
KOMA
Zaky menjemputku tepat waktu, setelah berpamitan dengan orang tuaku kamipun berangkat. Pantai menjadi tempat yang aku tuju. Aku sengaja memilih tempat keramaian, meminimalkan terjadi pertengkaran yang membahayakan satu sama lain. Dua jam perjalanan, kamipun sampai.
Sebuah pesan masuk di ponselku. Hafiz
“Lusa ada even gabungan dengan tim dari divisi pengadaan, kamu mau ikuta atau aku berikan pada Deby?”
“Aku ambil. Tolong list yang harus aku siapkan di email. Akan aku persiapkan sebaik mungkin,” aku membalas pesan Hafiz kemudian menyimpan ponselku.
Kami mengambil tempat duduk agak jauh dari pantai, karena aku ingin tempat yang teduh. Jujur, aku merasa sayang jika matahari membakar kulitku. Kukenakan kacamata hitam. Ini akan menjadi aman, Ketika air mata harus membanjiri kelopak mataku. Aku benar-benar merasa sangat siap hari ini. Terbayang ayah dan ibuku, merekalah yang saat ini menjadi alasanku untuk tegar dengan apapun kondisiku saat ini.
Kulirik Zaky disebelahku, setelan kaos putih dan celana berbahan cargo Nampak serasi dibadannya. Ditambah kacamata hitam yang melindungi mata tajamnya semakin menambah kesempurnaan tampilannya. Kali ini aku kembali terpesona dengan Zaky, seolah baru pertama kali bertemu. Kubiarkan alunan rekaman memori tiga tahun lalu saat kami baru berkenalan kembali diputar oleh memori otakku.
Kami pertama kali bertemu saat aku menangani even di kantornya. Saat itu aku masih menjadi staff yang mengurusi persiapan even. Tanpa sengaja pada saat sedang sibuk menata layout, aku terpeleset dan terjatuh. Saat itu aku pingsan dan dibawa ke salah satu ruangan di kantor Zaky. Disanalah kami berkenalan. Saat itu, Zaky juga sudah menduduki posisi yang saat ini dia emban atas perintah ayahnya.
Kenangan manis itu masih terekam jelas di memoriku. Awalnya Zaky bersikap dingin, namun begitu mengetahui aku pingsan, perasaan bersalah muncul dibenaknya. Dia dengan sikap tanggung jawabnya mengantarkanku pulang. Sungguh Zaky-ku yang manis.
Aku tiba-tiba tersadar dari lamunanku. Entah berapa lama aku terbuai dengan kenangan masa lalu kami itu. Zaky sedari tadi juga masih membisu. Aku berinisiatif membuka percakapan.
“Kemarin aku bertemu Bunda Fatma”, aku membuka percakapan
“Maafkan aku, kamu harus mendengarnya dari orang lain. Selama ini berat bagiku untuk menjelaskannya padamu”, Zaky berkata sambil menunduk. Aku kesulitan membaca ekspresi wajahnya, karena matanya tertutup kacamata hitam.
Kami berdua kembali terdiam beberapa saat. Seolah sama-sama sedang menata hati untuk perkataan selanjutnya. Sampai akhirnya, Zaky kembali melanjutkan pembicaraan. Kali ini aku seolah tidak mengenali sosok yang sudah mendampingiku selama tiga tahun ini. Dia berbicara dengan gaya bicara yang lirih dan seolah sudah putus asa.
Zaky menjelaskan panjang lebar mengenai hubungan kami kedepan. Konsekuensi yang harus kami jalani ketika kami terus bersama. Saat ini yang ia rasakan hanya ingin membahagiakan aku, sekalipun tidak tahu caranya. Ternyata jauh disudut hatinya dia juga takut mengukang kisah yang sama dengan yang dialami kedua orang tuanya. Namun dia tetap menyampaikan keinginannya yang kuat untuk kami tetap bersama-sama.
Aku hanya mendengarkan seksama, tanpa menjawab. Sampai akhirnya, Zaky menyodorkan tawaran yang mencengangkan padaku.
__ADS_1
“Kita tetap nikah, restu Bunda sudah lebih dari cukup bagiku. Lagipula keluarga kamu juga gak akan keberatan kan? Bartert yang kulakukan dengan ayah beberapa waktu lalu, masih berlaku. Kita bisa menikah segera,” kali ini Zaky melepas kacamatanya.
Aku menghela nafa panjang. Kukumpulkan keberanian di dalam diriku. Aku menolak tawaran Zaky. Aku mengharapkan restu kedua orang tua kami, ayah bundanya juga ayah dan ibuku. Sekalipun aku belum pernah mendapat penolakan tentang hubungan kami, aku tetap merasa perlu meminta izin kepada orang tuaku. Sedangkan dari pihak Zaky, sudah harga mati. Keluarga besar ayahnya tidak menghendaki kami bersama. Alasan klise, derajat sosial.
Akhirnya aku memahami, kenapa sejauh ini Zaky tidak pernah membahas pernikahan denganku. Alasan penolakan inilah yang ia takutkan akan menyakitiku. Iya aku benar-benar tersinggung. Sekalipun penolakan tidak pernah kudengar langsung, namun sikap P.Suryo selama ini padaku, terlebih respon tantenya Zaky padaku, sudah cukup menjadi sebuah jawaban. Mungkin benar, aku yang hanya berasal dari keluarga anak seorang pensiunan karyawan swasta dan masih bekerja sebagai karyawan pada sebuah perusahaan swasta ini tidak sebanding dengan Zaky. Keluarganya merupakan pemilih salah satu perusahaan property terkenal di kota kami. Ironisnya itulah yang membuat restu mereka tidak diberikan kepada orang tua Zaky dulu dan kami saat ini.
“Sepertinya kita harus berhenti sampai disini. Semakin lama, ini hanya akan saling menyakiti satu sama lain,” aku menjawab lirih.
Zaky menoleh ke arahku dan memegang tanganku.
“Kamu menyerah?”, Zaky bertanya penuh harap
“Bukan menyerah, tapi menghentikan langkah karena memang hanya sampai disiini tujuan yang bisa kita raih,” aku mengalihkan pandanganku pada laut yang luas. Semoga debur ombak yang sedemikian kuat, mampu membawa pergi luka yang dari tadi tertahan di dadaku.
“Cukup. Sekarang dengarkan aku. Aku dan Kamu, saat ini kita sedang menjadi sepasang orang yang egois. Bagaimanapun juga beliau ayahmu. Aku tidak ingin mendirikan bangunan rumah tangga dengan hanya setengah restu dari orang tuamu. Aku sudah merelakan hubungan kita. Kamu seharusnya juga bisa. Karena ini hanya akan saling menyakiti satu sama lain,” kali ini pertahananku yang ambruk. Mendung di kelopak mataku.
“Bahagiaku hanya dengan kamu De…,” Zaky kembali memohon
Sejujurnya aku ingin sekali menerima ajakan Zaky. Menikah. Namun sisi lain diriku menolak. Aku tidak membayangkan bagaimana hubungan kami kedepan, jika restu dari ayahnya belum juga turun. Seumur hidup kami hanya akan dibayangi oleh perasaaan tidak nyaman. Aku tidak sanggup untuk itu.
Lama kami terdiam satu sama lain. Kali ini suara deburan ombak terdengar sedemikian jelas ditelinga. Hembusan angin pantai yang biasanya terasa sejuk, kali ini memberikan efek berbeda, terasa panas dan menyesakkan dada. Sekuat tenaga aku menahan tangisku. Karena aku tida ingin mundur lagi. Kali ini aku harus mengambil keputusan berat ini.
Hari mulai senja, kulihat Zaky masih terdiam sambil sesekali menarik nafas panjang. Ini merupakan keputusan yang berat bagi kami berdua. Kuakui Zaky masih sangat ingin mempertahankan hubungan kami. Sedangkan aku? Bukannya aku ingin menjadi pengecut, tapi aku hanya ingin menjadi seseorang yang realistis. Kebahagiaan yang semu, bukanlah kebahagiaan yang kutuju. Dan Masa depan hubungan yang tidak jelas semacam ini, hanya menjanjikan kebahagiaan semu.
Akhirnya kami memutuskan pulang. Hari sudah gelap, sebentar lagi malam akan datang. Gelap, seperti suasana hatiku saat ini. Sekuat apapun persiapanku sebelum berangkat, toh ambruk juga. Kunikmati menit-menit terakhir kebersamaanku dengan Zaky. Meskipun sama-sama terdiam, aku tahu dia juga memikirkanku.
__ADS_1
Zaky menjalankan kembali mobilnya, aku menurut. Sepanjang perjalanan kami terdiam, sampai akhirnya Zaky menepikan mobilnya pada sebuah rumah makan. Tempat ini merupakan langganan kami. Disinilah dulu Zaky menyatakan cintanya padaku. Kali ini dia mengajakku kembali kesini. Sungguh ini hal yang tidak kuduga. Mungkin dia ingin mengubah pendiriankau. Aku harus bertahan, Kamu bisa Dea !!!!!
Makan malam yang istimewa, Zaky memesan makanan favorit kami. Tanpa banyak bertanya aku menghabiskan makanku. Setelah itu aku pamit ke toilet, sekedar untuk memperbaiki make up ku. Sekaligus mengulur waktu dan menenangkan hati, seandainya kali ini Zaky masih berkeras hati.
Sesampainya di toilet, kuperhatikan cincin pemberian Zaky. Mungkin ini saat yang tepat untuk mengembalikannya. Aku tidak ingin terbebani dengan hal ini. Iya…semua tentang Zaky harus kurelakan satu persatu. Termasuk benda yang akan membuatku teringat padanya.
Aku kembali ke meja makan, Zaky masih menunggu disana. Kali ini aku datang dengan wajah yang lebih fresh. Zaky juga nampak sudah lebih tenang daripada tadi saat dipantai.
Kali ini Zaky menyodorkan sebuah kotak padaku. Aku membukanya. Sebuah gelang. Bentuknya minimalis, tapi aku tahu ini bukan gelang biasa. Lingkar putihnya terbuat dari emas putih dan permata di bagian matanya, astaga ini berlian.
Aku menyodorkan kembali. Bagiku itu terlalu mahal untuk sebuah hadiah perpisahan. Tapi Zaky memaksakan untuk memakaikan pada tangan kananku.
“Ini bukan tanda perpisahan, tapi ini yang sebenarnya ingin aku berikan padamu sewaktu acara pernikahan ayahku. Tolong jangan menolak”, ujar Zaky sambil mengancingkan kait gelang ditanganku.
Padahal aku baru saja ingin mengembalikan cincin pemberiannya. Kalau begini caranya, ini akan semakin mempersulitku untuk melupakannya. Tapi untuk menolaknya, aku juga tak sanggup. Jauh direlung hatiku yang terdalam, aku berharap suatu saat arah takdirku berubah. Seandainya bisa.
Malam ini kami sengaja menghabiskan waktu berdua, mengunjungi tempat-tempat yang biasa menjadi saksi kebersamaan kami. Sampai waktu menunjukkan pukul 22.15, Zaky mengantarkanku pulang.Suasana kembali hening di dalam mobil.
“Setelah ini, kita tidak perlu menghubungi satu sama lain. Aku percaya, jika Tuhan menjodohkan kita, suatu saat kita kan dipertemukan kembali. Setelah ini, aku akan mengambil pekerjaan di Jogja, enam bulan lamanya. Tolong jangan mencari atau menghubungiku”, aku mengucapkan kata perpisahan begitu sampai di depan rumah.
Zaky tida menjawab, Tidak mengiyakan ataupun menolak ucapanku. Dia mengecup keningku, cukup lama. Ada butiran hangat megalir dari kedua matanya membasahi keningku. Kubiarkan untuk beberapa waktu kejadian itu berlangsung. Salam perpisahan memang sedemikian memilukan.
Akhirnya aku masuk ke rumah, langsung menuju kamarku. Begitu sudah berada di kamar, kurebahkan tubuhku. Aku menangis, kali ini tanpa suara, meskpipun air mata mengalir sedemikian deras. Sekali lagi aku kalah. Takdir yang kulawan selama tiga tahun ini telah mengalahkanku. Kembali aku menangis.
Impian menikah dengan pasangan yang kucintai, sirna. Saat ini yag tertinggal disini hanya aku seorang diri. Aku yang telah dikalahkan oleh takdirku. Kenapa harus sesakit ini untuk bisa menempuh jalan bahagia. Berkali-kali aku jatuh dan tersakiti. Takdir membawaku pada keadaan jatuh bangun berkali-kali, entah kapan takdir akan berpihak padaku.
Aku menangis…..dan terlelap dalam keadaaan menangis. Semoga tangis ini yang terakir. Setelah ini, aku memilih untuk menyerah pada takdir. Menyerah pada apa yang telah digariskan takdir. Apapun itu. Karena sepertinya hatiku sudah cukup lelah untuk kembali menangis.
Aku berharap esok saat terbangun, jika memang masih bisa dibangunkan kembali, aku ingin dibangunkan dalam keadaan lupa. Lupa akan segala sesuatunya. Lupa rasa cintaku pada Zaky. Lupa pada keinginanku menikah sebelum usia 30 tahun. Lupa akan rasa sakit yang bertubu-tubi kualami.
__ADS_1
Aku memang telah mengutarakan kata pisah pada Zaky. Sekalipun satu sama lain masih saling berharap untuk bisa bersama suatu saat kelak. Tapi rasanya mustahil. Bagiku pertemuan malam ini adalah perpisahan bagi kami. Sekalipun Zaky berkali-kali menolaknya. Tapi inilah kenyataanya. Hubungan kami kalah oleh takdir. Sekalipun ibarat sebuah kalimatbaku berharap ini masih koma, bukan titik. Yang suatu saat akan bisa kami lanjutkan kembali……