Pintu Takdir Melepas Lajang

Pintu Takdir Melepas Lajang
Episode 34


__ADS_3

EPISODE 34


PERENUNGAN PANJANG


Hari ke-12 pertemuan di Jogja


Aku bersiap menuju ruang pertemuan untuk menjalani sesi hari ini. Jika segala sesuatunya lancar, maka besok akan menjadi sesi terakhir yang harus kulewati. Menjalani 12 hari bersama seseorang yang pernah datang dan pergi, kemudian datang kembali dalam hati bukanlah hal yang biasa.


Terkadang aku juga berfikir, bahwa permainan takdir terlalu sering mengecohku. Mungkin kali ini juga, mempertemukan kembali dengan Zaky adalah sebuah pertemuan takdir. Kukira aku akan memiliki gelombang rasa yang sama seperti dulu, tapi kali ini hatiku berpegang teguh pada sesuatu tak ingin lagi menoleh pada masa lalu.


Aku mengambil tempat sesuai dengan kelompok kerjaku. Hari ini setiap kelompok harus mempresentasikan hasil diskusinya masing-masing. Entah aku harus bersyukur, atau justru sebaliknya, Zaky menjadi salah satu tim penilainya. Terbayang jika aku harus bersikap professional di depannya, tentu akan menjadi sesuatu yang canggung. But, show must go on.


Kami memanfaatkan waktu diskusi sebaik mungkin, aku bertekad untuk tidak mengecewakan pimpinan yang telah mengirimku kesini, ditambah lagi disana ada Zaky. Setidkanya aku harus membuatnya terpukau. Mungkin ini sebuah balasan, setelah selama hampir dua minggu bersamanya, aku hanya mampu menunduk atau membuang muka jika dia mendekat kearahku.


Waktu presentasi tiba, kami maju ke tempat yang telah disediakan. Ruangan yang sebelumnya sudah akrab denganku selama hampir dua pekan ini, tiba-tiba menjadi asing. Nervous menyerangku. Begitu kusambungkan laptop agar bisa tampil dilayar, mati. Berkali-kali kucoba, tetap mati. Demikan pula saat patnerku mencoba membantu. Hanya layar biru yang terpampang didepan. Kucoba mengatasi kepanikanku, sempat aku melirik kearah Zaky, benar saja dia memperhatikanku sedari tadi.


****** aku!


Kenapa juga laptop ini harus rewel disaat aku harus melakukan presentasi di depan Zaky. Sekitar 10 menit berlalu, Zaky berdiri dan mendekatiku.


“Butuh bantuan nona?”, ia bertanya sambil meraih kabel dari tanganku


Aku gugup, antara malu dan panik. Zaky menunduk dan mencoba memperbaiki posisi kabel. Kemudian…”klik” layarpun menyala.

__ADS_1


Aah…syukurlah…Aku menundukkan kepala, isyarat berterima kasih. Zaky dengan gaya khasnya melenggang kembali ke tempat duduk. Kembali kukumpulkan keberanian dan kepercayaan diriku, aku memulai presentasi. Kali ini aku harus menunjukkan kemampuanku dan menjadi layak untuk berada pada posisi ini.


Sesi berakhir lebih cepat dari pada hari sebelumnya. Pukul 3 sore sudah rampung, sluruh peserta sudah dibebastugaskan. Acara penutupan akan dilaksanakan esok hari. Aku bersyukur, akhirnya bisa bersitirahat lebih awal. Setelah membereskan semua barang-barangku, aku bergegas menuju kamar. Akan kugunakan waktu luang sore ini untuk membeli oleh-oleh. Pastinya aku butuh banyak oleh-oleh, apalagi Si Jasmine juga sudah kujanjikan banyak mainan.


Sebuah pesan masuk ponselku. Farhan.


Farhan : “ Besok, Jasmine bisa jemput ke Jogja?”,


Dea : (mengerutkan dahi dan tersenyum) “ Boleh, papanya juga boleh kok”


Farhan :”…dengan senang hati”


Dea :” besok, kemungkinan paling siang jam 10 udah kelar, aku kabarin lagi ya besok”


Aku menghempaskan tubuhku di Kasur, rasa apa ini….muncul setiap kali berbalas pesan dengan Farhan. Mungkin calon rindu, pikirku. Iya maish calon, karena merindukan yang belum memiliki hubungan, bagiku masih tabu. Semoga kenyamanan ini menjadi kenyataan, dan takdir tidak lagi mempemainkanku kali ini.


Setelah bersiap-siap, aku segera turun. Namun pandanganku terhenti pada bungkusan yang semalam diberikan Zaky. Hatiku tergerak untuk membukanya. Dulu saat kami masih bersama, hadiah memang menjadi salah satu ciri khas Zaky. Kali ini meningkat, hadiahnya dibungkus rapi. Aku membukanya perlahan. Ternyata sebuah sweater berwarna putih tulang, sunggug manis. Kucoba mencari, barangkali ada selembar kertas yang menyertai. Ternyata nihil. Apa maksudnya ya? Entahlah, aku merapikannya kembali dan memasukkan kedalam tas besar. Akupun meluncur turun.


Pada saat keluar dari lift, wajah yang kukenal itu muncul. Rupanya dia sedang menungguku. Kikuk juga aku jadinya. Namun aku mencoba bersikap biasa, dan ternyata mudah. Ada yang aneh di dalam diriku, kukira aku akan seterusnya gugup bila bertemu wajah tampan ini. Lebih tampan daripada saat masih bersamaku. Lebih keren tampilannya saat ini.


“Setidaknya aku berhak menerima ucapan terima kasih darimu kan?”, ucap Zaky. Tanpa terlalu lama basa basi, aku menyetujui permintaannya untuk menemani jalan-jalan. Untung saja belum ada peserta yang ikut turun, sehingga aku tidak perlu takut ketahuan jalan dengan Zaky. Aku berjalan menuju mobilnya, kami akhirnya satu mobil lagi setelah sekian lama.


Aku berharap tidak terjadi apapun kali ini. Karena sungguh aku masih mengingat betapa sakit dan terlukanya aku saat harus melepasnya dulu. Luka yang sama, aku tidak ingin terulang kembali. Karena aku sadar, keadaan kami tidaklah mungkin untuk bersama. Aku meminta Zaky mengantarkan untuk membeli oleh-oleh terlebih dahulu, ia menyanggupi karena rupanya dia juga berniat untuk membeli. Sejak kapan? Pikirku. Untuk siapa? Sepertinya ini bukan urusanku.

__ADS_1


Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk membeli oleh-oleh. Kulihat, Zaky juga membeli beberapa barang, untuk wanita. Aku mencoba bersikap biasa, mungkin saat ini memang sudah ada yang menjadi perhatiannya. Zaky membawaku menuju sebuah tempat makan yang nyaman. Sejak berangkat sampai dengan saat ini, kami tidak banyak bicara. Seperlunya saja. Mungkin rasa canggung ini juga dirasakan Zaky.


Aku menghabiskan makan malamku tanpa bersuara. Apa yang harus kukatakan setelah ini? Mengajaknya kembali ke hotel kah? Atau masih harus menemaninya jalan-jalan? Kurasa, aku hanya bisa menunggu, Zaky yang memang kendali.


“Aku tidak bermaksud membahas masa lalu dan mencoba membuat kamu terbawa perasaan, tapi setidaknya aku ingin kamu mendengar beberapa hal, yang menurutk perlu untuk kamu ketahui”, Zaky memulai percakapan. Aku memperhatikan dengan seksama. Kuatur nafasku, yang seketika terasa sedikit berat. Zaky memulai ceritanya.


Setelah perpisahan waktu itu ternyata Zaky pergi ke Jakarta untuk membuka bisnis property secara mandiri. Dia meninggalkan rumah, sebagai bentuk pelarian dari kegagalan kisah cinta kami berdua. Namun, Zaky masih sempat kembali karena kabar kematian ayahnya. Rupanya saat pertemuan dengan Gio beberapa waktu yang lalu, itulah kepulangan Zaky.


Adiknya sudah menikah, dan saat ini tinggal Bandung. Sedangkan ibundanya, saat ini juga sudah melanjutkan hidup dengan pasangan barunya. Zaky mengatakan sempat kembali lagi ke Jakarte beberapa waktu lamanya, karena merasa harapannya untuk bersamaku sudah pupus. Tentu saja, saat itu dia mengira aku sudah bersama dengan Gio. Namun kabar duka kembali menghampirinya, ibundanya juga meninggal dunia karena sebuah kecelakaan. Hal itulah yang memaksa Zaky untuk kembali ke rumahnya.


Jogja. Ternyata ini juga bukanlah sebuah kebetulan. Zaky yang mengajukan diri sebagai trainer, ketika mengetahui bahwa perusahaan kami membutuhkannya untuk acara ini. Ternyata selama ini Zaky tidak pernah jauh dariku, dia masih selalu memperhatikanku. Dia juga sudah mengetahui kisahku yang kandas dengan Hafiz. Hal itu pula yang ternyata membawanya kembali untuk mencoba membangun kembali hubungan denganku.


“Tapi kali ini aku sadar. Setelah aku melihat, mata kamu yang menyatakan kejujuran. Sebuah kenyataan, bahwa bukan lagi aku yang kamu inginkan”, Zaky mengakhiri ceritanya dan tersenyum getir.


Aku menerawang jauh, tak terasa butiran halus meluncur dipipiku. Kurasa aku Zaky juga perlu mendegar versi lengkap dariku. Satu persatu kuceritakan beratnya langkahku melupakannnya. Pertemuanku dengan Gio. Kebersamaanku dengan Hafiz. Kandasnya setiap hubungan yang coba kubangun dengan kedua pria itu. Aku juga menceritakan keadaan ku saat ini, yang bagiku bukan lagi sebuah pelarian melainkan lebih kepada upaya penyelamatan dari rapuhnya hati.


Takdir benar-benar telah mengombang ambingkan hatiku. Bertemu dan berpisah, hancur dan kembali membangun. Berkali-kali. Kenapa kali ini aku harus dipertemukan kembali dengan Zaky? Jika dulu seolah semua pintu tertutup bagi cinta kami, dan akhirnya kami harus mundur. Kenapa saat hati ini sudah mati rasa, pintu-pintu itu seolah dibuka kembali dengan begitu lebarnya.


Kami menangis bersama. Aku membiarkan Zaky memegang kedua tanganku. Setidaknya aku harus berterima kasih untuk malam ini. Kami, seseorang yang persah saling mencintai dan berharap bisa bersama, telah dipisahkan oleh keadaan. Kini, saat keadaan telah berbalik, justru hatiku yang tak lagi memiliki rasa yang sama terhadap dia. Zaky memang telah memohon untuk kembali bersama, tapi aku bisa apa, jika rasa ini memang sudah tak lagi sama. Permainan takdir yang sangat luar biasa.


Aku mantap menolak permintaan Zaky untuk kembali bersama. Ada sebuah celah yang tak mampu kujelaskan, yang mendorong keyakinanku untuk mengatakan tidak. Aku menuruti kata hatiku. Kalaupun ayah Zaky yang tidak merestui hubungan kami telah tiada, bagiku itu tetap saja sama. Restu tak pernah mengiringi hubungan kami. Aku tak ingin mengambil keuntungan disana. Hati kecilku menuntun untuk kembali pada sebuah keyakinan, aku dan Zaky tak mungkin bisa bersama.


Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan, kami kembali hanya terdiam. Merenungi secara mendalam setiap hal yang telah terjadi dalam hidup kami. Sesampainya di hotel, Zaky mengantarkanku sampai dengan pintu kamarku. Menyempatkan untuk mengecup keningku dan memintaku untuk segera beristirahat.

__ADS_1


Ternyata seperti ini akhir yang diinginkan oleh takdir hidupku. Kami harus merelakan satu sama lain. Mungkin benar, pada akhirnya cinta akan menuntun seseorang untuk menemui jalannya. Jalan cinta kami sampai disini saja. Itulah kenyatannya.


__ADS_2