
KAPAN KAWIN?
Minggu Pagi. Aku sengaja bangun siang, pukul 08.00 aku baru bangun dan kemudian mandi. Aku segera turun ke dapur untuk melihat ibuku, yang ternyata sarapan sudah tersedia. Ibuku memang hebat.
“Sarapan dulu De”, ibuku menyodorkan piring. Aku antusias menerimanya. Kulihat ibuku menyiapkan sarapan sayur bening lengkap dengan tempe penyet dan kerupuk. Aku makan dengan lahap.
“Bapak tadi pagi sudah berangkat duluan, dijemput Mas Arga”, ibuku menjelaskan. Aku baru ingat, hari ini ada acara arisan keluarga dirumah kakak iparku. Hemmmmbbbb….aku mencium aura negatif disini. Pasti agenda utama ajang perjodohan. Dan aku sebagai sasaran utama.
“Ibuk gak ikut?”, tanyaku pura-pura.
“Kan ibuk nunggu kamu De, acaranya masih jam 10 nanti jadi masih ada waktu untuk siap-siap. Setelah sarapan, kamu siap-siap ya”, ibuku berkata tanpa memberikan penawaran lain.
Kalau ada pilhan lembur dihari minggu sampai dengan tengah malam, pasti akan aku ambil. Daripada harus menghadiri acara arisan keluarga yang membosankan ini. Bisa dipastikan alur yang nanti akan berjalan diacara itu. Perjodohan. Perjodohan dan Perjodohan. Kami para single, adalah sasaran empuk. Sudah 3 tahun ini aku menjadi juara bertahan. Bertahan sebagai jomblo yang dijadikan bahan ejekan, atau lebih tepatnya di bully. Sebenarnya acara yang diselenggarakan bulanan ini sudah bisa kuhindari selama 3 bulan belakangan, tapi kali ini aku tidak punya alasan. Aku menyerah.
Sengaja aku dandan berlama-lama, agar ketika sampai disana, acara buyarrr. Terbayang dipikiranku, bagaimana mereka nanti akan membully diriku, bisa jadi Sania dan juga Indra. Karena memang aku dan kedua sepupuku itulah yang saat ini masih jomblo. Aman setidaknya, aku tak sendirian, meskipun aku juara bertahan. Sempat terpikir olehku mengajak Zaky, tapi apa mungkin dia bersedia? Jangan-jangan ini dianggapnya hanya acara konyol belaka.
Pukul 09.45, aku dan ibuku berangkat. Kali ini aku sengaja mengendarai mobil ayahku, maksudku aku bisa beralasan kena macet di jalan. Ketika sampai acara buyarr. He he. Ide jahat selalu muncul disaat terdesak.
Sepertinya Dewi Fortuna sedang memihakku, jalanan macet. Yessss. Kupastikan perjalanan yang seharusnya memakan waktu 30 menitan, bisa jadi sampai 1 jam lebih. Ini baru sempurna. Kulirik ibuku terlihat gelisah. Aku hanya tersenyum melihatnya.
“Tahu gini, kita pakai motor aja ya De”, ujar ibuku sambil sibuk membalas pesan di ponselnya, rupanya dari tadi kakakku yang menghubungi.
“Kan kasihan ibuk,,,panas-panas gini”, jawabku serius. Padahal aku memang sengaja. Maafkan bungsumu ini buk.
__ADS_1
Pukul 11.15 kami sampai. Yess, aku hanya cukup mendengarkan celoteh para “penguasa arisan keluarga” sekitar 1 jam kedepan saja. Setelah itu acara buyaarr. Yah, acara ini memang disepakati harus sudah selesai pukul 12.00, karena kakak pertamaku harus segera kembali ke Surabaya, semenjak menikah dia memilih tinggal bersama suaminya di kota pahlawan itu.
Aku sengaja memarkirkan mobilku di urutan paling luar, agar mudah untuk kabur, he he.
Ibuku kuminta turun terlebih dulu, alasanku karena aku perlu waktu untuk memarkirkan kendaraanku. Maklum aku juga belum mahir betul dalam mengendarai. Alasan yang sempurna.
Aku menyempatkan diri mengambil foto deretan mobil keluargaku sebelum masuk ke ruangan. Bahan pembicaraanku dengan Zaky annti malam. Dia harus tahu, acara ini juga menjadi ancaman untuk hubungan kami. Lebih tepatnya aku. Yang harus terkikis setiap bulan hanya dengan status jombloku ini. Dan itu karena dia yang tidak kunjung menikahiku.
“Dea…., kamu anaknya tante Dini ya?,” seseorang yang asing bagiku menyapa dari balik mobil putih yang terparkir tidak jauh dari mobilku. Pria itu menyodorkan tangannya. Aku ragu-ragu untuk menyambut tangannya.
“Eh iya, maaf siapa ya”?, tanyaku karena memang aku benar-benar belum mengenal orang ini. Kalau dia masuk dalam anggota keluarga besarku, sudah pasti aku mengenalnya. Apa absen selama 3 bulan saja sudah membuatku ketinggalan berita?
“Giovani, kamu bisa panggil aku Gio. Aku adik temannya kakak kamu, Mbak Bella”, dengan cepat dia merespon kebingunanku
“Siang banget Dea datangnya”, Mb Ersya kakak iparku menyambut kedatanganku. Aku hanya tersenyum dan nyelonong masuk ke dapur Menghindar dari ancaman kata-kata ajaib para netizen. Kalian tau apa yang paling mengerikan dari kalimat-kalimat yang selalu dilontarkan kepada kami para jumbo.
KAPAN KAWIN????? !!!!!!!
Sesampainya didapur, aku seperti kena zonk…lolos dari sarang buaya masuk sarang penyamun. Budhe Rahayu, Budhe Susi dan anaknya yang sedang hamil Maya ada disana. ****** aku. Mereka ini biang keroknya. Budhe Rahayu merupakan kakak ipar dari ayahku sedangkan Budhe Susi sepupu ibuku. Daaaan pertunjukan dimulai.
“Hai mbak Dea, baru dateng?”, Maya memulai episode 1 sambil dengan sengaja menunjukkan perut buncitnya.
__ADS_1
“Heem, kena macet sih”, jawabku sambil memutar otak mencari akal untuk bisa lolos. Pengap rasanya berada satu ruangan dengan mereka.
“Kamu kapan nyusul Maya?”, serangan kedua dari Budhe Susi meluncur. Sudah kuduga, tapi aku punya cara berkelit.
“Gawat donk Budhe, kalo tiba-tiba melendung gitu”, jawabku terseyum-senyum simpul.
Budhe Susi dengan menyeringai, mencubit lenganku. Aku berusaha menghindar. Bagaimanapun beliau orang yang harus kuhormati, jadi sesopan mungkin aku meladeni mereka. Sekalipun, muak rasanya. Terkadang mereka memang tidak punya urat toleransi.
“Kapan emangnya mau kawin? Bukannya kamu udah lama ya jalan sama anaknya P. Surya itu. Jangan lama-lama ntar kebutu tua kamu,” giliran Budhe Rahayu memberikan umpan balik. Mati aku, kali ini rasanya mak jleb.
“Doain aja budhe, insylh kalo Budhe Rahayu yang doa malaikatnya langsung gercep. He he…aku terkekeh”, keren kan caraku menghindar. Meskpiun nyeseg juga. Entah sampai kapan pedasnya guningan ini akan terus menyiksaku. Aku pura-pura sibuk mencari minum, sampai akhirnya Mas Candra datang mengahmpiriku.
“Kamu disini De, dicari Mbak Bella tuh”, Mas Candra menyelamatkanku. Dibelakangnya diikuti Mb Ersya istrinya, memberikan kode agar aku segera pergi meninggalkan dapur. Syukurlah…, memiliki kakak yang luar biasa. Tak menunggu lama, aku melarikan diri menuju ruang tengah. Disana aku bergabung dengan keluarga besarku.
Kali ini aku selamat, karena begitu memasuki ruang tengah, ternyata sudah acara doa bersama. Syukurlah, aku bergegas menuju mobil, diikuti kedua orang tuaku. Kamipun pulang. Aku menyempatkan diri mengirimkan pesan pada Zaky. Foto yang tadi sempat kuambil pada saat diparikiran, juga pada saat doa Bersama, kukirim kepada Zaky. Kode. Semoga dia peka, sehingga pada pertemuan-pertemuan mendatang aku tak perlu risau lagi mendapat pertanyaan
“KAPAN KAWIN???? !!!!!”
__ADS_1