
SEBUAH PENJELASAN
Sulit bagiku
Menghadapi kamu
Tapi ku takkan menyerah
Kau layak kuperjuangkan
Perih bagiku
Menahan marahku
Tapi ku akan lakukan
Bahkan lebih dari itu
Aku yang minta maaf walau kau yang salah
Aku kan menahan walau kau ingin pisah
Karna kamu penting
Lebih penting
Dari semua yang ku punya
Jika kamu salah aku akan lupakan
Walau belum tentu kau lakukan yang sama
Karna untukku kamu lebih penting dari egoku.
Perih bagiku
Menahan marahku
Tapi ku akan lakukan
Bahkan lebih dari itu
__ADS_1
Aku yang minta maaf walau kau yang salah
Aku kan menahan walau kau ingin pisah
Karna kamu penting
Lebih penting
Dari semua yang ku punya
Jika kamu salah aku akan lupakan
Walau belum tentu kau lakukan yang sama
Karna kamu penting
Lebih penting
Dari semua yang ku punya
Bait demi bait kunikmati. Lagu ini mengingatkanku pada seseorang, Zaky tentunya. Sudah 1 bulan kami tidak saling menghubungi. Pilihan terbaik kurasa, agar kami tak lagi saling menyakiti satu sama lain. Tapi kali ini aku yang merindukannya.
Zaky, sudah sebulan tidak memberikan kabar. Tidak juga mencoba menghubungiku melalui nomor kantor. Mungkin kali ini kami memang benar-benar harus berpisah. Aku mengingat-ingat kembali pertengkaran terakhir yang berujung pada perpisahan kami. Sebenarnya aku belum benar-benar paham dengan alasan Zaky yang sampai dengan saat ini seolah enggan menikahiku. Kalau dia beralasan uang, rasanya itu hanya alasan.
Posisi yang ia duduki saat ini di perusahaan ayahnya, sudah cukup jika hanya untuk memenuhi pundi-pundi tabungannya. Belum lagi, bisnis yang dimiliki oleh Bundanya, yang seharusnya juga lebih dari cukup jika hanya untuk menyiapkan pesta pernikahan anaknya. Zaky tidak pernah benar-benar menyampaikan alasan kenapa sampai dengan 3 tahun bersama, dia tida juga melamarku.
Kadang aku bertanya-tanya. Apakah dia hanya mempermainkanku saja? Harusnya itu dia sampaikan diawal, aku aku tida perlu susah-susah menjalani kebersamaan dengannya. Entahlah, yang pasti 1 bulan ini aku jauh lebih tenang. Labih baik dari sebelumnya.
Kulihat jam menunjukkan pukul 11 siang, aku ingin merasakan tidur siang yang nyaman. Karena sepanjang bekerja, aku sangat jarang mendapatkan tidur siang yang nyaman. Kalaupun bisa, kulakukan hari Minggu, namun itupun sangat jarang. Kali ini aku ingin menikmatinya.
Hampir aku terlelap, sebuah pesan masuk di ponselku membuatku kembali tersadar.
Deby
“Pulang kerja aku jemput ya mbak. Jangan dirumah terus…Liburan kok di Kasur ajaaa he he he”
Anak satu ini paling paham tentang diriku. Sudah kupastikan dia kesepian saat dikantor tanpaku.
__ADS_1
“Mau kemana?”, tanyaku
“Temenin belanja bulanan, sekalian mampir ke penjahit,” jawab Deby
“Ok siyaapp”, jawabku
Kumatikan ponselku, dan aku berangkat tidur. Liburan mahal ini menurutku. Harus kumanfaatkan dengan baik. Akupun terlelap.
Aku terbangun, ada yang mengagetkanku rupanya. Ternyata Deby yang tiba-tiba masuk dan ikut tidur disebelahku. Rupanya penyakit jahilnya belum sembuh. Dengan senyum manisnya dia menyerahkan sekotak eskrim padaku. Aku heran, tumben dia sebaik ini. Hemm mmmm pasti ada maunya.
Segera kutodong dengan pertanyaan, agar dia segera mengaku. Ternyata dia menggelengkan kepala. Aku semakin heran, maksud pemberian eskrim coklat ini.
“Titipannya Mas Hafiz….katanya kangen,” Deby mengerling genit dan mulai meledekku dengan gesturnya yang lucu
Ah…. Hafiz. Luar biasa memang makhluk satu ini. Terima kasih.
Aku segera melahap eskrim itu tanpa memperdulikan Deby. Sampai akhirnya Deby ikutan nimbrung, rupaya dia juga tergiur saat melihatku melahap eskrim pemberian Hafiz.
Sore itu kami berangkat menuju salah satu pusat perbelanjaan, sesuai keinginan Deby aku mengantarnya untuk belanja bulanan. Kali ini kami memilih yang letaknya lumayan jauh dari arah rumahku, sekalian jalan-jalan. Sesampainya dilokasi, Deby dengan Gerakan sigap memasukkan segala sesuatu yang sudah tercatat di list belanjaannya. Kulihat dia begitu cekatan, dan benar saja baru satu jam berkeliling, 2 troli sudah terpenuhi. Kami segera menuju kasir.
Pada saat sedang antri, mataku tertuju pada seseorang yang juga mengantri di kasir sebelah. Benar saja orang itu menoleh padaku.
“Lagi borong juga Dea?”, Bunda Fatma, Bundanya Zaky
“Lagi Nganter temen.” Jawabku.
Bunda Fatma kemudian membisikkan sesuatu kepadaku. Aku mengangguk paham. Kusampaikan kepada Deby bahwa Bunda Fatma ingin menyampaikan sesuatu kepadaku dan mengajak kami menuju salah satu kafe terdekat. Setelah menyelesaikan pembelanjaan, kami menuju kafe tersebut.
Deby tidak keberatan menemaniku, karena bagiku tidak ada yang perlu dirahasiakan darinya. Bunda Fatma mengendarai mobilnya sendiri, sudah satu tahun aku dengan Bunda menikah, namun aku juga belum pernah melihat sosok suaminya. Terlalu lancang juga jika aku bertanya. Pertemuan yang tidak disengaja ini, tentunya mengingatkanku kembali pada Zaky.
Bunda mengambil tempat duduk di depanku, akupun memperhatikan dengan seksama setiap perkataan yang disampaikan wanita yang sampai saat ini anaknya masih sangat kucintai sekaligus kubenci.
Bunda Fatma memulai dengan menjelaskan kunjungan Zaky beberapa waktu lalu. Pastinya saat pertengkaranku dengan Zaky malam itu. Malam itu, Zaky tetap menemui Bunda Fatma sendirian. Seperti yang Zaky katakan padaku, untuk memberikan kabar pernikahan P. Suryo yang dipercepat. Ternyata pernikahan itu dua hari yang lalu baru dilaksanakan. Tentu saja aku tidak datang, karena aku memang sudah tida berkomunikasi lagi dengan Zaky.
Rupanya hal itu diketahui oleh Bunda Fatma, dan karena itulah dia ingin menemuiku. Karena tidak bisa menghubungiku, Bunda Fatma hanya bisa menunggu sampai bisa menjelaskan kepadaku. Sebenarnya selama ini keluarga besar dari pihak ayah Zaky lah yang tidak memberikan restu pada hubungan kami. Bagi mereka, keluarga kami tidak setara. Namun Zaky memilih merahasiakan ini semua dariku, karena tidak ingin menyakitiku.
Bunda Fatma juga menjelaskan kenapa beliau bisa berpisah, tak lain karena hal yang sama. Dulu P.Suryo dan Bunda Fatma menikah karena saling mencintai, saat itu P.Suryo berjuang mati-matian untuk mendapatkan restu. Akhirnya mereka menikah meskipun tanpa restu, namun takdir berkata lain diusia pernikahan 14 tahun, dimana saat itu Zaky masih kelas 2 SMP mereka harus berpisah. Bunda Fatma merasa tidak tahan dengan tekanan dari keluarga P.Suryo. Lebih menyakitkan lagi, kedua anak hasil pernihakan mereka juga tidak diperkenankan dibawa oleh Bunda Fatma. Zaky dan adiknya dibesarkan oleh keluarga P.Suryo.
Sedangkan Zaky yang sebelumnya tidak pernah mau menerima pernikahan P.Suryo dengan Tante Farida, akhirnya membuat kesepakatan. Dia akan merestui pernikahan ayahnya dengan istri barunya, asalkan diijinkan untuk menikahi aku. Kesepakatan itu yang tidak pernah aku ketahui. Oleh karena itulah, pernikahan P,Suryo dipercepat. Bukan tanpa alasan, karena saat itu Zaky juga berniat menikahiku secepatnya.
Setelah memberikan penjelasan panjang lebar, Bunda Fatma pamit dan tak lupa meminta maaf padaku. Akupun melakukan hal yang sama. Deby yang sedari tadi menyadari keadaanku yang sedemikian shock, menepuk pundakku dan mengajakku pulang. Aku menolak, karena aku tidak ingin pulang saat ini. Akhirnya Deby melajukan mobilnya menuju kafe, yang beberapa waktu lalu saat pembukannya aku turut hadir.
__ADS_1
Sekali lagi, kembali aku merasa kosong. Dipermainkan oleh takdir. Apalagi yang diinginkna oleh takdirku ini. Aku bingung. Air mata rasanya juga sudah mongering. Aku memilih duduk di kafe lantai dua, lebih sepi dan aku butuh suasana sepi saat ini. Meratapi nasib takdirku.