
KEJUTAN DARI PINTU MASA LALU
Malam ini, aku akan memenuhi undangan Gio. Kuberanikan diri untuk meminta ijin kepada Hafiz. Toh Hafiz juga tidak tau mengenai Gio. Aku akan memperkenalkannya sebagai teman mb Bella. Oh tidak-tidak, mungkin sebaiknya aku tidak perlu ijin kepada Hafiz.
Sebuah dering pesan masuk mengangetkanku. Hafiz. Panjang umur rupanya dia. Aku jadi gamang, jangan-jangan dia mengetahui rencana makan malamku dengan Gio. Ah, apa sebaiknya aku jujur saja.
“Nanti malam aku nganter berkas-berkas pernikahan Lala kerumah Iqbal, yang kemarin masih kurang. Kamu ati2 dirumah ya”
Duh…hampir saja. Aku sudah berpikir akan ketahuan. Sedikit ada perasaan bersalah menggelayuti hatiku. Tapi sekali lagi, aku tidak sedang berselingkuh. Hanya makan malam. Titik.
Gio menjemputku di rumah. Sesuai dengan janjinya, dia menjemputku jam 5 sore. Kami berangkat menuju butik yang ternyata letaknya lumayan cukup jauh, memakan waktu sekitar 30 menit. Kurasa alasan yang tepat Gio menjemputku lebih awal, karena nantinya kau pasti akan membutuhkan waktu untuk memilih baju yang sesuai.
Akhirnya kamipun sampai. Sebuah butik yang terlihat cukup besar, kalau melihat dari tampilannya sepertinya ini butik kelas menengah ke atas. Segera aku membuka m-bangking untuk memastikan saldo rekeningku. Memastikan berapa angka aman untuk membeli baju di butik ini.
Syukurlah… 8 digit masih tersisa disana. Setidaknya aku akan lebih leluasa untuk memilih sesuai dengan keinginanku.
Seorang pegawai butik menyambut kedatangan kami dengan ramah.
“Tuan Gio dan Nona, selamat datang…”
Aku tersenyum mendengar sapaannya, kamipun melangkah masuk. Rupaya Gio sudah dikenal dengan baik disini. Aku segera mengikuti langkah Gio.
“Dresscode seperti apa”? tanyaku
“Em…biar dibantu sama mbaknya ya” Gio menjawab dengan manis. Kemudian Gio memberikan beberapa arahan kepada salah satu pegawai. Tidak berapa lama kemudian, pegawai itu mengeluarkan sepasang pakaian.
__ADS_1
Gio menerima satu dan satunya lagi diserahkan kepadaku. Aku menjadi heran. Siapa yang menyiapkan ini semua? Dari mana Gio mengetahui ukuran bajuku? Masih dengan keheranan, aku melangkah menuju fitting room.
Gaun yang luar biasa indah bagiku. Simpel namun memiliki aura yang luar biasa. Warna dasar peach dilengkapi dengan hiasan minimanis di bagian dada, nampak manis. Rasanya mustahil bisa sedemikan pas dibadanku, jika sebelumnya Gio tidak pernah mengetahui keseharanku. Aneh bagiku.
Segera aku melangkah keluar, di sudut ruangan kulihat Gio yang nampak luar biasa keren dengan stelan tuxedonya. Dia memberikan tanda OK, dengan jemarinya. Aku menjadi tersipu. Istimewa sekali tampilan kami hari ini. Aku duduk di sebelah Gio, belum habis rasa penasaranku, Gio kembali menyerahkan sesuatu kepadaku. Sepasang sepatu cantik untuk menyempurnakan tampilanku.
“Bocoran dari siapa nih? Kok bisa ukuran baju dan sepatu bisa pas gini?”, tanyaku begitu selesai mengenakan sepatu.
“Ada deh….”, Gio tersenyum manis. Melambaikan tangan kepada pegawai yang membantu mengemas pakaian yang tadi kukenakan. Segera kuraih dan kusampaikan terima kasih.
“Ini hadiah pertemuan kita, karena kamu sudah bersedia makan malam denganku” Gio membisikkan sesuatu begitu mengetahui gelagatku yang mencoba mengeluarkan kartu dari dalam dompet.
“Tapi ini terlalu mahal…”jawabku.
“Semahal waktu dan kesempatan yang kamu berikan untukku”, jawab Gio.
Aku berjalan di samping Gio, kepercayaan diriku seolah bertambah dua tingkat dengan tampilan ini. Sedangkan berjalan di samping Gio, naik lagi tiga tingkat. Sungguh luar biasa. Maafkan aku Hafiz, aku tidak sedang mendua. Hanya mencoba menikmati sebuah peran istimewa yang disiapkan oleh Gio. Kami berjalan menuju lift yang akan mengantarkan kami menuju lokasi makan malam.
Begitu pintu lift tertutup, sekian cm aku melihat sosok itu lagi. Hanya sekilas, namun aku yakin dengan jelas. Itu dia, yang sudah dua kali kujumpai di jalan kemarin. Rambut berhighlight blonde itu. Aku berusaha mengendalikan kepanikanku. Sebuah firasat kurang enak tiba-tiba datang menghinggapiku. Kucoba untuk tetap tenang.
Akhirnya kami sampai di tempat makan malam. Sepertinya ini makan malam yang spesial. Jika melihat luasnya tempat, kukira akan hadir banyak tamu, namun dari kursi yang disiapkan, hanya berjumlah 8 orang saja. Kira-kira siapa yang akan datang kali ini. Pikiranku masih tertuju pada sosok yang kulihat di lift tadi. Seolah aku mengenal dengan baik sosok itu. Tapi kurasa tak mungkin.
Gio mempersilahkanku duduk. Tak berapa lama kursi yang lain pun terisi. Tersisa 2 kursi yang masih kosong. Rupanya ada yang datang terlambat. Kusempatkan melihat ke sekeliling, ternyata yang hadir keseluruhan merupakan eksekutif muda yang menggandeng pasangan masing-masing. Pantas saja Gio mengajakku kali ini. Tadi Gio sempat menjelaskan bahwa ini adalah bagian formalitas saja, namun tidak bisa diabaikan.
Akan ada sebuah Kerjasama lintas perusahaan untuk pembangunan sebuah Kawasan industri yang cukup besar, dimana didalamnya melibatkan para pengusaha hebat dan tentunya perbankan swasta sebagai penunjangnya. Sudah bisa di tebak, Gio hadir untuk mewakili perusahaannya.
__ADS_1
“Rupanya sudah hadir semua, mohon maaf atas keterlambatan kami”, suara perempuan dari arah pintu masuk. Semua yang hadir menoleh dan berdiri untuk memberikan penghormatan. Demikian pula aku.
Perempuan cantik dengan tubuh proporsional dan tampilan memukau melangkah anggun menuju meja kami. Mungkinkah dia investor dengan andil terbesar, sehingga seluruh yang hadir terlihat dangat menghomatinya.
Ternyata pertunjukkan baru dimulai. Bukan perempuan ini yang mendapat tepuk tangan kehormatan, karena ternyata dia hanya sekretaris dari pimpinan yang berjalan di belakangnya. Sosok itu. Aku gemetaran menatapnya. Ternyata benar dia yang beberapa waktu ini kulihat, termasuk pada saat tadi aku berada di lift.
ZAKY
Mungkin jika saat ini aku tidak sedang menjalankan peran sebagai pasangan Gio, aku memilih untuk melarikan diri.Seseorang yang telah susah payah kubuang dari hidupku, kini muncul dengan tampilan baru. Zaky telah banyak berubah, kalau dulu lebih suka tampil casual, Zaky yang kulihat saat ini menjadi sosok yang lain.
Setelan jas rapi melengkapi penampilannya. Gaya rambutnya pun berubah drastis. Mantanku ini menjelma bak oppa-oppa korea yang menawan. Belum lagi wajahnya yang kini terlihat bersih dan memancarkan aura yang pastinya menggiring hasrat para wanita.
Aku berusaha mengendalikan diri. Gio tentu tidak boleh tau tentang masa laluku dengan Zaky. Rasa-rasanya aku kuwalat pada Hafiz. Nekat pergi dengan Gio tanpa meminta ijinnya, inilah akibatnya.
Apalagi yang akan menimpaku kali ini. Seseorang dari masa lalu, yang sebenarnya sudah kupilah untuk tidak muncul lagi di hadapanku, justru kini terpampang nyata di hadapanku. Kuangkat daguku, untuk mengembalikan kepercayaan diriku. Karena sejak kedatangan Zaky, aku lebih banyak menunduk.
Kenyataan macam apa ini. Takdir apalagi yang dirancang Tuhan untukku. Disaat aku susah payah hampir berhasil menata hidupku kembali dengan orang yang baru, takdir justru membawakan kembali Zaky padaku.
Namun kali ini ada yang berbeda, sepanjang acara makan malam, aku sama sekali tidak melihat Zaky melirik ke arahku. Seolah tidak saling mengenal. Sedangkan aku? Daritadi justru salah tingkah dan sibuk mencuri pandang dengan kehadiran Zaky. Untung saja Gio tidak menyadari, karena sibuk berbincang dengan rekan kerjanya yang lain.
Waktu berlalu dengan cepat, acara makan malampun selesai. Semua yang hadir saling bersalaman dan bersiapn untuk pulang. Bagaimana kali ini denganku? Apakah Zaky akan bersikap biasa saja? Atau justru akan terjadi sesuatu yang buruk di ruangan ini.
Benar saja, tiba giliran Gio untuk bersalaman dengan Zaky. Aku mengikuti di belakangnya. Kukumpulkan keberanianku untuk menatap Zaky. Begitu Zaky mengulurkan tangan, kusambut dengan sedikit gemetar. Rona ketidaknyamanan jelas terpancar dari wajahku. Aku hanya tidak ingin Gio mengetahui hal ini.
Diluar dugaan, Zaky bersikap professional seolah tidak mengenalku. Selesai bersalaman dia langsung pergi diiringi oleh sekretaris cantiknya. Aku manarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan diriku. Gio mengajakku untuk pulang. Aku tidak bersuara, hanya menurut dan segera masuk ke mobil.
__ADS_1
Otakku seketika beku, dipenuhi adegan pertemuan dengan Zaky. Tidak mungkin ini sebuah kebetulan. Jelas-jelas beberapa kali aku melihatnya. Tapi apa yang terjadi dengan dia? Sikap dingin itu? Mungkinkah dia sudah melupakanku?