.
Farhan ternyata membawaku ke rumahnya, aku menebak mungkin dia menyiapkan makan malam untuk kami bertiga. Sungguh kejutan ultah yang manis. Hanya saja aku berharap, dia tidak menyiapkan kue ulang tahun dengan dihias lilin yang menunjukkan angka kelahiranku. Sensitif aku melihatnya, membayangkan saja aku merasa tidak nyaman.
Farhan mengajakku masuk melalui pintu belakang, katanya dia juga ingin memberikan kejutan pada Jasmine. Akupun menurut. Farhan menggandeng tanganku untuk menuju pintu belakang rumahnya. Tentu saja, aku menuju dapur. Keadaan masih sepi. Aku melihat ke sekeliling, tidak ada tanda-tanda kejutan disini. Aku mengernyitkan dahi.
Lima menit kemudian, lampu padam. Aku seketika berteriak dan melompat kearah Farhan, dia menangkapku dalam pelukannya dengan sigap. Sungguh kaget setengah mati. Tak lama kemudian, lampu menyala dan…………..SURPRISE…..!!!!!????!!!!! !!!!!????
Ada kedua orang tuaku disana, lengkap dengan kedua kakakku bersama keponakan-keponakanku, Jasmine tentunya juga ada disitu. Semua memegang kado dan siap untuk dihadiahkan kepadaku. Satu persatu berhamburan memelukku dan mengucapkan selamat. Hingga tiba giliran Jasmine, gadis kecil ini berjalan menuju arahku sambil membawa kotak berukuran kecil.
“Jadilah Bundaku….” bisiknya, sambil memelukku dan menciumiku berulang kali
Aku seketika larut dalam rasa yang tak biasa. Meleleh cairan bening di mataku. Gadis kecil ini begitu menyayangiku. Ingin menjadikanku bagian terpenting dalam hidupnya. Begitu aku melepaskan pelukanku, Jasmine mengulurkan hadiahnya padaku. Farhan mendekat dan membuka kado itu. Sebuah kalung permata dan sebuah cincin manis.
__ADS_1
Terlebih dulu Farhan memakaikan cincin di jariku, kemudian membantu Jasmine memakaikan kalung di leherku. Kemudian membimbingku untuk berjalan mendekati kedua orang tuaku.
Permisi om dan tante juga kakak-kakak, saya ingin melamar secara resmi Dea untuk menjadi istri saya, menjadi bunda bagi Jasmine dan juga adik-adiknya kelak. Seketika air mata tak tertahankan begitu mendengar jawaban setuju dari keluarga besarku. Kami mendapatkan restu untuk dari keluarga, restu yang sesungguhnya.
Aku sangat bahagia malam ini, mungkin sangat-sangat bahagia. Bertubi-tubi kebahagiaan mendatangiku. Seolah aku lupa bahwa angka ini yang aku takutkan untuk kulalui dengan status lajang. Terima kasih semuanya. Kalian semua orang-orang yang menyayangiku. Kami menghabiskan malam ulang tahunku dengan penuh suka cita.
Angka 30, angka yang sakral bagiku. Angka yang kuhindari dan kutakuti. Sebenarnya aku berhadap tidak menemui angka ini dalam kondisi masih melajang. Takdir berkata lain. Nyatanya aku juga tidak kuasa melawan. Ternyata ini yang diinginkan oleh takdirku. Mempertemukanku dengan orang yang tepat, harus kubayar dengan angka ini. Apapun itu, aku menerima. Karena malam ini aku sangat bahagia.
Sepekan setelah acara lamaran itu………..
Hari ini aku sedang cuti, Aku dan Farhan ingin memberikan kejutan untuk Jasmine dengan menjemputnya ke sekolah dan mengajaknya untuk jalan-jalan. Hari ini ulang tahunnya.
Kami memutuskan untuk terlebih dahulu mampir ke toko kue dan toko mainan. Kado spesial ini akan kami berikan saat berada di taman bermain nanti. Aku dan Farhan saat ini sedang sibuk memilih baju cantik sebagai kado untuk Jasmine.
Tiba-tiba ada seseorang yang menabrakku dari samping, seketika aku menoleh. Seorang perempuan sedang hamil menabrakku dan segera meminta maaf. Tunggu dulu, sepertinya aku mengenali orang ini. Ternyata dia yang lebih dulu menyadari bahwa kami saling mengenal. Karina. Teman SMA ku dulu.
Karina :” Hai Dea…., inget aku donk yaaa”
Karina : “Baik donkkk. Anakku udah dua nih sekarang. Aku lagi sibuk buat nyiapin lahiran anakku yang ketiga. Oh ya Anak kamu udah berapa nih?
Dea :”Oh gitu, selamat yaaa”
Karina :” Eh belum jawab tuh. Udah berapa anak kamu??”
Dea :” Aku belum nikah, doain ya….”
Karina:” Hahhhh??? Jadi kamu belum nikah??
Farhan seketika ikut nimbrung. Melakukan pembelaan untukku. Farhan mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri sebagai calon suamiku dan berjanji akan mengirimkan undangan pernikahan kami. Segera. Rupaya Farhan menyadari, potensi konflik yang akan terjadi jika Karina terus memaksakan diri untuk memberondongku dengan pertanyaan.
__ADS_1
Aku terselamatkan dari Karina. Terima kasih Farhan, pahlawanku. Jujur saja aku terluka dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Karina tadi. Lama kami tak bertemu, sekalinya bertemu harus berakhir seperti tadi. Sungguh di sesalkan.
Aku berusaha mengembalikan moodku dan menyelesaikan misi memmeli kado dan kue untuk Jasmine. Setelah selesai, kami segera meluncur menuju sekolah Jasmine. Sepanjang perjalanan, Farhan hanya terdiam. Aku tahu, dia sedang berusaha menjaga perasaanku.
Akhirnya Farhan membuka percakapan, bahwa nanti di pintu gerbang sekolah Jasmine bisa dipastikan aka nada serangan mendadak dari sekelompok emak-emak rempong yang julid. Aku harus bersiap untuk itu. Farhan menceritakan, entah sejak kapan terbentuk komunitas emak-emak itu. Yang misi utamanya adalah memberikan komentar bagi siapapun wali murid yang datang menjemput anak-anaknya.
Begitu turun dari mobil, Farhan menggandeng tanganku. Aku sebenarnya agak risih. Tapi Farhan bilang itu wajib, sebagai langkah antisipasi. Selama ini orang mengetahui status Farhan sebagai duda mapan, namun lama tak mencari istri lagi. Pastinya kedatanganku akan mengundnag perhatian mereka. Benar saja. Pertunjukkan dimulai…….
Aku mendengar bisik-bisik, mungkin lebih tepatnya pergunjingan yang terdengar jelas. Karena ada beberapa yang dengan sengaja menaikkan volume suaranya, dengan tujuan agar kami bisa mendengar dengan jelas.
“Eh itu siapa tuh yang dateng sama di duren….?”
“Eh, ayahnya Jasmine bawa gandingan tuh…..”
“Oh…jadi ini ibu tirinya Jasmine…..
“janda juga kah?..
Jangan-jangan perawan tua…
Gelak tawa kemudian bergemuruh
Kami melenggang, melewati kerumunan itu. Farhan mempererat genggaman tangannya, seolah menunjukkan ingin melindungiku. Tak berapa lama, Jasmine muncul dan menghambur ke arahku.
“Bunda…..”
Seketika kerumunan emak-emak dengan suara dengungan tawon pun berkumandang.
“Oh…bener ibu tirinya
__ADS_1
“Ternyata istri baru P. Farhan…
Aku tersenyum dan meraih tangan Jasmine lalu menggandengnya menuju mobil. Kuputuskan tidak ambil pusing dengan suara-suara yang masih terdengar jelas di belakangku. Pertunjukkan yang sempurna. Terima kasih Jasmine. Terima kasih Farhan.