Pintu Takdir Melepas Lajang

Pintu Takdir Melepas Lajang
Episode 24


__ADS_3

MEMBUKA DUA PINTU SEKALIGUS


Semenjak Gio menjemputku di Jogja, komunikasi diantara kami makin intens. Sekalipun hanya perjuampaan melalui suara dan video, sepertinya jarak bukan menjadi sebuah masalah bagi kami. Saat ini Gio lebih sering berada di luar Surabaya, ada sebuah pekerjaan yang membuat dia harus bepergian keluar kota. Akupun menikmati setipa perhatian yang diberikan olehnya.


Gio tergolong pria yang romantis menurutku, memberikan perhatian dengan cara-cara yang unik dan tidak mudah ditebak. Aku mulai menemukan kenyamanan dengannya. Semakin nyaman, karena Gio tidak pernah mewajibkan kepadaku untuk mengangkat setiap teleponnya, ataupun merespon pesan-pesan yang dikirimkan kepadaku dengan cepat. Beginilah kami menjalin komunikasi secara dewasa, tanpa perlu saling membebani satu sama lain.


Disisi yang lain, Hafiz juga masih dengan segala perhatiannya kepadaku. Aku tidak menceritakan perihal Gio kepadanya, entah mengapa aku merasa tidak nyaman karena takut melukainya. Tentang Gio, aku hanya bercerita kepada Deby. Aku juga masih sering mengunjungi Lala dan keluarga besar Hafiz. Seolah ketagihan dengan kasih sayang dan perhatian yang mereka berikan, aku tetap menjaga komunikasi dengan baik.


Demikianlah aku menjalani hari-hariku sepulang dari Jogja. Menjalin komunikasi yang baik dengan Hafiz beserta keluarganya. Namun disisi lain aku juga menikmati perhatian yang diberikan oleh Gio. Hatiku merasa, ini adalah hakku, setelah sekian kesedihan yang merengkuh hari-hariku.


Seperti sore ini, aku sudah membuat janji dengan Hafiz untuk mengikuti acara pengajian dirumahnya. Seperti biasanya kami berangkat bersama-sama dari kantor. Kali ini aku juga sudah menyiapkan busana muslim. Sejak sering mengikuti acara pengajian, koleksi baju muslimku menjadi bertambah. Tidak hanya itu, pengetahuanku tentang agama juga bertambah.


Acara pengajian sore ini berjalan dengan lancar, seperti biasa setelah acara selesai, Hafiz mengantarkanku pulang. Namun kali ini tidak ada Lala yang turut mengantarkanku. Bagiku tak masalah, karena Hafiz tetap siaga untuk mengantarkanku. Aku berpamitan kepada orang tua Hafiz.


Bunda Hafiz memberikan sebuah bungkusan berukuran sedang kepadaku, agak lumayan berat di tanganku. Kuterima dengan senang hati. Kamipun berangkat untuk mengantarkanku pulang. Ada sedikit rasa penasaran dihatiku, dengan pemberian itu. Namun, kupikir untuk membukanya nanti sesampainya di rumah saja.


Hafiz menawarkan untuk mampir dulu ke sebuah tempat tongkrongan. Akupun tidak berkeberatan. Ada sebuah tempat tongkrongan baru yang kabarnya lagi hits. Hafiz mengarahkan mobilnya ke tempat tersebut. Begitu berhenti di lampu merah, pandanganku tiba-tiba saja tertuju pada sebuah mobil hitam yang kebetulan berhenti di samping mobil yang kami tumpangi. Kacanya terbuka sedikit, sehingga terlihat sosok yang mengemudi disana. Tidak begitu jelas sebenarnya, namun entah mengapa aku justru tertarik untuk mengetahui pengemudinya.


Ada sebuah dorongan aneh yang mengarahkan pandanganku kea rah mobil itu. Pengemudinya laki-laki, menggunakan stelan jas. Nampak rambutnya tersisir rapi dengan beberapa tambahan warna blonde di sebagian atas rambutnya. Sejenis dengan model rambut artis korea yang sering kulihat pada umumnya. Hem…..artis mungkin, pikirku.


Lampu hijau menyala, Hafiz melanjutkan untuk fokus ke jalan raya. Aku seketika mengalihkan pandanganku ke depan, agar Hafiz juga tidak curiga. Aku menghetikan imajinasiku mengenai sosok tadi, yang sepertinya tidak asing bagiku. Namun, masih terselip penasaran di hatiku.


Akhirnya kami sampai di tempat yang kami tuju. Hafiz mempersilahkan ku duduk lalu berpamitan ke toilet. Aku segera memesan menu untuk kami nikmati. Cappucino dan Roti Bakar, sepertinya sudah cukup untuk menemani ngobrol kami, begitu pikirku. Agak lama Hafiz ke toilet, kuputuskan membuka ponselku yang sedari tadi hanya kuanggurkan di dalam tas.


Sebuah pesan dari Gio yang dikirim setengah jam yang lalu


“Bisa VC?”, tanyanya


“Nanti ya”, jawabku


Kutunggu beberapa saat, Gio belum membalas, mungkin dia sudah mengira jika aku sibuk karena tadi juga tidak langsung membalas pesannya. Inilah satu lagi yang kusuka dari cara Gio memperhatikanku, flesksibilitas dalam hubungan. Aku menjadi semakin nyaman dengan cara Gio memperlakukanku.


Hafiz sudah muncul di depanku, hampir bersamaan dengan datangnya makanan yang tadi aku pesan.


“Aku pesen ini aja, mau nambah yang lain?”, Tanyaku


“Udah, ini cukup kok,” jawabnya dengan datar


“Oh ya, lusa aku sama Deby dapat undangan dari HRD. Kayaknya sih, terkait hasil di Jogja kemarin. Doain ya”, aku membuka percakapan.


“Seingatku dulu, waktu jamnnya aku dapat pelatihan promosi kayak kamu, bakal ada tahapan semacam uji kelayakan gitu. Buat naik ke posisi lain. Bisa di satu divisi yang sama, bisa juga di divisi yang lain”, Hafiz memberikan penjelasan.


“Oh gitu? Aku baru tahu dari kamu nih. Ku kira langsung di divisi yang sama”, jawabku sambil menikmati minuman yang tersaji di meja.


“Congratz yaa, satu tahap lagi kita bisa satu level di manajemen”, Hafiz tersenyum tulus kepadaku. Aku hanya membalas tersenyum kemudian menyodorkan minuman kepadanya. Perhatian kualihkan pada home band yang sedang memainkan musik yang merupakan request dari pengunjung.


Bait akhir sebuah lagu yang kudengar terasa begitu indah dibawakan oleh penyanyi pria yang sedang memberikan penampilan terbaiknya di depan. Tiba pada lagu beirkutnya, tiba-tiba lampu yang berada di sekitarku mati. Aku terkaget. Seharusnya, tidak sampai terjadi matu lampu di tenpat semacam ini, pikirku. Namun ada yang aneh, pada saat seluruh lampu dimatikan, hanya lampu di tempatku saja yang terlihat menyala.


Siapa yang berbuat keisengan semacam ini??

__ADS_1


Lalu tak lama kemudian, vokalis mulai membawakan sebuah lagu yang dinyatakan merupakan request dari seseorang yang ingin memberikan hadiah kepada orang yang spesial. Begitu nama Hafiz dan namaku disebut, aku benar-benar merasa malu bercampur bahagia. Hafiz memberikan kejutan istimewa kali ini padaku. Sebuah lagu, lebih tepatnya ungkapan hatinya untukku.


Akad


Payung Teduh


Betapa bahagianya hatiku saat


Ku duduk berdua denganmu


Berjalan bersamamu


Menarilah denganku


Namun bila hari ini adalah yang terakhir


Namun ku tetap bahagia


Selalu kusyukuri


Begitulah adanya


Namun bila kau ingin sendiri


Cepat cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap


Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya telah tiba


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian kesana-kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah telah tiba


Izinkanku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Namun bila kau ingin sendiri


Cepat cepatlah sampaikan kepadaku


Agar ku tak berharap

__ADS_1


Dan buat kau bersedih


Bila nanti saatnya telah tiba


Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan


Berlarian kesana-kemari dan tertawa


Namun bila saat berpisah telah tiba


Izinkanku menjaga dirimu


Berdua menikmati pelukan di ujung waktu


Sudilah kau temani diriku


Sudilah kau menjadi temanku


Sudilah kau menjadi istriku


Tepuk tangan mengiringi alunan bait terakhir dari lagu itu. Lampu pun kembali menyala. Aku bingung, harus berbuat apa. Kejutan ini membuatku bahagia sekaligus galau. Apakah kali ini Hafiz akan mengajakku menikah??


“Sudah waktunya De, aku mendengar jawban dari kamu, Hafiz berlutut di depanku sambil menyerahkan sebuah cincin.


Aku shock. Hafiz melamarku. Gugup dan tegang. Aku merasa belum siap untuk menjawab, namun takut untuk kehilangan kesempatan. Kuberanikan membungkukkan badan dan mendekat kearah Hafiz.


“Ini apa?”, kata itu yang meluncur dari bibirku


“Setidaknya, aku ingin kita selangkah lebih dekat menuju pernikahan. Aku melamar kamu untuk menjadi ibu dari anak-anakku nanti………….” Kalimat indah muncul dari bibir Hafiz.


Seketika sorak sorai riuh memenuhi tempat itu. Seolah memberikan dukungan kepada Hafiz. Aku terbawa suasana bahagia, tak terasa ada yang meleleh di sudut mataku. Aku mengangguk, dan tanpa komando Hafiz menyematkan cincin di jari manisku. Seluruh yang hadir kembali memberikan tepuk tangan. Aku bahagia malam ini. Sangat bahagia.


Ini mungkin hari keberuntunganku, kebahagiaan yang datang secara tiba-tiba. Akhirnya kami pulang, sepanjang perjalanan Hafiz terlihat sangat bahagia. Berkali-kali kulihat dia tersenyum. Senyum yang sedemikian manis, menggiringku untuk memperhatikan wajahnya lebih dalam, yang selama ini hampir kuabaikan.


Hafiz memiliki pandangan mata yang tajam. Wajahnya begitu bersih dan cerah. Ada sepasang lesung pipi yang menambah ketampanan wajahnya. Sejauh ini aku tidak pernah memperhatikan dengan seksama. Suasana malam inilah yang ternyata membuatku untuk menyadari dan mengakui bahwa, Hafiz memang tampan.


Sesampainya dirumah, aku segera menemui ayah dan ibuku, untuk mengantarkan Hafiz berpamitan pulang. Setelah itu aku menuju kamar. Namun, nampaknya aku akan sulit tidur malam ini. Ada bahagia yang belum sepenuhnya bisa kukendalikan, seolah akan meleda di dadaku.


Kuamati cincin pemberian Hafiz, terbayang kembali lamaran istimewa yang tadi dia berikan padaku. Simpel dan elegan. Kulepas dan kuamati lebih dalam bentuk cincin itu. Bentuknya sederhana, namun ada sebuah tulisan dibagian dalam cincin itu. Kuamati lebih jelas lagi, disana tertulis


“permaisuri hatiku” “Dea-Hafiz”


Seketika aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Kubenamkan wajahku di bantal, memastikan agar tidak keluar suara-suara aneh dari kamarku yang akan membangunkan seisi rumah. Sedemikin istimewa Hafiz memperlakukan diriku, dengan memberikan sebutan itu padaku. Terima kasih tuhan, terima kasih untuk pintu takdir yang bahagia ini.


Aku berguling-guling diatas tempat tidurku. Tersenyum-senyum sendiri. Mencium cincin itu berulang kali dan membayangkan acara lamaran tadi. Aku sangat bahagia. Sangat Bahagia.


Tiba-tiba ponselku berdering, ada pesan masuk disana. Giovani.


“Pasti sudah tidur, besok pagi saja ku VC ya….”

__ADS_1


Aku tidak membuka pesan itu, namun cukup kulihat pada layar widget saja. Saat ini aku sedang menikmati saat indah yang diberikan Hafiz padaku. Tidak ada ruang untuk Gio, saat ini. Kuletakkan kembali ponselku dan aku kembali berguling-guling di Kasur. Sebuah ekspresi bahagia, yang mungkin terlihat sedikit berlebihan.


__ADS_2