
MENIKMATI SAJIAN TAKDIR
Hari ini aku bersiap untuk menghadiri resepsi pernikahan sahabatku, Deby. Semenjak kepergian Hafiz, aku lebih nyaman untuk pergi kemanapun sendirian. Begitu pula dengan hari ini, sama sekali aku tidak canggung. Resepsi rencananya akan dilaksanakan di sebuah Gedung yang letaknya lumayan jauh. Sebenarnya kedua orang tuaku diundang, namun karena hari ini ayah kurang sehat, ibu menemaninya dan akupun berangkat sendiri.
Deby sangat menjaga perasaanku. Jika saja Hafiz saat ini masih hidup, pasti kami berdua akan berada pada jajaran pendamping pengantin. Namun dengan berbesar hati, Deby meniadakan pendamping pengantin. Demikianlah sahabatku ini sangat menjaga perasaanku.
Aku sudah selesai bersiap, segera aku masuk ke mobil baruku. Dengan penuh percaya diri aku berangkat. Kulirik bingkisan kado berukuran sedang yang kulilit pita berwarna ungu, warna kesukaan Deby. Semoga dia menyukai kado ini. Sempat terlintas dipikiranku, malas bertemu dengan Tama, khawatir dia masih mempermasalahkan kejadian waktu itu. Beberapa minggu setelah kepergian Hafiz, Tama sempat mengajakkau untuk menikah dan berniat meninggalkan Deby. Kurasa sebuah tamparan keras yang kuarahkan dipipinya cukup menjadi pelajaran, karena semenjak kejadian itu dia tidak lagi menggangguku.
Perjalanan 30 menit berlalu, aku sampai di Gedung resepsi pernikahan Deby dan Tama dilangsungkan. Ada getaran hebat di dadaku begitu aku berjalan mendekati tempat dimana kedua mempelai beserta orang tua masing-masing berdiri dengan penuh kebahagiaan. Seolah-olah seluruh dekorasi ruangan ini juga turut mengejekku. Aku harus kuat, demi Deby. Sahabat baikku itu sedang berbahagia dan aku harus disana untukknya. Aku melangkah mantap.
Eh, sepertinya ada yang menginjak ujung gaunku, untung aku segera menyadari dan menoleh, jika tidak pasti gaunku sudah sobek. Tidak boleh ada insiden di acara bahagia ini.
“Mas Farhan??”, aku terkejut dengan sosok yang menginjak ujung gaunku itu. Marahku berganti dengan simpati.
“Dea.., aduh maaf ya. Aku benar-benar gak sengaja”, ujar Farhan lalu menyodorkan tangan padaku dan akupun menyambutnya.
Ternyata Farhan adalah pimpinan di mana Tama bekerja. Kenapa bisa ada kebetulan yang sedemikian rupa ya? Permianan takdir memang selalu luar biasa. Naik turun bagai roller coaster. Sosok tampan dan berwibawa ini menyihir perhatianku. Kalau beberapa waktu lalu aku melihatnya dalam tampilan cool dan keren, kali ini tebih keren lagi levelnya. Setelan jasnya nampak begitu pas ditubuh atletisnya.
Mungkin benar kata orang, duda keren lebih menggoda daripada pria lajang yang sederhana. Rupayan isi otakku sudah terkontaminasi oleh pemandangan Farhan. Seketika aku kembali pada kesadaranku dan menerima ajakan Farhan untuk berjlaan bersama menemui kedua mempelai. Berjalan semacam ini menambah kepercayaan dalam diriku.
Begitu mendekati mempelai, aku menangkap mata Tama yang nampak terkejut dibalut ketidaksukaan. Sebaliknya, Deby menunjukkan ekspresi bahagia yang luar biasa. Aku memeluk sahabatku ini dan memberikan ucapan selamat padanya. Deby menyelipkan sebuah bungkusan di dalam tas kecilku dan berbisik
“melatinya akan segera bekerja, jadi gak usah dicuri tapi aku masukin ke tas ya mbak…”
__ADS_1
Aku mencubitnya manja…
Mitos mencuri pengantin ini, kukira tak akan bekerja padaku. Tak apalah, aku anggap ini tanda sayang Deby padaku. Setelah berfoto bersama dan menikmati hidangan, akupun berpamitan pulang. Tanpa aku sadari, Farhan mengikuti langkahku menuju parkiran, aku berbalik dan sengaja menunggunya. Kali ini kami berjalan berdampingan. Aura tampan ini sungguh memikat, ditambah wangi khas yang menjadi stimulus setiap hidung untuk mendekat.
Begitu memasuki parkiran, aku melihat sebuah mobil mewah terparkir berjarak satu mobil dari mobilku. Tentunya pemilik bukanlah orang biasa, ada supir yang sedari tadi sudah disana. Seandainya……
“kamu bawa mobil sendiri?”, Farhan bertanya padaku begitu aku mengeluarkan kunci mobil. Aku menjawab dengan anggukan.
“Sebagai permintaan maafku, telah menginjak ujung gaun cantikmu, bisakah kita sekedar ngobrol untuk sore yang cerah ini”, tawaran manis meluncur dari bibir Farhan.
Sebenarnya aku ingin langsung menerima, namun urat gengsiku masih cukup kuat. Aku memberikan gestur ragu-ragu, kemudian melirik arloji di tangan kiriku.
“Dua jam saja, I’m promise”, ucap Farhan mengatupkan kedua tangannya. Aura manis dan memikat terpancar jelas disana.
Mimpi apa aku semalam. Pangeran tampan ini muncul dengan begitu ajaibnya. Interior mobil mewah dan bau yang harum memikat, memberikan kenyamanan padaku. Rasa gugup tiba-tiba menyerangku begitu Farhan mulai membuka obrolan, sekalipun itu obrolan ringan. Dia menanyakan warna kesukaanku. Tentu saja aku yang tidak memiliki spesifik kesukaan warna, menjawab sekenanya. Kunyatakan aku menyukai warna apapun, asal terlihat cantik dilihat.
Farhan memarkirkan mobilnya, ternyata dia mengajakku ke sebuah butik. Aku menjadi penasaran, menatap wajah tampannya dengan menyimpan pertanyaan. Aku ragu untuk turun.
“Sebuah permintaan maaf, untuk gaun yang tadi kuinjak tanpa sengaja”, Farhan menjawab isyarat pertanyaanku dan mempersilahkanku untuk turun. Kali ini aku seolah mendapat jackpot. Hanya karena ujung baju terinjak duda tampan ini, aku mendapat ganti baju keluaran butik mahal ini????
Mungkin ini rejeki, aku tidak menolak dan mengikuti langkah Farhan. Tapi aku tidak ingin buru-buru dan meninggalkan kesan buruk di depan Farhan. Bisa jadi dia hanya bermaksud mengetahui sifat asliku. Tapi untuk apa? Entahlah, aku sudah berada di dalam butik mewah itu. Seumur hidup baru kali ini aku memasuki butik ini. Merk terkenal dengan kualitas yang tida diragukan lagi ini, menjadi andalan para pecinta fashion kelas atas. Rupayan duda keren ini memiliki selera yang berkelas juga.
Farhan menolak dengan halus tawaran bantuan dari salah satu pegawai yang ada disana, dia memilih sendiri baju yang menurutnya cocok untukku. Sudah tiga buah baju yang ditawarkan kepadaku, aku meresponnya dengan senyuman. Tentunya aku tidak ingin gegabah, apalagi memberikan kesan matre padanya. Sebenarnya dari ketiga baju itu, aku paling suka yang berwarna merah marun, tapi dua baju yang lain juga bagus.
__ADS_1
Begitu Farhan sibuk memilih, aku secepat kilat meraih bandrol harga baju itu. Hahhhh!!! Panas dingin seketika keningku, 8 digit untuk selembar baju??? Aku menelan ludah dengan kasar dan berusaha menenangkan diriku. Farhan menoleh, dengan pilihan baju keempat dan menyerahkannya kepadaku. Kembali aku tersenyum, kali ini Farhan memberikan kode kepada pegawai toko untuk membantuku mencoba baju-baju itu.
Terlintas sebuah kenangan dibenakku. Perlakuan semacam ini pernah kuterima dari para pria yang sempat mengisi hari-hariku, seolah ini dejavu. Namun aku berharap kali ini tidak berahir sama, atau mungkin aku lebih baik menahan diriku untuk tidak berharap.
Satu persatu kucoba baju itu dan kutunjukkan pada Farhan. Anehnya untuk ukuran orang asing, aku merasa biasa saja menunjukkan adegan semacam itu kepada Farhan. Selesai mencobanya, aku kembali berganti pakaianku kembal. Setelah keluar dari kamar ganti, aku berjalan menuju sofa dimana Farhan duduk disana. Ada empat buah tas belanja dengan merk butik di sampingnya. Aku sedikit ragu, dia membeli keempatnya????
Satu gaun saja mengharuskanku menabung 2 bulan gaji, ini 4 baju???
Aku ragu-ragu menatapnya, tapi Farhan membalasnya dengan senyuman. Dia membantuku membawa tas-tas itu menuju mobil, aku masih membisu. Farhan mengarahkan mobilnya menuju salah satu tempat ngopi, jaraknya hanya sekitar 15 menit dari butik tadi.
Setelah seslesai memesan menu, aku memberanikan diri untuk bertanya.
Dea : ”Emh…kayaknya terlalu berlebihan apa yang tadi Mas Farhan belikan untukku, aku jadi sangat sungkan”
Farhan : “ Tentu saja tidak. Satu baju sebagai permintaan maafku, satu lagi untuk ucapan terima kasihku atas peristiwa yang lalu saat akmu menolong Jasmine. Satu baju hadiah telah menemaniku menghadiri resepsi, dan satu lagi sebagai tanda pertemanan kita”
Aku masih melongo mendengar penjelasannya, sebanyak itu????Dermawan atau sedang hilang ingantankah duda tampan ini. Menghujaniku dengan hadiah, bahkan hanya dalam dua kali pertemuan saja??
Tentu saja aku berusaha menolak dengan halus, bagaimanapun juga hadiah semahal itu tentunya bukan hal yang umum untuk ukuran seorang awan baru. Tapi lagi-lagi Farhan memaksa, jika aku tidak menerima pemberiannya dia menganggap aku tidak mau berkawan deengannya. Tentu saja aku tidak begitu.
Akhirnya aku bersedia menerima hadiah mewah itu. Tentunya dengan hati yang gembira sekaligus curiga. Semoga saja pria ini tidak memiliki maksud lain. Semoga saja. Aku meminum greentea yang tadi kupesan, sedangkan Farhan rupanya sedang sibuk menghubungi seseorang. Aku mencoba menghormati privasinya dengan melihat kearah yang lain.
Ternyata dia sedang melakukan panggilan video dengan Jasmine putrinya. Memberitahukan bahwa saat ini sedang bersamaku. Sungguh ayah idaman. Aku diam-diam mengagumi Farhan. Sedikit melamun dan berkhayal, sampai pada akhirnya, aku sendiri yang membuyarkan lamunan itu.
__ADS_1