
Aku Yang Baru
Hari ini merupakan minggu terakhirku di Jogja. Hari-hari luar biasa yang telah kulalui dengan upaya yang juga tidak biasa. Aku menghabiskan hari-hariku dsini dengan kerja dan kerja. Deby yang juga mengikuti program ini, menjadi patner yang setia mendampingiku Langkah suskes yang kutempuh ini sungguh tidak mudah. Untungnya setiap akhir pekan, Hafiz dengan konsisten mengunjungiku.
Hafiz tidak pernah datang dengan tangan kosong, selalu membawa bingkisan buatan bundanya. Percayalah, aku seolah sudah menjadi bagian keluarganya. Sesekali dia juga mengajak Lala. Sepertinya aku akan sangat berhutang budi pada Hafiz dan juga keluarganya.
Pada minggu terakhir ini, aku sengaja meminta kakakku untuk menjemput . Pastinya aku juga tidak ingin merepotkan Hafiz. Selain itu, aku juga sudah rindu kepada keluargaku. Ah, terima kasih Jogja. Selama enam bulan ini, udara malam Jogja mampu melelapkan tidurku. Sinar Mentari yang menyinari langit-langit Jogja juga telah mampu menerobos relung-relung hatiku dan memberikan makna lebih. Mengeringkan luka-luka yang pada saat kedatanganku, masih basah.
Waktu dan jarak, kali ini mampu menjadi pengobat Lukaku sekaligus membentuk diriku yang baru. Aku mulai terbiasa dengan ritme kerja yang tinggi. Mengerahkan seluruh kemampuanku untuk hasil yang optimal. Selain itu, lebih sedikit watu yang kugunakan untuk mengingat hal yang tidak perlu. Termasuk hak-hal yang lebih banyak mengingatkanku akan masa lalu.
Sebuah pesan masuk di ponselku
Tika mengirimkan sebuah kartu undangan. Terus terang aku sedikit merasa kaget. Selama enam bulan di Jogja, aku memang hanya sesekali menghubunginya. Sekali lagi karena kesibukan.
Tika Anindita Prastiwi dengan Mahendra Eka Putra
Seketika mataku terbelalak. Hah? Bocil ini ternyata beneran ingin menikah muda. Dan tunggu …, dengan Hendra??
Wahh…wah…. Berita besar ini. Ternyata banyak hal yang kulewatkan selama aku berada di Jogja.
Segera kucari keberadaan Deby di kamar kos kami. Sedari tadi aku kebetulan memang sedang berada di teras untuk menikmati suasana malam. Ternyata Deby sedang tiduran di kamar. Segera saja aku mengambil posisi tiduran di sampingnya. Kutunjukkan foto yang dikirim Tika, eh tenryata Deby juga sudah mendapat gambar yang sama.
Aku turut bahagia dengan kabar yang kudengar, kuputuskan untuk melakukan panggilan video dengan Tika.
Beberapa menit kemudian…………….
__ADS_1
“Haiiiii …pencuri melati” aku spontan berteriak begitu melihat wajah imut Tika muncul di layar ponselku. Deby otomatis merangsek ke sebelahku, agar bisa ikut masuk ke dalam kamera video.
“Hai…..wkwkwwkkwkw”
“The power of mawar colongan donk……”Tika dengan penuh bangga
“Selamat yaaaa… semoga samawa….” Deby memberikan ucapan selamat sambil meluapkan kegembiraan dengan tawanya yang khas.
“Tapi dateng lo yaaa, kan udah pulang dari Jogja tuh kalo Minggu depan”, ujar Tika
“Passsti donk…., apa sih yang gak buak si cerewet Tika”, jawabku.
Kami mengurai tawa bersama, dan tidak terasa melakukan panggilan video sampai dengan sekitar hampir satu jam. Aku turut bahagia untuk Tika. Anehnya rasa nyeri yang biasanya merayapi hatiku ketika mendengar sebuah berita pernikahan, kali ini tidak muncul.
Timbul pikiran isengku, “melati curian”…………
He..he ee. Mungkin lain kali bisa dicoba
Hari berlalu dengan cepat, siang ini acara penutupan di Jogja dan nanti sore aku sudah bisa kembali ke rumahku. Aku bersyukur, Jogja telah memberikan banyak jalan dan kemudahan bagiku. Sekaligus cahaya baru untuk memulai langkahku yang baru. Semoga setelah ini, aka nada pintu takdir lain yang terbuka untuk jalan jodohku.
Sesuai dengan rencana, sore hari keluargaku yang menjemputku pulang dari Jogja. Sedangkan Deby dijemput oleh kakaknya. Aku dengan bantuan Mas Candra dan suami Mbak Bella mengangkat koper-koper bawaan dan oleh-oleh dari dalam kamarku. Begitu menuju mobil, ada yang aneh disana, karena bukan mobil Mas Candra maupun suami Mb Bella yang kutemukan.
Aku masih celingukan mencari-cari kendaraan yang akan kami tumpangi, namun Mas Fandy, suami Mb Bella berjalan menuju sebuah mobil putih yang terparkir sekitar 5 meter dari tempatku berdiri. Mobil baru pikirku. Tak lama Mb Bella turun dari mobil, yang membuatku yakin bahwa itu mobil barunya.
Belum terbayar keterkejutanku, ada seseorang yang keluar dari pintu kemudi. GIOVANI
__ADS_1
“Kejutaannnnn……”, Mb Bella membuka kedua tangannya namun melihat ke arah Gio.
Otomatis aku merasa malu setengan mati. Salah tingkah juga, begitu melihat Gio berjalan ke arahku sambil membawa seikat bunga. Apalagi disaksikan banyak orang di parkiran. Segera kuterima, namun segera kualihkan perhatianku pada Mb Bella. Kupeluk dan kucium kaka sulungku itu.
“Suka dengan kejutannya?”, Mb Bella kembali menggodaku
“Katanya gak bisa jemputtt…”, aku bersikap manja dan memeluk kembali kakakku itu.
“Gak mungkinlah Mbk gak jemput kesayangan ini,” Mb Bella melepaskan pelukanku dan mengajakku masuk ke mobil. Alhasil fromasi tempat duduk sepertinya juga disesuaikan. Aku tidak bisa berkutik selain menurut. Aku duduk di depan, sedangkan Mb Bella dan suaminya duduk di tengah, Mas Chandra memilih duduk di kursi belakang. Sudah bisa dipastikan, kemudi di pegang Gio. Akhirnya aku juga tahu kalau mobil mewah ini adalah miliknya.
Aku sedikit grogi dengan Gio. Bukan karena apa-apa. Mengingat kembali perlakukanku yang mungkin kurang menyenangkan padanya dalam beberapa kesempatan pertemuan kami. Aku masih ingat, mengabaikannnya saat berkunjung beberapa waktu lalu kerumah. Belum lagi, pada kesempatan even di Surabaya, aku bahkan tidak merespon pesannya dengan baik.
Ternyata hari ini melalui tangan Mb Bella pastinya, takdir mengantarkan Gio dan aku untuk kembali bertemu. Jujur aku juga merasa geli dengan perlakuannya, buket bunga masih kupegang, bukan apa-apa, semata aku merasa sayang kalau sampai bunganya layu atau rusak. Selain itu ini juga baru pertama kalinya seorang pria memberikan bunga kepadaku.
Kamipun meneruskan perjalanan. Beberapa menit dalam perjalanan, Gio memutar sebuah lagu untuk menemani perjalanan kami. Satu jam perjalanan, kami masih saling terdiam. Kulihat di belakang, kakak-kakakku ternyata juga tertidur. Sepertinya sengaja memberikan kesempatan kepada kami.
Sesekali kulirik Gio dari samping kemudi. Baru kali ini aku berkesempatan melihatnya dari dekat dan dengan cermat. Mata yang simpatik di bingkai alis yang tebal, memancarkan aura ketampanan. Hdung mancung dan bibir yang ideal, menambah kesempurnaan parasnya. Kulit wajah yang tergolong bersih untuk ukuran seorang lelaki, sekalipun belum bisa dikategorikan seglowing artis-artis korea. Tapi bagiku, ini sempurna.
Sekian menit aku terbuai dengan keindahan ciptaan tuhan di depan mataku. Aku tergagap, ketika ternyata Gio menyadari bahwa aku memperhatikannya dari tadi. Otomatis aku salah tingkah begitu Gio membuyarkan lamunanku dengan menawarkan minuman kepadaku. Aku menerimanya, lalu buru-buru meminumnya untuk mengalihkan rasa maluku.
Pipiku seketika merah, menahan malu. Tapi Gio hanya senyum-senyum saja. Rupanya dia juga tidak ingin membuatku terus merasa canggung, Gio mengalihkan perhatiannya pada musik yang sedang mengalun. Memberikan kode kepadaku untuk mengganti dengan lagu yang kuinginkan. Aku menggeleng, hingga akhirnya Gio yang mengambil peran.
Kali ini dia memilih lagu Yovie and Nuno, melamarmu….
Aku tersenyum. Mungkin ini sebuah kode. Mungkin juga ini hanyalah hayalanku saja. Tapi apapun itu, aku menikmatinya. Menikmati kebersamaanku saat ini dengan Gio.
__ADS_1
Masih terlalu dini untuk mendefinisikan rasa aneh ini. Namun apapun itu, aku tidak ingin terburu-buru. Akan kuberikan kesempatan pada hatiku untuk menikmati, sampai pada akhirnya mampu menerjemahkan dengan baik keinginannya. Rasa bahagia hari ini semoga menjadi awal yang baik. Aku pulang menuju rumah dengan bekal bahagia yang dikemas Mb Bella dalam bentuk Gio, yang mampu membuat hatiku kembali bergetar.