Pintu Takdir Melepas Lajang

Pintu Takdir Melepas Lajang
Episode 6


__ADS_3

DIA KEMBALI


“Dea, ….kamu udah dijemput tuh, “ ibuku memanggilku.


Aku merasa heran, perasaan aku belum memesan aplikasi jemputan. Segera kuambil tas kerjaku dan bergegas untuk turun menuju ruang tamu. Kusempatkan melihat kantung mataku yang berhias bola panda. Hemmmm, produk tangisan semalam suntuk ini benar-benar terpampang nyata.


Aku masih penasaran, siapa yang menjemputku pagi ini. Setelah berpamitan kepada ibu dan ayahku, aku berjalan menuju ruang tamu. Zaky dengan senyum p*ps*dentnya menyambutku. Deg! Apalagi ini….Kejutan apa lagi yang sedang takdir siapkan untukku.


“Kita berangkat sekarang?”, tanya Zaky seolah-olah tidak ada masalah. Benar-benar makhluk aneh. Setelah sepekan menghilang dengan ketidakpastian dan menorehkan goresan luka cukup dalam. Bahkan luka itu masih menganga, dia dengan seenak jidat tiba-tiba kembali. Aku berusaha berfikir cepat, berupaya menolak untuk menerima ajakannya.


“Sudah keburu siang…”,ibu tiba-tiba keluar sambil menyerahkan kotak nasi padaku.


“Dimakan ya, semalem ibuk belum lihat kamu makan,” ibuku yang penuh perhatian menyerahkan bekal padaku

__ADS_1


Terpaksa kubatalkan rencanaku untuk menolak Zaky. Terus terang aku selama ini tidak nyaman jika keluargaku sampai mengetahui kerumitan hubunganku dengan Zaky. Kuputuskan untuk berangkat ke kantor dengan diantar Zaky.


Perjalanan menuju kantor, biasa kutempuh 15 menit dengan menggunakan sepeda motor. Kali ini dengan monbil, nampaknya akan sedikit lebih lama. Aku masih enggan untuk menyapa, apalagi memulai percakapan dengan Zaky. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Aku dengan pikiranku. Zaky dengan pikirannya. Aku benci keadaan seperti ini. Tapi aku, bertahan.


“Turunkan aku disini”, aku terpaksa membuka suara saat Zaky mengarahkan kendaraannya menuju depan ruanganku.


“Aku ingin memastikan, kamu sampai di tempat kerjamu dengan selamat. Tidak seorangpun boleh menyakitimu”, ujar Zaky sambil mengarahkan mobilnya menuju parkiran di area divisi tempatku bekerja.


“Nanti jangan ambil lembur, jam 4 sore aku jemput. Tolong jangan menolak. Aku ingin memperbaiki hubungan kita,” Zaky mengucap serius tanpa menoleh kepadaku.


Aku memilih diam. Kutarik nafaf dalam-dalam. Sungguh sebenranya aku sudah lelah. Karena ini seolah dejavu lagi bagiku. Tepatnya 1 tahun yang lalu setelah pertengkaran hebat diantara kami berdua, Zaky juga melakukan hal yang sama. Sayangnya sad ending. Hubungan kami tetap menggantung sebagai pacar, tidak lebih. Kali ini, haruskah kembali terulang?


Aku turun dari mobil Zaky. Memilih untuk tida menjawab permintaannya. Hari ini aku benar-benar dalam keadaan tidak seimbang. Berat memulai kembali segala sesuatu yang berhubungan dengan Zaky. Hatiku rasanya sudah menyerah. Tapi disudut terdalam, harus kuakui-pagi ini aku bahagia.

__ADS_1


Aku memasuki ruanganku dan menuju tempat kerjaku. Ada yang ganjil dengan mejaku. Setting baru? Siapa yang mengubah layout ruanganku? Semula ruanganku standar, aku tidak suka memberikan aksesoris maupun pernak-pernik seperti ruangan teman-teman perempuanku. Aku menyukai ruangan yang bersih, rapi, minimalis-lebih tepatnya. Pemandangan di ruanganku kali ini sungguh berbeda. Ada sebuah rak yang ditambahkan di sudut, diatasnya berjajar rapi kaktus berukuran mini. Ditambah lagi, tambahan miniatur sepasang petani di mejaku. Konyol. Kerjaan siapa ini??


“Pagi, …, Hafiz mengejutkanku. Kulihat dia membawa sesuatu yang dibungkus rapi. Hafiz menyerahkan padaku


“Apa ini?”, tanyaku heran.


“Mulai hari ini aku titipkan tanaman-tanaman kecil ini padamu. Tidak perlu disiram setiap hari. Cukup berikan matahari dan ruang yang nyaman saja, ujar Hafiz tersenyum penuh arti.


Terus terang aku merasa tersindir. Tidak perlu disiram setiap hari, artinya tidak harus menerima asupan kasih saying dariku. Cukup berikan matahari dan ruang yang nyaman, artinya berikan kesempatan. Fix! Sindiran yang cerdas.


“Terima kasih”, matahari dan ruang yang nyaman, akan aku ingat itu baik-baik, jawabku.


Hafiz segera berlalu dari hadapanku. Seolah-olah sudah memenangkan sebuah pertarungan. Lebih tepatnya pertarungan memenangkan hatiku.

__ADS_1


__ADS_2