
MENCOBA BERANI MELAWAN PERASAAN
Pagi….
Aku masih hidup ternyata, setelah serangan mendadak yang semalam sempat aku terima. Semalam rupanya aku tertidur dalam keadaan setengah lupa. Sedemikian besar efek samping pengaruh permasalahan semalam, hingga aku setengah sadar terhempas di kasur dan terlelap disana. Aku segera mempersiapkan diri, ini Minggu dan aku harus tetap ke kantor. Lebih tepatnya menghadiri acara kantor. Hari ini launching minimarket cabang baru yang letaknya kurang lebih 4 km dari rumahku.
Sekitar 1 jam kemudian aku sudah berada di lokasi. Kulihat beberapa staff juga sudah hadir disana. Aku mengaktifkan mode on, dalam pikiran dan badanku, meskipun tidak dengan hatiku. Aku sadar sepenuhnya bahwa aku harus bersikap professional terhadap pekerjaanku. Sedangkan hatiku, kucoba untuk kukesampingkan-sementara waktu.
“Habis nangis?”, suara simpatik itu mengejutkanku. Kulihat kea rah samping, Hafiz sudah memasang tampang teduhnya sambal menyodorkan air mineral kepadaku.
“Terima kasih”, jawabku sambal menerima air mineral itu.
“Belum mau cerita?”, kembali Hafiz bertanya
“I’m ok. Please don’t make me uncomfortable,” jawabku sambal memasang senyum. Senyum yang sebenarnya berasal dari produk kegetiran-sisa semalam.
“OK. Nanti selesai acara aku tunggu, Café Coklat”, Hafiz berkata sambil melangkah pergi.
Entah ini cobaan atau cara lain yang Tuhan tunjukkan untuk memberikan sejenis prank padaku. Bagaimana bisa, Hafiz yang sedemikian tampan dan tergolong mapan menjadi tidak memiliki kharisma apapun dihadapanku. Belum lagi perhatian yang selama ini diberikan kepadaku serta sikap santun yang memang tidak dibuat-buat ketika berhadapan dengan siapapun lawan jenis yang berinteraksi dengannya, adalah nilai plus yang nyatanya belum mampu meluluhkan hatiku. Belum lagi, masa 2 tahun yang dia gunakan untuk menungguku. Payah.
__ADS_1
Sedangkan aku berada di sebuah keadaan dimana dengan kebodohan yang kuatasnamakan cinta, menunggu seseorang yang bahkan bisa jadi sesaat lagi tidak akan menjadi bagian dari hari-hariku. Atau justru akan tetap menjadi bagian dari hari-hariku dan memenuhinya dengan air mata dan luka. Tapi luka yang ternyata sungguh kurindukan.
Acara berlangsung sukses. Seluruh tim saat ini sedang berkumpul di ruang staff, tidak terkecuali aku dan Hafiz. Dia bersikap biasa saja, seolah tidak ada apapun diantara kami. Inilah yang aku suka dari Hafiz, tetap tenang dan professional. Dia dipercara menjadi leader untuk even kali ini, dan pada kesempatan closing seperti ini dia menyampaikan evaluasi serta rasa terima kasih pada tim atas kerja sukses hari ini. Pertemuan ditutup dan masing-masing membubarkan diri. Demikian juga Hafiz. Tapi dia sempat menoleh kearahku dan memberikan kode, dia menungguku di Café Coklat.
Sekitar 15 menit kemudian, hamper bersamaan kami sampai di lokasi. Aku memesan minuman, Hafiz menyerahkan pilihan menu padaku. Kali ini sepertinya aku benar-benar sedang tidak ingin membahas apapun, terutama Zaky. Tapi sepertinya Hafiz menginginkan hal lain, lebih tepatnya memaksa.
“Tadi malam, Rio mengirimkan foto kamu dengan dia. Kali ini apalagi yang dia lakukan padamu. Kamu menangis lagi dan itu karena dia”, Hafiz mulai mengadili aku.
Rio…, yah tentu saja. Aku lupa bahwa pemilik Kafe yang semalam adalah teman dekat Hafiz. ******, aku tidak bisa berkelit lagi
“Ayolah….., kita sudah sama-sama dewasa. Berikan aku privasi”, aku menjawab
Bagaimana aku bisa lupa siapa Hafiz, dia yang sekalipun berkali-kali kutolak tapi tetap berada di sisiku. Tidak pernah lelah menyeka air mataku, mengobati luka hatiku, bahkan mensiagakan dirinya untu menjagaku selama 2 tahun ini. Luka dan air mata yang justru disebabkab oleh saingannya-Zaky. Cinta benar-benar telah membuatku lupa. Lupa membedakan luka dan bahagia.
“Aku sudah memutuskan. Aku berhenti. Kadar kenormalanku menuntut untuk berontak. Aku berhak Bahagia”, jawabku sambil menahan lelehan air mata. Tapi ternyata jatuh juga.
__ADS_1
“Kamu yakin?”, Hafiz bertanya sambil menatapku dalam-dalam
“Tidak”, jawabku jujur sambil menyeka air mataku. Kali ini aku sudah ingin menghentikan kekonyolanku untuk meratap dan menangisi seseorang yang bahkan mungkin saat ini tidak sedang memikirkanku.
“Aku masih di tempat yang sama, dimana kamu meninggalkan aku. Ditempat yang setiap saat bisa kamu datangi, sisi hatimu yang lain. Sebuah ruang dimana, mungkin suatu saat akan menguasai dirimu dan menghempaskan luka-luka yang telah sengaja kau ijinkan untuk ada karena kehadiran seseorang. Aku masih disana, menunggu kamu.”, Hafiz berkata sambil memandang lurus kearahku
“Terima kasih”, jawabku lirih
Terima kasih Tuhan, setidaknya setelah air mata semalam, aku masih tetap kau ijinkan untuk menerima kebahagiaan sementara ini. Sementara??? Iya. Karena aku belum sepenuhnya baik-baik saja.
Hafiz tersenyum, manis. Menyerahkan sekotak coklat yang dibungkus rapi.
“Kalaupun haitmu belum menerimaku, setidanya terimalah ini agar kamu kuat menghadapi kenyataan pahit”, ujar Hafiz.
Aku menerimanya. Terima kasih sudah baik padaku. Terima kasih untuk hari ini.
Kuniatkan pada hatiku untuk mencoba melawan perasaanku pada Zaky. Perasaan yang secara sadar menguasai hati dan pikiranku selama 3 tahun ini. Namun justru belum kunjung menemukan muara ketenangan. Aku harus melogikakan bahwa rasaku pada Zaky, lebih banyak menorehkan gurat luka. Aku adalah seseorang yang berhak Bahagia. Akan kusembuhkan luka ini dan memulai hal baru dengan orang baru.
Sudut hatiku yang lain menyatakan setuju. Namun sisi lain menyatakan berseteru. Kali ini aku benar-benar melawan. Melawan perasaanku pada Zaky.
__ADS_1