Pintu Takdir Melepas Lajang

Pintu Takdir Melepas Lajang
Episode 29


__ADS_3

KIRIMAN CALON KENANGAN


Hari kedua keberangkatan Hafiz ke Bandung, aku merasa tak biasa. Jika sebelumnya hari-hariku dipenuhi dengan perhatiannya, kali ini sedikit berbeda. Hafiz hanya mengirimkan beberapa pesan singkat. Dia bilang, disana banyak hal yang harus diselesaikan. Larut malam Hafiz juga baru kembali ke penginapannya. Aku memakluminya.


Aku bersiap untuk segera pulang, hari ini aku ingin pulang tepat waktu. Aku merapikan meja kerjaku dan bergegas untuk keluar ruangan menuju parkiran. Sesampainya di parkiran rupanya aku melupakan sesuatu. Kunci motorku. Terpaksa aku kembali ke ruanganku untuk mengambil kunci. Akhirnya aku bisa segera kembali ke parkiran untuk segera bergegas pulang. Namun ada seseorang yang tidak kuinginkan keberadannya, muncul di parkiran. TAMA


“Rupanya tunangan kamu gak bisa jaga kamu dengan baik ya. Perempuan secantik ini, disuruh naik motor sendiri”, sindiran pedas Tama ditujukan pada Hafiz.


“Deby sebentar lagi keluar, sebaiknya kamu bisa jaga sikap”, aku menjawab diplomatis, berusaha tidak terpancing.


Benar saja, Deby muncul dari belakang Tama dengan senyum khasnya.


“cie…..ada yang reuni nih”, celetuk Deby


Seketika aku gelagapan. Semoga Deby hanya asal bicara, karena aku tidak ingin bermasalah dengan sahabatku ini hanya karena kesalahapahaman dengan Tama. Aku hanya tersenyum dan berpamitan untuk pulang.


Sesampainya dirumah, aku memilih merebahkan diri sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi. Selesai mandi, kuraih ponselku. Pesan dari hafiz, mataku berbinar melihatnya.


Hafiz : “Oleh-olehnya aku kirim duluan ya, takut repot ntar bawanya”


Dea : “Baik banget….makasih yaaa. Emang dibeliin apa sih?”


Hafiz : “Sesuatu yang bisa membuat kamu rajin mendoakanku, karena suatu saat aku sangat memerlukan doa-doa dari kamu”


Aku merasakan ada keganjilan dari kalimat itu. Pertanda apakah ini? Firasat aneh kembali masuk kea lam pikiranku. Namun segera kuabaikan, saat ini Hafiz sedang berada di Bandung, berjuang untuk masa depan kami. Aku harus berdoa untuk itu. Pasti itu yang dimaksud Hafiz.


Dea :”Makasih yaaaa. Aku akan selalu mendoakan kamu dan juga kita. Jaga diri baik-baik, nanti pulangnya aku jemput ya”


Hafiz : “Miss u….


Dea : “Miss u too


Aku beranjak dari tempat tidurku, adzan Magrib terdengan merdu. Segera kutunaikan sujudku dan menyandingkan nama Hafiz dalam doaku. Hatiku sedikit tenang. Meskipun sebuah firasat kembali menyelinap dalam hatiku. Firasat yang tidak mudah untuk kuterjemahkan. Ada sebuah kekhawatiran mengenai hubunganku dengan Hafiz. Tapi entahlah.


Hari ini hujan turun demikian deras, tidak seperti biasanya. Cuaca sedemikian ekstrim. Kemarin biasanya jam segini cuaca masih cukup cerah, ini baru pukul 1 siang. Terkadang cuaca memang tak menentu. Perubahan yang terasa demikian tiba-tiba tanpa menunggu kesiapan penerima cuaca. Aku sedikit risau, hari ini jadwal kepulangan Hafiz.


Cuaca semacam ini semoga tidak terjadi di Bandung dan sepanjang perjalanan menuju rumah. Aku sengaja mengambil ijin pulang lebih awal, karena berjanji untuk ikut serta bersama keluarga Hafiz untuk menjemput ke Bandara. Firasat itu kembali berkecamuk dalam dadaku. Kucoba kuabaikan, namun semakin menguat.

__ADS_1


Aku bergegas menuju rumah Hafiz, untuk bergabung dengan keluarga besarnya yang nanti juga turut menjemput Hafiz. Namun sebuah pesan masuk, kusempatkan untuk membaca


Hafiz : “Penerbangannya delay, cuaca buruk. Ini aku masih di Bandung. Dua jam lagi baru berangkat. Kamu sudah berangkat jemput?”


Dea :”Aku masih mau berangkat kerumah kamu, kan janjian jemput bareng-bareng”


Hafiz : “Pulang dulu aja deh. Ntar kalo aku udah take off, aku kabarin”


Dea : “Disini juga hujan deres banget. Kalau kamu reschedule besok aja gimana? Aku khawatir nih”


Hafiz : “Udah keburu kangen laahhh sama calon istriku ini”


Dea : “Iyaaaa, tapi kalau gak memungkinkan mending ditunda besok sampai cuaca benar-benar aman.


Hafiz : “ Doain aj yaaa. Aku udah kabarin orang rumah biar jemputnya ntar aja, kamu nunggu dirumah aja, sekalian kalo ma uke bandara biar dijemput sama Lala”


Dea : “OK. Kalo gitu aku pulang dulu ya. Kebetulan juga bawa mobil kok, jadi gak masalah.


Hafiz : Ati-ati ya sayang…miss u


Dea : Miss u too


MACET!!!!BANJIR!!!


Cobaan apalagi ini? Mungkin ini arti dari firasat burukku. Selama ini au belum pernah mengalami hal semacam ini. Rupanya ada pohon tumbang, dan terpaksa menunggu evakuasi.


Hampir 2 jam aku menunggu, akhirnya lalu lintas kembali normal. Kuperhatikan wajahku melalui kaca, kusut dan terlihat sedemikian lebih buruk daripada tidak mandi dua hari. Kuputuskan untuk tetap pulang, karena sesuai kesepakatan nanti Lala yang akan menjemputku.


Sesampainya dirumah, aku bergegas membersihan diri dan meraih sajadah. Sujudku kali ini kutautkan pula doa untuk Hafiz. Kupasrahkan keresahanku pada yang Maha Besar. Selesai sholat, kulepaskan mukenahku, ada sesuatu yang tersangkut.


Kalung pemberian Hafiz, sebagai tanda pertunangan, TERPUTUS MENJADI DUA


DEGG!


Firasat apakah ini?? Segera kuraih dan kusatukan dalam tanganku. Air mataku meluncur tanpa komando. Jatuh menetes pada kalaung yang telah menjadi 2 bagian itu. Tanganku seketika gemetar.


Suara dering telepon mengangetkanku. Ternyata suara Lala disana.

__ADS_1


Lala :” Mbak, Mas Hafiz…..kecelakaan pesawat…………


Seketika aku merosot bersandar pada dipan tempat tidurku.Apa yang kudengar barusan?


Firasat dari kalung yang terbelah dua?


Semua terasa gelap. Sangat gelap dan tubuhku menjadi seringan kapas. Samar-samar masih kudengar isak tangis Lala diseberang telepon.


Tiga hari kemudian


Hafiz. Kini menjadi Hafiz dan Kenangan. Kucoba menggerakkan badanku, masih terasa ngilu di kepalaku. Kulihat disekeliling ruangan, sepertinya ini bukan kamarku. Putih dan bersih. Tapi ada beberapa kabel yang terpasang di samping tempat tidurku. Kuperjelas kembali pandanganku, ada Ibuku dan Mb Bella di sana.


Ternyata aku di rumah sakit. Kabar kepergian Hafiz yang sedemikian tiba-tiba membuatku shock. Ibuku menceritakan kepadaku secara detil. Rupanya setelah mendengar kabar kepergian Hafiz, aku pingsan. Tentunya aku juga tidak berkesempatan untuk menghadiri pemakamannya.


Kurasa kali ini tangan-tangan takdir kembali ingin menunjukkan kuasanya padaku. Menjadikan aku janda bahkan sebelum sempat menikah. Sekarang aku tidak tahu lagi harus kemana mengarahkan diriku. Harapanku atas sebuah pernikahan yang sudah di depan mata, pupus sudah. Padahal tinggal selangkah lagi. Seharusnya minggu depan keluarga besar sudah bertemu untuk membicarakan pernikahan kami. Tapi kali ini yang ada, sebuah kenyataan dimana Hafiz meninggalkanku bahkan tanpa sempat mengucapkan kata pisah.


Aku meratapi nasib hidupku. Mungkinkan aku terlahir tanpa jodoh? Sakit hati yang bertubi-tubi, kehilangan yang tidak pernah siap kualami merenggut paksa benih kebahagiaan yang baru saja aku tanamkan. Sekali lagi aku kalah dari takdirku.


Mataku kembali mendung, sebuah lelehan mengalir lewat kelopak mataku. Ibuku mengusap lembut kepalaku beberapa kali. Aku kembali terlelap dalam tidur yang dalam. Lelap dan pekat.


Hari ketujuh kepergian Hafiz. Aku sudah diijinkan pulang kerumah. Aku berencana nanti malam akan mengikuti acara tahlilan dirumahnya. Semoga langkah kaiku dikuatkan. Aku meminta seluruh keluarga besarku jga hadir. Meskipun beberapa waktu yang lalu orang tua dan kakak-kakakku sudah sempat mengunjungi kediaman Hafiz.



Aku melangkah memasuki pekarangan rumah Hafiz. Kenangan itu kembali menyeruak. Satu persatu kenangan kebersamaanku dengan Hafiz seolah diputar ulang dihadapanku. Mbk Bella memapahku begitu melihatku berjalan sempoyongan. Lala menyambutkan dengan pelukan dan isak tangis, lalu membimbingku menuju kamar Hafiz.


Aku seolah linglung. Lala mendudukkanku pada kursi yang ada di kamar Hafiz. Aku menatap sekeliling kamar. Sebuah foto berukuran besar terpampang disana. Foto kami berdua, pada saat acara keluarga beberapa waktu yang lalu. Cairan hangat kembali meleleh dipipiku.


Kualihkan pandanganku menuju meja kerja Hafiz, kembali kutemukan fotoku disana. Foto pada saat kai berada di Surabaya beberapa waktu yang lalu. Aku kembali harus menghapus air mataku. Entah bagaimana aku akan mengisi hari-hariku tanpa Hafiz. Bagaimana aku akan hidup hanya dengan kenangannya?


Lala menyerahkan sebuah bungkusan yang dikemas cantik. Ternyata paket oleh-oleh yang sempat dikirimkan Hafiz, sebelum kepergiannya. Kubuka perlahan, ada sebuah pesan disana


“Dari calon imam, untuk bidadari surgaku. Dea”


Seketika pecah tangisku. Lala segera dengan sigap memelukku. Mencoba menenangkanku, sekalipun dia juga mencoba tegar menahan tangisnya. Aku menggenggam erat tulisan itu. Tulisan tangan terakhir Hafiz untukku.


Seperangkat alat sholat beserta sebuah busana muslim berwarna putih tulang sudah disiapkan Hafiz untukku.Hafiz, benar-benar pria istimewa yang dikirim untukku. Bahkan diakhir hidupnya, dia masih sempat menyiapkan kenangan untukku. Kenangan yang kelak akan mengantarkan aku menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta. Terima kasih, calon imamku.

__ADS_1


Aku kembali berderai. Kudekap erat kenangan terakhir dari Hafiz untukku ini. Secepat ini ternyata. Bahkan sebelum sempat bersama dalam sebuah ikatan, simpul ini harus diputuskan oleh takdir kematian. Aku kali ini kembali sendiri. Mempersiapkan diriku untuk kembali memulai, kembali membuka pintu takdir yang baru.


__ADS_2