Pintu Takdir Melepas Lajang

Pintu Takdir Melepas Lajang
Episode 4


__ADS_3

HARI BIASA


Sepekan berlalu, semenjak pertemuanku dengan Hafiz. Berarti sepekan juga ikrarku untuk mencoba melawan dan membunuh perasaanku pada Zaky. Berhasil kah?


Seminggu tanpa pertemuan dan tanpa percakapan. Aku membangun kebiasaan baru dengan bangun tidur lebih pagi dan tidur pada saat malam sudah sangat larut. Aku berada di kantor sampai lewat waktu. Sehingga pada saat sampai dirumah, aku sudah lelah dan akan menjadi mudah untuk tidur. Aku mencoba mencari ritme yang tepa tatas diriku tanpa Zaky. Sampai pagi ini, aku menemukan 2 buah undangan pernikahan berbaris rapi di meja kerjaku.


Aghnia & Farhan


Surabaya


Aku mencoba mengingat-ingat nama yang tertera di undangan itu. Tapi benar-benar tidak ada memori yang bisa kupanggil untuk menghantarkanku pada kedua nama itu. Surabaya? Aku sepertinya tidak memiliki teman yang menetap disana. Lalu ini siapa?


Kuraih undangan yang kedua, sampul biru muda. Cantik


Doni & Gendhis


Malang


Deg!!!


Perlahan kubuka undangan untuk memastikan nama lengkap sang calon mempelai. Tentunya mempelai pria. Aku benar-benar berharap kali ini tidak menemukan nama itu ada disana. Percayalah saat ini aku gemetar, lebih nervous daripada interview kenaikan jabatan.


Doni Pramudya Ramadan & Gendis Ning Zaskia

__ADS_1


Ok fix!!!! Lagi-lagi takdir mempermainkan, bahkan kali ini bisa dibilang mencoba menertawakanku. Dengan membiarkan undangan pernikahan ini bisa sampai ke tanganku, artinya takdir benar-benar ingin menenggelamkanku lebih dalam kedalam kubangan luka dan luka.


Doni Pramudya Ramadhan, aku lebih nyaman memanggilnya Pram. Dialah seseorang yang datang pertama kali membawa bendera cinta, menancapkan terlalu dalam luka dan membekas hingga saat ini. Dia juga yang mengajarkan arti luka akibat pengkhianatan padaku, 2 tahun sebelum aku mengenal Zaky. Lalu bagaimana dia bisa dengan penuh percaya diri mengirimkan undangan ini padaku??? Oh My Good, Please……


Ingatanku kembali kepada masa lalu, masa dimana Pram masih bersamaku, sebagai sepasang kekasih. Dulu kami berada dalam satu divisi di perusahaan ini. Kami saling mengenal satu sama lain, karena memang oada saat itu sering dilibatkan dalam satu even bersama. Sampai pada akhirnya, Pram menyatakan cintanya, dan aku menerima. Kurun waktu 4 bulan kebersamaan kami, semuanya masih nampak dan terasa indah. Sampai suatu ketika, beberapa kali aku mendapat informasi dari teman-teman divisi sebelah, Pram jalan dengan perempuan lain.


Awalnya aku mencoba menepis kabar itu, tapi entah kenapa suatu hari sebuah kejutan datang padaku. Kejutan dimana, aku sangat terluka untuk pertama kalinya karena seorang pria. Saat itu hari ulang tahunku dan aku memilih merayakan bersama teman-temanku saja, karena kebetulan Pram sedang terlibat even di luar kota bersama tim dari divisi lain. Tanpa diduga aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Pram-cinta pertamaku itu menggandeng perempuan lain.


Masih membekas dalam ingatanku, saat itu dengan segala amarah yang kucoba untuk kuredam aku meminta kejelasan kepada Pram. Lagi-lagi takdir mencoba menguji kesabaranku.


“ Pram, siapa dia?”, aku bertanya sambil menahan emosi


Tiba-tiba perempuan yang berada disamping Pram berdiri dan mengulurkan tangan padaku. Dengan penuh percaya diri dia memperkenalkan dirinya


Aku ternganga. Diamku adalah sebentuk ekspresi antara marah, cemburu, malu, dan entah apa lagi. Saat itu aku hanya berusaha untuk menahan tangisku. Harga diriku masih harus aku junjung tinggi di depan orang\-orang ini.


“Pram?, bisa kamu jelaskan ini?”, aku masih mencoba untuk tenang. Bisa saja ini prank. Aku kira saat ulang tahun, ini menjadi hal yang sedikit wajar untuk di lakukan. Aku benar-benar berharap ini bagian dari kejutan yang disiapkan teman-temanku.


“Dea, aku minta maaf,” ucapan Pram terputus.


Aku mencoba menelan ludah, yang tiba-tiba terasa seolah bagaikan ada gumpalan kerikil yang bersarang di tenggorokanku.


“Aku aja yang jelasin ya….” Tania mengambil alih. Akupun seolah terhipnotis, lebih tepatnya terlihat bodoh menyaksikan adegan itu.

__ADS_1


“ Aku dan Pram, pasangan kekasih. Pram memilih aku. Jadi…kamu harus sadar diri, untuk tidak menjadi penghalang dalam hubungan kami. Oh ya, sebenernya kita udah jalan 1 bulan yang lalu. Ya…cuman karena masih ka-si-han aja…Pram belum mutusin kamu. Jadi udah jelas kan?”, Tania menyeringai dengan gaya arogannya.


Seketika itu, kurasakan dunia runtuh. Aku pergi meninggalkan mereka dan Pram tidak berusaha mencegahku ataupun memberikan penjelasan. Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan pengkhianatan ini. Lebih tepatnya pelecehan terhadap harga diriku. Suatu saat aku yang akan membalas mereka. Aku benar-benar marah dan hancur saat itu.


Saat aku terhanyut dalam lamunan masa laluku yang kelam, sesorang datang dengan langkah tergesa-gesa.


“Mbak Dea, tadi ada undangan aku taruh di meja, “Tika membuyarkan lamunanku.


“Heem, ini kan?”, aku menunjukkan dua buah undangan itu


“Tapi yang ini siapa ya? Surabaya”, tanyaku pada Tika


“Oh, itu anak divisi perakitan mbak. Anak baru. Kalo gak salah baru 4 bulan ini kerja disini, umurnya juga masih muda banget. Tapi katanya dapat cowok tajir sih,” Tika memberikan informasi lengkap dan mendetil


“Ow…,”jawabku.


“Kalau yang satunya aku gak tau mbak, soalnya tadi Pak satpam yang kasih”, Tika kembali memberikan keterangan.


“Itu dulu karyawan sini, tapi udah lama resign”, aku memberikan informasi agar Tika tidak bertanya lebih banyak lagi


Kutinggalkan Tika di meja kerjaku. Aku sengaja. Entah kenapa, seketika oksigen dalam otakku berkurang drastis setelah membaca undangan Pram. Kuputuskan menuju pantry, semoga ada minuman segar disana.


Sejauh ini, aku bisa menjalani hariku tanpa Zaky. Semua baik-baik saja. Baik-baik saja? Benarkah? Pastinya aku melewati hari-hari ini dengan biasa saja. Bahkan mungkin terlalu biasa, sampai-sampai seolah hambar. Terlalu biasa, sampai-sampai aku tidak mengijinkan hal lain masuk kedalam aktivitasku, selain pekerjaan.

__ADS_1


Jauh di sudut hatiku, aku menangis. Menangis dalam diam. Kupastikan ini cara terbaik bagiku, memulai hari baru tanpa Zaky. Demi aku, aku yang berhak bahagia.


__ADS_2